TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 38 . Si kaku Syahrial


__ADS_3

Diana bergegas membereskan meja belajarnya, menyambar gadgetnya yang tergeletak diatas tempat tidur dan berjalan menuju lantai 2 kamar 205. Sesampainya di lantai 2 asrama, Diana celingukan mencari nomor kamar yang dicarinya. Tak berselang lama, kamar yang dicari ditemukan Diana.


Pintu kamar 205 terbuka lebar. Perlahan Diana melangkah mendekat. Terdengar suara mbak Sri sedang berbincang dengan seseorang. Suara itu...kayak suara kak Riil ya batin Diana menebak sambil melongok ke dalam kamar. Benar saja, mbak Sri terlihat duduk dan sedang berbincang serius dengan Syahrial dan beberapa mahasiswa lainnya. Dilihat dari seragam yang dipakai dan name tag yang tergantung di leher mereka jelas mereka adalah panitia OSPEK hari ini.


"Assalaamualaikum, selamat pagi kak," sapa Diana takut-takut.


"Waalaikumsalaam, ayo Ana..masuk," jawab mbak Sri ramah.


Syahrial dan penghuni kamar lainnya juga ikut menjawab salam Diana dan menoleh kearahnya. Diana terlihat sedikit tegang diperhatikan orang sekamar terutama oleh Syahrial yang terlihat acuh tak acuh.


"Nggak mbak Sri, aku diluar aja," tolak Diana halus. "Aku nunggu disini aja ya mbak," lanjut Diana lagi sambil duduk di kursi panjang yang terletak didepan kamar.


"Ya udah. Bentar ya..,!" seru mbak Sri sambil melanjutkan rapat yang sempat tertunda karena kehadiran Diana. Diana mengangguk.

__ADS_1


Tak berapa lama rapat dadakan panitia OSPEK selesai. Beberapa panitia keluar kamar, menoleh kearah Diana, tersenyum dan berlalu menuju ruang makan. Sementara Syahrial dan mbak Sri masih berada di dalalm kamar.


"Ayo dek, kita sarapan dulu," tiba-tiba mbak sri sudah berada dibelakang Diana. Disampingnya berdiri Syahrial yang masih tanpa ekspresi.


Diana mengangguk dan berdiri.


,"Aduuh, aku lupa dompetku dek, ketinggalan di kamar!" seru mbak Sri tiba-tiba. Dirabanya saku jas dan rok yang dipakainya. Nggak ditemukannya barang yang dicari.


"Dek..duluan ya ke ruang makan bareng mas Riil. Ntar aku nyusul," ujar mbak Sri sambil menoleh kearah Syahrial. " Awass ya Riil. Jangan diisengin..!!" seru mbak Sri sambil mendelik kearah Syahrial yang dibalas kedipan mata Syahrial.


"Mbak Sri. Aku nunggu mbak aja ya..." jawab Diana takut-takut. Ekor matanya melirik kearah Syahrial. Wajahnya pias. Namun yang dilirik justru biasa-biasa aja.


"Nggak apa-apa Diana. Kak Riil nggak menggigit kok. Yaaa..., walaupun gigi ginsulnya kayak drakula gitu..ha..ha..ha.." canda mbak Sri sambil tertawa. Syahrial mendelik dan mencubit pipi mbak Sri gemas. Yang dicubit malah tertawa senang. Pemandangan yang menyenangkan bagi Diana.

__ADS_1


Seketika wajah Guntur melintas dibenak Diana. Hmm..lagi ngapain masku pagi ini. Ada sebersit rindu menggelayuti hati Diana. Gadis itu menghela napas pendek.


"Udah sana...ambil dompetnya. Cepetan...nggak pake lama ya..!" Perintah Syahrial sambil mendorong pelan pundak mbak Sri, berbalik menuju lantai 3 asrama. Yang didorong malah tertawa ngakak.


Setelah mbak Sri pergi, Diana terlihat bingung, nggak tau mau ngapain. Syahrial diam, Diana juga diam.


"Kita nunggu kak Sri disini atau di ruang makan aja kak..?" tanya Diana pelan dan hati-hati.


"Di ruang makan aja...ayo!!" jawab Syahrial singkat sambil berlalu meninggalkan Diana. Diana masih berdiri, bengong.


"Eeehh..malah bengong, ayooo..!!" Tiba-tiba Syahrial berbalik dan meraih tangan Diana. Gadis itu kaget setengah mati. Tapi diikutinya langkah kaki Syahrial tanpa protes apalagi melepaskan tangan Syahrial. Merekapun melangkah tanpa suara.


Memasuki ruang makan, Syahrial melepaskan genggaman tangannya dan melangkah menuju salah satu meja makan disudut ruangan itu. Diana mengikutinya tanpa suara.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2