
Berjalan dijalan setapak yang agak licin, Diana, Anggi dan Ria terlihat berhati-hati menyusuri jalanan menuju lokasi air terjun yang agak menurun.
"Teh..pegang tangan Anggi biar nggak jatuh," Anggi memberi instruksi dengan penuh percaya diri.
"Kebalik Nggiii..pegang tangan teteh biar Anggi nggak jatuh," Diana tertawa ngakak. Ria yang berjalan paling belakang ikut tertawa.
"Iya deh teteeeh..!!" Anggi memanyungkan bibirnya kearah Ria yang terpaksa harus berhenti sejenak karena kecapean dan tertawa kegelian.
"Kita duduk dulu yuk. Teteh capek," Diana menghentikan langkahnya dan mengajak Ria dan Anggi untuk duduk sejenak dibawah salah satu pohon besar yang tumbuh disepanjang jalan menuju lokasi wisata air terjun yang mereka tuju.
"Tapi teh..tanggung....Dikit lagi udah nyampe," ujar Anggi yang masih bersemangat melanjutkan perjalanan mereka.
"Kita ngaso bentaran ya. 5 menit aja. Teteh pengen foto-foto dulu disini. tuh ..lihat. pemandangannya indah kan ?" ucap Diana sambil duduk dan membuka ransel yang dibawa Anggi.
Anggi dan Ria akhirnya menyetujui usulan Diana. Bertiga mereka duduk sambil memperhatikan beberapa rombongan wisatawan lokal yang sedang menyusuri jalanan setapak didepan mereka.
Diana mengeluarkan 3 botol air mineral dan diberikan kepada Ria dan Anggi. Merekapun minum dan setelahnya berswa foto dengan berbagai pose lucu dan ceria.
Sejenak Diana melihat pesan WA yang masuk. Tidak ada satupun WA dari Guntur. Raut wajah Diana sedikit berubah dan terlihat kecewa.
"Yuk teh..kita jalan lagi," Ajak Anggi mengejutkan Diana.
"Ehhh..iya. Ayook..," Diana berdiri dan membenahi tas ransel yang dibawanya.
Kembali bertiga mereka berjalan menyusuri jalanan setapak yang mulai menurun menuju lokasi air terjun. Tak lama berselang, Diana, Anggi dan Ria sampai di lokasi wisata yang mereka tuju.
Diana menarik napasnya dalam-dalam mencoba menghirup udara segar yang berbaur dengan wangi pepohonan disekitar air terjun yang mereka datangi.
Anggi membuka bekal yang sengaja dibawanya dari rumah. Rantang kecil berisi nasi dan lauk pauk buatan Emak dan Diana tadi pagi plus beberapa buah gorengan yang mereka beli di lapaknya teh Jani.
"Ayo Teh..Ria, kita makan dulu. Anggi udah lapar nih," ajak Anggi sambil menyendok nasi ke piring yang dibawanya. Ria dan Diana mengikuti.
__ADS_1
Nasi, semur jengkol, bakwan jagung dan sambal kacang diambil Ria dan Anggi. Sementara Diana hanya mengambil nasi, bakwan jagung, sambal kacang dan sayur asem. Bertiga mereka makan siang dengan lahap sambil menikmati pemandangan disekitar mereka.
Setelah makan, Ria dan Anggi memilih untuk mandi dibawah guyuran air terjun yang terasa dingin dan menyegarkan. Sementara Diana memilih untuk menikmati pemandangan sekitar dan ber swa foto sambil mengawasi Ria dan Anggi
\=\=\=
Sementara itu disaat yang sama dikota "S", Guntur, Riana dan Kiara sedang makan siang disalah satu saung ternama di kota itu.
Guntur sengaja membawa anak dan istrinya untuk makan diluar. Guntur memang tidak terbiasa makan dirumah orangtua Riana setiap kali ia berkunjung. Biasanya Guntur hanya datang dan langsung pulang dihari yang sama. Jarang nginap apalagi untuk beberapa hari.
Riana dan Kiara terlihat menikmati hidangan yang dipesan Riana. Menu sea food kesukaan Riana dan Guntur serta soup hangat dan kentang goreng untuk sikecil Kiara.
"Aku ke kamar kecil bentar Ri'," pamit Guntur sambil berdiri, mengambil gadget miliknya dan buru-buru melangkah menuju toilet saung itu.
Riana hanya mengangguk dan kembali fokus menyuapi Kiara.
