
Aku terpana memandangi gadis yang tengah berdiri dihadapanku. Penampilannya selalu sederhana dan apa adanya. Diana, adik kelasku yang kutaksir sejak melihatnya pertama kali di kampus.
Malam ini, sebelum acara Wisuda Minggu besok, sengaja kuajak Diana menikmati saat-saat terakhir keberadaanku dikota dan dikampus ini sekaligus menjajaki kemungkinan ajakanku kepada Diana untuk ikut denganku saat menyelesaikan studiku nanti akan diiyakan gadis itu.
"Kamu cantik An," pujiku tulus.
Gombal," balas Diana. Tentu saja dengan senyum malu-malu diwajah cantiknya.
Jarang-jarang saat berduaan denganku, Diana akan mengenakan long dress seperti saat ini. Biasanya Diana hanya mengenakan t-Shirt dan celana jeans saja. Tapi malam ini dia terlihat beda. Tampak cantik dengan long dress yang dikenakannya.
"Ayok akh Mas..bengong aja," Diana mengagetkan aku yang sedang megaguminya.
Aku tersenyum. Kuraih jari jemari Diana, mengatupinya dengan jemariku dan menariknya ke Motor yang sejak tadi sudah aku parkir di depan asrama. Motorpun melaju perlahan membelah jalanan kota Bd yang terlihat semakin mempesona dimalam hari. Sengaja tangan Diana tidak kulepas selama dalam perjalanan kami menuju bioskop.
Diana hanya diam, tapi tidak melepas genggaman tanganku yang melingkarkan tangannya dipinggangku.
Setengah perjalanan kami dilalui tanpa suara sampai tiba-tiba Diana memeluk pinggangku erat dengan kedua tangannya. Aku kaget dan sontak memelankan laju motorku. Apa yang dipikirkan gadis ini. Kenapa tiba-tiba dia bersikap begini ?.
Ketika aku melihat sebuah area taman kota di depan Bioskop yang akan kami tuju, aku memutuskan untuk mampir sebentar sambil menunggu jadwal pemutaran film yang masih beberapa menit lagi. Kutarik tangan Diana dan menuntunnya duduk di salah satu kursi taman.
"Duduk yuk..filmnya masih satu jam lagi," ajakku. "Mas tau ada yang kamu pikirkan An, jujur aja sama Mas..ada apa?" tanyaku lagi. kali ini sambil menatap lekat wajah Diana. Gadis itu tak menjawab pertanyaanku
"Jangan pandangin aku seperti itu Mas," ucap Diana merasa risih.
"Hmm..tapi Mas suka mandangin kamu kayak begini,"
"Euum..aku hanya ngrasa risih aja Mas, dipandangin kayak begitu," ujar Diana sambil hendak membalikkan wajahnya.
Aku tertawa kecil melihat perubahan diwajah Diana. Saat gadis itu akan memalingkan wajahnya, secepatnya kuraih dagu Diana dan memalingkang wajahnya kearahku.
__ADS_1
Perlahan kudekatkan wajahku lkewajah Diana. Gadis itu tertegung. Bibirnya sedikit terbuka membuatku tak tahan untuk mengecupnya. dan....cup, satu kecupan kecilku menyentuh bibir gadis itu.
"Mas..!" Diana berbisik tertahan. Matanya jelalatan memandangi sekeliling kami.
"Nggak ada yang memperhatikan kita sayang. Mereka terlalu sibuk dengan pasangan masing-masing hingga nggak ada waktu bagi mereka untuk melihat kearah kita," ucapku meyakinkan Diana.
Saat Diana lengah, secepatnya aku mendaratkan satu kecupan manis di pipi Diana.
"Maaass..!!," protes Diana sekali lagi.
"Maaf...Mas khilaf," ucapku beralasan sambil tertawa senang. Diana melotot kearahku Tapi aku nggak perduli. Sebuah cubitan mendarat di pinggangku. Aku tertawa geli sambil menghindari Diana yang bersiap melancarkan cubitan berikutnya.
"Sekali lagi mas lakukan itu, aku pulang!" rengek Diana.
"Eeeh..jangaaan . Kan kita belum nonton sayang. Maaf yah. Habis kamunya, bikin Mas gregetan," Aku beralasan sambil berdiri dan menarik tangan Diana.
Malam itu, peristiwa kecil di taman tadi berlanjut di ruang bioskop. Suasana ruang bioskop yang temaran, posisi dudukku dan Diana serta jalan cerita film yang kami tonton mendukung hasratku pada Diana saat itu.
Kami, aku dan Diana hanya menikmati sebagian film yang kami tonton. Sisanya habis untuk saling bercumbu hingga film berakhir.
