
Akhirnya jadi juga kami berkunjung kerumah mertuaku. Walau sedikit enggan, tapi demi tujuanku aku paksakan diri untuk terlihat senang dan enjoy selama dalam perjalanan kami.
Aku, suamiku dan Kiara putri semata wayang kami menempuh perjalanan selama hampir 3 jam lamanya. Akhirnya kami tiba dengan selamat di rumah mertuaku.
Selama dalam perjalanan kami sempat singgah dan istirahat di beberapa tempat yang menawarkan berbagai kuliner enak dan permainan buat Kiara.
Tepat setelah adzan sholat Dhuhur, kamipun tiba di rumah kedua mertuaku. Menerima kunjungan kami, kedua orangtua Aa' terlihat sumringah dan bahagia.
Aku yang nggak langsung masuk ke rumah dan memilih menunggu drama anak dan cucu hanya berdiri didepan pintu sampai kehadiranku disadari oleh kedua mertuaku.
"Nak, ayo masuk. Jangan sungkan," kata Bapak begitu menyadari kehadiranku. Mak yang mendengar ucapan Bapak lantas mendekatiku lalu menggandengku masuk. Sementara Kiara bermain dengan Anggi, adik Aa'.
Kiara yang berada di gendongan Mak diambil Anggi dan diajak main. "Kiara cantik...maen yuk," ajak Anggi.
"Anggi, ajak Kiara jajan," ucap Bapak sambil memberi beberapa lembar uang 10 ribuan kepada Anggi.
"Iya ...ayo Kiara, kita jajan bakso ya..." ajak Anggi membuat aku kaget. Aku yang terbiasa menjaga Kiara agar tidak jajan sembarangan sontak menegur Anggi.
"Kiara jangan dijajanin bakso Anggi..takut baksonya nggak higienis. Ntar sakit perut Kiaranya!!" ujarku cepat memotong kata-kata Anggi membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan memandangi Aa' dengan raut wajah bingung..
Aa yang mendapati tatapan bingung Anggi akan menegurku. Namun keduluan bapak mertuaku yang sudah terlebih dahulu angkat suara. "Ya udah Anggi, bawa ponakanmu jalan-jalan aja. Nggak usah jajan," ucap Bapak sambil melirik kearahku dan Aa'.
"Nggi, kalau Kiara minta makan atau minum, bawa pulang aja. Cemilan dan air minum Kiara udah teteh beli tadi di supermarket. Kiara jangan dikasi makan atau minum sembarangan," kembali aku mengingatkan Anggi. Gadis itu semakian ragu-ragu untuk melangkah keluar.
"Biarin aja Kiara mau jajan apa, jajanin aja Anggi!" seru Aa menyela ucapanku.
Sontak aku beralih menatap Aa'. dengan raut wajah tak suka. Namun melihat sorot mata Aa' yang mulai marah membuatku memilih untuk diam.
Setelah Anggi dan Kiara pergi, aku merasa ingin pipis karena selama dalan perjalanan tadi, aku lebih banyak ngawasin Kiara yang tidak mau diam.
__ADS_1
"A' aku pengen ke kamar kecil," bisikku kepada suamiku.
"iya...," Aa mengangguk mengiyakan.
"Mak, Riana mau ke kamar kecil dulu," suamiku meminta izin Mak.
"Ayo nak, ikut Mak," kata mak seraya berdiri dan menuntunku menuju kamar kecil yang terletak di dapur. Akupun mengikuti mak.
Saat masuk rumah tadi, sekilas aku mencium aroma khas yang membuat kepalaku pusing. Aroma jengkol..
Walau agak mual karena aku tidak terbiasa dengan aroma makanan yang satu ini, namun karena kebelet pipis, aku paksakan juga untuk ke kamar kecil.
Sesampainya di kamar kecil. Aroma jengkolnya semakin tajam menyentuh indra penciumanku. Sontak aku menutup hidung dan berusaha mencari sesuatu yang bisa mengurangi aroma yang tidak kusukai itu.
Wipol mana nich..apa orang rumah ini tidak kenal wipol ya. Uuhh..aroma ini membuatku mau muntah aja, gerutuku dalam hati.
