TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 142. Talak...


__ADS_3

Dengan perasaan tak menentu dan jemari yang mulai basah oleh keringat dingin, Diana membuka kembali pesan WA Riana.


Hatinya enggan namun egonya penasaran, dengan isi pesan-pesan Riana selanjutnya.


"Mungkin sebaiknya aku periksa dulu beberapa pesan yang masuk. Ngeladenin perempuan itu hanya akan membuat tensi darahku naik saja," putus Diana untuk sementara mengalihkan perhatiannya dari isi pesan Riana.


Diana memilih beberapa pesan dari kawan-kawan seangkatan dan keluarganya. Rata-rata mereka hanya bertanya tentang kabar Diana dan kesan pertamanya bertugas di kantor yang baru.


Diana menyempatkan diri membalas pesan-pesan yang masuk. Hatinya masih enggan membuka WA Guntur, apalagi Wa dari Riana.


"Huaaah..selesai. semua pesan WA sudah ku balas. Tinggal mas Gun dan Istrinya yang reseh itu !!!," sungut Diana.


Sejenak Diana memandangi ponsel ditangannya. Rasa gundah menyelimuti hati Diana.


"Apa aku abaikan aja ya pesan-pesan Riana ?. Kalau diladenin malah nambah masalah aja. Ntar kolaps lagi. Ujung-ujungnya aku yang disalahin..hadeeeh..entah beneran dia kolaps karena berdebat denganku atau hanya akal-akalan Riana saja untuk memperoleh simpati mas Gun !?," guman Diana. Kepalanya mulai sakit.


"Kalau begini terus, bukan cuman Riana aja yang kambuh hypertensinya tapi aku juga....idiiiih..amit-amit jabang orok. Jangan sampaaaaiii !!!," guman Diana, bergidik.


Diana memijit kepalanya pelan.


Tanpa terasa Diana tertidur. Namun hanya sesaat. Perempuan itu terbangun karena bunyi dering telepon di ponselnya.


"Hoaahh..siapaa lagi ini. Mengganggu aja," sungut Diana sembari bangun dan menguap, mencoba membuang rasa kantuk yang masih menyelimutinya.


Tanpa melihat siapa yang menelepon, Diana langsung menerima panggilan orang tersebut.


"Assalaamualaikum..," ucap seseorang diseberang sana. Sebuah suara yang sangat dikenal dan dirindukan Diana.


Suara bariton milik Guntur.


Diana tertegung. Detak jantungnya berpacu seolah beradu cepat dengan nafasnya yang mulai memburu.


"Wa..wa'alaikumsalaam..Mas !?," tanya Diana ragu.


"Iya..ini aku. Kamu belum seminggu di ktg tapi sudah lupa suara Suamimu sendiri," protes Guntur.


Diana terdiam, seolah menikmati suara berat Suaminya. Tiba-tiba rasa rindu itu menyeruak membuat Diana tidak menjawab protes suaminya.


"Ana..!!?,"


Diana terkejut.


"Eeh..euum..iya mas," jawab Diana, terbata.


"Kenapa kamu nggak ngebalas pesan-pesanku??," tanya Guntur penasaran.


"Aku..??,' tanya Diana..bego.


"Ya iya...kamu..!!," jawab Guntur mulai jengkel.


"Maaf Mas..akuu...aku cuman kaget aja. Nggak nyangka kalau Mas yang nelpon tadi," jawab Diana asal.


"Emangnya kamu berharap siapa yang nelpon hah ?," tanya Guntur penasaran..


"Nggaaak..bukan begitu Mas." Diana kelabakan..


"Apa aku nggak boleh nelpon kamu An ?."


"Iih..ya bolehlaah Suamikuu. Siapa bilang nggak boleh !!," seru Diana cepat.


Terdengar tawa tertahan milik Guntur.


Diana tersenyum.


"Mas...!,"


"Heum..??,"


"Tadi Riana WA ke aku,".


"Teruuus..??,"


"Dia ngirim foto dan video ke aku."


"Foto dan video...!?."


"Iya..."


"Foto dan video siapa ?."


Huuh...ini orang beneran nggak tau atau pura-pura nggak tau siih !!! batin Diana jengkel.


"Foto dan video kalianlaah. Kamu dan Istri tersayangmu....si Piranha !!," ketus suara Diana


Ada nada cemburu disuara Diana. Guntur tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Ha..ha..ha..ha...hadeeuh..Piranha..ha..ha..ha," terdengar tawa Guntur membuat Diana dongkol.


"Iiiih..kamu..kok tertawa sich Mas. Emang ada yang lucu gitu !?," tanya Diana ketus. Wajahnya memerah.


"Ya iya sayaang. Emangnya Riana segalak itu ya sampai kamu namai dia PIRANHA..ha..ha.ha...aduuuh," tawa Guntur terpingkal-pingkal.


