
"Kamu nggak usah dengar apa kata Prita An. Dia ngomong begitu karena nggak ingin kami berpisah.Tapi mau gimana lagi, keputusan Orangtua Prita udah final. Mereka nggak mau Mas menikahi Prita dan membawanya pergi," ujar Syahrial berusaha meyakinkan Diana.
Tapi Diana tak bergeming. Baginya apa yang Prita katakan tadi adalah yang sebenarnya terjadi.
"Aku sudah berjanji kepada Prita untuk tidak berhubungan lagi dengan Mas. Dan aku akan menepati janjiku" jawab Diana membuat Syahrial terdiam.
"An..ikutlah denganku. Aku janji akan menyelesaikan kesalah pahaman Prita soal hubungan kami," janji Syahrial. "Lagipula bukankah semalam kamu ngomong ke laki-laki itu kalau kamu akan ikut denganku dan mau menerima lamaranku An?,"
Diana terkejut, tak menyangka kalau Syahrial tau soal kedatangan Guntur semalam dikamarnya. Tapi Diana tak ingin membahas soal itu.
"Mas jangan mengharapkan aku. Banyak hal dalam diriku yang tidak Mas ketahui. Dibandingkan Prita, aku bukan siapa-siapa Mas,"
"An...aku..,"
"Sudahlah Mas..lagipula Mas belum tau kan ntar ditugasin ke daerah mana. Jadi berfikir positif aja. Berdoa semoga Mas ditugaskan di Bd. Syukur-syukur dapat penempatan di Cn,"
Syahrial menghela napas berat. Diana tidak bisa dibujuk lagi.
"Maafkan aku An..aku benar-benar minta maaf nggak bisa membantumu lepas dari Guntur,"
"Nggak apa-apa Mas. Soal Mas Gun bisa aku atasi. Mas nggak usah khawatir," ucap Diana meyakinkan Syahrial untuk tidak lagi mengkhawatirkan dirinya.
Pergilah Mas. Biar kenangan kita aku simpan sendiri sebagai hal terindah yang pernah kita rajut berdua disini. Di kampus ini.
Sementara itu setelah menemui Diana, Guntur kemudian memutuskan untuk menemui kedua orangtuanya di kampung. Guntur merasa harus memberitahukan kedua orangtuanya tentang kemungkinan pernikahannya dengan Diana bakal batal dilaksanakan.
Mengendarai mogenya sendirian dengan suasana hati yang kacau balau membuat perjalanan Guntur dari Bd ke kampung tak membutuhkan waktu yang lama.
Sesampainya dirumah, Guntur langsung menemui Bapak yang sedang berada di rumah bersama Amil untuk mempersiapkan acara ijab kabul Diana dan Guntur.
"Assalaamualaikum,"
"Wa'alaikumsalaam..eeh, lu Gun. Baru nyampe lu?" tanya Bapak menyambut kedatangan putra kesayangannya itu.
__ADS_1
"Iya Pak..," kata Guntur mengiyakan pertanyaan Bapak sambil mencium punggung tangan Bapak, Amil dan saksi pernikahan yang ditunjuk Bapak.
"Diana mana Gun?" tanya Bapak ketika melihat Guntur hanya datang sendirian saja.
"Diana nggak datang Pak. Tepatnya dia nggak akan datang," jawab Guntur membuat Bapak terkejut.
"Lho, kenapa Gun. Kalian bertengkar?" tanya Bapak menyelidiki alasan ketidak hadiran Diana.
"Diana memutuskan untuk membatalkan pernikahan kami Pak,"
"Apa alasan Diana Gun?" tanya Bapak penasaran.
"Diana memilih menerima pinangan seniornya di kampus Pak," jawab Gintur sambil terduduk lesu.
"Yang benar Gun?. Semua persiapan udah rampung, tinggal nunggu lu dan Diana aja. Saran Bapak sich, sebaiknya lu coba hubungi Diana sekali lagi. Mungkin dia sudah mengubah keputusannya setelah lu pergi tadi," saran Bapak. Namun Guntur terlanjur pesimis, Diana bakal ngerubah keputusannya.
"Bapak aja yang nelpon Diana. Kali aja Diana mau mendengar apa kata Bapak," kata Guntur meminta pertolongan Bapak.
"Aakh..lu Gun, Lu yang bermasalah, Bapak yang kena imbasnya. Ya udah, demi lu Bapak akan nelpon Diana. Tapi kalau Diana masih nggak mau, ya terpaksa pernikahan kalian Bapak batalin," tegas Bapak memberi ultimatun.
