
Aku dan suamiku tertidur pulas sambil berpelukan setelah kelelahan malam itu. Terlihat seulas senyuman puas tersungging di bibir Aa'.
Keesokan harinya saat bangun pagi dan memflashback kembali kejadian semalam, tiba-tiba Aku merasa ada sesuatu yang aku lewatkan saat kami sama-sama mencapai puncak. Walau samar, masih terngiang jelas erangan Aa' yang mengucapkan sesuatu..atau lebih tepatnya menyebut satu nama.
Ann..ya, Ann..Aa' tidak pernah memanggilku dengan sebutan Ann. Suamiku biasa memanggilku dengan sebutan Ri', bukan Ann.
Walaupun penasaran, aku memutuskan untuk tidak membangunkan suamiku yang masih tertidur pulas dan bertanya padanya saat itu juga.
Biar saja. Nanti aku nanyak setelah Aa' bangun putusku kemudian.
Bergegas Aku mandi dan berganti pakaian kemudian melangkah menuju kamar Kiara. Terlihat Kiara sedang disuapin pengasuhnya. Rupanya karena kelelahan aku bangun kesiangan.
"Kiara..sayaaang, wah Putri Mamah udah bangun yaa..," Aku menggendong Kiara dan menciuminya bertubi-tubi. Kiara tertawa kegelian.
Setelah puas mencium Kiara, aku berbelok menuju dapur. Walaupun ada bibi yang biasa masak untuk kami sekelurga, tapi hari ini aku memutuskan untuk membuatkan suamiku sarapan pagi buatanku sendiri.
Dua piring nasi goreng special telah selesai kubuat. Setelah mencicipi rasa dari nasi goreng specialku, Akupun tersenyum puas. Tak lupa secangkir kopi hitam untuk Aa' dan teh hangat untukku juga melengkapi sarapan pagi kami.
Setelah merasa yakin, tidak ada yang terlupakan. Akupun melangkah menuju kamar ku dengan membawa nampang berisi sarapan pagi yang telah kusiapkan tadi.
"A'..bangun sayang.. udah pagi," dengan hati-hati kubangunkan suamiku yang masih tertidur pulas.
"Ummm, Ri'..Aku kesiangan ya ?" tanya suamiku begitu tersadar setelah mendengar suaraku.
"Nggak..ini A' Aku sudah membuat sarapan untukmu. Jadi Aa' ga perlu keluar kamar lagi untuk sarapan," jawabku sambil meletakkan nampang berisi sarapan pagi kami diatas meja dikamarku.
Aku tau benar, walaupun telah menjadi bagian dari keluarga besarku, tapi suamiku masih enggan untuk berbaur dengan anggota keluarga lainnya dirumah besar ini.
"Ooohh..makasih sayang," ucap suamiku sambil minum segelas air putih yang selalu kusediakan diatas buffet tempat tidurku.
Aa' terlihat menikmati sarapan yang kubuat. Sesekali dia memuji masakanku sambil tersenyum kearahku.
__ADS_1
Namun dibalik senyumnya Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikannya dariku. Karena penasaran, aku memutuskan untuk langsung bertanya kepadanya.
"A'..semalam saat kita melakukan itu, aku mendengar Aa' menyebut sesuatu..kalau nggak salah dengar Aa' bilang Ann...," belum sempat Aku menyelesaikan kalimatku, tiba-tiba suamiku terbatuk-batuk. Seperti orang keselek sesuatu.
Buru-buru aku menuangkan kembali air putih di gelas dan menyerahkannya kepada Aa' yang seketika tandas diminumnya hanya dalam beberapa tegukan.
Jelas terlihat, suamiku terkejut mendengar penuturanku. "Masa sich...kok Aku nggak ingat ya !? " tanya suamiku dengan mimik wajah bingung.
Nasi goreng yang baru setengah piring dilahap suamiku diletakkannya kembali diatas meja.
'Iya..Aku jelas-jelas mendengar Aa' menyebut Ann, bukan Ri' atau sayang seperti biasanya Aa sebut setiap kali kita mencapai puncak saat berhubungn intim", seruku sambil menatap tajam ke wajah suamiku.
"Kamu salah dengar kali Ri," jawab Aa' masih dengan mimik datarnya.
"Nggak mungkin aku salah dengar A' ...namaa siapa yang Aa' sebut semalam....siapa dia A'...!!?" emosiku terpancing melihat wajah datar suamiku yang seakan tanpa dosa.
"Siapa...!!?"
"Aku nyebut namamu Ri'..!!"