Tersungging senyum tipis Diana mendengar celoteh Guntur. Walau masih gondok namun suasana hatinya sedikit mencair mendengar kelakar suaminya.


"Emang...," sahut Diana merajuk.


"Hmm..ya udah. Coba kamu kirim ke aku foto dan video yang dikirim Riana ke kamu!," minta Guntur.


"Bentar mas."


Dengan sigap Diana membuka beberapa foto dan video yang dikirim Riana ke ponselnya dan mengirimnya ke ponsel Guntur..


"Udah aku kirim Mas. Coba dibuka dulu."


"Oke. Aku tutup dulu..ntar aku hubungi lagi."


"Iya Mas," jawab Diana, kemudian mematikan ponselnya.


Diana menunggu sesaat, penasaran dengan respon suaminya. Diana berharap Guntur bakal menegur Riana karena ulahnya itu.


Semenit....dua menit berlalu..


Guntur belum juga menghubunginya.


Ada apa dengan Mas Gun. Mengapa lama sekali, batin Diana gelisah.


Tiba-tiba....Kriiiing...


Dengan cepat Diana mengangkat telepon Suaminya.


"Gimana Mas. Keterlaluan banget kan Istrimu itu ? ---Dia."


“Nggak usah diladenin,” sela Guntur sebelum Diana menyelesaikan kalimatnya.


“Gimana nggak aku ladenin. Dia bahasanya kayak orang yang nggak pernah makan bangku sekolahan aja. Nggak ada etikanya sama sekali. Aku juga nggak mau dong disalahin dan dihina melulu sama dia,” Diana masih ngomel.


Perempuan itu dibakar cemburu.


“Kan kamu udah aku ingetin kalau Riana itu type perempuan keras kepala. Susah dikasi tau. Ntar kalau dia ngotot terus kamu ladenin, kambuh lagi penyakitnya. Aku yang repot,”


“Mas nyalahin aku,!?” ujar Diana terkejut.


“Nggak An, Aku ngomong apa adanya. Sama sekali nggak nyalahin kamu. Aku cuman nggak mau Riana sakit. Kiara putriku masih butuh mamahnya An,” lanjut Guntur tanpa rasa bersalah.


“Keterlaluan... tega kamu ngomong seperti itu ke aku Mas. Kamu nyamain aku dengan Ibu-Ibu tiri dalam dongeng ?. Kalau mamahnya nggak bisa ngurusin Kiara, aku yang akan urus dia Mas !!," ucap Diana dengan nada tinggi.


Perempuan itu mulai terisak.


“Bu..bukan begitu An --- aduh !."


“Kamu nggak adil. Kamu cuman mikirin Riana Mas..kamu nggak pernah mikirin aku. Aku ke ktg sendiri..nggak kamu temenin. Aku ngalah Mas. Aku ngerti kalau kamu harus ngerawat Riana. Tapi aku juga istrimu Mas. Aku juga butuh perhatian kamu..aku juga bisa sakit hati, marah dan cemburu Mas..bukan cuman Riana saja !!” ucap Diana disela isak tangisnya.


Perempuan muda itu mulai tersulut amarahnya.


“DIANA..dengar dulu. Aku minta maaf kalau kamu sakit hati kali ini karena ucapanku dan keputusanku untuk lebih memprioritaskan Riana dibandingkan kamu," ucap Guntur selembut mungkin, mencoba meredakan amarah Diana.


“Sekali lagi aku minta maaf. Aku sadar ini resiko yang harus kita hadapi karena keputusanku untuk menikahimu secara siri,” lanjut Guntur.


Tanpa disadarinya jika ucapannya kali ini benar-benar memukul ego Diana membuat perempuan itu benar-benar marah.


“Kamu nyesel nikahin aku Mas?,” Tanya Diana pelan, nyaris tanpa suara.


Ada yang membuncah di dalam dada perempuan itu.


Netranya mulai berair....


“An...sayaaang--- !!,”panggil Guntur


Baru disadarinya kalau ucapannya barusan menyakiti Diana.


“TEGA KAMU MAS !!!..sekali lagi kamu nyakitin aku. Ingat ya Mas..aku nggak pernah maksa kamu untuk nikahin aku. Kalau nggak gara-gara Mas, aku sudah menikah dan hidup bahagia dengan Mas Syahrial ---!!!,”


“DIANA..BERANINYA KAMU ---!!,” teriak Guntur geram..


Kata-kata Diana kali ini benar-benar membuat laki-laki itu marah dan tersinggung. Diana berani menyebut nama lelaki lain secara terang-terangan dihadapannya.


Terdengar tangis Diana. Perempuan  itu terluka dan marah.


Hening sesaat...


Tidak ada satupun diantara mereka yang bersuara.

__ADS_1


“An...,”


“Sudahlah Mas. Kalau aku hanya jadi beban kamu dan menjadi penyebab sakitnya istri tercintamu itu, biarlah..aku yang ngalah Mas,” ucap Diana pelan diantara isak tangisnya.