Guntur mencari waktu dan tempat yang tepat untuk menghubungi Bapaknya. Hp sengaja dimatikan powernya oleh Guntur sejak pagi agar dirinya tidak terganggu oleh telepon maupun pesan yang masuk, termasuk dari Diana. Dan tentu saja untuk menghindari kecurigaan Riana soal Diana yang diyakini istrinya masih ada di rumah orangtua Guntur.
Di toilet, Guntur menyalakan gadget miliknya kemudian mencari nomor Hp Bapaknya dan mulai menelepon.
Tuuut...tuuut..tuuut..
"Assalaamualaikum," terdengar suara Bapak begitu menerima panggilan telepon Guntur.
"Wa'alaikumsalaam. Pak, ini aku....Gun,"
"Eh..iya . Ada apa Nak ?"
"Gun mau minta bantuan Bapak, soal Diana. Boleh ya Pak ?"
"Boleh..apa yang bisa Bapak bantu Gun ?"
__ADS_1
"Gini Pak. Sejak tadi pagi, Gun udah nyampe di rumah Mertua Gun. Awalnya Gun bermaksud ngajak Riana dan Kiara ikut Gun balik ke asrama. Tapi Riana menolak dan didepan Ibunya malah minta Gun untuk nginap. Gun nggak enak sama Mertua Gun, makanya Gun iyakan permintaan Riana," tutur Guntur setengah berbisik.
"Lalu...bagaimana dengan Diana ?" tanya Bapak.
"Itulah masalahnya Pak. Makanya Gun nelpon Bapak. Gun mau minta tolong Bapak dan Mak untuk membujuk Diana agar mau nginap dirumah semalam lagi. Besok Gun usahain untuk pulang dan menjemput Diana sekalian nganterin Diana balik ke asramanya," dengan ragu-ragu, Guntur mencoba membujuk Bapaknya.
"Ini yang Bapak bilang ke kamu Gun. Jangan berani bermain api kalau kamu masih takut kebakar. Kenapa kamu nggak langsung aja bicara ke Diana dan minta dia untuk tetap tinggal untuk beberapa hari disini?"
"Nggak bisa Pak. Diana pasti marah dan pergi begitu saja kalau Gun yang bicara. Mungkin kalau Bapak dan Mak yang ngomong, Diana bakal nurut Pak," pinta Guntur pelan dengan nada memohon.
"Haaaah...Gun..Gun, kamu ini. cari masalah aja," Bapak sedikit menggerutu. "Ya udah, nanti Bapak coba bujuk Diana. Tapi kalau Diana nanyak alasannya, Bapak harus jawab apa ?" tanya Bapak lagi.
"Bilang aja Pak, kalau Gun dapat perintah dari Komandan untuk tidak pergi kemana-mana karena bakal ada kunjungan dari Panglima," Guntur memberi alasan.
"Kamu ini ya...ngajarin Orangtua untuk bohong aja," omel Bapak yang disambut teriakan tertahan Guntur..
"Bapaaaaak...tolooooong..!!"
"Iya..iyaaaaaa...dasar anak nakal. Nggak berubah juga tu kelakuan walaupun sudah punya Anak Bini" Bapak tertawa mendengar suara Guntur yang setengah berteriak.
"Gun..apa kamu juga ngajak Riana nemuin Bapak dan Makmu?" tanya Bapak terdengar serius.
"Iya Pak..tapi seperti biasa. Riana nolak kuajak ke kampung,"
"Kenapa Istrimu selalu begitu tiap kali kamu ajak ketemu Bapak dan Mak?" tanya Bapak sedih. "Bapak juga kangen cucu Gun, apalagi Mak kamu,"
"Entahlah Pak. Sejak terakhir Riana Gun ajak ke kampung selepas nikah dulu, sampai sekarang Riana selalu nolak kalau Gun ajak. Kadang kami sampai harus bertengkar karena penolakan Riana Pak," sesal Guntur.
"Apapun alasan Riana, kamu jangan sampai terpancing dan berbuat kasar pada Istrimu Gun. Kamu bujuk dia pelan-pelan. Cari tau alasan Istrimu yang sebenarnya dan cari solusinya," Bapak memberi wejangan. "Bapakmu tidak pernah ngajarin kamu untuk berbuat kasar terhadap seorang perempuan, apalagi itu Istrimu sendiri,"
"Iya Pak. In syaa Allah. Gun tutup dulu teleponnya Pak. Wassalaamualaikum..,"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalaam," jawab Bapak menutup pembicaraan mereka.