
Anis mengangguk dan mengikuti langkah-langkah panjang laki-laki didepannya.
Anis, gadis manis yang sering dipercayai Riana untuk menjaga Kiara jika Kiara dititipin ke Aki dan Nininya.
Kedekatan Kiara dan Anis membuat gadis itu bebas membawa Kiara kemanapun Kiara mau.
Berbeda dengan Riana, Anis adalah gadis yang tertutup dan pendiam. Diusianya yang telah memasuki kepala 3, Anis belum juga menikah. namun bersama Kiara gadis itu berubah ceria dan penuh perhatian.
Guntur memiliki kedekatan yang harmonis dengan Anis. Setiap kali berkunjung kerumah mertuanya, Anis dan Kiara selalu diajak Guntur untuk jalan-jalan.
Dan ketika kembali ke Asrama, tak lupa Guntur menyisipkan beberapa lembar uang seratus ribu di tas kecil milik Anis.
Pembawaan Guntur yang supel, perhatian dan wajahnya yang tampan membuat Anis betah berlama-lama dengan kakak iparnya itu.
“Kamu mau makan dimana Nis ?. Mas traktir.” Tanya Guntur tiba-tiba membuyarkan lamunan Anis.
“Terserah Mas aja,” jawab Anis tanpa memandang wajah Guntur. Gadis itu yakin, rona merah muda sedang menjalari wajahnya saat itu.
“Ya udah, kita makan di tempat biasa aja ya. Di depan alun-alun kota,” ujar Guntur meminta persetujuan Anis.
Anis memgangguk setuju.
Guntur mengunci pintu kamar, kemudian melangkah menuju meja resepsionis untuk menitipkan kunci kamarnya.
“Ayo Nis,” ajak Guntur setibanya mereka berdua di area parkiran motor penginapan.
Agak kaku, Anis duduk di boncengan Guntur. Gadis itu terlihat ragu-ragu.
Gimana kalau kelihatan Mbak Riana ? pikir Anis
“Tetehmu nggak akan keluar malam ini. Nggak usah khawatir.” Seolah bisa membaca jalan pikiran Anis, Guntur menjawab keraguan di benak Anis.
“Euum..i..iya Mas. Anis hanya khawatir aja. Takut Teh Riana salah sangka,” jawab Anis terbata-bata.
“Ya udah. Ayoo. Jangan kebanyakan ngelamun. Ntar kesambet setan penginapan kamu,” canda Guntur diselingi tawa.
“Mas ada-ada aja.” Anis ikut tertawa.
Keduanyapun meninggalkan pelataran parkir penginapan itu.
Sepanjang perjalanan, Anis memilih diam saja dan hanya memgangguk atau menggeleng jika Guntur menanyakan sesuatu.
Saat mendekati alun-alun kota, Guntur tiba-tiba membelokkan laju motornya menuju salah satu Mall terbesar di kota itu.
“Kita mau kemana Mas ?.” tanya Anis kebingungan.
“Kita nonton dulu di bioskop kemudian belanja baru makan,” jawab Guntur sembari memarkir mogenya di pelataran parkir Mall.
__ADS_1
Anis melongo. Seumur-umur baru kali ini dirinya diajak nonton oleh seseorang di bioskop sebesar ini.
“Tapi Mas__,”
“Udaah. Kamu ikut aja apa kata Mas. Anis baru kali ini kan nonton di bioskop ?.” tebak Guntur tepat.
“I...Iya Mas,”
“Naah. Ya udah. Mumpung Masmu ini lagi banyak duit dan mau nraktir kamu, diterima aja,” ujar Guntur meyakinkan gadis lugu didepannya sambil sedikit berkelakar.
Anis tersenyum.
Guntur menarik tangan gadis itu menuju beberapa kursi yang berjejer di depan loket.
“Kamu tunggu disini. Mas mau beli tiket dulu,”
Anis manut dan duduk disalah satu kursi.
Tak lama berselang, Guntur kembali dengan 2 lembar tiket ditangannya serta 2 kaleng minuman dingin, pop corn dan sebungkus coklat ukuran besar untuk Anis dan dirinya.
Anis terlihat senang. Senyum merekah dibibir gadis itu. Kedua bola matanya membulat sempurna melihat tentengan yang dibawa Guntur.
Guntur tertawa geli. Dimatanya Anis terlihat begitu lugu. Namun dirinya sempat mengagumi senyum manis gadis itu.
“Kamu cantik kalau lagi tersenyum Nis. Sayang..., banyak lelaki bodoh diluar sana yang tidak melihat dan menyadari hal itu,” Guntur menatap wajah Anis yang tersipu.
Berdua mereka memasuki ruang bioskop yang hampir penuh oleh pengunjung.
