
"Sebaiknya Diana ganti nomor aja Gun," usul Wawan. Guntur manggut-manggut dan membenarkan usulan Wawan.
"Iya An. Sebaiknya begitu," ujar Guntur setuju.
"Nggak Mas. Ponselku kan bisa pakai dua nomor..Aku simpan aja nomor ini. Setidaknya bisa aku pantau ruang gerak Riana," sahut Diana yakin.
"Ya udah kalau itu mau kamu An. Cuman Mas minta jangan kamu tanggapi setiap ucapan Riana. Ingat pesan Bapak. Oke !?"
"Jangan khawatir Mas. Aku akan selalu ingat itu," ucap Diana berjanji.
"Oke. Urusan Riana sudah nggak ada masalah lagi kan. Sekarang kita pulang dan siap-siap pulang ke Boo. Aku sudah dapat tempat yang bagus untuk kamu nginap beberapa hari di Boo,"
"Oh ya..dimana itu Mas?," tanya Diana penasaran.
"Masih dekat asrama sayang. Biar kita tiap hari bisa ketemuan,"
"Baiklah, aku setuju Mas. Tapi Mas juga hati-hati saat Riana pulang nanti. Mas harus benar-benar menjaga sikap Mas,"
"Siap komandanku," canda Guntur membuat Diana tertawa geli.
"Gitu dong sayang..kalau kamu tertawa, hatiku juga ikut tertawa," goda Guntur
"Gombaaal...ayok akh, udah mulai sore nich," ujar Diana sembari berdiri.
"Ayoo..Wan, kami pamit ya,"
"Siap bosku..hati-hati di jalan dan selamat menempuh hidup baru," ucap Wawan melepas kepergian Guntur dan Diana.
Guntur dan Diana kembali ke rumah Bapak untuk pamit pulang ke Boo.Tepat setelah sholat Ashat, merekapun kembali ke Boo.
Saat berpamitan, Mak mencoba menahan Guntur dan Diana untuk nginap beberapa hari lagi, namun ditolak dengan halus oleh keduanya. Diana dan Guntur berjanji akan berkunjung lagi minggu depan.
Begitu tiba di Boo, Guntur langsung membawa Diana istrinya ke salah satu penginapan yang letaknya tidak jauh dari asrama Batalion tempat Guntur berdinas.
Kamar VV IP sengaja dipesan Guntur untuk istri yang baru dinikahinya itu.
Diana terlihat sumringah ketika memasuki kamar pengantinnya.. Kamar yang sejak kemarin telah dipesan Guntur. Sengaja laki-laki itu meminta pihak penginapan untuk menghias kamar yang ia pesan dengan dekorasi kamar pengantin yang indah.
__ADS_1
"Kamarnya indah sekali Mas," ucap Diana senang. Matanya melihat ke sekeliling kamar yang dihiasi Mawar merah kesukaan Diana.
"Kamu bahagia sayang ?" tanya Guntur
"Ya. Aku Bahagia sekali...Makasih Mas. Tapi mas kok tau bunga favorite aku ?"
"Ya taulah. Aku kan Suamimu sayang. Masa Aku nggak tau apa yang disukai Istriku," goda Guntur sambil menjawil hidung Diana yang bangir.
Diana memanyungkan bibirnya kemudian melangkah menuju sebuah meja yang telah ditata dengan apik dan indah.
Diatas meja tersaji beberapa jenis makanan dan minum yang istimewa dan terlihat menggiurkan.
"Ini...ini !?" Diana tergugu. Tak sanggup lagi berkata-kata.
"Iya sayang. Ini untukmu. Untuk kita. Candle light dinner malam ini," ucap Guntur mesra sambil memeluk pundak istrinya.
"Kapan Mas nyiapin semua ini?" tanya Diana takjub.
"Sejak tadi pagi sayang. Aku senang kamu bahagia dengan semua ini An,"
Kini mereka duduk saling berhadap-hadapan mengelilingi meja yang ada didepan mereka. Guntur memandangi wajah istrinya dengan tatapan mesra.
Tak berselang lama, sebuah ketukan seseorang di pintu kamar mengejutkan Diana.
"Masuk.." teriak Guntur menyuruh orang itu untuk masuk.