Karena tidak ketemu barang yang aku cari, dan udah gak tahan lagi akhirnya aku memilih cepat-cepat pipus biar bia segera keluar dari ruangan itu.
Setelah selesai buang hajat, aku kembali ke ruang tamu. Saat membuka pintu kamar mandi, aku kaget mendapati Mak yang sedang membuat minuman untuk kami.
"Riana bantu ya Mak," basa-basi aku kepada Mak.
"Eeh..ga usah nak. Biar Mak aja," Mak menolak tawaranku dan menyuruhku untuk kembali ke ruang tamu.
Syukurlah bantuanku ditolak Mak..batinku lega. Dengan senyuman akupun kembali ke ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu, aku membuka bawaan kami dan mengeluarkan oleh-oleh yang dibeli Aa tadi di jalan.
"Pak, ini ada oleh-oleh dikit buat Mak, Bapak dan Anggi," ucapku. Tak lupa aku juga mengeluarkan beberapa botol air mineral dan roti yang tadi aku beli.
"Ooh..terima kasih nak Riana. Jadi ngerepotin ya," ucap Bapak. "MAAK..INI ADA OLEH-OLEH BUAT KITA..," teriak Bapak memberitahu Mak yang masih sibuk membuat teh dan kopi di dapur.
__ADS_1
"IYAA PAAK. ..," jawab Mak dari dalam dapur.
Aku membuka botol air mineralku dan kuteguk karena haus tanpa menunggu Mak keluar dengan minuman untuk kami. Aroma jengkol yang kucium di kamar mandi tadi membuat aku mual dan enggan untuk minum teh buatan Mak.
Tak lama berselang, Mak keluar dengan membawa nampang berisi 2 gelas kopi untuk Bapak dan suamiku serta 3 gelas teh manis untuk aku, Kiara dan Mak. Tak lupa beberapa buah piring juga dibawa Mak.
"Ayo..diminum nak tehnya," tawar mak kepadaku. Aku mengangguk mengiyakan tanpa bermaksud meminum teh buatan mak. Mak juga meletakkan kopi dimeja untuk Aa' dan Bapak. "Ini kopinya Pak..Gun," ucap mak sambil mengisi piring yang kosong dengan beberapa buah roti, cemilan dan buah-buahan yang kami bawa tadi.
Mak.kembali duduk disamping Bapak. Tak berapa lama terdengar ucapan salam seseorang dari luar rumah. Aku menoleh dan mendapati bang Yudi, Ria dan teh Lusi di pintu depan.
"Assalaamualaikum," ucap mereka sambil melangkah masuk.
"Wa'alaikumsalam," jawab Aa dan Bapak berbarengan.
Kulihat Aa' berdiri menyambut bang Yudi dan teh Lusi. Aku yang masih tetap duduk dicolek Aa dan dengan sorot matanya, aku disuruh berdiri.
Dengan enggan akupun berdiri dan bersama Aa melangkah mendekati bang Yudi, Ria dan teh lusi.
Ria menyalami Aa' dan begitu melihatku, gadis itu langsung memelukku dan tersenyum penuh arti kepadaku. Memang diantara seluruh anggota keluarga suamiku, Ria adalah orang yang paling dekat denganku. Tak heran jika aku akhirnya memanfaatkan gadis itu untuk mendapatkan informasi tentang Aa dan Diana.
Setelah menyalami teh Lusi dan bang Yudi, kakak-kakak suamiku, kamipun kembali duduk.
"Gimana kabarmu Ri?" tanya teh Lusi sambil memandang kearahku. "Tadi aku lihat Anggi membawa sorang gadis kecil. Itu Kiara anak kalian?" tanya teh Lusi lagi.
Aku dan Aa mengangguk berbarengan.
"Iya teh, itu Kiara," jawab Aa tersenyum.
"Waah..udah gede ya anakmu Gun. Cantik lagi, kayak Maknya," puji mbak Lusi. Aku yang mendengar itu hanya tersenyum..
__ADS_1
Ya iya donk...gimana anakku nggak cantik. Aku ibunya, pastilah anakku cantik. Batinku bangga.
\=\=\=\=\=\=\=\=