
"Bunga.. untuk Ibu," celoteh si cantik sembari menyerahkan mawar ditangannya kepada Diana. Diana mengerutkan keningnya ibu...??
Tiba-tiba Diana tersadar. Wajah si cantik ini terutama matanya yang agak sipit terlihat sepertiiiii......"Maaaaas...!!" teriak Diana begitu tersadar kalau gadis kecil yang berdiri di depannya itu adalah...Kiara..Putri semata wayang Suaminya.
Guntur tertawa sambil keluar dari persembunyiannya. Diana tak menunggu lama. Digendongnya Kiara kemudian masuk ke kamar diikuti Guntur.
"Haaaiii...cantik. Kita kenalan yuuk. Namaku Diana. Namamu siaaappaa?" tanya Diana sambil menunjukkan mimik lucu diwajahnya.
"Kialaaa..," jawab gadis mungil itu menyebutkan namanya dengan lidah cadelnya yang lucu.
"Oooh...Kiaraa..kamu kok cantik sekaliiii..," puji Diana diikuti tawa Kiara membuat mata Kiara semakin sipit.
"Panggil aku tan....," belum sempat Diana menyelesaikan kalimatnya, keburu dipotong Guntur
"Ibuu..panggil dia apa sayang...Ii ??"
"Buuu..Ibu...," ucap Kiara mengikuti ucapan Ayahnya.
"Pinteeer..," puji Guntur dan memberi hadiah sebatang cokelat silverqueen untuk Kiara.
Kiara tertawa gembira.
Diana yang sangat menyukai coklat, melihat adegan itu dengan senyumnya.
"Untuk Ibu juga ada dong...taraaa," ucap Guntur sambil mengeluarkan sekotak cokelat kesukaan Diana.
Diana berbinar seperti gadis kecil yang memperoleh barang kesayangannya.
"Thanks..," bisik Diana mesra.
Guntur mengangguk kemudian berjalan menuju tempat tidur dan berbaring disana. Sementara Diana mendekati Kiara dan mengajak Kiara main.
"Kiara cantiik, kita makan cokelat disana yuuk,," ajak Diana menunjuk ke ruang kosong di depan TV.
Kiara mengangguk dan berlari kearah tempat yang ditunjuk Diana. Perempuan itu tersenyum. Alhamdulillah, kesan pertama yang menyenangkan. dua point plus sudah kuperoleh, keakraban dan panggilan "Ibu" batin Diana tersenyum bahagia.
__ADS_1
Guntur dan Kiara di penginapan bersama Diana hingga beberapa jam kemudian. Saat akan masuk waktu makan siang, Guntur pamit sebentar untuk membeli makan siang mereka. Sementara Kiara yang sudah mulai terbiasa dengan Diana memilih main dengan Diana dan tidak ikut Ayahnya.
Hanya beberapa menit berselang, Guntur kembali dengan membawa 3 kotak nasi padang dan makanan khusus untuk Kiara. "Kok 3 kotak Mas?" tanya Diana heran.
"Iya, satunya lagi untuk Riana. Tadi dia Mas suruh nggak usah masak. Biasa An, ngambil hati Riana biar Mas diijinin keluar ketemu kamu. Bonusnya tuuh...!" jawab Guntur sambil telunjuknya diarahkan ke Kiara yang sedang asyik bermain sendiri.
Diana menoleh ke arah yang ditunjuk Guntur. Diana tersenyum dan mengangguk. "Iya Mas, Aku ngerti. Ya udah..sekarang Mas pulang bersama Kiara dan bawa nasi kotak Riana. Ini udah jam makan siang!"
"Mas diusir ya...?" tanya Guntur menatap wajah Diana.
"Eeh. Nggak, bukan begitu Mas. Aku nggak ngusir. Kan emang bener sekarang waktunya makan siang. Udah lewat malah," jawab Diana sambil menunjuk jam pada ponselnya kepada Guntur.
"Ooh..kirain Mas diusir. Oke dech, Mas dan Kiara pulang dulu ya. Ntar malam Mas balik lagi," ucap Guntur berpamitan sambil berjalan kearah Kiara dan menggendong gadis mungil itu.
"Nanti main kesini lagi ya Kiara sayang," ucap Diana melepas Guntur dan Kiara di depan pintu kamar.
"Iya Ibu..nanti Kiara main lagi ya kesini," sahut Guntur mewakili Kiara.
Guntur mencium kening Diana saat mata Kiara sedang melihat kearah lain. Kemudian Guntur dan Kiara pamit pulang.
