
Dengan kesal Diana mematikan ponselnya dan melempar benda persegi itu ke sudut tempat tidurnya. Perasaan kesal dan puas berbaur menjadi satu.
Kesal karena ucapan pedas Riana kepada dirinya dan puas karena berhasil membuat Riana tercekat kaget.
Ingin rasanya Diana berterus terang kepada Riana tentang hubungan pernikahannya dengan Guntur, namun diurungkannya. Diana tau akibat kejujurannya bisa menghancurkan segalanya. Kariernya dan karier sang suami juga akan ikut hancur, walaupun sebagai istri ke dua Diana tidak memiliki hak untuk menikmati gaji suaminya, namun Diana tidak mau egois.
Selang beberapa menit kemudian, Diana masih berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya.
Sebaiknya aku blokir aja nomor perempuan itu. batin Diana dalam hati.
Tak ingin menunggu lama, Diana kemudian bergegas bangun dari tempat tidurnya dan mengambil ponsel miliknya yang teronggok disudut tempat tidur.
Segera dihidupkannya ponsel itu kemudian mencari nomor Riana.
Nah..ini dia, ucap Diana setelah menemukan deretan nomor hp milik Riana.
Saat Diana akan memblokir nomor Riana, tiba-tiba rasa penasaran dalam hatinya muncul begitu saja membuat perempuan itu mengurungkan niatnya sesaat.
Hmm..ada pesan WA nich, aku baca dulu akh..ujar Diana dalam hati. Perlahan dibukanya pesan WA dari Riana.
Terlihat deretan kata-kata ancaman ditulis Riana dalam huruf kapital disertai emoji MARAH.
Jantung Diana berdetak semakin cepat. Darahnya bergejolak seakan ada suntikan energi yang membuat perempuan itu membatalkan niatnya untuk memblokir nomor hp Riana dan membiarkan Riana mencerca serta mengancam dirinya melalui pesan WA.
"DASAR PELAKOR MURAHAN"
Diana menarik nafas panjang. Mencoba menghirup sebanyak mungkin udara segar di kamar itu. Tenaaaaang....tenaaaaang..batin Diana menenangkan dirinya sendiri.
Kembali mata Diana mengupas isi pesan WA Riana kepadanya.
"Kamu nantang aku ya..heh perempuan murahan. Kamu belum tau aja siapa aku...!!!" tulis Riana lagi, masih dengan amarahnya.
Diana tersenyum, menggigit sudut bibirnya dengan keras dan memainkan jari-jemarinya diatas layar ponselnya.
"Kamu pikir aku bodoh dan percaya begitu saja kalau kamu tidak punya hubungan apapun dengan suamiku HAH..!!?"
Diana semakin penasaran. Kembali membaca deretan pesan WA Riana untuknya.
"KAMU SALAH BESAR ..!!!"
Jemari Diana terasa gemetar dan basah oleh keringat. Ingin rasanya perempuan itu membalas pesan WA Riana, namun diurungkannya.
"Aku tau semuanya...SEEEMUANYA...Suamiku bisa aja berbohong kepadaku, tapi instingku sebagai Istri seorang Prajurit nggak pernah salah,".
"Walaupun dengan segala upaya kalian rahasiakan hubungan kalian tapi aku tau dan pasti ketahuan olehku,"
"Heh.... perempuan penggoda suami orang....sebusuk-busuknya bangkai yang kalian simpan pada akhirnya akan tercium juga !!".
__ADS_1
Sampai disini, Diana tak bisa lagi menahan dirinya untuk membalas pesan WA Riana.
Apa aku bilang aja ya kalau saat ini aku adalah istri sahnya Mas Gun ?? Tanya Diana dalam hati. Bimbang menggelayuti hati Diana.
Dengan sedikit ragu-ragu akhirnya Diana memutuskan untuk membalas pesan Riana.
"Lantas...apa mau kamu??" ..
"Apa mauku kamu nanyak ???.. JAUHI SUAMIKU PELAKOR !!!"
"BERHENTI MEMANGGILKU PELAKOR...!!!"
"KENAPA HAH..kamu tersinggung..kamu marah PELAKOR !!??"
"Berhenti memanggilku PELAKOR karena aku BUKAN PELAKOR !!"
"HA..HA...HA..HAA...emang kamu PELAKOR KAN !!? jawab Riana ketus dan makin menjadi-jadi.
"Untuk apa aku mejadi PELAKOR, suamimu yang tergila-gila kepadaku. Tak henti-hentinya mengejarku walau kutolak berkali-kali," jawab Diana sambil berusaha bersikap tenang demi meredakan amarahnya.
"BOHONG...KAMU BOHONG..!!" jawab Riana ketus.
"HAH..untuk apa aku berbohong Riana. Tanya aja sama suami kamu !!!" tantang Diana tanpa ragu.
