TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 149. Menyusun Rencana Untuk Membawa Kiara.


__ADS_3

Guntur melangkah pulang ke penginapan tepat saat Adzan Subuh berkumandan.


Kota mulai ramai dengan aktifitas dan lalu lalang penghuninya menyambut hari yang baru.


Guntur memacu mogenya perlahan sambil menikmati suasana Subuh yang mungkin setelah hari ini tidak akan ditemukannya lagi karena dirinya akan pergi jauh ke salah satu kota nun jauh di pulau seberang.


Melihat beberapa lelaki berpeci yang terburu-buru menuju Masjid Raya di alun-alun kota, tiba-tiba sesuatu yang berbeda mengetuk hati laki-laki itu.


Tanpa sadar Guntur membelokkan mogenya ke arah yang sama.


"Ahh..sudah lama sekali aku tidak berkeluh kesah kepadaNYA__," lirih suara laki-laki gagah itu sembari memandangi menara Masjid yang menjulang tinggi.


Guntur melipat kaki-kaki celana panjangnya kemudian menuju ruang wudhu untuk berwudhu. Jamaah Masjid mulai ramai berdatangan. Shaf-shaf dipenuhi dan Guntur mengambil posisi di shaf terdepan.


Setelah Iqamah dikumandangkan, Imam memulai Sholat berjamaah. Syahdu suara Imam Masjid melantungkan ayat-ayat suci Al-Qur'an menyentuh hati Guntur membuat sudut netra laki-laki gagah itu mengembun.


Terbayang kembali seluruh kisah hidupnya bersama Riana, Diana dan Kiara seperti sebuah film pendek yang diputar dipelupuk matanya.


Guntur meraba sudut netranya yang tiba-tiba basah. Duh__seperti apa lagi nanti kisah hidupku selanjutnya ?. Aku yang seorang Tentara akan berubah status menjadi rakyat biasa. Apakah keputusanku untuk melepaskan Riana serta pekerjaanku dan memilih Diana adalah keputusan yang terbaik ya Robb ?


Guntur menyapu wajahnya yang basah oleh air wudhu.


Apapun hasilnya nanti akan aku terima sebagai takdir hidupku. Semoga ini adalah keputusan yang tepat untukku dan semuanya....Aamiin


Guntur menyelesaikan Sholat Subuhnya kemudian melangkahkan kakinya menuju parkiran Masjid dan memacu mogenya perlahan menuju penginapan.


Sesampainya di penginapan, laki-laki itu membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Rasa kantuk tak dirasakannya walau semalaman Guntur sama sekali tidak tidur.


Dilema antara membawa Kiara atau tidak membuat Guntur tak dapat memejamkan matanya.


Jika aku membawa Kiara bersamaku, apakah efeknya bagi Riana yang tidak pernah terpisah dari Kiara ?, dan apakah Diana bisa menjadi ibu sambung yang baik bagi Kiara ?


Berbagai macam pertanyaan bergelayut di benak Guntur.


Aahh__!! Biar aku coba membawa Kiara bersamaku. Semoga aja Kiara mau dan tidak rewel aku pisahin dari Mamahnya.


Guntur membenahi barang-barangnya kemudian mandi dan memesan sarapan pagi untuknya di kamar.


Beres...sambil menunggu Kiara dan Anis, sebaiknya aku sarapan dan tidur dikit...!! batin Guntur yang mulai merasa ngantuk.


Setelah sarapan pagi, Guntur berbaring sejenak. Kali ini sambil membayangkan kehidupan yang lebih baik bersama Diana dan Kiara.


Tak terasa, laki-laki itupun tertidur.

__ADS_1


Entah berapa jam Guntur tidur, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya.


Laki-laki itu bangun dengan malas.


“Siapaa..!!,” tanya Guntur. Dia lupa jika jam 10 pagi itu dia janjian bertemu Anis dan Kiara.


“Saya Mas..Anis dan Kiara,” sahut sebuah suara di depan pintu kamar yang masih tertutup.


Sontak Guntur meloncat dari atas tempat tidur, buru-buru membasuh wajahnya yang agak kucel kemudian melangkah cepat kearah pintu kamar.


Ketika Guntur membuka pintu kamarnya, terlihat Anis dan Kiara berdiri disana.


“Kiaraaa...puteri Ayah!.” Guntur tersenyum gembira dan mengambil Kiara dari Gendongan Anis.


Diciumi dan dipeluknya Kiara dengan ciuman bertubi-tubi. Kiara tertawa kegirangan..


“Ayaaaah..Kia geliii..,” ucap Kiara sambil menghindari ciuman Ayahnya.


“Ha..ha..haa..biariin..abiis, Ayah kangeen banget sama putri Ayah yang cantik ini,” Guntur tertawa terbahak-bahak.”Ayo Nis..masuk dulu,”


“Iya Mas,” Anis manut dan masuk ke kamar mengikuti Guntur dan Kiara yang telah masuk terlebih dulu.


