
Diana tersenyum lega melihat deretan barang-barang miliknya yang sudah dipacking dan tertata rapi. Beberapa barang akan dikirim Diana dengan menggunakan jasa pengiriman barang ke kota Ktg sulawesi utara, tempat Diana bertugas nanti.
Setelah dirasa cukup, Diana kemudian memutuskan untuk tidur sejenak. Namun belum sempat mata Diana terpejam, terdengar ponselnya berdering.
Tuuut...tuuuut...tuuuuut..
Dengan malas Diana bangkit dari tempat tidurnya dan menyambar ponsel miliknya yang belum selesai di cas Diana.
Nomor siapa ini..? tanya Diana dalam hati.
Terlihat deretan nomor telepon yang tak dikenal Diana tertera dilayar ponselnya.
Tanpa nama...
Dengan kening berkerut Diana mencoba mengingat siapa kira-kira pemilik nomor itu.
"Halo...?" sapa Diana ragu-ragu
Tak terdengar jawaban diseberang sana. Kembali Diana bersuara.
"Halo..siapa ini"? Tanya Diana lagi. Kali ini nada suara Diana terdengar tidak suka.
"Kamu Diana bukan ?" tanya suara itu. Suara yang dingin dan ketus milik seorang perempuan, entah siapa.
Diana tertegung. Siapa perempuan ini, kok tau namaku, pikir Diana bingung.
"Iya..aku Diana. Kamu siapa ?" tanya Diana makin penasaran.
"Riana...Istri syah Guntur Pramudya," jawab perempuan itu singkat, masih dengan suara dingin namun sanggup membuat jantung Diana berdetak kencang.
Deg.....Ternyata itu Riana, istri Guntur.
Diana kaget setengah mati. Hampir saja ponsel ditangannya lepas dan jatuh ke lantai.
Riana....!? batin Diana tak percaya. Bagaimana dan dari siapa dia tau nomorku?"
Buru-buru Diana menetralkan debaran jantungnya. Setelah dirasa cukup baginya untuk bicara, Dianapun buka suara.
"Ooh..Mbak Riana!" seru Diana sembari memperbaiki posisi duduknya.
"Dapat nomorku dari siapa Mbak?" tanya Diana lagi, mencoba berbasa-basi.
"Siapa lagi kalau bukan dari ponsel Suamiku?" ujar Riana ketus.
__ADS_1
Suamimu Suamiku juga, batin Diana dalam hati. Ada sebersit cemburu melanda hati Diana ketika Riana menyebut kata "Suamiku".
"Ooh...," hanya itu jawaban Diana.
Suasana kembali hening. Diana menunggu apa yang bakal diucapkan Riana. Namun beberapa menitpun berlalu dalam diam.
"Lalu apa tujuan Mbak nelpon saya jam segini?" tanya Diana akhirnya memecah kebisuan diantara mereka.
Terdengar helaan napas berat Riana diseberang sana. Perempuan itu seolah sedang menyusun kata, mungkin juga emosinya.
"Aku tau kamu punya hubungan khusus dengan Suamiku. Kalian berdua menghianati aku dan putriku Kiara," jawab Riana, telak menusuk jantung Diana.
Diana diam. Tak ingin membalas tuduhan Riana. Karena biar bagaimanapun Diana merasa memiliki janji untuk tidak mengusik Riana.
"Betul kan apa yang aku bilang !!?" Riana kembali bertanya seolah diamnya Diana adalah jawaban pertanyaannya.
"Heuum..aku dan Mas Gun nggak punya hubungan khusus apapun Mbak kecuali sebagai saudara angkat. Aku yakin Mbak juga tau itu," jawab Diana mencoba mengelak.
"Tapi dari yang aku dengar bukan seperti itu," jawab Riana tak percaya.
"Maksud Mbak?" tanya Diana tak mengerti.
"Aku tau, Syahrial yang kamu bilang calon suami kamu itu ternyata sudah menikah dengan orang lain," jawab Riana.
"Kamu nggak perlu bingung, darimana aku tau kalau Syahrial yang kamu bilang calon suamimu itu sudah menikah. Aku sendiri yang berbicara langsung dengan Syahrial soal kamu," jawab Riana seolah tau jalan pikiran Diana.
Diana hampir saja kehabisan kata-kata. Perempuan itu tak menyangka sama sekali kalau Riana sudah melangkah begitu jauh untuk menyelidiki dirinya.
Namun Diana tak bisa menampik kata-kata Riana tentang Syahrial.