Tuut...tuut...tuut...Guntur menghubungi ponsel Diana. Setelah panggilan Guntur tersambung dengan Diana, buru-buru Guntur menyerahkan ponsel ditangannya kepada Bapak.
"Assalaamualaikum Diana," ucap Bapak
"Wa'alaikumsalaam...eeh, ini Bapak ya..apa kabar Pak. Maaf, Diana kira Mas Gun tadi. Makanya lama Diana ngangkat teleponnya," jawab Diana segan.
"Iya nak..ini Bapak. Gimana, Diana jadi kan ke rumah Bapak?" tanya Bapak membuat Diana kebingungan.
"Ke rumah Bapak?" tanya Diana masih tak mengerti. "Untuk apa Pak Diana ke situ?"
"Yaa..untuk apa lagi kalau bukan untuk menikah dengan Masmu. Bapak dan Mak sudah mempersiapkan segala sesuatunya disini nak. Bahkan Makmu sudah belanja banyak tadi pagi. Kasihan kalau kamu nggak datang dan pernikahan kalian batal dilaksanakan," ucap Bapak panjang lebar membuat Diana kaget dan merasa nggak enak sama Bapak dan Mak.
"Euumm..i..iya Pak. Maafin Diana. Tapi Diana nggak bisa menikah dengan Mas Gun Pak," ucap Diana menyampaikan keputusannya kepada Bapak.
__ADS_1
"Kenapa ?" tanya Bapak pura-pura tak mengerti. Walaupun alasan penolakan Diana sudah diberitahu Guntur tadi, tapi Bapak ingin mendengar langsung dari Diana alasan gadis itu membatalkan pernikahannya.
"Nggak ada apa-apa Pak. Diana hanya nggak bisa. Itu aja," ucap Diana berbohong.
"Bapak tau alasan nak Diana dari Gun tadi. Apa bener begitu. Diana udah menerima lamaran orang lain?" tanya Bapak ingin tau.
"Eum..ng..nggak pak. Bukan karena itu. Diana nggak menerima lamaran siapapun kok Pak," jawab Diana jujur. Gadis itu merasa tidak tega membohongi Bapak yang sudah dianggap Diana seperti orangtuanya sendiri.
Jawaban Diana tentu saja membuat Guntur terkejut. Hati Guntur tiba-tiba merasa sangat lega. karena tak sabar, Guntur ingin mengambil alih ponsel dari tangan Bapak, tapi ditepis Bapak. Sambil menempelkan telunjuknya dibibir, Bapak menyuruh Guntur untuk diam.
"Kalau begitu Diana mau dong menikah dengan Mas Gun?" tanya Bapak lagi.
"Eum..gimana ya pak?" tanya Diana terdengar ragu.
"Kasian Masmu, uring-uringan mulu dari tadi gara-gara Diana tolak. Makmu juga belum tau kalau kamu nolak menikah dengan Gun. Kalau tau, Mak juga pasti kecewa berat Diana," ucap Bapak membuat Diana semakin bimbang dan merasa bersalah.
"Tapi Pak..apa Bapak bener-bener menginginkan Mas Gun menikahi saya!?" tanya Diana kurang yakin.
"Ya iyalah. Bapak dan Mak merestui kalian. Kalau nggak, ngapain juga Bapak dan Mak capek-capek mempersiapkan acara kalian. Iya kan?"
"Ya udah kalau begitu Pak. Diana mau menikah dengan Mas Gun. Tapi nikahnya besok aja ya pak. Soalnya ini udah malam banget. Diana takut kesitu sendirian," jawab Diana akhirnya. Mendengar itu Guntur tertawa kegirangan. Yess...akhirnyaaaa..ucap Guntur dalam hati.
"Kalau Diana takut kesini sendiirian, biar nanti Mas Gun yang jemput Diana ya....," belum sempat Bapak menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba terdengar suara moge Guntur meninggalkan halaman rumah mereka.
Bapak menggeleng-gelengkan kepalanya. Amil dan saksi tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Guntur. Benar-benar seperti ABG yang baru merasakan jatuh cinta.
"Pak...Bapak?" suara Diana mengagetkan Bapak.
"Eeh, ia Diana. Ya udah. Kamu siap-siap aja ya sekarang. Masmu sudah kesitu barusan," jawab Bapak. "Bapak tutup ya teleponnya. Assalaamualaikum,"
"Wa'alaikumsalaam," jawab Diana.
Masih terdengar jelas tawa Bapak ditelinga Diana saat Bapak mengakhiri teleponnya. Aakh...Bapak ada-ada aja ,batin Diana ikut tertawa.
__ADS_1
Entah kenapa, gadis itu tak sanggup menolak permintaan Bapak yang sudah Diana anggap seperti orangtuanya sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=