
"Hoooam..," Diana terbangun karena terpapar sinar matahari yang menerobos masuk dari sela-sela jendela kamar itu dan menyentuh kulit tubuh Diana. Dilihatnya Guntur masih tertidur sambil memeluknya.
Diana tersenyum dan tersipu malu mengingat permainan ranjang mereka semalam.
Takut membangunkan suaminya, perlahan Diana turun dari ranjang dan dengan hati-hati mengangkat lengan Guntur yang melingkar di perutnya. Guntur bersuara sejenak kemudian tidur lagi.
Diana melangkah menuju kamar mandi dan mandi. Setelah berpakaian, kemudian Diana memesan sarapan pagi untuk dirinya dan Guntur.
"Sayang..ayo bangun. Sudah pagi..," bisik Diana ditelinga Guntur sambil dengan sengaja menggigit perlahan ujung telinga Guntur membuat laki-laki itu menggeliat dan terbangun.
"Hmm..sayaaang, kamu ingin aku mengulangi lagi aksiku semalam?" tanya Guntur sambil menarik tubuh Diana hingga terjatuh ke pelukannya.
"Iih, nggak akh Mas. Ampuun..!" elak Diana serentak berdiri dan melepaskan dirinya dari pelukan suaminya.
Guntur tertawa dan buru-buru bangun untuk mengejar istrinya. Diana tertawa dan berlari mengitari ranjang, menghindari sergapan Guntur. Saat Guntur akan menangkap tubuh Diana, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar.
"Sarapan Pagiiii," ucap seseoarang diluar kamar. Rupanya pesanan sarapan pagi Diana sudah datang.
"Bentar Mas..," Diana tersenyum penuh kemenangan dan melepas tangan Guntur dari tubuhnya. "Sarapan pagiiii," bisik Diana meniru suara pelayan hotel barusan.
Guntur terkekeh melihat tingkah kocak Diana. Namun dirinya harus kembali ngumpet dibalik selimut karena tubuhnya tak tertutupi sehelai benangpun. Diana tertawa penuh kemenangan.
Setelah sarapan pagi, Guntur menghampiri istrinya yang sedang merias dirinya didepan cermin.
"Sayang, aku balik dulu ke Batalion. Kamu disini saja ya. Secepatnya aku akan kembali lagi untukmu," ucap Guntur sambil mencium ujung rambut Diana.
"Iya Mas. Nggak apa-apa. Jangan khawatirkan aku. Segeralah kembali begitu Mas punya kesempatan dan waktu untuk kembali,"
"Kalau kamu mau keluar, silahkan. Asal kasi tau Mas kemana tujuan kamu biar Mas jemput, oke ?"
"Oke..," sahut Diana kemudian mengantar suaminya ke pintu kamar.
"Hati-hati di jalan Mas,"
__ADS_1
"Kamu juga hati-hati disini," ucap Guntur sambil membelai rambut Diana yang masih basah.
Dan, untuk bebeerapa saat merekapun berpisah.
Riana memutuskan untuk memakai angkutan mobil Grab saat kembali ke Batalion. Riana tak ingin repot naik turun bis dan angkot untuk sampai ke rumahnya. Apalagi dirinya membawa Kiara ,bocah cantik putri semata wayangnya yang aktif dan susah untuk diam.
Tak butuh waktu lama, Riana akhirnya sampai di Batalion. Saat memasuki asrama, ekor mata Riana memandang ke sekeliling lapangan tempat suaminya biasa berlatih, mencari sosok Guntur suaminya.
Namun Guntur tak terlihat diantara sekian banyak prajurit yang sedang berada di lapangan itu. Rianapun melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Riana kemudian membayar ongkos mobil, mengeluarkan tas dari dalam mobil dan menggendong Kiara untuk turun.
Riana heran melihat pintu rumah yang terbuka. Dari dalam rumah terdengar suara Guntur sedang bernyanyi. Riana tersenyum dan masuk ke rumah mereka. Rupanya Aa' sudah pulang duluan. Syukurlah..batin Riana lega.
"Assalaamualaikum..Ayaaah. Ini Kiara udah pulaang," ucap Riana meniru suara Kiara membuat gadis mungil itu tertawa kegirangan
"Eeh..Putri kesayangan Ayah sudah pulang,"
Guntur menyambut Riana dan Kiara kemudian menggendong putri kecilnya. Diciuminya Kiara sambil mengambil alih tas ditangan Riana.
"Kapan Aa' pulang?" tanya Riana heran.
"Semalam Ri'. Aku kira kamu dan Kiara sudah pulang duluan, makanya aku buru-buru pulang kesini," jawab Guntur sambil menurunkan Kiara dari gendongannya.
