TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 47. POV Syahrial


__ADS_3

Setelah apa yang terjadi semalam, aku sama sekali tidak dapat memejamkan mataku. Pikiranku di penuhi bayangan Diana dan Prita yang silih berganti menari dipelupuk mataku.


Disatu sisi aku memiliki Prita yang cantik dan selalu setia menungguku. Setiap akhir pekan, aku selalu meluangkan waktuku untuk menemui Prita dan keluargaku di kota C. Di lain sisi ada Diana, gadis manis yang sejak Ospek kemarin mengisi hari-hariku.


Diana dan Prita memiliki pesona yang berbeda. Dan perbedaan itu yang membuat aku tak bisa menentukan siapa yang aku pilih diantara keduanya. Aku mulai ragu dengan perasaanku sendiri. Walaupun komitmen masa depan telah kubangun bersama Prita, namun kehadiran Diana yang mengisi sebagian besar hari-hariku di kampus telah mampu menggoyahkan tekadku untuk menikahi Prita.


Malam itu, karena tidak bisa tidur semalaman setelah pertemuanku dengan Diana, aku memilih untuk duduk didepan kamarku sambil ditemani segelas kopi hitam yang sengaja kubiarkan dingin.


Pandangan mataku terarah ke lantai 3 kamar 301. Kamar Diana.... Pintu kamar itu masih tertutup rapat. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan seseorang yang ternyata adalah Diana keluar dari kamar. Terlihat Diana sedang menerima telepon dari seseorang.


Suasana hening membuat suara Diana terdengar jelas olehku. Karena penasaran, kuputuskan untuk menuju tangga lantai tiga, tempat yang cocok untuk nguping pembicaraan Diana. Letak kamar Diana memang persis berada di samping tangga membuat aku jadi leluasa menguping pembicaraan mereka.


Setibanya di tangga, aku mencari posisi yang strategis untuk nguping agar tidak ketahuan Diana. Astaga...benar dugaanku, Diana sedang teleponan dengan Guntur, laki-laki beristri pacar Diana.


Dia akan pulang ?. Berarti laki-laki itu akan sering mengunjungi Diana disini. Kekhawatiran meliputiku. Diana pasti akan lebih memprioritaskan Guntur daripada aku.


Tapi kupikir posisiku lebih berpeluang untuk memiliki Diana. Ya...aku belum terikat dengan Prita. Selama janur kuning belum melengkung, aku dan Diana masih bisa bersatu. Tinggal bagaimana caraku untuk memiliki gadis itu tanpa menyakiti Prita.


Aku terus mengikuti pembicaraan Diana dan Guntur. Dari apa yang kudengar setibanya di kota "B", Guntur akan langsung menemui Diana.

__ADS_1


"Gila itu orang. Bukannya nemuin anak istri duluan, malah perempuan lain..!!" aku menggerutu sendiri. Kesal..


"Aku harus mencegah Diana bertemu dengan laki-laki itu. tapi bagaimana caranya..?".


"Hari Sabtu dan Minggu aku harus pulang menemui Prita dan keluargaku. Kalau si Guntur itu datang menemui Diana pas aku lagi nggak di asrama, gimana..?" pikirku cemas.


"Terpaksa..kali ini aku nggak akan pulang weekend besok. Aku harus memastikan kalau Diana tidak akan bertemu Guntur. Aku harus bicara dengan Diana," tekadku akhirnya.


\=\=\=\=\=\=\=


Keesokan harinya tepat saat menjelang sarapan pagi, aku memutuskan untuk menunggu Diana di ruang makan.


"Oke mas, Diana udah selesai mandi. Lagi ganti baju. Sudah aku bilangin untuk bareng aku turun sarapan pagi," bunyi sms Sri.


"Oke jeng, thanks ya...,"


"Sama-sama mas...kita udah mau turun nich. Mas mau bareng atau duluan ke ruang makan ?" tanya Sri.


"Aku langsung ke ruang makan aja," jawabku.

__ADS_1


"Oke," ujar Sri menutup smsnya.


Bergegas aku keluar dari kamar dan melangkah turun menuju ruang makan. Suasana ruang makan masih sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang sarapan pagi. Aku memutuskan untuk mengambil tempat paling belakang di ruangan itu.


Setelah mengambil sepiring nasi goreng, telur ceplok, kerupuk dan beberapa potong buah melon, aku kembali ke tempat dudukku. Tak lupa sebotol air mineral aku ambil dari meja prasmanan.


Sesaat sebelum mencapai tempat dudukku, kulihat Sri dan Diana sudah datang dan langsung menuju meja prasmanan. Sekilas kulihat ekor mata Diana seolah mencari keberadaan seseorang di ruangan itu.


Serrr...tiba-tiba aku merasakan desiran halus di dadaku, teringat pertemuan kami semalam yang berakhir dengan ciuman lembutku dibibir Diana. Kupalingkan wajahku seolah tidak menyadari kehadiran Diana dan Sri. Perlahan aku mulai menikmati sarapan pagiku sambil menunggu mereka menghampiriku.


"Mas,..." Tiba-tiba suara Sri mengejutkan aku yang sedang larut dalam pikiranku sendiri. Aku mendongak kaget dan mendapati Diana dan Sri sudah berdiri disampingku.


"Uhuk..uhuk..eh, jeng,...uhuk..!!" seruku kaget. Aku tersedak dan batuk-batuk. Sri tertawa dan buru-buru menyodorkan air mineral kepadaku.


"Nih...minum. Makan koq pake acara ngelamun maass..mas..hahaha," Sri tertawa mengejekku yang semakin terlihat grogi. Secepatnya kutenggak air mineral yang disodorkan Sri kepadaku.Tapi ekor mataku terarah ke Diana yang sudah duduk tepat dihadapanku.


Gadis itu diam saja, tak menanggapi candaan Sri. Terlihat mata panda Diana yang berusaha ditutupinya dengan sepuhan bedak tipis diseputar matanya. Namun tidak bisa menghilangkan rona lelah diwajah gadis itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2