"TIDAK A'.....!!! bukan nama Aku yang Aa' sebut. Tapi nama perempuan itu..perempuan yang Aa bawa menemui orangtua Aa'. Benar kan A' ....!!?? "suaraku meninggi. Aku mulai tersulut emosi dan cemburu.
"Ri'...dengar Aku.....!!" suamiku berusaha meredam emosiku yang tiba-tiba tak bisa kukendalikan.
"Aa yang harus dengar Aku..NAMAKU Ri' Aa'...RIANA.....BUKAN DIANA..!!!" Akhirnya...dengan nada tinggi nama itu kusebut juga. Aku menangis dengan wajah memerah menahan amarah.
Suamiku kaget dan sontak berdiri. Aku merasa menang karena saat ini, Aa di rumahku..dirumah orangtuaku. Dia nggak akan berani menyakitiku sepertia biasa dilakukannya setiap kali kami beradu mulut.
Guntur suamiku menyebut nama perempuan lain disaat berhubungan intim denganku ?? Yaa Allah, Apa yang dia bayangkan semalam adalah perempuan itu dan bukan Aku Istrinya !!??. batinku perih.
Suamiku hanya bisa memandangiku dengan wajah bingung. Entah dia sadar atau tidak saat menyebut nama perempuan lain di ranjang kami, tapi Aku benar-benar yakin bahwa saat itu suamiku sedang membayangkan perempuan lain saat bersamaku.
__ADS_1
"Maafkan Aku Ri' kalau memang aku salah. Tapi sumpah, Aku tidak membayangkan perempuan manapun saat bersamamu semalam...sumpah Ri'..!!" suamiku masih mencoba mengelak.
Aku semakin emosi mendengar pembelaan suamiku dan....PRAAANG....Tanpa sadar Aku mengambil figura foto kami yang terletak diatas buffet dan melemparnya kearah suamiku, namun berhasil ditepis dengan mudah olehnya.
Suamiku mulai kebingungan. Dia yang tidak terbiasa berlama-lama di rumah orang tuaku, justru saat ini harus beradu mulut denganku...dirumahku.
"Aku keluar Ri'..kita jangan ribut disini. Malu sama Orangtuamu..malu sama seisi rumah..!!" suamiku mencoba membujukku.
"Bodooooo...!!!" teriakku keras.
Karena khawatir pertengkaran kami terdengar oleh seisi rumah, suamiku akhirnya memutuskan untuk pergi keluar, menghindari kemarahanku yang semakin tak bisa kukendalikan. Itu kebiasaannya setiap kali kami bertengkar hebat.
"Tenangkan dirimu...kita bicara lagi nanti setelah aku kembali," ujar suamiku sambil melangkah keluar kamar.
Ketika keluar, suamiku berpapasan dengan Ibu dan Mbak Tiwi yang sedang berdiri didepan pintu kamar kami.
"Maafkan Kami Bu, Mbak Tiwi..sudah membuat keributan dirumah ini pagi-pagi," ucap Aa' sambil berlalu.
Ibu hanya diam, demikian pula dengan Mbak Tiwi yang tak berusaha mencegah kepergian Aa'. Mereka tau betul, percuma menahan Aa untuk tidak pergi.
"Ayah pergi dulu ya sayang...Kiara sama ibu dulu dirumah Nini. Nanti ayah jemput. Kita balik ke asrama," ucap suamiku sembari memeluk putri semata wayang kami, Kiara...
Terdengar bunyi motor dibunyikan dan kemudian menghilang ditelan pagi. Aku masih menangis dikamarku.
Mengapa dia tidak berusaha untuk merayuku..menghiburku biar aku nggak nangis lagi....dia malah pergi begitu saja..Setelah setahun ninggalin aku, justru ini yang dilakukannya padaku...BRENGSEK KAMU GUNTUUURRR..!!! batinku perih dan marah. Aku terluka. Tangisku pecah.
Ibu dan Mbak Tiwi bergegas masuk begitu mendengar tangisanku. Aku menangis dipelukan Ibu dan menumpahkan semua kekesalanku.
"Sudahlah Ri'. Menangislah jika kamu masih ingin menangis. Tapi jangan terlalu lama tenggelam dalam rasa sakit hatimu. Jangan biarkan perempuan itu memenangkan hati suamimu. Jangan kalah nak...rebut kembali cinta suamimu," bujuk Ibu sambil membelai rambutku.
Aku mengangguk. Ibu benar, Aku nggak boleh menangis. Jika Aku menangis, perempuan brengsek itu dan Suamiku akan tertawa.
__ADS_1
Lihat aja nanti A'. Kamu akan tau siapa sebenarnya Aku, Riana....Istrimu. Aku nggak akan ngalah kali ini.