"Iya, memang bener Mbak, Mas Syahrial pacar aku sudah menikahi perempuan yang dijodohkan dengannya.. aku tidak bisa menikah dengannya karena Mas Syahrial dan aku kerja sekantor. Dan peraturan di perusahaan tempat kami bekerja melarang pernikahan sesama pegawai," jawab Diana panjang lebar.
"Tapi kok penjelasan Syahrial berbeda ya dengan kamu!?" seru Riana masih belum percaya. Pertanyaannya terdengar menyelidik.
"Lho..berbeda bagaimana maksud Mbak ?" tanya Diana meminta penjelasan.
"Syahrial ngasi tau ke aku kalau kamu membatalkan rencana pernikahan kalian karena kamu punya calon suami yang lain yang katanya bakal segera nikahin kamu," jawab Riana.
Diana terdiam. Apa bener Syahrial ngomong begitu atau ini cuman karangan si Riana aja untuk memancing pengakuan dariku, batin Diana menebak.
"Nggak..itu bohong. Buktinya sampai sekarang aku belum menikah dengan siapapun. Bahkan besok aku sudah pindah ke daerah tempat tugas yang baru," jawab Diana dengan nada yang meyakinkan.
"Kok..!?" tanya Riana singkat.
__ADS_1
"Iya. aku kemaren sudah diwisuda dan SK penempatanku sudah turun. Aku ditempatkan di Sulawesi Utara. Besok pagi aku sudah berangkat kesana," jawab Diana.
"Sudahlah Mbak Riana, Mbak nggak perlu mencurigai aku. Percayalah kepada suami Mbak sendiri," ucap Diana sedikit menasehati Riana.
"Kamu nggak perlu sok menasehati aku !!!" protes Riana terdengar tak suka.
"Aku nggak menasehati Mbak. Aku hanya mengingatkan Mbak untuk jangan selalu tidak percaya dengan suami sendiri," jawab Diana mencoba menekan nada suaranya.
"Darimana kamu tau kalau aku nggak percaya Suamiku. Sok kenal kamu tuh...ketemu aja belum pernah!!!" seru Riana ketus.
"Dari suami Mbak sendiri," jawab Diana enteng. Kesabaran Diana mulai diuji kali ini.
Terdengar cacian Riana di seberang sana. Diana tersenyum ketika menyadari kalau kali ini dia bisa membuat Riana sedikit tidak berkutik..
"Brengsek, bagaimana mungkin dia berani menceritakan aibnya keluarganya sendiri kepada perempuan lain??" tanya Riana jengkel.
"Hmm..dengar Mbak. Aku bukan orang lain bagi Mas Gun. Aku dan Mas Gun adalah saudara angkat. Mbak masih belum lupa kan tentang itu !?" tegas Diana.
Diana tau Guntur sudah bercerita panjang lebar kepada Riana tentang dirinya. Namun, sulit bagi Riana untuk percaya begitu saja. Karena bagi Riana tidak ada persahabatan atau persaudaraan antara laki-laki dan perempuan.
Hubungan yang seperti itu akan berakhir dengan perasaan cinta. Selalu begitu yang terjadi dikehidupan nyata.
"Itu urusan keluargaku dan kamu nggak berhak tau apalagi ikut campur. Aku mau percaya kek , mau tidak percaya kek itu urusanku,!!"
Diana tertawa lirih. Namun tawanya terdengar oleh Riana yang mulai tersulut emosinya.
"Eeeh...pakai ketawa. Apa yang kamu ketawain PELAKOOORR..!!!" tanya Riana dengan nada tinggi. Sengaja Riana memberi penekanan pada kata Pelakor.
"Eeeiit...Mbak Riana, hati-hati dengan kata itu. Jangan sembarangan menuduh,!!!" kelit Diana.
Nada suaranya masih ditekan serendah mungkin. Namun kedua telapak tangan gadis itu mulai berkeringat. Kepalanya perlahan mulai berdenyut dan detak jantungnya berpacu dengan cepat.
"lha..emang kenapa kalau aku ngomong begitu. Emang kamu PELAKOOOR kan ?!!" kembali Riana berusaha memancing emosi Diana dengan mengulang kata yang sama.
Diana menghela nafasnya perlahan. Kayaknya harus diberi pelajaran ni perempuan !!!batin Diana mulai kesal. Hilang sudah kesabarannya.
"Kamu ingin aku jadi PELAKOR untuk suamimu Riana..!!? Tanya Diana sengaja menggantung ucapannya.
Tak terdengar suara Riana..hanya helaan nafas Riana yang ritmenya semakin cepat. Diana tersenyum sinis..
"Baiklah kalau itu mau kamu...!!"
"KAMU....,!!?? Riana tercekat.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=