
Keesokan harinya di kampus...
Syahrial terlihat tampan dengan balutan kemeja putih berdasi, celana hitam dan toga yang dipakainya. Seorang perempuan dan Laki-laki paruh baya terlihat mendampingi Syahrial menuju aula. Sementara seorang gadis cantik juga terlihat diantara rombongan keluarga besar Syahrial. Diana kenal betul siapa sosok gadis cantik itu. Dia adalah Prita, tunangan Syahrial.
Sri, teman sekamar Diana juga terlihat cantik dan anggun dengan balutan kebaya khas jawa tengah yang dikenakannya. Terlihat toga masih dipegang Ibunda Sri. Rombongan keluarga Sri juga tak kalah banyak, bahkan tunangan Sri juga terlihat diantara mereka.
Disalah satu sudut gedung aula terlihat Diana berdiri bersama rombongan paduan suara kampusnya. Wajah gadis itu terlihat sendu. Cahaya diwajahnya memudar dan matanya sembab menyisakan lingkaran hitam disekitar matanya. Bisa ditebak kalau gadis itu tidak tidur semalaman.
Diana memandangi rombongan Mahasiswa yang akan diwisuda. Seketika matanya beradu pandang dengan Syahrial. Laki-laki itu memandangi Diana dengan tatapan yang tak dimengerti Diana. Seulas senyuman diberi Syahrial untuk Diana yang dibalas Diana dengan senyum sekilas dan lambaian tangannya. Kemudian telunjuk Diana menunjuk kearah Prita membuat Syahrial memalingkan wajahnya mengikuti arah telunjuk Diana.
Diana tersenyum dan mengangkat bahunya ketika Syahrial kembali memandanginya. kemudian gadis itu menundukkan kepalanya hingga terdengar panggilan untuk rombongan paduan suara kampus agar memasuki ruangan aula.
Entah apa yang dipikirkan Syahrial saat itu, Diana benar-benar tak ingin tau. Hingga acara wisuda selesai, Diana memilih menghindari Syahrial dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Sepertinya aku sudah tau apa keputusanku saat ini. Mereka pasangan yang serasi. Mana mungkin aku menuruti keinginan Mas Syahrial untuk ikut dengannya. Jelas tadi kulihat mereka berdua masih terlihat bersama dan saling mencintai batin Diana. Ini keputusan final Diana.
Mas Gun..?, bagaimana dengan laki-laki itu ?. Ah..diapun sama saja. Aku nggak ingin bertemu dengannya apalagi menikah dengannya. Biarlah kusimpan cinta yang kumiliki untuk diriku sendiri.
Air mata Diana kini seperti kering. Gadis itu tak ingin menangis lagi. Karena kelelahan dan kurang tidur semalam, akhirnya Diana tertidur hingga senja tiba.
Sebuah ketukan dipintu kamarnya membangunkan Diana dari tidurnya. Dengan malas gadis itu berdiri dan membuka pintu. Ternyata Prita yang berdiri disana. Gadis itu memandangi Diana yang terlihat kacau karena baru saja bangun tidur.
"Prita..!?" Diana menggosok-gosokkan kedua matanya, Tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Iya teh..aku Prita, tunangannya Mas Syahrial," Prita membenarkan dan memperkenalkan dirinya lagi.
"Aku tau. Ayo masuk," ucap Diana mempersilahkan Prita untuk masuk ke kamar. "Kita ngobrol didalam," ajak Diana lagi ketika Diana melihat Prita belum beranjak dari tempatnya berdiri.
"Nggak teh. Aku ingin ngomong disini aja," jawab Prita sambil duduk di bangku kayu panjang depan kamar Diana.
__ADS_1
"Hmm..ya udah, terserah Prita aja. Ada apa...Apa yang ingin Prita omongin?" tanya Diana setelah mengeluarkan kursi belajar miliknya, meletakkannya di depan Prita dan duduk disana.
"Teh...Teteh tau kan, apa hubunganku dengan Mas Syahrial!?"
"Ya..aku tau. Kamu tunangannya Mas Syahrial kan ?" jawab Diana. Walaupun secara pribadi, Diana tidak pernah saling bicara dengan Prita, namun Diana tau bahkan sangat tau apa dan bagaimana hubungan gadis cantik didepannya itu dengan Syahrial.
"Teh, untuk itulah aku ingin bertemu Teteh. Aku minta, tolong Tetah jauhi Mas Syahrial dan jangan berhubungan dengannya lagi!" pinta Prita dengan suara bergetar dan wajah yang mulai menegang. Mungkin terbawa emosi hingga netra gadis itu mulai mengembun.
Diana terdiam. tatapan matanya lekat memandangi wajah Prita. Dibiarkannya gadis itu meluapkan emosinya.