“Ini lumah balu Ayah yaa ?..,” tanya Kiara cadel sambil mengedarkan pandangannya kesekeliling kamar itu.


‘Eum..Mauuu,” sahut Kiara kegirangan sambil berloncat-loncatan diatas tempat tidur yang empuk.


Guntur tertawa. Anispun ikut tertawa melihat Kiara yang gembira bertemu Ayahnya.


“Terima kasih Nis. Kamu udah bawa Kiara kesini,” Ucap Guntur tulus sambil memandang ke arah Anis yang sejak tadi hanya tertawa dan tak banyak bicara.


“Iya Mas. Sama-sama. Cuman pesen Teh Riana, pulangnya jangan sampai kesorean,” Anis menyampaikan pesan Riana tadi ketika dirinya minta ijin membawa Kiara jalan-jalan.


“Iya. Jangan khawatir,’ Guntur meyakinkan Anis membuat gadis itu tersenyum lega.


“Ayaah..Kia haus,” tiba-tiba terdengar suara Kiara meminta minum.


“Astagaaaa..Ayah sampai lupa mau beliin susu dan cemilan buat Kiara dan Teh Anis. Euum..bagaimana kalau kita ke Supermarket dulu untuk beli cemilan dan susu Kiara ?.” tanya Guntur disambut anggukan Anis dan Kiara.


“Holeee..cokelaat..cokelaat..!.” Kiara meloncat kegirangan. Terbayang olehnya sebatang cokelat berukuran besar bertaburkan kacang mede dan ice cream coklat kesukaanya.


Guntur dan Anis tertawa melihat tingkah Kiara. Gadis kecil itu terlihat ceria.


“Nis..kamu kebawah duluan ya bersama Kiara. Nanti Mas nyusul kalian.”

__ADS_1


“Iya Mas,” jawab Anis singkat kemudian mencoba menggendong Kiara yang masih asyik berloncatan diatas tempat tidur.


“Ayo Kia. Teh Anis gendong ya. Kita tunggu Ayah didepan,”ajak Anis sembari merentangkan tangannya hendak menggendong Kiara.


Namun Kiara menolak dan berlari ke pelukan Guntur Ayahnya.


“Nggak mauu..Kia mau sama Ayah ajaa ,” jawab Kiara polos membuat Anis kelabakan.


“Kiara...,” panggil Anis lembut. Tapi gadis kecil itu justru menyembunyikan wajahnya di pelukan Guntur.


“Ya udah..Kia sama Ayah aja yaa,” Guntur mengiyakan mau putrinya. ”Anis jalan duluan ke bawah. Tunggu Mas dan Kiara di depan pintu keluar penginapan.”


“Iya Mas. Anis duluan ya,” jawab Anis kemudian melangkah keluar.


Setelah kepergian Anis, Guntur kemudian mendudukan Kiara diatas tempat tidur. Ditatapnya sekali lagi gadis kecilnya itu dengan tatapan sayang.


“Kiaraa..hari ini Kiara jalan-jalan yaa sama Ayah. Kita ke kebun binatang terus ke tempat bermain yang Kiara suka..Kiara mauu!?,” tanya Guntur pelan.


“Mauu..mauu..,” Kiara berseru kegirangan.


“Tapi Kiara janji yaa..jangan bilang-bilang Mamah kalau Kiara hari ini ketemu Ayah dan jalan-jalan sama Ayah dan Teh Anis. Kiara mau janji !?.” tanya Guntur sambil memandangi rona kegembiraan diwajah mungil Kiara.


Kiara mengangguk setuju kemudian mengulurkan jari kelingkingnya yang ditekuk ke arah Guntur.


Guntur tertawa melihat itu, kemudian menyodorkan jari kelingkingkan ke arah Kiara.


Ayah dan Anak itu kemudian menyatukan jari kelingking mereka sambil mengucapkan kata “Janji”.


“Ayoo..kita pergi,” Guntur mengambil tas ransel dan meletakkanya  dipundak kemudian sebelah tangannya meraih tubuh mungil Kiara dan menggendongnya.


Merekapun meninggalkan kamar itu sambil bernyanyi-nyanyi kecil.


Setibanya di depan meja resepsionis, Guntur memberikan kunci kamar kepada petugas disana.


“Selamat pagi Pak,” sapa petugas resepsionis ramah sambil mengambil kunci kamar dari tangan Guntur.”Mau dilanjut atau langsung check out Pak?.”


“Langsung check out aja Mbak. Oh iya. Sekalian saya titip tas ransel saya ya Mbak. Nanti saya balik lagi untuk mengambilnya,”


“Baik Pak. Ini nomor boxnya,” ujar Mbak resepsionis sambil menyerahkan nomor box penyimpanan kepada Guntur.


Guntur tersenyum,  mengucap terima kasih kemudian bersama Kiara dalam gendongannya menyusul Anis yang menunggu di depan penginapan.


Tujuan Awal Guntur adalah membawa Anis dan Kiara untuk berbelanja di Mall tempat dirinya dan Anis belanja kemarin.

__ADS_1


___________


__ADS_2