
Sayang..kok kamu pergi nggak nunggu aku..?!. pesan pertama Guntur di ponsel Diana. Masih bernada lembut....
Diana menghela napas panjang. Tak ingin langsung membalas pesan suaminya.
Dibukanya lagi beberapa pesan selanjutnya.
"Sayang....kamu marah ya..Maafkan aku karena kali ini aku harus memprioritaskan Riana. Mengertilah sayang...," bunyi pesan Guntur berikutnya.
Ada desiran cemburu menggelitik rasa Diana membuat hatinya sakit.
Beberapa panggilan tak terjawab dari Guntur dan beberapa panggilan lainnya juga memenuhi layar ponsel Diana.
"An..kok ponselmu ga aktif lama banget ?" sebuah pesan lagi dibuka Diana. Kali ini ada perubahan nada didalam pesan Guntur.
"Kamu belum nyampe juga ya ?"
"Lama banget jawab pesanku An ?"
"Jawab doooonk*...,"
Dan berpuluh pesan pendek Guntur menghiasi ruang WA-ponsel Diana.
Dengan malas Diana membaringkan tubuhnya sambil memijat tengkuknya yang agak sakit. Mungkin akibat perjalanan jauh yang baru saja ditempuhnya.
Diana meraba dahinya. Agak hangat..
Diana bermaksud hendak menelepon Guntur untuk mengabarkan kalau dirinya sudah tiba dengan selamat di kota Ktg saat tiba-tiba sebuah panggilan masuk mengejutkan Diana.
Panggilan telepon Guntur...
Diana menarik napasnya..berusaha meredakan gemuruh yang tiba-tiba dirasakannya.
"Assaaamualaikum Mas..," ucap Diana pelan.
"Kenapa ponselmu baru diaktifin. Setahuku, kamu nggak butuh waktu seharian penuh untuk tiba di Ktg kemudian menelepon suamimu. ..!!!" semprot Guntur tanpa menjawab salam Diana.
"Assalaamualaikum...jawab dulu salamku Mas baru kamu boleh protes," Diana mengulangi salamnya tanpa memperdulikan omelan suaminya itu.
"Wa'alaikumsalaam...," jawab Guntur akhirnya.
"Naah...gitu dong..jawab dulu salam istrimu sebelum kamu ngomelin aku,"
"Jawab dulu pertanyaanku An,"
"Baiklah...baiklah, aku jawab ya..Aku memang butuh waktu lama dari jakarta hingga tiba di Ktg. Kan aku transit dulu di Makassat Mas. Sampai disinipun aku masih harus menempuh perjalanan darat hingga tiba di kota tempat tugasku yang baru," jawab DIana panjang lebar.
"Tapi harusnya kamu hubungi aku begitu tiba di Manado. Bukannya malah nggak aktifin ponselmu seharian. Kamu nggak mikir ya kalau aku nunggu kabar dari kamu seharian?" cecar Guntur lagi membuat Diana gerah.
__ADS_1
"Aduh Maass..ya mana mungkinlah aku ganggu kamu dengan segala pesan dan teleponku..sementara kamu sedang sibuk ngurusin istri tuamu itu!?" Diana berdalih, sedikit bernada ketus.
"Itu bukan alasan untuk tidak menghubungiku An. Riana adalah masalahku..bukan masalahmu.... !" protes Guntur.
"Wuaaah...kamu salah besar Mas. Riana juga masalahku. Kamu lupa kalau aku adalah madu istrimu..!!?" semprot Diana tak mau tau.
"Kok kamu ngomongnya kasar begitu sich An..!?"
"Emang kenyataannya begitu. Jadi jangan salahkan aku kalau aku diamin kamu seharian penuh..!!!" seru Diana ketus.
"An...kamu !!?" suara lantang Guntur berubah pelan mendengar perubahan sikap Diana.
Diana tak menggubris protes suaminya, malah mematikan ponselnya dan membantung tubuhnya dengan kasar keatas tempat tidur.
Keterlaluan...bukannya bicara lembut kepadaku karena membiarkan aku berangkat sendirian ke kota ini....eehh..malah marah-marah nggak karuan. !!! batin Diana jengkel.
Tengkuk Diana terasa semakin sakit. Kepalanya berdenyut.
Dengan malas Diana mengambil sebutir obat sakit kepala yang biasa ditaruhnya didalam tas jinjing bersama pil tidur dan beberapa vitamin yang biasa dikonsumsi Diana saat dirinya kelelahan atau tidak bisa tidur.
Tanpa sadar Diana salah mengambil obat yang dikiranya obat sakit kepala, yang ternyata adalah obat tidur.
Setelah minum obat, Diana kemudian merasakan kantuk yang teramat sangat.
Huaaahh..ngantuk banget. Mending aku tiduran sebentar untuk ngilangin sakit di kepalaku. Nantilah aku nelpon Mas Gun lagi..batin Diana pelan sambil memejamkan matanya.
