TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 128. Nginap di rumah Riana.


__ADS_3

Setelah penggerebekan yang dilakukan Riana, perempuan itu memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya. Guntur yang masih kesal memilih untuk tidak menjemput Riana dan tetap di batalion.


Ajakan Diana agar Guntur menyusul Diana ke Jogja pun juga tak bisa dipenuhi Guntur karena kesibukannya di kantor.


Setelah hampir seminggu lamanya Diana berlibur di Jogja, akhirnya Diana memutuskan untuk pulang ke Bd.


"Mas, hari ini aku pulang ke Bd," bunyi pesan WA Diana kepada Guntur.


"Jangan ke.Bd dulu. Kamu ke sini aja temenin Mas. Riana pulang ke rumah orangtuanya. Kali ini nggak Mas jemput. Biar aja nanti dia pulang sendiri," jawab Guntur.


"Apa ga berbahaya Mas, bisa aja Riana tiba-tiba pulang," ujar Diana mengingatkan suaminya.


"Nggak..Mas yakin dia bakal lama pulangnya. Mas udah hapal kebiasaan Riana kalau lagi ngambek," jawab Guntur meyakinkan Diana.


"Ya udah kalau begitu Mas. Aku ke Bo. Tapi Mas harus menjamin aku aman disitu,"


"Iya...siaaap Nyonya Guntuuur," canda Guntur membuat Diana tertawa.


Setelah ceck out dari hotel, Diana kemudian memesan mobil online menuju stasiun kereta api. Tujuannya ke Bo. Walaupun Diana tidak begitu yakin namun jaminan sang suami membuat Diana percaya diri untuk kembali ke Bo.


#


#


Sementara itu, Guntur yang tinggal sendirian di rumahnya, setelah menerima pesan WA Diana lantas membenahi rumahnya yang amburadul karena ditinggal Riana.


"Kabarin Mas kalau kamu udah nyampe Bo,' pesan Guntur saat berkirim pesan dengan Diana tadi.


"Iya mas," jawab Diana


Setelah hampir 14 jam lamanya Guntur menunggu, akhirnya Guntur menerima pesan WA Diana kalau dirinya sudah tiba di kota Bo.


Segera Guntur memacu mobil yang sengaja dipinjamnya untuk menjemput Diana di stasiun KA.


Guntur tak sabar menunggu kedatangan Diana istrinya. Dengan gelisah mondar mandir di ruang tunggu. Sesekali Guntur melayangkan pandangannya mencari sosok Diana diantara sekian banyak penumpang yang baru tiba dari Jogja.


Tiba-tiba terlihat Diana melambaikan tangannya ke arah Guntur diantara antrian penumpang yang baru turun dari KA.


Guntur membalas lambaian tangan Diana dan langsung masuk untuk menjemput Diana. Mereka saling berpelukan kemudian Guntur mengajak Diana untuk menuju mobil yang diparkir Guntur di depan stasiun KA itu.

__ADS_1


"Gimana perjalanan kamu sayang?" tanya Guntur mengawali pembicaraan mereka di dalam mobil saat mulai meninggalkan stasiun.


"Alhamdulillah, nggak ada kendala apapun Mas. Semua berjalan lancar. Aku juga enjoy disana..yaa..walaupun tetap aja ada yang kurang. Nggak ada dirimu Mas," ujar Diana sambil memeluk lengan kokoh Guntur.


Guntur tersenyum dan membelai pipi Diana yang dingin.


"In syaa Allah lain waktu kita pergi bareng ke sana. Mas emang lagi nggak bisa kemana-mana. Banyak tugas yang harus Mas kerjakan di kantor,"


"Aku juga minta maaf Mas soal Riana. Gara-gara aku, Mas jadi bertengkar dengannya,"


"Nggak apa-apa An. Itu udah resiko Mas" ucap Guntur dan kembali memfokuskan pandangannya ke pintu tol yang akan mereka lewati.


Hari mulai gelap ketika Guntur dan Diana tiba di asrama. Dengan berani Guntur mengajak Diana untuk nginap di rumah dinas yang ditempatinya bersama Riana dan Kiara.


"Mas..aku nginap di hotel aja ya. Aku merasa nggak nyaman tinggal disini," Diana mencoba meyakinkan Guntur agar mengizinkan dirinya tinggal diluar asrama.


Tapi Guntur tak menggubris permintaan Diana. "Udah, kamu disini saja.,"


Diana mengangkat bahunya tanda menyerah pada keputusan Guntur. Perempuan itu tau percuma membantah perkataan suaminya itu.