"Lantas, kenapa Aa' nggak jemput aku dan Kiara?" tanya Riana dengan nada curiga.
"Tadinya Aa' mau menjemput kalian, tapi saat Aa' menghubungi Ibu, katanya kamu dan Kiara sudah pulang pakai grab mobil. Makanya Aa' langsung pulang ke rumah nungguin kalian," terang Guntur meyakinkan istrinya.
Riana terdiam. Hatinya ingin bertanya tentang banyak hal kepada suaminya, namun tiba-tiba Riana teringat pesan ibunya. Riana nggak ingin ribut.
"Ooh..ya udah A'. Nggak papa. Besok-besok jangan seperti itu lagi. Kasian Kiara, kamu tinggal melulu," protes Riana pelan.
Iya..Aa' nyesal nggak jemput kalian. Maafkan Aa' ya..!" jawab Guntur meluluhkan hati Riana.
__ADS_1
Riana mengangguk kemudian masuk ke kamarnya sementara Kiara bersama Guntur. Syukurlah, Riana nggak curiga. Untung instingku mengatakan agar aku segera pulang.
Besok adalah hari ulang tahum Riana. Guntur berencana memberikan cincin yang dibelinya kemarin untuk Riana tepat disaat hari ulang tahunnya.
Untuk itulah agar Riana tidak curiga, sengaja Guntur menyimpan cincin yang dibelinya dilaci bufet. Kotak beludru berwarna hitam berisi cincin Riana dan selembar kartu ucapan selamat ulang tahun diletakkan di tempat yang mudah ditemukan Riana.
Dan benar saja. Saat Riana akan mengambil sesuatu di laci bufet, ditemukannya cincin dan kartu ucapan yang ditaruh Guntur disitu tadi pagi.
Riana tersenyum bahagia, matanya berbinar menatap cincin emas bermata mutiara hitam yang dihadiahkan Guntur untuknya.
Riana kemudian membaca kartu ucapan yang terselip dibawah kotak cincinnya. Sebuah kalimat pendek yang manis menyertai ucapan selamat ulang tahun istriku sayang tertulis indah dikartu itu.
Riana mendekap cincin dan kartu itu di dadanya dan kemudian buru-buru meletakkannya kembali ditempat semula. Riana tidak ingin suaminya tau kalau dirinya telah melihat cincin yang dihadiahkan Guntur untuknya.
Guntur yang melihat itu dibalik pintu tersenyum senang. Syukurlah trikku berhasil meyakinkan Riana. Tinggal menyiapkan surprise party untuk Riana besok.
"Ri, Aku ajak Kiara main diluar dulu ya. Ini Kiara pengen jalan-jalan pake motor keliling asrama bersama Ayahnya," teriak Guntur dari luar kamar mereka.
"Iya A'. Nanti pulangnya jangan kelamaan ya !" sahut Riana dari dalam kamar.
"Oke..Kiara dan Ayah tancap gas dulu ya. Mamah istirahat aja. Ntar makan siang biar Ayah' beli aja di rumah makan Padang dekat asrama,"
"Siap Ayah...sok sana, jalaaan!" usir Riana disela tawanya.
Setelah Guntur dan Kiara pergi, kembali Riana membuka laci bufet dan mengeluarkan cincin yang ada didalam kotak itu. Riana mencoba memakai cincin itu dan...pas...cincin itu sangat pas dan indah dijari Riana.
"Ah..Aa' tau betul apa yang aku suka. Cincin ini indah sekali," puji Riana sembari memandangi jari tangannya dengan tatapan bahagia.
Sementara itu Guntur yang berhasil meyakinkan Riana untuk membawa Kiara jalan-jalan lantas memacu motornya menuju penginapan tempat Diana nginap.
Sesampainya di penginapan, sambil menggendong Kiara, Guntur mengetuk pintu kamar Diana. Kemudian saat terdengar langkah kaki Diana mendekati pintu, buru-buru Guntur meletakkan Kiara di depan pintu dan dia sendiri bersembunyi dibalik lorong menuju kamar Diana.
Saat membuka pintu kamar, Diana terkejut melihat ada seorang gadis mungil yang cantik sedang berdiri didepan pintu kamarnya sambil memegang setangkai mawar merah yang hampir merekah.
__ADS_1
"Haaaii..siapa kamu cantiik..kenapa kamu sendirian aja didepan kamar tante. Dimana orangtuamu sayang..hmm?" tanya Diana sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling lorong penginapan. Namun tak ditemukannya siapapun dilorong itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=