
Terdengar isak tangis Diana diseberang sana. Guntur membiarkannya, tak ingin menyela. Laki-laki itu paham betul sifat Diana.
Ahh..gadisku. Andai kamu ada disini, sudah kupeluk dirimu agar kamu tidak menangis lagi, batin Guntur dalam diamnya.
Beberapa menit kemudian, terdengar helaan napas Diana pertanda gadis itu sudah bisa mengendalikan emosinya.
"Gimana, udah lebih tenang sayang?" tanya Guntur memastikan kondisi Diana.
"Iya," jawab Diana singkat.
"Sayang..anggap kamu nggak pernah ngirim voice note itu. Kamu tetap kekasihku...."
"Tidak mas, aku tetap pada keputusanku. kita PUTUS!!" potong Diana tetap pada pendiriannya.
Guntur menghela napas "Gadis keras kepala,"
"Biarin,"
"Terserah kamu, tapi aku nggak akan mutusin kamu,"
"Maaaaass..tolong pahami aku, Mas sudah punya Riana dan Kiara. Aku nggak mau terluka lagiii ...!!"
Guntur terdiam sejenak, mencoba mencari jawaban yang bisa diterima Diana. Gadis itu memang sulit diyakinkan. Apalagi saat seperti ini, Diana jauh darinya.
"Sayang...benar, aku sudah punya Riana dan Kiara. Tapi aku nggak bisa kehilangan kamu. Aku cinta kamu sejak pertama kali melihatmu. Mungkin kamu nggak bakal percaya, tapi kamu cinta pertamaku sayang,"
"Bohong..!!, lalu Riana?"
__ADS_1
"Riana pelarianku An. Saat orangtuaku ngejodohin aku, Kuputuskan untuk memacari Riana. Tapi aku kebablasan hingga harus menikahi Riana tanpa restu orang tuaku,"
"Mas mau menikahi Riana tanpa cinta ?...BULLSHITS...!!! Aku nggak percaya. Bagaimana mungkin mas mau menghabiskan hidup mas dengan perempuan yang tidak mas cinta?"
"Kan udah aku bilang tadi An, aku kebablasan dan terpaksa menikahi Riana,"
Diana terdiam. Entah Guntur sedang jujur atau berbohong, namun Diana mulai meragukan keputusannya.
"Mas.."
"Hmm..?"
"Entah saat ini mas lagi berbohong untuk menghiburku atau memang mas jujur, tapi aku tidak bisa merubah keputusanku. Sebelum hatiku benar-benar terpaut kepada mas..sebaiknya aku mundur,"
"Diana....!?"
"HAH...tapi aku nggak bisa An"
"Kita berteman saja mas..oke !?"
"Nggak..,"
"Kalau begitu kita benar-benar putus..TITIk..!!"
"Terserah kamu. tapi aku nggak pernah nganggap kita udah putus. Terserah kamu nganggap aku teman kek..atau apa kek..terserah..!!, tapi bagiku kamu adalah kekasihku..TITIK," tegas Guntur sedikit meniru ucapan Diana.
Terdengar helaan nafas Diana. Percuma memaksa Guntur untuk menerima keputusannya.
__ADS_1
"Ya udah, terserah mas. Tapi bagiku, kita sekarang hanya teman biasa, nggak lebih. Dan aku bebas untuk dipacari laki-laki lain," ucap Diana akhirnya.
"Jangan harap An....kamu boleh jadi teman biasaku, tapi jangan harap kamu bisa jadi milik orang lain. Pantang bagiku membiarkan milikku diambil laki-laki lain,"
"Egois....!!!" pekik Diana gemas.
"Iya..aku memang egois. Dan kamu tau pasti itu. Makanya dengarkan ucapanku. Setelah pulang nanti. aku akan menemuimu dan mengenalkanmu kepada kedua orang tuaku,"
"Untuk apa...?" tanya Diana tak mengerti.
"Rahasia....lihat aja nanti," jawab Guntur enteng.
"Ya udah..terserah kamu mas. Susah ngomong sama orang egois. Aku harus istirahat. Besok ada kelas perkenalan kampus, dan aku tidak boleh terlambat. Aku tutup ya telponannya, Wass....,"
"Tunggu An. Jangan sampai nomor ponselmu kamu ganti..Ingat, kamu masih pacarku," potong Guntur mengingatkan.
"Hmm, Wassalaamualaikum..,"
"Aku cinta kamu Diana ...Waalaikumsalaam," jawab Guntur dan menutup pembicaraan mereka.
Guntur menghela napas panjang, biarlah, untuk sementara biarkan saja Diana beranggapan begitu. Huh...jangan harap kamu bisa menjadi milik orang lain Diana Aprilia. Semakin kamu berkeras, semakin kuat keinginanku untuk memilikimu, batin Guntur mantap.
"Gimana mas, sudah lebih tenang?" sebuah tepukan mendarat di pundak Guntur disertai suara Anton.
Guntur menoleh dan tersenyum penuh arti. "Ayo kita pulang," sahutnya kemudian.
Merekapun meninggalkan pelabuhan yang mulai terlihat sepi.
__ADS_1
\=\=\=\=\=