"Aku tau Teh, akhir-akhir ini hubungankku dengan Mas Syahrial memang kurang baik. Tapi bukan berarti kami sudah putus. Nggak Teh..kami masih baik-baik saja. Dan tidak ada sedikitpun niat kami untuk berpisah apalagi membatalkan rencana pernikahan kami," ujar Prita mulai menangis. Tapi buru-buru gadis itu menghapus air matanya, tak ingin terlihat lemah didepan Diana.
Diana tersenyum. "Sebentar..," ucap Diana sambil berdiri dan masuk kedalam kamarnya. Tak lama kemudian Diana keluar dengan membawa dua gelas minuman coklat hangat ditangannya.
"Minumlah..," pinta Diana lembut sambil memberikan salah satu gelas ditangannya kepada Prita. Gadis itu menerima dan meminumnya perlahan.
Setelah melihat Prita sudah lebih tenang, Dianapun meletakkan sisa coklat panas ditangannya diatas kursi yang didudukinya kemudian berdiri dan berpindah duduk disamping Prita.
"Bener Teh!?" tanya Prita lagi..ingin meyakinkan dirinya mendengar ucapan Diana barusan. Gadis itu menghapus air matanya.
"Bener..pegang janji saya !!" seru Diana sembari tersenyum dan menepuk lembut tangan Prita. Gadis itu itu tersenyum lega.
"Terimakasih Teh..aku lega sekali sekarang," ucap Prita sambil meminum sisa coklat hangat ditangannya.
"Aku pamit Teh..sekali lagi terimakasih untuk pengertian Teteh..dan juga coklat hangatnya. Aku suka," ucap Prita kali ini diikuti tawa gadia itu.
Diana mengangguk dan mengantar Prita hingga depan tangga. Setelah Prita menghilang dari pandangannya, Dianapun berbalik dan kembali ke kamarnya.
Saat akan menutup pintu kamarnya, pandangan mata Diana menangkap sosok yang tak asing baginya dilantai 2 gedung asrama. Syahrial...laki-laki itu sedang memandang kearah Diana..tanpa ekspresi diwajahnya.
__ADS_1
Diana tersenyum dan melambaikan tangannya kearah Syahrial kemudian gadis itu masuk ke kamarnya dan mengunci pintu kamar. Saat itu Diana sangat tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Tiba-tiba...ting..bunyi pesan masuk di ponsel Diana. Dengan malas Diana mengangkat dan membuka ponselnya. Pesan masuk dari..Syahrial.
Merasa tak ingin membuka apalagi membalas pesan Syahrial, Dianapun meletakkan kembali ponsel ditangannya.
Tuut..tuut..tuut..kali ini panggilan masuk dari Syahrial untuknya. Tanpa berpikir panjang, Diana merijek panggilan Syahrial.
Beberapa kali Syahrial mencoba menelepon Diana, tapi selalu dirijek gadis itu membuat Syahrial akhirnya memutuskan untuk langsung menemui Diana.
Saat melihat Prita menuju asrama tadi, Syahrial sudah curiga kalau Prita akan menemui Diana. Makanya laki-laki itu memutuskan untuk membuntuti Prita dan memperhatikan Prita dan Diana dari lantai 2 asrama.
Setelah yakin Prita sudah kembali ke penginapan dekat kampus yang disewa oleh keluarga Syahrial, Laki-laki itu kemudian mencoba menghubungi Diana.
Penolakan berkali-kali dari Diana membuat Syahrial geram dan memutuskan untuk pergi menemui Diana dikamarnya.
Sesampainya didepan kamar Diana, Syahrial mengetuk pintu dan memanggil nama Diana. "Ana..Diana. Ini aku, Syahrial,".
Tak terdengar jawaban Diana dari dalam kamar. Gadis itu seperti sengaja mengabaikan Syahrial setelah bertemu Prita tadi.
Ketukan Syahrial dipintu kamar Diana semakin keras dan memaksa Diana untuk membuka pintu kamarnya.
"Apalagi sih Mas," ucap Diana dengan wajah tak suka.
"An...tolong dengarkan aku dulu!" seru Syahrial menahan lengan Diana yang bermaksud untuk masuk ke kamarnya.
Diana menepis tangan Syahrial. Tapi gadis itu akhirnya memutuskan untuk mendengar apa yang ingin dikatakan Syahrial.
"Mau ngomong apa lagi Mas. Tidak ada lagi yang harus kita omongin. Semua sudah jelas bagiku. Prita sudah cerita semuanya!" ucap Diana sambil memandang lekat wajah Syahrial.
__ADS_1
Diana ingin Syahrial tau bahwa kedatangan dan permintaan Prita tadi tidak melukai hati Diana sama sekali.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=