Beberapa hari Diana diam-diam tinggal di rumah Guntur tanpa diketahui siapapun karena pintu rumah yang selalu ditutup oleh keduanya. Untuk makan dan mandi selalu dilakukan oleh Diana saat Guntur pulang dari kantor.


Pada hari ketiga, tiba-tiba Riana mengabarkan kepada Guntur kalau dirinya dan Kiara akan segera kembali ke asrama.


"Iya Mas. Ya udah, aku siap-siap ya sekarang," jawab Diana hendak berdiri namun ditahan Guntur.


"Besok pagi aja kita keluar,"


"Tidak Mas. Aku tak mau ngambil resiko kepergok Istri dan putrimu sedang nginap disini,"


"Tapi An...!!"


"Sudahlah Mas. Kali ini Mas dengarkan aku. Aku balik ke Bd aja. Nggak usah tinggal di hotel lagi,"


Guntur menarik nafas berat. Dipandanginya wajah Diana dalam-dalam.


"Maafkan Mas ya, sudah menempatkan kamu diposisi sulit seperti sekarang ini," sesal Guntur


Ditariknya tangan Diana untuk duduk disampingnya. Laki-laki itu menggenggam erat jemari Diana. Kemudian mengecup jemari Diana lembut.

__ADS_1


"Jangan merasa bersalah seperti itu. Ini juga hasil dari keputusan aku untuk masuk kedalam kehidupan Mas," ucap Diana sambil mengelus lengan kokoh Guntur.


"Hmm...Aku ingin lebih banyak menghabiskan waktuku denganmu An karena aku tau setelah selesai masa pendidikan kamu, aku akan benar-benar kehilangan kamu,"


"Siapa bilang Mas akan kehilangan aku. Mas tetap adalah suamiku walaupun aku nggak ada disisi Mas. Walaupun aku akhirnya ditugaskan dipulau seberang, tapi aku tetap Istrimu. Kapanpun kamu ingin aku datang, aku akan datang. Mas juga harus sempetin ngunjungi aku sekali-kali,"


"Aku pasti akan sangat merindukanmu An," ucap Guntur pelan.


Kini mereka saling bertatapan. Perlahan Guntur mendekatkan wajahnya kearah Diana. Mata Guntur menatap lekat bola mata Diana kemudian mengalihkan perhatiannya ke bibir Diana yang terlihat seksi dan basah tanpa polesan lipstick.


Dianapun melakukan hal yang sama. Perempuan itu menginginkan sesuatu yang saat itu juga diinginkan Guntur.


Ketika bibir mereka saling bertautan, Diana membuka sedikit bibirnya untuk membiarkan Guntur menjelajahinya sesuka hati.


Guntur ******* bibir ranum Diana tanpa ampun. Lidahnya bermain dengan lincah seolah memancing Diana untuk meladeni pagutannya.


Beberapa hari jauh dari Guntur bagi Diana yang baru saja dinikahi secara siri oleh Guntur adalah sebuah siksaan. Dirinya merasa bahwa hari-harinya bersama sang suami akan semakin berkurang bahkan mungkin saja saat lulus dan ditugaskan di daerah nanti, dirinya dan Guntur akan berpisah untuk selamanya.


Terbawa emosi dan membayangkan hari-harinya tanpa sang suami membuat Diana meradang. Tanpa menunggu lama, Diana akhirnya meladeni ciuman Guntur yang bertubi-tubi.


"Mas....,"bisik Diana serak diantara ciuman panas keduanya.


"Hmm...," jawab Guntur singkat tanpa melepas pagutannya.


"Aku..aku mauu..," bisik Diana lagi.


"Mau apa hmm, mau aku lakukan itu sekarang hmm??" tantang Guntur mulai menggoda hasrat Diana.


"Buk..bukaaan..,"jawab Diana.


"Kalau begitu diam dan ikuti permainanku," ucap Guntur yang mulai tak sabar dan ingin membopong tubuh Diana keatas ranjang. Tangannya kini mulai beraksi membuka satu persatu kancing gaung yang dipakai Diana.


"Tapi Mas...aku..aku..nggak tahan lagi!!" seru Diana sembari meringis.


"Ya udah..diam biar Mas gendong kamu ke kamar. Kita 'main" disana yuk..mau!?" tanya Guntur hendak menggendong Diana.


"Nggak..nggak mauuu..!!" jawab Diana mulai mencoba melepaskan diri dari serangan bertubi-tubi Guntur ditubuhnya.


"Lho..emang kenapa sayaang. Kamu aneh dech," Guntur melonggarkan pelukannya.

__ADS_1


"Aku mauuu....mau pipis Maaass...," jawab Diana sambil mendorong tubuh Guntur dan lari ke belakang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2