
"Oke adik-adik sekalian. Kita tutup sesi perkenalannya. Setelah makan siang, harap semua peserta mengganti seragamnya dengan kaos dan celana training yang sudah dibagikan oleh panitia di kamar masing-masing dan berkumpul kembali di ruangan ini jam 14.00 ...!!," perintah salah seorang panitia.
Suasana kembali riuh ketika panitia OSPEK mendahului peserta OSPEK menuju ruang makan. Diana, Hana dan Saras terlihat menonjol diantara seluruh peserta OSPEK yang seluruhnya adalah laki-laki. Beberapa peserta OSPEK yang masih single mencoba mendekati ketiga gadis itu. Namun Hana, Saras dan Diana memilih segera berlalu menuju ruang makan.
Kegiatan OSPEK berjalan selama 5 hari. Ketika hari ketiga, OSPEK dilakukan pada malam hari. Jurig malam menelusuri lingkungan kampus. Mata seluruh peserta ditutup dengan sehelai kain oleh panitia kemudian dibawa menuju sebuah mobil truck milik TNI AD.
Seluruh peserta OSPEK dibawa berkeliling lingkungan kampus. Ketegangan melanda Diana, Saras dan Hana. Karena mata mereka ditutup, Diana dan kawan-kawannya merasa seolah-olah sedang dibawa naik turun bukit dan menyusuri sungai.
Diana yang phobia ketinggian dan kegelapan tiba-tiba merasa seluruh tubuhnya mengejang. Kedua lututnya lemas, perasaannya tidak menentu dan tubuhnya terlihat basah oleh peluh yang memenuhi seluruh pori-pori kulitnya. Gadis itu tiba-tiba menjerit dengan keras. Lututnya goyah, tak mampu menahan berat tubuhnya. Diana pingsan.
__ADS_1
Ketika tersadar, Diana merasa ujung jari kakinya dipegang seseorang. Mbak Sri duduk di bagian atas pelbed dan terlihat berusaha menyadarkan Diana dengan meletakkan botol kecil berisi minyak kayu putih dihidung gadis itu. Aroma minyak kayu putih yang khas menyadarkan Diana dari pingsannya.
"Kak Sri," ucap Diana. Sri mengangguk dan memperbaiki letak bantal dikepala Diana.
"Ehm..," sebuah suara mengejutkan Diana. Ketika tersadar Syahrial sedang memijit telapak kakinya, sontak Diana buru-buru menarik kedua kakinya.
"Eh..kak, jangan...," elak Diana, merasa malu kedua kakinya dipegang Syahrial.
"Sudah kak, aku sudah ga papa," ucap Diana, jengah. Kali ini permintaan Diana diiyakan Syahrial. Dibiarkannya gadis itu melepaskan kakinya dari genggamannya. Diana duduk sambil memeluk kedua lututnya.
__ADS_1
Sri tersenyum melihat adegan didepannya. Sri paham betul bagaimana Syahrial. Laki-laki yang over protektif jika sudah menyangkut perempuan. Apalagi dengan tipe seperti Diana yang mungil dan terlihat lemah. Naluri ingin melindungi dalam diri Syahrial memberontak membuat dia terlihat seperti memiliki sifat over protektif.
"Ya udah, ayo jeng, Diana diantar ke kemarnya aja. untuk hari ini biarkan dia istirahat. Besok bisa ikutan lagi," ujar Syahrial disambut anggukan kepala Sri.
Perlahan Sri meraih lengan Diana. Dibantunya gadis itu untuk berdiri. Walaupun masih merasa agak lemas, tapi Diana akhirnya bisa dipapah Sri menuju kamarnya.
Tanpa disadari oleh Sri dan Diana, Syahrial membuntuti mereka dari kejauhan. Laki-laki itu masih khawatir karena kamar Diana yang letaknya di lantai 2, bisa jadi akan bermasalah bagi kedua gadis itu untuk sampai ke kamar mereka.
Asrama terlihat sepi, selain karena sudah tengah malam, semua penghuni kamar yang tidak terlibat dalam kepanitiaan sebagian besar sudah tidur dan sebagian lagi terlihat sedang ngumpul main karambol di ruang tv.
__ADS_1
Saat menaiki anak tangga menuju lantai dua asrama, Diana masih terlihat lemas. Gadis itu sesekali meminta Sri untuk berhenti dan mencoba mengatur napasnya.Tubuh Sri yang juga mungil terlihat kesulitan memapah tubuh Diana. Tiba-tiba Diana oleng. Gadis itu kembali pingsan..
\=\=\=\=\=\=\=\=!