TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 68. Akal-Akalan Guntur


__ADS_3

Pagi mulai menjelang ketika Diana terbangun oleh suara-suara di dapur. Ternyata Emak sudah bangun dan sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi. Disamping Diana, Anggi masih tertidur pulas.


Astagaaa..Aku kesiangan pekik Diana.


Segera Diana turun dari tempat tidur, meraih handuk dan alat mandi yang dibelinya kemarin dan berjalan pelan menuju kamar mandi. Letak kamar merangkap W* yang berada dekat dengan ruang dapur membuat Diana tidak dapat menghindari pertemuannya dengan Mak yang sedang sibuk masak.


"Aduh..Mak, maaf..saya kesiangan," sapa Diana malu-malu.


"Nggak papa Nak. Kalau masih ngantuk, tidur aja dulu," jawab Mak.


"Nggak Mak..Saya permisi mau mandi dan sholat Subuh dulu ya Mak,"


"Oh..silahkan Nak. Itu kamar mandinya kosong," tunjuk Mak ke arah kamar mandi.


Diana mengangguk dan dengan sedikit membungkukkan badan, Dianapun berlalu menuju kamar mandi.


Tidak memakan waktu lama untuk Diana mandi, mengganti bajunya dan sholat Subuh. Setelah selesai, bergegas Diana melangkah menuju dapur. Namun sebelumnya gadis itu membangunkan Anggi yang masih tertidur pulas. Namun gadis kecil itu terlihat masih malas untuk bangun.


Akhirnya Diana memutuskan untuk tidak membangunkan Anggi dan bergegas menuju dapur.


"Mak, Saya bantuin ya ?" tawar Diana sambil duduk disamping Mak yang sedang asyik memotong-motong bahan sayur asam.


"Eehhh..nggak usah nak. Kamu bangunin aja si Anggi biar dia nganterin kamu keliling kampung. Suasana pagi di kampung ini sangat indah untuk dinikmati," tolak Mak dan memberi ide Diana untuk menikmati paginya.


"Jalan-jalannya nanti aja Mak, Aku bantuin Mak masak dulu," tolakku halus sambil mengambil pisau dan mulai mengupas bawang putih dan merah yang diletakkan mak diatas meja dapur.


"Ya udah..terserah kamu aja," Mak tersenyum dan melanjutkan kegiatan masak memasaknya. "Diana mau minum apa, biar Mak buatin," tawar Mak lagi.


"Nggak usah Mak. Terima kasih" Diana menolak halus tawaran Mak. Kemudian mereka berdua asyik memasak sambil mengobrol dengan obrolan ringan yang sesekali diselingi candaan.


Guntur yang sudah bangun sejak subuh tadi tersenyum dibalik pintu dapur. Pemandangan yang indah batin Guntur tersenyum senang.


Tiba,-tiba sebuah tepukan halus dirasakan Guntur di pundaknya. Ternyata Bapak sudah balik dari Sholat Subuh di surau.


"Yuk..gabung," ajak Bapak.

__ADS_1


"Mak, bikinin kopi 2," pinta Bapak sambil duduk disalah satu kursi meja makan di dapur itu. Guntur mengambil tempat disamping Bapak.


Begitu mendengar permintaan Bapak, Mak langsung berdiri dan membuat 2 gelas kopi hitam untuk Bapak dan Guntur. Sementara Diana masih melanjutkan tugasnya yang diberi Emak.


2 Gelas kopi hitam yang dibuat Mak diberi tatakan piring kecil oleh Mak dan diletakkan didepan Bapak dan Guntur.


Bapak kemudian mengisi tatakannya dengan setengah kopi panas di gelasnya kemudian menyuruputnya perlahan. Guntur juga melakukan hal yang sama. Mereka terlihat menikmati harum wangi kopi hitam yang menyentuh hidung mereka.


"Nak Diana dan Mak masak apa hari ini?" tanya Bapak berbasa-basi.


"Ini...kata Mak, mau masak Sayur asem, semur jengkol dan....apalagi tadi ya ?" Diana kembali mengingat-ingat menu yang bakal mereka buat hari ini.


"Bandeng dikecapin," jawab Mak. Perempuan tua itu tersenyum dan membuat 2 gelas teh manis untuknya dan Diana.


"Ini nak Diana, diminum dulu tehnya," ucap Mak sambil memberikan segelas teh hangat kepada Diana. Wangi teh beraroma melati bikinan Mak sungguh serasi dengan suasana pagi itu.


"Terima kasih Mak..waaah, tehnya enak. wangiii lagi," puji Diana.


Mereka berempatpun terlibat perbincangan ringan diselingi candaan Bapak.