Guntur dan Anis mendapatkan tempat duduk dibagian sudut deretan ketiga bangku bioskop. Sengaja Guntur menempatkan Anis di bangku paling ujung agar gadis itu merasa nyaman.
Sebuah film romantis yang diputar kadang menampilkan adegan dewasa yang berani membuat Anis sesekali menutupi atau memalingkan wajahnya kearah dinding bioskop.
Guntur tersenyum. Laki-laki itu tiba-tiba teringat Diana saat pertama kali berkenalan, berkencan dan mengajak istrinya itu nonton.
Sebersit kerinduan tiba-tiba dirasakan Guntur untuk Diana. ,Ahh..apa kabarmu Diana sayang ? bisik Guntur pelan.
Selesai nonton, Guntur mengajak Anis untuk shooping. Beberapa buah baju, sepatu dan tas dibeli Guntur untuk Anis.
Gadis itu terlihat senang bukan kepalang.
“Sekarang waktunya kita makaaan...” ujar Guntur sembari menepuk-nepuk perutnya dengan gerakan kocak dan wajah yang lucu.
Anis tertawa geli melihat tingkah Guntur. Merekapun menuju salah satu resto yang ada di Mall itu.
Beberapa menu makanan dan minuman dipesan Guntur untuk dirinya dan Anis. Karena keseringan mengajak Anis dan Kiara jalan-jalan ke Mall membuat laki-laki itu jadi hapal makanan dan minuman kesukaan Anis.
Mereka makan dengan lahap.
__ADS_1
“Nis, Mas ingin meminta bantuan Anis,” ucap Guntur saat mereka berdua selesai makan.
“Bantuan apa Mas ?.” tanya Anis penasaran.
“Bantuan Anis untuk ngajak Kiara bertemu Mas besok,” jawab Guntur membuat wajah gadis didepannya tiba-tiba berubah tak mengerti.
“Kenapa Anis Mas. Kenapa bukan Mas sendiri yang jemput Kiara dan mamahnya?.” Tanya Anis tak mengerti.
“Tadi Mas sudah ke rumah Tetehmu. Kami bertengkar dan Kiara tidak diijinin ketemu Mas. Mas harus ketemu Kiara Nis sebelum berangkat tugas ngePAM lagi keluar daerah minggu depan," jawab Guntur sedikit berbohong.
Anis termangu.
"Jadi ini alasannya kenapa Mas ngajak jalan Anis malam ini?." tanya Anis mulai mengerti.
"Iya dan juga tidak," jawab Guntur membuat Anis kembali kebingungan.
"Kok ?."
"Iya karena Mas emang butuh Anis untuk bisa ngajak Kiara jalan-jalan besok dan ketemu Mas karena cuman Anis yang bisa melakukan permintaan Mas. Tidak karena Mas memang udah berniat ngajak Anis jalan sesekali sambil nonton dan shoping,"
"Ooh..." bibir Anis membulat. Entah gadis itu benar-benar mengerti maksud Guntur atau tidak. Tapi Guntur tidak perduli. Yang penting baginya Anis mau diajak kerjasama.
"Baiklah Mas. Anis coba ya. Besok jam berapa Anis bawa Kiara?." tanya Anis membuat Guntur menarik napas lega.
"Jam 10 pagi Nis. Ajak Kiara ke tempat Mas nginap. Nanti dari sana kita jalan-jalan lagi kesini," jawab Guntur cepat.
"Tapi Nis. Tolong jangan sebut nama Mas saat ngajak Kiara karena pasti bakalan nggak diijinin sama Nini dan Teh Riana," Guntur mengingatkan.
"Iya Mas. Anis ngerti. Mas jangan khawatir. Besok Anis ajak Kiara ketemu Mas jam 10 pagi di penginapan," jawab Anis mengulang instruksi Guntur.
Guntur tersenyum lega.
"Ayo Nis. Habiskan minumanmu. Setelah ini Mas antar kamu pulang. Kalau orang rumah nanyak bilang saja Anis ketemu teman lama dan diajak jalan-jalan sekalian shooping,"
"Iya Mas...." jawab Anis singkat sambil menyeruput habis sisa juice alpukatnya.
Setelah mengantar Anis pulang, Guntur tak langsung kembali ke penginapan. Laki-laki itu memutuskan untuk menghabiskan malamnya di Cafe sambil menikmati alunan musik lawas dan kopi hitam terenak di kota itu.
"Syukurlah, Anis mau ngikutin rencanaku walaupun dia sama sekali tidak tau maksud aku yang sebenarnya," lirih suara Guntur diantara dentuman musik yang meramaikan suasana cafe malam itu.
"Semoga saja Anis bisa membawa Kiara besok. Aku hanya ingin tau, jika Kiara aku bawa apakah dia mau atau tidak." Guntur mengetuk-ketukkan jemari tangannya megikuti hentakan musik yang semakin menggila.
_____________
__ADS_1