
Diana melangkah pelan mendekati meja Syahrial. Beberapa mahasiswi terlihat memperhatikan mereka sambil bisik-bisik dan tertawa cekikikan. Huh...Diana mendengus. Gadis itu melangkah ke bagian kanan meja dan menarik kursinya pelan. Dengan begini Diana tidak perlu berhadapan langsung dengan Syahrial.
Terlihat meja prasmana masih penuh oleh mahasiswa yang ngantri. Diana dan Syahrial memilih untuk menunggu mbak Sri.
Tak lama berselang antrian terlihat sudah mulai berkurang. Disaat yang sama mbak Sri nongol di ruang makan sambil nyengir sana-sini menanggapi sapaan beberapa mahasiswa baru.
"Mas....Diana, ...kok blom sarapan??...yuk akh, tuch antriannya udah kosong!" seru mbak Sri sambil melangkah menuju meja prasmanan diikuti Diana. Dengan malas, Syahrial berdiri dan mengikuti langkah kedua gadis itu.
Gudeg khas Jogja, nasi putih, orek tempe dan telur dadar menjadi menu sarapan pilihan mbak Sri. Diana sendiri memilih nasi uduk, ayam goreng, sambal, tempe goreng dan lalapan sayur. Setelah mengambil buah dan air mineral, kedua gadis itu langsung menuju meja makan mereka. Syahrial memilih menu yang sama dengan mbak Sri ditambah ayam goreng, kerupuk, buah dan air mineral. Setelah piringnya sudah terisi penuh, laki-laki itu melangkah mengikuti Diana dan Sri.
__ADS_1
Ketiganya makan dengan lahap dan tak bersuara. Selang beberapa menit kemudian Syahrial telah menyelesaikan sarapannya. Namun dipiringnya masih tersisa sebagian besar sarapan paginya. Diana melirik piring Syahrial. Ini orang ngambil makanannya banyak banget. Tapi yang dimakan cuma sedikit aja. Mubazir banget..batin Diana heran, menyayangkan perbuatan Syahrial..
Seperti bisa membaca pikiran Diana, Syahrial mendehem membuat Diana kaget dan tertunduk, menekuni sarapannya sendiri. Mbak Sri tertawa.
"Emang begitu dia dek, jangan heran. ngambilnya segunung tapi yang dimakan cuman seuprit..khan sayang yaa..tapi kalau dibilangin ngeyel dia," ujar mbak Sri sembari memonyongkan bibirnya kearah Syahrial. Yang dimonyongin malah nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Diana hanya tersenyum menanggapi candaan kedua orang dihadapannya. Kalau nggak teliti, bisa disangka mbak Sri dan Syahrial punya hubungan khusus. Tapi tidak, mbak Sri sudah punya calon suami. Itu diketahui Diana saat melihat figura berisi foto tunangan mbak Sri yang terpampang manis di atas tempat tidurnya.
Namun dibalik sosoknya yang mungil dan seakan manja, mbak Sri adalah sosok yang tegas dan cerdas. Makanya tidak heran jika mbak Sri menjadi satu-satunya pegawai wanita yang lolos seleksi untuk melanjutnya pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan sarapan mereka, ketiganya kembali ke kamar masing-masing untuk mempersiapkan diri menghadiri acara pembukaan OSPEK yang dilaksanakan di ruang aula kampus. Mbak Sri dan Syahrial langsung menuju aula, sedangkan Diana memilih balik ke kamar untuk mengambil tasnya.
Bersama Hana dan Saras, ketiganya lantas buru-buru menuju aula. Saat melewati ruang senat, terlihat mbak Sri dan Syahrial serta beberapa orang panitia OSPEK sedang mempersiapkan aksesoris OSPEK untuk dibagikan kepada peserta OSPEK.
Hana dan Saras melongo saat melihat Syahrial. Laki-laki itu terlihat menarik saat sedang serius.
"Heeiii...awaaass, ntar jatuh cinta lo..!" seru Diana pelan sambil mencolek pinggang saras dan Hana. Kedua gadis itu terkejut dan sontak menjerit. Buru-buru Diana membekap mulut keduanya sambil menahan tawa.
"Iiih..kamu ini Dianaaa, bikin kaget aja. Luntur dech kecantikanku....!" Saras menggerutu manja sambil mengambil cermin kecil dari dalam tasnya dan bercermin. Dipolesinya bedak tipis di wajah cantiknya. Hana dan Diana cekikikan melihat tingkah Saras.
__ADS_1
"Neng Saraaaas, ga ditambahin makeup juga dirimu sudah cantik jelita. Udah akh, ayoo kita ke ruang aula," ucap Diana sambil menarik tangan Saras dan Hana menjauhi ruang senat.
\=\=\=\=\=\=\=\=