
Setibanya di asrama Guntur yang masih kesal dengan sikap istrinya memutuskan untuk langsung keluar rumah dan menemui teman-temannya di pos depan.
Hal itu dilakukan Guntur untuk menghindari keributan lebih lanjut dengan Riana.
Lebih baik aku menghindari Riana malam ini batin Guntur memutuskan.
Sementara Riana langsung menidurkan Kiara yang tertidur pulas. Tak lama berselang, Rianapun ikut tertidur karena kelelahan.
Guntur tiba di pos depan tempat dirinya biasa menghabiskan waktu dengan teman-teman selettingnya dan beberapa senior yang sedang bebas tugas.
"Lho, pot..?. Udah balik ?. Bukannya baru tadi pagi kau dan keluargamu pergi ke kampung halaman Orangtuamu ?" tanya Harahap dengan logat Medannya yang kental.
Guntur tertawa kecut sembari mengambil gitar yang diserahkan Deni kepadanya. "Iya, kami pulang lebih cepat dari rencana semula," jawab Guntur pendek sembari memetik beberapa buah melodi di senar gitar yang dipegangnya. Sebait lagu milik si raja dangdut Rhoma Irama meluncur merdu dari mulut Guntur.
Setelah menyelesaikan lagunya, Guntur kemudian menyerahkan kembali gitar ditangannya kepada Deni.
"Ngopi bang?" tanya salah satu adik letting Guntur menawarkan kopi untuk Guntur.
Guntur mengangguk. "Boleh..terima kasih,"
"Gimana kabar Diana Gun. Aku dengar dia melanjutkan kuliahnya di kota Bd?" tanya Mas Bagus, salah seorang senior Guntur yang tau benar hubungan Guntur dan Diana. Keduanya duduk agak jauh dari anggota lainnya yang sedang bernyanyi mengikuti lagu yang dinyanyikan Harahap.
"Diana baik-baik saja Mas. Iya, Benar dia nglanjutin kuliahnya di Bd," jawab Guntur sembari menerima segelas kopi yang dibawa adik lettignya tadi.
"Kamu pernah bertemu gadis itu?" tanya Mas Bagus penasaran.
"Iya Mas, beberapa kali. Bahkan kami sering menghabiskan waktu liburan weekend di rumah kedua Orangtuaku," jawab Guntur
"Riana tau soal Diana?" tanya Mas Bagus ingin tau.
"Nggak Mas, Riana tau soal Diana, tapi sebagai saudara angkatku. Dia nggak tau hubunganku yang sebenarnya dengan Diana," jawab Guntur.
"Besok hari Minggu kamu libur kan?, kenapa nggak kau kunjungi aja Diana di kampusnya?" tanya Mas Bagus sekaligus memberi usul.
Bener juga apa yang disaranin Mas Bagus. Lagi bete begini, pas bener ketemu Diana yang kalem. batin Guntur menepuk jidatnya sendiri.
"Makasih Mas idenya. Kenapa nggak kepikiran dari tadi ya?" Guntur langsung berdiri dan berpamitan.
[ Sayang..Aku OTW ke kamu sekarang. Jangan kemana-mana. Tunggu aku..nanti aku jemput di asrama ] isi pesan WA Guntur kepada Diana.
Perlahan Guntur mengeluarkan motornya agak jauh dari rumah tanpa menghidupkan mesin motornya agar tidak kedengaran Riana.
Setelah yakin Riana nggak bakal mendengar bunyi motornya, Gunturpun menghidupkan mesin mogenya dan melaju membelah malam menuju kota Bd.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Di kampung, Mak memutuskan akan mengunjungi anak, menantu dan cucunya hari Minggu besok.
"Pak, Mak ke rumah Guntur besok pagi ya. Mak masih kangen sama cucu Mak, si Kiara," ucap Mak meminta ijin suaminya.
"Ya udah. Tapi Bapak kaga bisa ikut Mak. Besok panen sayuran di kebun Bapak. Nggak bisa Bapak tinggal. Ntar Mak ajak si Anggi dan Windi nemenin Mak. Bawa juga oleh-oleh hasil kebun kita biar ada buah tangan yang Mak bawa," saran Bapak mengijinkan istrinya untuk berkunjung besok pagi ke rumah putranya.
"Anggi...panggil Windi kesini. Mak mau ngomong," kata mak meminta Anggi untuk memanggil Windi, anaknya Lusi.
"Iya Mak.." jawab Anggi sembari berlari ke rumah Lusi.
Tak berselang lama, Windi dan Anggi tiba diikuti Lusi, emaknya Windi.
"Ada apa Mak manggil Windi?" tanya Lusi penasaran.
"Anak lu mau Mak ajak ke rumah Guntur besok nemenin Mak," jawab Mak.
"Lha..bukannya Gun, Bini dan Anaknya masih disini Mak..Nginep?" tanya Lusi heran sambil clingak-clinguk mencari keberadaan ketiga orang itu.
"Adik lu udah balik ke asrama tadi," jawab Mak dengan wajah memelas karena kecewa.