Saat itu aku begitu yakin, Diana akan menjadi milikku seutuhnya. Aku terlanjur berharap gads itu tidak akan mengecewakanku.
Harusnya saat lulus kuliah dan selesai wisuda nannti aku akan meminang Prita tunanganku. Namun saat mengetahui putrinya bakal aku boyong ke daerah tempatku betugas nanti, calon mertuaku keberatan dan memutuskan untuk membatalkan pertunangan kami. Hal itu membuat aku frustasi dan memutuskan untuk menjadikan Diana sebagai penggantinya.
"Memangnya kamu akan dipindah tugaskan kemana Mas?" tanya calon ibu mertuaku saat kuutarakan maksudku untuk melamar Prita dalam waktu dekat serta kemungkinan Prita akan kubawa jauh keluar daerah jika nantinya ternyata aku ditugaskan diluar pulau Jawa.
"Prita putri Bapak satu-satunya Mas. Kalau boleh Bapak minta, kamu jangan mau dipindah tugaskan keluar daerah Mas biar Prita juga nggak jauh-jauh dari Bapak dan Ibu," sambung calon bapak mertuaku sembari melihat kearah Prita. Gadis itu hanya menunduk dalam-dalaam. Air matanya menggenang dipelupuk matanya.
"Saya nggak bisa nolak perintah Pak..Bu..jika nanti perusahaan memutuskan aku harus dinas diluar kota. Itu sudah menjadi konsekwensi pekerjaanku Pak," ucapku membuat air mata Prita benar-benar tumpah kali ini.
__ADS_1
"Kalau benar begitu dan kalau memang Prita nggak punya pilihan lain setelah menikah nanti..ya udah. Saran Bapak, sebaiknya kalian pikir ulang rencana pernikahan kalian. Bapak dan Ibu sudah tua. Hanya Prita satu-satunya harapan Bapak dan Ibu untuk nemenin kami di masa tua kami Mas. Kami nggak bisa jauh-jauh darinya!" putus bapak membuatku menarik nafas berat.
"Baiklah Pak. Kita lihat aja gimana nanti," jawabku dengan suara pelan.
Prita mendongak dan melihat kearahku. Pancaran matanya jelas terlihat kecewa, namun tak bisa berbuat apa-apa. Kondisi kedua orangtuanya yang sudah tua dan sakit-sakitan membuat Prita tak mampu menolak permintaan kedua orangtuanya.
Setelah pertemuan terakhir kami saat itu dengan Prita dan kedua orangtuanya aku jadi jarang pulang ke kota Cn dan lebih memilih menghabiskan waktuku setiap weekend di asrama Mahasiswa tempat aku dan Diana tinggal.
Walau Guntur adalah saingan terberatku dalam memperebutkan hati Diana, namun aku yakin kalau aku yang bakal memenangkan pertarungan ini, karena aku single dan Guntur sudah menikah.
"Kamu tau, Diana sering pergi dengan laki-laki itu, tapi mengapa kamu masih berharap dan menginginkannya!?" tanya jeng Sri suatu saat ketika aku menggerutu saat kutau Diana sedang bersama Guntur.
"Aku tau, dalam situasi seperti ini, Diana nggak punya pilihan lain. Laki-laki brengsek itu harusnya sadar diri dan meninggalkan Diana," ucapku geram.
"Kamu nggak khawatir kalau kemungkinan Diana sudah tidak..mm..," ucap jeng Sri menggantungkan kalimatnya.
"Perawan lagi?" tanyaku menyambung ucapannya.
"Iya..bukankah sebagian besar laki-laki di negara kita ini menginginkan gadis yang masih perawan untuk dijadikan Istri!?" berondong Sri semakin penasaran.
"Sebab biar bagaimanapun, sudah budaya kita bahwa ukuran kesucian seorang perempuan adalah keperawanannya. Dan itu yang selalu menjadi prioritas seorang laki-laki single dalam mencari calon pendamping hidup," cecar Sri lagi.
"Jeng...sejak awal aku mengenal Diana, aku tau siapa Diana dan bagaimana kepribadian gadis itu. Aku mengaguminya dan memahami kelemahannya. Dan soal keperawanan...aku bukan tipe laki-laki yang memprioritaskan keperawanan seorang gadis sebagai syarat utamaku menikahinya. Aku tak mau menampik kalau aku juga menginginkan hal itu. Tapi itu bukan prioritas utamaku," tegas Syahrial membuat Sri terpana.
"Aku salut dengan prinsipmu Mas. Aku cuman mau mengingatkan Mas terhadap kemungkinan terburuk yang mungkin saja bakal Mas hadapi,"
"iya Jeng...terimakasih sudah mendukung dan mengingatkanku," ucapku tulus.
\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1