
"Pesan dari siapa An?" tanya Guntur yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakang Diana.
"Riana Mas," jawab Diana singkat.
"Riana... darimana dia dapat nomor kamu!?" tanya Guntur terkejut. Karena penasaran tangannya hendak mengambil ponsel Diana, namun ditepis Diana.
"Tunggu bentar. Aku belum selesai membaca pesan Riana Mas," ucap Diana. "Nanti setelah selesai baru Mas boleh baca pesan Riana,"
"Bacanya bareng aja. Mas juga penasaran," pinta Guntur ingin tau.
Diana mengangguk.
Aku tau dimana kamu kuliah. Aku juga tau dimana kamu tinggal. Jadi jangan pernah coba-coba membohongiku apalagi main-main denganku. Kamu belum tau siapa aku dan gimana istri-istri prajurit TNI kalau sudah marah. Jadi JANGAN PERNAH COBA MAIN-MAIN DENGANKU..PAHAM ??!
Diana menghela nafas panjang. Riana mengakhir isi pesannya dengan sedikit ancaman untuk Diana.
Guntur yang ikut membaca isi pesan Riana tertegung, tak menyangka hal ini akan terjadi secepat ini. Tapi bukan Guntur namanya kalau dia akan terpengaruh dengan ucapan apalagi ancaman Riana.
"Udah, nggak usah kamu pikirin. Jalanin aja hidup kamu seperti biasanya. Nggak usah terpengaruh dengan ancaman Riana,"
"Aku nggak terpengaruh dengan ancaman Riana Mas. Aku hanya merasa aneh aja. Awal kehidupan rumah tanggaku dimulai dengan ancaman Riana," Diana tertawa sinis.
"Kamu takut.!?"
"Tidak..justru aku kasihan sama dia. Seperti kata Riana, Aku belum tau siapa dia..samaa, dia juga belum tau siapa aku Mas," ucap Diana lirih. Ada amarah yang berusaha ditahannya.
"Mas tau kamu marah. Tapi Riana nggak bisa dihadapi dengan kemarahan An. Riana harus kamu hadapi dengan kecerdasan dan kesabaran. Kamu ingat pesan Bapak semalam kan!?" ujar Guntur mengingatkan Diana.
"Iya..aku ingat,"
Guntur menarik nafas lega. "Ya udah kalau begitu. Ayo..kita jadi jalan kan?"
"Nggak usah Mas. Aku udah nggak pengen,"
Guntur terdiam. Dia paham Diana mulai merasa tidak nyaman.
Perlahan digenggamnya tangan Diana. Namun Diana diam saja. Mungkin sedang menata hatinya.
"Jangan marah sayang. Maafkan Mas. Ini semua salah Mas. Maaf ..!" ucap Guntur sembari menyatukan kedua telapak tangannya didepan Diana.
Diana tertegung. Melihat sesal dimata suaminya, Diana merasa tak tega.
__ADS_1
"Nggak apa-apa Mas. Beneran. Aku nggak apa-apa," ucap Diana meyakinkan Guntur. "Aku janji, tidak akan ada masalah antara aku dan Riana Istrimu. Percayalah padaku,"
Guntur tersenyum. Dikecupnya ujung jemari Diana dengan rasa sayang.
"Iya, Mas percaya kamu akan bersikap bijaksana dan sabar menghadapi tingkah Riana,'
"Kita pulang hari ini ya Mas," pinta Diana.
"Lho, kenapa. Kamu kan sudah libur sekarang. Kenapa buru-buru mau pulang?" tanya Guntur.
"Nggak kenapa-kenapa Mas. Aku hanya pengen pulang aja,"
"Tapi nanti kamu sendirian di asrama. Yang lain udah pada pulang kampung,"
"Nggak kok Mas. Masih banyak teman-teman aku yang memutuskan untuk nggak pulang,"
"Nggak..Mas nggak ngijinin kamu balik ke asrama sekarang. Lagian kita masih pengantin baru kan. Masa udah harus berjauhan lagi?" protes Guntur menolak keputusan Diana untuk pulang ke asramanya.
"Tapi Mas...,"
"Kamu ikut Mas ke Boo. Nanti Mas cariin penginapan yang deket ke Batalion biar tiap hari kita bisa ketemuan. Lagian Riana masih di rumah orang tuanya. Biasanya kalau udah disana, Riana betah banget dan bisa sampai seminggu nginap disana,"
Diana mengangguk, mengiyakan kemauan laki-laki yang kini telah menjadi suaminya itu. Walaupun dengan hati yang enggan.
