
Kapal perang milik TNI yang baru saja tiba di dermaga Lantamal III Jakarta membawa rombongan pasukan yang telah selesai bertugas pengamanan di kota"T".
Upacara penyambutan pasukan berlanjut hikmat diikuti seluruh pasukan yang bertugas dan dihadiri para petinggi TNI AD dan AL beserta jajarannya. Juga terlihat anggota keluarga prajurit yang bertugas turut serta dalam upacara penyambutan pasukan pagi itu.
Selesai upacara penyambutan, pasukan dibubarkan dan masing-masing anggota TNI dipersilahkan untuk menemui keluarga masing-masing. Suasana haru menyelimuti pertemuan mereka. Suara tangis yang pecah karena kerinduan yang mendalam terdengar memecah pagi.
Terlihat beberapa ibu-ibu PERSIT berseragam hijau menyambut suami-suami mereka dengan pelukan hangat dan tangis bahagia disertai senyuman sumringah. Anak-anakpun turut memeluk ayah-ayah mereka. Beberapa anak hanya diam saja. Mungkin karena terlalu lama berpisah sehingga anak-anak itu merasa asing dan enggan memeluk ayah mereka. Tentu saja hal itu menciptakan suasana yang lucu tapi mengharukan. Tawa bahagia berderai disana sini.
Beberapa prajurit muda juga disambut pacar maupun tunangan mereka. Suasana penyambutan pasukan semakin meriah dengan kehadiran keluarga besar anggota TNI yang baru saja pulang.
Didalam keramaian pagi itu, terlihat Guntur Pramudya mencari-cari sosok Riana istrinya dan Kiara putri semata wayangnya diantara kerumunan keluarga anggota TNI yang baru kembali. Tapi tak ditemukannya.
"Bro...udah ketemu istri dan anakmu?" tanya seseorang yang tiba-tiba telah berada dibelakang Guntur dan menepuk pundak laki-laki itu. Supriadi, salah seorang senior Guntur terlihat turut mencari keberadaan Riana dan Kiara.
"Siap...belum mas..kayaknya istri dan anakku nggak datang," jawab Guntur sambil tatapan matanya terus mencari keberadaan anak dan istrinya.
"Coba kamu telepon istrimu. Mungkin ada sesuatu yang membuat dia dan Kiara nggak bisa datang," saran Supriadi.
"Siap.....," Guntur mengiyakan saran Supriyadi sambil mengambil gadget miliknya dan menekan nomor hp istrinya.
Terdengar nada dering panggilan masuk milik Riana. Tapi tidak diangkat Riana. Guntur penasaran. Diulanginya lagi menelepon istrinya. Nada telepon masuk tapi lagi-lagi nggak diangkat.
"Seharusnya istrimu datang. Khan dia tau hari ini kamu pulang," Supriadi memandang Guntur...heran.
"Iya, seharusnya begitu mas. Apa mungkin dia lagi ijin keluar asrama, pulang ke rumah orang tuanya ?" tebak Guntur.
__ADS_1
Dia hapal betul kebiasaan Riana istrinya. Apalagi saat dirinya sedang bertugas keluar daerah. Riana lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya daripada tinggal di asrama.
"Mungkin juga," sahut Supriadi mengiyakan.
"Tapi kenapa istrimu nggak ngangkat teleponmu Gun ?" tanya Supriadi lagi.
"Nggak tau juga mas...nanti aku coba telepon bapak mertuaku," jawab Guntur kemudian .
"Ok ...kamu usahakan hubungi istrimu. Kali aja ada situasi urgent yang membuat istrimu nggak bisa nerima telepon dari kamu,"
"Siap..," jawab Guntur sembari memberi hormat kepada Supriadi yang kemudian berlalu meninggalkan Guntur.
Ada apa ini. Kenapa Riana dan Kiara nggak jemput aku dan nggak ngangkat telepon dariku ? batin Guntur penasaran.
Guntur kembali menghubungi istrinya, namun tetap tidak diangkat Riana. Bahkan kali ini panggilan WA Riana tiba-tiba tidak aktif lagi. Sebaiknya aku kirimin pesan WA aja , pikir Guntur kemudian.