\=\=\=\=\=\=
Berulang kali Guntur menelepon istrinya itu, tapi percuma. Ponsel Diana tidak aktif.
Padahal ada hal penting yang ingin aku tanyakan kepada Diana, kenapa Riana bisa kolaps setelah berbicara dengannya...batin Guntur kesal.
Beberapa menit Guntur menunggu, kemudian mencoba menghubungi Diana lagi. tapi percuma, ponsel Diana benar-benar tidak bisa dihubungi.
Keras Kepala...!!! gerutu Guntur semakin marah.
Laki-laki itu yang tidak terbiasa diabaikan oleh Diana kini hanya bisa menunggu.
Sementara itu, ada sepasang mata yang menatap adegan itu dengan senyuman puas tersungging disudut bibirnya.
Senyum itu milik Riana, Istri pertama Guntur Pramudya.
Setelah menemukan Riana yang tiba-tiba kolaps di kamar tidur mereka, Guntur memutuskan untuk segera membawa Riana secepatnya ke RS dan hanya mengirim SMS singkat kepada Diana soal kondisi Riana dan permintaan maaf karena tidak bisa mengantar Diana ke Bandara.
Padahal Guntur telah berjanji akan mengambil cuti dan mengantar Diana hingga ke tempat tugasnya yang baru.
Untungnya Diana tidak protes dan membiarkan Guntur mendahulukan Riana.
__ADS_1
Namun setelah mendengar keterangan dokter Beni soal kondisi kesehatan Riana dan penyakitnya membuat Guntur semakin penasaran dan ingin mengetahui apa yang dibicarakan oleh istri-istrinya itu hingga Riana tiba-tiba kolaps.
"Aa'..eum..haus..," tiba-tiba suara Riana mengagetkan Guntur.
"Eh..iya..sebentar, aku ambilkan," ujar Guntur sambil berlari kecil menghampiri Riana istrinya.
Wajah Riana terlihat pucat pasi. Tubuhnya lemas.
"Ini, minumlah...," ucap Guntur sambil duduk disamping Riana, memperbaiki letak duduk istrinya itu dan membantu Riana untuk minum.
"Terima kasih..,"
"Iya..tidurlah..," jawab Guntur sambil kembali membantu Riana untuk tidur.
"A'..Aa' kenapa belum tidur ?" tanya Riana melihat kearah suaminya.
"Nggak papa Ri'. Udah..nggak usah mikirin Aa'. Kamu tiduran aja, biar lekas sembuh" jawab Guntur berusaha menghindari pertanyaan Riana.
"Siapa yang Aa' telepon barusan ?" tanya Riana lagi..ingin tahu.
"Bukan siapa-siapa. Hanya orang kantor Ri'..," jawab Guntur.
"Tapi kok Aa' kayak marah-marah begitu. Terus wajah Aa' keseeel aja dari tadi," pancing Riana...lagi.
Riana yakin kalau orang yang barusan ditelepon suaminya adalah Diana, si pelakor itu.
Mungkin Aa' sudah memarahi habis-habisan perempuan itu dan memutuskan hubungan mereka..haaaah...semoga saja apa yang aku pikirkan ini benar-benar terjadi..batin Riana berharap.
"Udah..istirahat... Ingat pesan dokter Beni tadi. Kamu nggak boleh capek dan banyak pikiran Nggak ada apa-apa. Percayalah pada suamimu ini," pungkas Guntur sambil menyelimuti Riana yang kemudian memutuskan untuk tidak bertanya lagi.
Riana menggerutu dalam hati. Secara diam-diam Riana memperhatikan gerak-gerik suaminya.
Merasa Riana masih memperhatikan dirinya, akhirnya Guntur memutuskan untuk pura-pura tidur di sofa.
Setelah yakin Riana sudah tertidur dari suara dengkuran halusnya, Gunturpun bangun dan berjalan perlahan menuju pintu.
Ketika membuka pintu kamar untuk keluar, laki-laki itu menahan nafasnya, khawatir terdengar oleh Riana yang sedang tertidur.
Aamaan..!! Seru Guntur lega setibanya diluar ruangan itu.
Gunturpun mencari tempat yang aman untuk menghubungi Diana.
Setelah mencoba beberapa kali, ternyata ponsel Diana masih belum aktif juga. Guntur terlihat semakin kesal. Namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
Sebaiknya aku tunggu saja sampai Diana aktifin ponselnya baru aku hubungi dia lagi
Sebungkus rokok kretek yang sejak tadi dihisap Guntur kini hanya tersisa beberapa batang lagi.
__ADS_1
Aduh..Habis lagi ini rokok...mending aku kedepan dulu beli rokok dan minuman ringan. Biar nggak ngantuk nungguin Diana aktifin ponselnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=