
Diana melangkah anggun memasuki ruang makan hotel yang telah dipenuhi tamu hotel lainnya. Beberapa pasang mata menatap kagum kearahnya.
Tampak pak Sardi dan bu Tina sedang duduk disalah satu meja makan tak jauh dari deretan meja prasmanan hotel.
Begitu melihat kehadiran Diana di ruangan itu, bergegas Sardi berdiri dan menyambut Diana.
"Silahkan bu Diana," ucap Sardi sambil menarik salah satu kursi untuk Diana.
"Ohh..iya. Terima kasih pak Sardi," Diana tersenyum dan duduk.
Diana mengerutkan keningnya melihat meja yang masih kosong.
"Pak Sardi dan bu Tina belum ngambil sarapannya?" tanya Diana.
"Belum bu. Kita nunggu ibu," jawab bu Tina membuat Diana merasa tidak enak hati.
"Aduuh, kenapa harus nunggu saya bu. Ayoo..bu..pak Sardi. Kita ambil sarapannya," ujar Diana sambil berdiri diikuti pak Sardi dan bu Tina.
Setelah mengambil makanan, minuman serta potongan buah segar masing-masing di meja prasmanan hotel, Diana, Sardi dan bu Tina kembali ke tempat duduk mereka dan mulai menikmati sarapan pagi mereka.
Sesekali pak Sardi dan bu Tina menjawab beberapa pertanyaan Diana tentang suasana dan kondisi kantornya yang baru.
"Kapan saya pindah ke rumah Dinas pak Sardi?" tanya Diana penasaran.
"Secepatnya bu. Saat ini rumah dinas ibu masih direnovasi. Kalau ibu mau lihat rumahnya, nanti kita antar sepulang dari kantor bentar sore," jawab Sardi menawarkan diri untuk mengantar Diana melihat rumah dinasnya.
"Waah..makasih pak," jawab Diana sumringah.
"Sama-sama ibu,..tapi, maaf ibu... apa bu Diana nggak mau nunggu Bapak datang dulu baru pindah ke rumah Dinas ibu?" tanya Sardi tiba-tiba.
Diana terdiam. Biar bagaimanapun mereka nggak boleh tau tentang statusku dan Mas Gun saat ini ..batin Diana dalam diam.
"Nggak apa-apa pak. Kalau saya sudah masuk rumah dinas, begitu bapak datang langsung ke rumah dinas. Jadi nggak nginap lagi di hotel," Diana menjelaskan alasannya.
Pak Sardi dan bu Tina manggut-manggut.
Diana lega karena kedua orang itu tidak melanjutkan pertanyaan mereka tentang suaminya.
Merekapun melanjutkan sarapan pagi tanpa suara.
Diana tak sabar ingin segera melihat kantornya yang baru. Perempuan itu terlihat bersemangat dihari pertamanya masuk kantor.
Tiba-tiba Diana teringat sesuatu.
Astaga, aku lupa menghubungi suamiku. Dia pasti sangat marah saat ini..!!!.pekik Diana dalam hati.
Bergegas Diana merogoh tas miliknya. kemudian beralih ke saku blazernya, namun apa yang dicari Diana tidak ditemukan perempuan itu.
__ADS_1
Dimana ponselku..apa mungkin ketinggalan di kamar ??
"Cari apa ibu?" tanya Sardi tiba-tiba melihat rona kebingungan di wajah Diana.
"Ponsel saya pak..kayaknya ketinggalan dech di kamar," seru Diana sambil berdiri. "Saya ke kamar dulu," pamit Diana.
"Silahkan bu," jawab Sardi dan bu Tina berbarengan.
Bergegas Diana berjalan cepat menuju lift yang akan membawanya ke lantai 3 hotel tempatnya menginap.
Sesampainya dikamar, Diana segera masuk dan mencari keberadaan ponselnya.
"Ini dia !!," seru Diana lega begitu menemukan ponselnya yang diletakkannya dibawah bantal semalam. "Aah...ponselku mati," pekik Diana tertahan.
Segera Diana mengambil charger dan mengisi daya ponselnya.
Biar aku cas ponselku bentaran beberapa persen aja. Ntar dilanjut di kantor, putus Diana.
Beberapa menit kemudian Diana mencabut charger ponselnya kemudian hendak turun ke resto hotel tempat pak Sardi dan bu Tina yang sedang menunggunya.