Setelah mengirim pesan singkat ke Riana, Guntur Pramudya dan seluruh pasukan beserta rombongan keluarga prajurit kembali ke asrama di kota "Bd".
\=\=\=\=\=
Ditempat yang berbeda, Riana sedang berada di ruang ICU salah satu RS di kota "S" , kota kelahiran Riana. Sudah 2 hari ayahnya Riana yang berprofesi sebagai seorang lurah di daerahnya terbaring sakit akibat penyakit radang paru-paru yang dideritanya. Komplikasi beberapa penyakit turut memperparah kondisi ayah Riana yang biasa dipanggil Aki oleh Kiara, putri semata wayangnya.
Kiara sengaja tidak diajak karena memang anak seusia Kiara dilarang ke RS oleh dokter yang menangani aki.
Disisi lain tempat tidur aki, terliha ibu Riana sedang menggenggam erat tangan suaminya. Terlihat gurat kekhawatiran menyelimuti wajah tua itu.
__ADS_1
"Ibu pulang aja, biar aku dan aa yg jagain bapak," Riana menyentuh tangan ibunya. Perempuan paruh baya itu menggeleng pelan.
"Biar ibu disini aja nak. Ibu nggak mau kalau bapakmu bangun nanti, ibu nggak ada disisinya," sahut ibu Riana sambil menatap lekat wajah suaminya yang dipasangi ventilator untuk membantu pernapasan dan selang untuk menyalurkan makanan ke tubuhnya.
Riana menarik nafasnya yang terasa berat. "Tapi bu...nanti ibu sakit," ujar Riana lembut masih mencoba meyakinkan ibunya untuk pulang.
"Aku dan dokter Aan yang akan menjaga bapak. Ibu nggak usah khawatir. Kalau bapak bangun nanti, aku akan ngabarin ibu," Riana kembali meyakinkan ibunya untuk pulang.
Dr Aan adalah kakak sepupu Riana yang bertugas di RS itu dan kebetulan pula dr Aan yang menangani bapak Riana sejak awal sesuai spesialisasi penyakit paru yang dimiliki dr Aan.
Begitu mendengar Riana menyebut nama dr Aan, ibu Riana akhirnya mau diajak pulang.
"Kamu jaga baik-baik bapakmu nak. Kalau ada apa-apa segera hubungi ibu," ibu Riana mengingatkan Riana sebelum melangkah keluar ruang ICU.
"Pasti bu..pasti Riana kabarin. Ibu istirahat ya. Biar Ibu diantar kang Ipin ke rumah. Titip Kiara ya bu," Riana mengantar ibunya keluar RS. Mereka disambut kang Ipin, supir pribadi bapak di ruang tunggu.
"Titip ibu ya kang, tolong diantar pulang. Ada Mbak Tiwi dan Suaminya di rumah," seru Riana kepada kang Ipin.
"Baik mbak Riana. Mari bu, ...," jawab kang Ipin sambil membantu membawa barang-barang bawaan ibu.
Riana mengantar ibunya dan kang Ipin sampai ke mobil yang terparkir di pelataran parkir RS. Setelah ibu dan kang Ipin pergi, Riana masih berdiri memandangi mobil ibu sampai tak terlihat lagi olehnya.
Riana menarik napas panjang, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Hari ini suaminya, Guntur Pramudya kembali dari tempat tugasnya di kota "T". Buru-buru Riana mengambil gadget miliknya yang disimpan Riana di saku celananya. Dan..Astagaaa..hpku mati lagi. Duh..pekik Riana gusar.
Segera Riana berbalik menuju ruang ICU dan buru-buru mencari charget miliknya yang ditaruh Riana dimeja tempat ayahnya dirawat. Tapi barang yang dicarinya tidak ditemukan olehnya. Power bank..mana nich power bank. naah, ini dia. Haduuhh, Aa pasti marah besar karena aku ngga ikut menjemput dan nggak ngasi kabar soal sakit bapak..!! batin Riana risau.
__ADS_1
Segera Riana membuka gadgetnya dan...tut..tut..tut..bunyi pesan WA untuk Riana. Astagaaa, banyak banget panggilan tak terjawab dari Aa. Riana gelisah.
Setelah batre hpnya cukup terisi, Riana langsung menghubungi suaminya, Guntur Pramudya.