"Bapakmu hari ini libur. Kan ada tamu jauh, masaaak Bapak tinggal ?" jawab Bapak.


Waktu terus berlalu, tak terasa masakan Mak dan Diana telah siap. Dengan sigap Mak dibantu Diana meletakkan sarapan pagi yang mereka masak diatas meja makan.


Sarapan pagi hari itu didahului oleh Bapak dan Guntur. Setelah mereka selesai makan, Mak membenahi piring kotor dan sisa makanan kemudian meletakkan ulang 2 buah piring bersih untuknya dan Diana.


"Ayo Nak Diana..kita makan," ujar Mak sambil mempersilahkan Diana untuk duduk disalah satu kursi disampingnya.


"Iya Mak..," jawab Diana.


Mereka berdua menikmati makan pagi tanpa suara. Hanya sesekali Mak menawarkan kepada Diana lauk yang dibuatnya. Setelah beberapa menit berlalu Diana dan Mak menyelesaikan sarapan pagi mereka, kemudian dengan sigap Diana berinisiatif untuk membenahi meja makan dan mencuci piring kotor.


Mak membiarkan Diana melakukan hal-hal yang ingin dilakukannya.


"An..ayok, ikut aku. Ada yang mau aku omongin," tiba-tiba Guntur sudah berada dibelakang Diana.

__ADS_1


Diana berdiri. "Mak, kami keluar dulu bentar," Guntur berpamitan kepada Emak disambut anggukan Mak.


"Ajak Diana melihat-lihat kampung kita Gun," kata Mak memberi ide.


"Iya Mak..," jawab Guntur singkat.


"Bang tunggu.....Abang mau kemana?" suara Anggi dari pintu kamarnya.


"Ayok ikut Nggi..kita jalan," ajak Guntur disambut Anggi dengan senang hati.


Merekapun pergi bertiga. Tujuan mereka kali ini adalah kebun sayur dan sawah Bapak yang letaknya memang saling bersebelahan. Seingat Guntur, ditengah sawah ada satu pohon mangga yang sangat rajin berbuah yang sengaja dibiarkan Bapak tumbuh di antara sawah dan kebunnya untuk tempatnya ngadem. Ada satu bale bambu berukuran lebar dibuat Bapak dan diletakkan dibawah pohon mangga itu.


Hanya memakan waktu 15 menit lamanya bagi mereka untuk mencapai tempat itu. Ternyata pohon mangganya sedang berbuah lebat dan beberapa buahnya sudah hampir matang. Diana dan Guntur lantas duduk diatas bale bambu, sementara Anggi langsung mengambil gala dan memetik beberapa buah mangga yang terlihat mulai menguning.


"An..kamu disini dulu ya bersama keluargaku. Tadi pagi Aku diperintah komandanku untuk segera balik ke Asrama hari ini. Akan ada kunjungan Panglima di Batalion," Guntur memulai pembicaraan mereka.


"Aku..?, sendirian disini Mas ?" tanya Diana tak yakin.


"Kan ada Mak, Bapak dan Anggi. Bentar sore juga aku udah balik lagi"


"Nggak ah...!!," Diana menolak tegas.


"An, dengar aku dulu..!.Aku nggak akan lama kok. Selesai kegiatan aku langsung balik jemput kamu dan kita balik ke "Bd"


"Iya teh..Teteh disini aja dulu nemenin Anggi. Kan Abang perginya nggak lama. Nanti Anggi bawa Teteh jalan-jalan ke air terjun di kampung sebelah. Tempatnya indah lho Teh," Tiba-tiba Anggi sudah bergabung dengan menenteng sekantung penuh buah mangga yang baru saja dipetiknya.


"Tuuh kan..kamu disini dulu ya An," pinta Guntur sekali lagi.


Untuk sesaat Diana diam. Namun akhirnya...


"Ya udah. Tapi jangan lama-lama ya mas. Sore Mas sudah ada disini lagi" jawab Diana akhirnya.


Guntur menarik nafas lega. Aku harus segera menemui Riana dan Kiara sekarang juga. Untung Diana mau diajak tinggal dulu. Hmm..Anggi bisa juga diajak kompromi , batin Guntur .


Rupanya sebelum keluar tadi, Guntur sengaja meminta Anggi untuk membantunya meyakinkan Diana untuk tinggal dulu barang sehari. Dan idenya berhasil. Diana percaya dan mau diajak tinggal oleh Anggi.

__ADS_1


"Ayok kita balik..biar aku cepat perginya dan cepat balik lagi kesini," Guntur menarik tangan Diana dan Anggi dan mengajak mereka untuk pulang.


__ADS_2