Namun saat Guntur baru saja berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Kiara menangis. Tentu saja Guntur dan Diana kaget, ada apa Kiara tiba-tiba menangis tanpa sebab.
Astagaaaa..Diana kaget setengah mati. Guntur juga demikian, tak menyangka Kiara akan menangisi Diana, orang yang baru saja dikenalnya beberapa jam yang lalu.
"Eeeh..kok nangis sayaang..Ibu nggak bisa ngaterin Kiara pulang sayang," bujuk Diana kebingungan."Gimana ini Mas?" tanya Diana meminta pendapat Guntur suaminya.
"Hmm..gini aja. Kamu anterin Mas dan Kiara ke depan. Selanjutnya kita lihat gimana bagusnya," usul Guntur kemudian disetujui Diana.
"Oh oke..sini, biar Kiara aku yang gendong," seru Diana sambil mengambil Kiara dari gendongan Guntur.
Kiara memeluk leher Diana dan membenamkan wajahnya disana. Diana tersenyum dan membelai punggung Kiara. Ditepuknya lembut punggung Kiara sambil bersenandung kecil.
Beberapa menit Diana melakukan hal tersebut hingga perempuan itu merasa kalau Kiara sudah tertidur oleh buaiannya.
"Ssst..Kiara udah tidur," bisik Diana, takut membangunkan Kiara.
__ADS_1
Melihat itu, Guntur tersenyum dan hendak mengambil Kiara dari gendongan Guntur, tapi dicegah Diana.
"Jangan Mas, nanti Kiara bangun," bisik Diana sambil menepuk lembut pundak Kiara saat Kiara menggeliat dalam pelukannya.
"Oke..oke..ayo ke parkiran. Tapi gimana caranya Mas bawa Kiara kalau dia lagi tidur begini?" tanya Guntur kebingungan.
"Gimana ya?" tanya Diana ikutan bingung.
"Begini aja, kamu ikut Mas aja ke asrama. Gendong Kiara diboncengan Mas. Nanti setelah sampai di rumah dan Kiara Mas serahkan ke Mamahnya, Mas balik lagi untuk nganterin kamu ke penginapan. Gimana ?" usul Guntur mencoba mencari solusi.
"Apa nggak beresiko kelihatan orang asrama Mas?" tanya Diana ragu.
"Nggak, kita lewat belakang aja," jawab Guntur yang kemudian diiyakan Diana.
Akhirnya dengan berboncengan, Diana yang menggendong Kiara memutuskan ikut Suaminya ke asrama walau hanya lewat pintu belakang.
Sesampainya di jalanan belakang asrama, Guntur turun dan mengambil alih Kiara dari gendongan Diana.
"Kamu tunggu disini. Jangan kemana-mana. Tunggu sampai Mas kembali," pesan Guntur kepada Diana.
Diana mengangguk dan mencium Kiara pelan. "Udah sana, jalan Mas. Keburu bangun Kiaranya,"
"Oke..," ujar Guntur sambil berlalu.
Diana memandangi punggung Suaminya dan Kiara hingga mereka menghilang dibalik pepohonan yang rimbun di belakang asrama Batalion.
Satu jam berlalu, Guntur belum juga kembali membuat Diana gelisah. Beberapa orang kampung yang melewati jalanan itu memandang ke arah Diana dengan pandangan tak biasa. Mungkin heran karena Diana duduk sendirian di jalan setapak yang begitu sepi seorang diri.
Tiba-Tiba dari arah asrama, muncul Guntur yang berlari kearah Diana. Wajah laki-laki itu terlihat cemas, khawatir Diana marah dan memutuskan untuk pulang tanpa menunggunya lagi.
"Maafkan Mas sayang, tadi Mas mau langsung jalan, tapi dicegah Riana yang minta ditemenin makan siang. Terpaksa Mas ia'in karena bertepatan ada tamu ibu Danyon tadi. Makanya Mas lama," ujar Guntur dengan nafas memburu. Wajahnya terlihat berkeringat.
"Iya Mas, nggak papa. Tadinya aku pengen pulang duluan tanpa menunggu Mas, tapi aku khawatir, motor Mas bisa aja dicuri orang. Makanya aku memutuskan untuk menunggu Mas sampai Mas balik lagi ke sini," ucap Diana membuat Guntur lega.
"Ouuwh ..syukurlah. Mas udah khawatir aja,"
__ADS_1
Guntur kemudian menghidupkan mesin motornya dan menyuruh Diana naik ke boncengannya. Berdua merekapun pergi meninggalkan tempat itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=