"Kenapa buru-buru Ri'. Nginap aja dulu barang beberapa hari,"
"Nggak bisa Bu. Riana harus pulang hari ini,"
"Nggak nunggu Suamimu jemput Ri'..?"
Riana terdiam. Instingnya mengatakan dia harus pulang ke Batalion hari ini juga. Namun Riana merasa tidak enak menolak permintaan Ibunya.
"Baiklah Bu. Riana nginap semalam lagi. Tapi besok Riana harus pulang ke Batalion,"
"Iya..Ri'. Coba kamu telepon Suamimu. Minta dia untuk menjemput kalian besok,"
"Baik Bu. Nanti Riana telepon Aa'..," ucap Riana memenuhi permintaan Ibunya.
Ibu Riana tersenyum dan keluar dari kamar. "Ibu tunggu di ruang Makan ya Ri'. Kita makan bareng Bapakmu. Bapak pengen makan bareng kamu dan Kiara," ucap Mak sebelum berlalu.
Riana mengangguk.
__ADS_1
Dipandanginya punggung Ibunya hingga menghilang dibalik pintu. Aku belum memeriksa ponselku. Kali aja sudah ada balasan WA-ku kemarin dari perempuan itu, batin Riana sambil mengambil ponsel miliknya yang ia letakkan di tempat tidur Kiara tadi.
Pesanku sudah dibaca perempuan itu. Tapi kok hanya dibaca aja. Nggak dijawab ? Guman Riana dalam hati. Heran karena pesan WA nya yang lumayan pedas kata-katanya tidak dibalas Diana dan hanya dibaca saja.
Karena penasaran, Riana akhirnya mengirim lagi pesan WA ke nomor Diana.
"Kenapa pesanku kamu baca aja, nggak dijawab ?. begitu bunyi pesan WA Riana.
"Nggak berani jawab ya !?" tulis Riana lagi.
Setelah menunggu beberapa menit lamanya, pesan Riana hanya di ceklis satu. Berarti WA si Pelakor itu lagi nggak aktif. Brengsek..!!., umpat Riana. Padahal aku sangat ingin tau balasan pesanku
Tak berselang lama tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk. Buru-buru Riana membuka pesan WA nya. Matanya terbelalak melihat jawaban pesannya barusan.
"Maaf, ini siapa ya...salah sambung!"
Riana gemas. "Bohong..kamu perempuan Pelakor itu kan!?"
"Eh..jangan sembarangan ya bu. Gimana saya bisa jadi pelakor. Wong saya laki-laki ,"
Riana mulai ragu-ragu dengan keyakinannya sendiri kalau nomor tersebut adalah milik perempuan itu. Memang saat mengambil secara diam-diam nomor itu, Riana juga kurang yakin karena nama yang empunya nomor itu bukan nama seorang perempuan.
Riana merasa dirinya harus benar-benar diyakinkan kalau nomor itu bukanlah milik Diana. Karena penasaran akhirnya Riana mencoba menelepon nomor tersebut.
Tuuut...tuuut...tuuut
Tak lama kemudian terdengar suara seorang laki-laki di seberang sana.
"Halo..ini siapa !?" tanya orang itu.
Riana yang bermaksud hanya ingin tau apa benar itu nomor Diana atau bukan tidak menjawab pertanyaan orang itu.
"Heii..jawab dong. Siapa ini ?" tanya laki-laki itu lagi.
Tanpa suara buru-buru Riana memutuskan hubungan teleponnya dengan orang tersebut.
"Berarti benar, itu bukan nomor si pelakor itu. Huh..brengsek..!!" umpar Riana kesal.
Sementara itu di tempat lain, Guntur dan Diana tengah duduk bersama seorang laki-laki teman masa kecil Guntur.
Terlihat ketiga orang itu menarik nafas lega saat mengakhiri telepon seseorang..
__ADS_1
"Syukurlah. Riana berhasil kita yakinkan. Tapi nggak semudah itu Riana nyerah. Dia pasti akan menyelidiki sampai ketemu siapa sebenarnya pemilik nomor itu," ucap Guntur
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=