"Mana mungkin suamiku mau sama kamu kalau tidak kamu rayu..Bulsheeet !!"
"SOK TAU PEREMPUAN BRENGSEK !!" jawab Riana makin tak tekendali.
Diana tersenyum sinis. Kembali dirinya berhasil membuat Riana semakin marah.
Lama tak terdengar nada pesan masuk.
Tumben....!! seru Diana dalam hati.
"Kok diam..!? Tulis Diana. "Kehabisan kata-kata ya..?" Diana masih bertanya.
Ceklis satu.
Hmmm..apa ponsel Riana kehabisan daya ya. Kok WA ku nggak dibalas !? Tanya Diana dalam hati.
Baguslah dia ga jawab WA ku, guman Diana lega.
Tiba-Tiba.......
Ting.....
Sebuah pesan WA masuk ke ponsel Diana. Pesan dari Guntur suaminya.
__ADS_1
Riana anfal An..Hypertensinya kambuh dan dia sesak nafas akut. Sekarang mau aku bawa ke RS, bunyi pesan WA Guntur.
"Astagfirullah...!!!," seru Diana kaget.
Perempuan itu terlonjak dari tempatnya duduk. Diana yakin penyebab Riana anfal adalah pertengkaran mereka barusan.
Walaupun tidak suka dengan perangai Riana, tapi Diana tidak berfikir untuk membuat Riana sakit.
Segera Diana menelepon suaminya untuk mengetahui lebih jelas kondisi Riana.
"Maafkan aku Mas, gara-gara pertengkaran kami barusan, Riana jadi sakit," ucap Diana tanpa menunggu ditanya duluan oleh suaminya.
"Aku nggak nuduh kamu An, Riana emang mudah meledak-ledak emosinya. Padahal sudah aku ingatkan kalau efek dari sifatnya itu akan merugikan dirinya sendiri," jawab Guntur, tidak menyalahkan istri keduanya itu.
"Iya Mas. Tapi tetap saja aku merasa bersalah," jawab Diana pelan.
"Sudahlah An. Nggak usah difikirin. Aku urus Riana dulu. Nanti aku hubungi kamu lagi," sahut Guntur sembari memutuskan pembicaraan mereka.
Diana menghela nafas panjang.
Dipandanginya deretan barang-barang miliknya yg sudah dipacking rapi dan siap dikirim ke daerah tugasnya yang baru.
Mungkin sebaiknya aku pergi sendiri tanpa sepengetahuan suamiku. Saat ini Riana sangat membutuhkan kehadiran Mas Gun dan aku nggak boleh egois, batin Diana dalam kebimbangannya.
Walaupun Diana tau Guntur bakalan marah besar dengan keputusannya, namun bagi Diana tidak ada pilihan lain. Riana dan Kiara butuh Guntur.
Anggap aja ini pertaruhan nasib pernikahanku dengan Mas Gun. Toh kalau emang berjodoh kami bakal dipertemukan kembali. Tapi kalau nggak, anggap aja aku dan Mas Gun nggak berjodoh dan hubungan pernikahan kami hanya sampai disitu aja.
Diana sudah memutuskan langkah penting dalam hidupnya barusan. Dengan mantap dan yakin, perempuan itu mulai mempersiapkan pengiriman barang-barang miliknya melalui jasa ekspedisi ke luar pulau tempatnya bertugas nanti.
Beberapa tas berisi barang-barang penting dan oleh-oleh serta koper pakaiannya tidak diikutkan Diana. Barang-barang tersebut bakal dibawa sendiri oleh Diana menggunakan pesawat karena tidak terlalu berat sehingga tidak membutuhkan biaya tambahan untuk ditaruh di bagasi pesawat.
Setelah semua barang-barang miliknya dijemput pihak perusahaan ekspedisi, Dianapun bersiap-siap menuju bandara.
Asrama mahasiswa tempat Diana tinggal dan menuntut ilmu beberapa tahun kemarin terlihat sepi. Hanya beberapa kamar yang masih terisi oleh beberapa mahasiswa baru yang mulai berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia.
Diana mengedarkan pandangannya ke setiap sudut asrama dan ruang kamarnya. Perempuan itu tersenyum.
Ada sepi melanda hati Diana. Semua kenangan yang tertinggal di asrama itu membuat sudut mata Diana mengembun.
Haahh..Dianaaa...jangan bersedih..songsong masa depanmu yang baru...biarkan kenangan tetap menjadi kenangan, hanya untuk dikenang dan bukan untuk ditangisi, batin Diana mencoba menyentil semangatnya.
Dengan mantap Diana melangkahkan kakinya meninggalkan asrama dan semua kenangannya yang tertinggal disana.
Menggunakan kendaraan roda empat yang dipesannya secara online, Diana berangkat menuju bandara. Perempuan itu tidak berniat menghubungi atau mengganggu suaminya yang sedang fokus mengurus Riana, istri pertamanya.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1