Terlihat seorang laki-laki berseragam pelayan resto memasuki kamar Guntur dan Diana dengan membawa kereta dorong berisi beberapa makanan berkuah yang harus disajikan hangat.
Setelah menyajikan semua hidangan yang dibawanya ke atas meja, laki-laki itupun membungkuk, mempersilahkan Guntur dan Diana menikmati hidangan makan malam mereka dan pamit hendak pergi.
"Terima kasih," ucap Guntur sambil menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke tangan laki-laki itu.
"Terimakasih Tuan," ucap laki-laki itu dan pergi.
Kini tinggal Diana dan Guntur di kamar itu. Diana memandangi meja makan yang penuh dengan makanan dan minuman kesukaannya.
"Ayo sayang...kita makan," ajak Guntur yang sejak tadi ingin segera memulai makan malam romantis mereka.
__ADS_1
Diana menggangguk dan mulai menyendoki beberapa hidangan yang diketahui Diana sangat disukai Guntur ke piring Suaminya.
Malam itu mereka lalui berdua dengan romantis. Setelah selesai makan malam, Guntur dan Diana kemudian berdansa diiringi suara merdu Andmesh yang menyanyikan lagu berjudul Hanya Rindu.
Guntur dan Diana benar-benar terbawa suasana. Tangan Diana melingkar mesra dileher Guntur sementara tangan kokoh milik Guntur memeluk pinggang Diana yang ramping.
Lirik lagu Andmesh yang seakan menggambarkan kisah cinta Guntur dan Diana membuat keduanya terbawa emosi.
Tergambar kembali di benak Guntur dan Diana tentang kisah perjalanan cinta mereka yang berliku hingga akhirnya berlabuh juga didalam sebuah pernikahan yang belum sempurna karena tidak memperoleh restu kedua orang tua Diana.
Guntur memeluk erat tubuh istrinya, menghujaninya dengan ciuman penuh emosi, menjelajahi wajah dan leher Diana dengan ciuman-ciuman panasnya.
Diana yang terbuai oleh lagu Andmesh memilih pasrah menerima perlakuan Guntur yang semakin tak terkendali. Sesekali Diana membalas ciuman Guntur membuat laki-laki itu gemas dan tak sabar.
Satu persatu pakaian yang menutupi tubuh mungil Diana ditanggalkan Guntur, berserakah di lantai.
Ciuman diantara keduanya semakin panas. Kini tak sehelai benangpun menutupi tubuh mulus Diana membuat Guntur semakin liar.
Permainan panaspun dimulai Guntur dan Diana hingga Diana mengerang penuh gairah. Mendengar suara Diana, Guntur tak tahan dan langsung membopong tubuh mungil itu ke ranjang pengantin mereka.
Dan malam itupun mereka lalui dalam gairah yang tak terkendali hingga dini hari. Guntur tersenyum puas dan memeluk tubuh polos Diana. Kedua pengantin baru itu tidur saling berpelukan hingga pagi menjelang.
Sementara itu dirumah orangtua Riana, terlihat perempuan itu sedang berusaha menghubungi ponsel Suaminya. Namun berulangkali Riana mencoba tetap saja ponsel Guntur tak bisa dihubungi.
Riana geram dan semakin gelisah. Aku nggak bisa menunggu lagi. Hari ini juga Aku dan Kiara harus pulang ke Batalion, putus Diana akhirnya.
Ibunda Riana yang memahami kegelisahan putrinya itu akhirnya mengijinkan Riana dan Kiara untuk pulang.
"Hati-hati di jalan Ri'. Jaga Kiara baik-baik dan Ingat, apapun masalah yang kamu hadapi, selesaikan dengan sabar, terutama saat menghadapi Suamimu. Jangan terbawa emosi karena hal itu hanya akan merugikan dirimu sebdiri," ujar Ibunda Riana menasehati putrinya.
Riana mengangguk. "Akan Riana usahakan Bu," janji Riana.
"Ingat penyakit hypertensimu Ri'. Berusahalah untuk tidak marah dan emosi berlebihan,".
"Iya Bu..Riana akan ingat dan lakukan semua nasehat Ibu. Jangan khawatir," jawab Riana menenangkan ibunya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1