Saat menghidupkan ponselnya, terdengar dentingan beruntung, entah berapa kali di telinga Diana pertanda pesan yang masuk lumayan banyak.
Beberapa pesan singkat dari teman-teman seangkatan Diana di kampus, dari keluarganya serta ada beberapa nomor tak dikenal dan pesan WA dari Guntur suaminya.
Diana menarik napas panjang.
Tiba-tiba sudut matanya tertumpu pada pesan yang dikirim seseorang. Foto dan video seorang laki-laki dan perempuan disebuah taman.
Diana tertegung..
Dengan rasa penasaran, dibukanya pesan tersebut.
Deg....
Riana....batin Diana berguman dan terduduk disudut ranjang.
Dadanya bergemuruh. Dengan tangan gemetar Diana membuka pesan WA Riana.
Beberapa foto dan video Guntur dan Riana yang terlihat seperti sengaja diambil secara sembunyi-sembunyi oleh Riana dan dikirim ke ponsel Diana dipelototi perempuan itu.
Kamu lihat ??... Sadar diri dong hei PELAKOR, suamiku sekarang nggak perduli lagi sama kamu...tulis Riana bernada mengejek.
Diana menarik nafas panjang, menetralkan debaran jantungnya dan menghapus peluh yang tiba-tiba saja membasahi dahinya.
Kurang ajar Riana. Semakin berani saja dia ke aku !!! batin Diana geram.
Dibacanya lagi deretan pesan WA Riana berikutnya dengan wajah memerah karena marah dan cemburu.
__ADS_1
Aku yakin, saat melihat foto dan video ini, kamu akan dibakar rasa cemburu yang luar biasa, marah dan merasa diabaikan. Tapi bagiku itu pantas kamu terima sebagai imbalan perbuatan kamu menggoda suamiku !!!.
Diana meremas ujung bed cover yang didudukinya.
Haruskah aku balas WA perempuan gila itu ?!. batin Diana gusar.
Saat itu perhatian Diana hanya tertuju pada WA Riana hingga melupakan pesan WA suaminya.
Yaa Allah, sabarkan aku. Jangan sampai kemarahan membutakan hatiku dan membuat aku melanggar janjiku kepada Bapak, batin Diana memohon.
Tiba-tiba...
Kriiiing.....
Suara telepon masuk di ponsel Diana. dilihatnya nama Sardi tertulis di layar ponselnya.
Astagaaa....aku sampai lupa kalau pak Sardi dan bu Tina sedang menungguku dibawah batin Diana tersadar kalau terlalu lama dirinya berada di kamar itu.
"Iya pak Sardi. Saya segera turun," ucap Diana cepat begitu diangkatnya telepon pak Sardi.
"Baik bu...,"
Bergegas Diana bersiap hendak keluar dari kamar itu.
Biarlah sepulang dari kantor baru aku balas si Riana, batin Diana akhirnya.
Segera Diana memasukkan ponselnya kedalam saku blazernya kemudian keluar meninggalkan kamar hotel.
Hari pertama Diana di kantor, dirinya disambut oleh pimpinan dan segenap staff kantor dengan suka cita.
Demi memberikan image positif tentang dirinya dihari pertamanya di kantor, Diana memutuskan untuk tidak menghidupkan ponselnya dan hanya mencas ponsel miliknya dalam posisi power off.
Hal itu dilakukan agar dirinya tidak terganggu oleh berbagai sms maupun telepon dari Riana.
Hari pertama dilalui Diana dengan mulus. Hingga akhirnya waktunya pulang ke rumah. Dengan diantar pak Sardi, Diana kembali ke. Kamar hotelnya..
"Alhamdulillah...hari ini semuanya berjalan lancar. Haaaa....legaaa banget," ucap Diana sembari duduk bersandar di salah satu sofa empuk di kamarnya.
Diana memandangi langi-langit kamar yang berwarna putih bersih. Tiba-tiba seraut wajah tampan menari di pelupuk matanya..wajah tampan milik suaminya.
Ada sebersit kerinduan menoreh hati Diana.
Namun rasa itu hanya sesaat dan tiba-tiba menghilang seiring munculnya sosok wajah Riana dilangi-langit kamar Diana.
"Aaah...brengsek. Kenapa wajah Riana yang harus nongol..bikin ilfil ajaaaa...!!!," sungut Diana jengkel.
Diana menggelengkan kepalanya dengan kasar, berusaha menepis bayangan perempuan yang akhir-akhir ini mulai mengusik hidupnya..
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=