"Emang kenapa Mak, kok bisa begitu?" tanya Lusi lagi.
"Iya, tadi Adik lu bertengkar dengan bininya," jawab Mak dan menceritakan peristiwa tadi ketika Guntur dan Riana bertengkar sebelum Guntur memutuskan untuk balik ke asrama saat itu juga.
"Emang,..udah bener tuch si Guntur negur bininya. Kalau dibiarin takutnya makin songong dan kaga nghargain keluarga lakinya,"
"Mungkin juga Mak. Ya udah, ntar Lusi siapin keperluan Mak, Anggi dan Windi ke rumah Guntur. Lusi pamit ya Mak" pamit Lusi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sementara itu di kamar, Diana menerima dan membaca pesan Guntur..
Tumben Mas Gun tiba-tiba kesini. Bukannya dia piket sampai hari minggu besok ?" batin Diana bingung.
[Iya Mas. Aku nunggu di asrama aja. Takutnya pas Mas ke sini, Aku lagi latihan], Diana menjawab WA Diana.
Sebaiknya aku nunggu Mas Gun diluar aja. Takutnya ketahuan Syahrial. Ntar diomelin lagi..batin Diana tersenyum sendiri.
Beberapa jam pun berlalu ketika Guntur tiba di kota Bd. Malampun mulai menjelang. Guntur tidak langsung menuju asrama Diana namun membelokkan mogenya ke salah satu hotel langganannya setiap kali dirinya ke kota itu.
Kriiing...kriingg.
Bunyi hp Diana berbunyi ketika gadis itu baru saja selesai mengikuti latihan paduan suara kampus.
"Assalaamualaikum...," sapa Guntur begitu panggilan WAnya diterima Riana.
__ADS_1
"Waalaikumsalaam Mas," Riana menjawab salam Guntur.
"Mas udah nyampe. Kamu dimana?"
"Di asrama Mas , baru saja selesai latihan. Skarang aku mau ke kamar dulu, mandi,"
"Kamu nggak usah ke kamar lagi. Aku jemput sekarang,"
"Eeeh..jangan Mas, nggak usah ke asrama. Aku nunggu Mas di depan mini market aja"
"Sekarang ya..,"
"Tapi aku mandi dulu Mas, gerah banget..ga lama. Paling aku sampai selesai mandi dan kesitu nggak sampai 30 menit.
"Ya udah..Mas nunggu di mini market ya,"
"Iya.."
Guntur bergegas menuju mini market yang dibilang Diana. Perasaan kesalnya terhadap istrinya Riana mulai dilupakannya.
Sambil menunggu Riana, Guntur memesan segelas kopi yang dijual oleh penjual kopi keliling. Hawa dingin yang mulai menusuk kulitnya terkalahkan oleh hangatnya kopi hitam yang diminum Guntur.
Sementara di asrama, Diana telah tiba dikamarnya. Bergegas gadis itu mandi dan berdandan seadanya. Mengenakan t-shirt dan celana jeans juga sweater kuning muda yang baru dibelinya Minggu lalu, Diana terlihat fresh.
Diana semakin cantik walau tanpa polesan makeup sama sekali. Wangi sabun mandi menyeruak dari tubuh gadis itu.
Setelah dirinya merasa siap, Diana kemudian melangkah pergi menuju mini market tempat dirinya janjian bertemu dengan Guntur.
Hanya butuh waktu kurang dari 5 menit, Diana telah tiba didepan mini market. Terlihat Guntur yang sedang menunggunya. Begitu melihat Diana datang, wajah Guntur berubah ceria.
"Kamu cantik sayang..," Guntur merangkul gadisnya. Wajah Diana merona menerima pujian Guntur
Wangi tubuh Diana menyentuh hidung Guntur. Insting kelelakiannya terusik dan laki-laki itu semakin tak sabar ingin segera berduaan saja dengan Riana.
"Maaf Mas, aku kelamaan ya ?" tanya Riana meminta maaf.
"Nggak kok. Lagian Mas mesen kopi tadi. Ditemani segelas kopi hangat nunggunya jadi nggak kerasa. Tiba-tiba aja kamu udah nongol," Guntur tersenyum dan menepuk jok motornya. "Ayo naik..,"
Diana naik ke boncengan Guntur. Gadis itu duduk agak menjauh dari Guntur. Melihat itu, sontak Guntur menarik tangan Diana dan melingkarkannya dipinggangnya.
"Masih malu-malu juga. Padahal sebentar lagi kamu akan resmi menjadi Istriku," ujar Guntur tanpa melepaskan genggaman tangannya.
Diana tersenyum sejenak lalu menarik napasnya. Walaupun dirinya telah menyetujui keinginan Guntur untuk menikahinya, tapi masih ada keraguan yang menggelayuti hati gadis itu.
Apalagi awal bulan depan Syahrial juga bermaksud melamar dirinya jika Diana bersedia berlibur ke kota kediaman Syahrial. Diana semakin galau..
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=