“Maksud kamu..!?” tanya Guntur tak mengerti.


“CERAIKAN AKU..!!,” ucap Riana dengan nada  tinggi.


“AN..kamu..kamu serius ingin pisah dari aku !?,” tanya Guntur tak yakin


“Ya..aku serius Mas,” ucap Diana datar.


“AKU NGGAK MAU.!!,” tolak Guntur dengan suara keras.


“KAMU HARUS MAU MAS...HARUUS !!!."


“TIDAK...!!!,”


“TERSERAH..TAPI AKU TETAP MAU CERAI !!!,” teriak Diana sembari menutup telepon dan membanting ponselnya diatas tempat tidur.


Diana menelungkupkan tubuhnya  diatas kasur dan menangis sejadi-jadinya disana.


Air mata tak henti-hentinya mengalir di pipinya dan membasahi bantal.


Sakit hati Diana. Perempuan itu merasa diabaikan.


Bahkan permintaan cerainyapun ditolak mentah-mentah oleh Guntur suaminya.


Apa maunya laku-laki brengsek itu. Nggak adil dan nggak bisa menjaga perasaanku !!. batin Diana kesal


Terdengar bunyi dering telepon di ponsel Diana.


Diana enggan dan akhirnya dengan kesal mematikan power ponselnya.


Mungkin ini adalah jalan terbaik yang harus aku ambil. Aku nggak mungkin selamanya hidup dalam ketidak pastian. Sebaris kata CERAI dari Mas Gun akan menyelesaikan masalahku, batin Diana pilu.


Diana tertidur karena kelelahan. Malampun berlalu hingga pagi menjelang.


Diana terbangun oleh sebersit cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui sela-sela gorden jendela kamarnya dan menyentuh kulit wajahnya yang kusut.


Perempuan itu mengusap kedua matanya yang silau terpapar sinar matahari pagi.


“Hmm..udah pagi aja,” ucap Diana sembari duduk diatas tempat tidur.


Diana memandangi wajahnya melalui pantulan cermin  didepan tempat tidur. Matanya sembab akibat menangis semalaman. Ada lingkaran hitam diseputar bola matanya yang indah.


“Apa yang Mas Gun putuskan semalam setelah mendengar keputusanku untuk bercerai darinya ?,”tanya Diana pada dirinya sendiri.


Masih enggan turun dari tempat tidur, Diana meraih ponselnya yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk.


Aku nggak siap mendengar keputusan Suamiku...batin Diana galau.


Dengan ragu-ragu dan setelah berpikir sejenak, akhirnya Diana memutuskan untuk menyalakan ponselnya walau sudut hatinya yang lain enggan melakukan hal itu.


Hampir 20 panggilan tak terjawab dari Guntur menghiasi layar ponsel Diana.


Perempuan itu memilih untuk tidak menelepon balik suaminya dan hanya membaca pesan WA yang masuk.


Matanya tiba-tiba menangkap sebuah pesan WA Guntur untuknya.


“Hmmm..apa isi pesan ini ?,” tanya Diana deg degan.


Dengan perasaan gugup dibukanya pesan WA dari Guntur.


“An..kamu nggak pantas ngomong tentang laki-laki lain ke aku. Ingat...aku masih suami kamu. Harusnya kamu bisa menjaga ucapan-ucapan kamu ,” tulis Guntur membuat Diana mengernyitkan keningnya.


Diana tertawa sinis.


“EGOIS...!!!” rutuk Diana geram.


Dibacanya lagi isi pesan dari suaminya.


“Baiklah, kalau itu mau kamu. Tapi sebagai Suami terus terang aku tidak pernah ingin menceraikan kamu. Karena aku cinta kamu An. Aku benar-benar cinta kamu,”


Kali ini isi pesan WA Guntur berhasil menjebol pertahanan Diana. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jebol juga.  


Diana menangis. Entah karena sakit hati atau karena ucapan cinta suaminya. Entahlah....


“Aku nggak bisa cerain kamu sayang..tapi aku akan memberi kamu waktu untuk berpikir terlebih dulu. Mungkin permintaan cerai yang kamu ucapkan keluar dari mulut kamu karena kamu sedang marah. Kalau marahmu sudah reda, aku yakin kamu akan menyesali ucapanmu sendiri An. Karena aku yakin, kamu masih sangat mencintai aku..iya kan An ?.  Makanya aku tidak akan menceraikan kamu. Kita jalanin aja dulu sama-sama. Jika suatu saat nanti ternyata kita ditakdirkan untuk tidak bisa bersatu karena jarak dan waktu yang memisahkan kita, saat itulah mungkin aku akan menyetujui keputusanmu untuk pisah dariku,”


Pandangan Diana mengabur karena air mata yang dibiarkannya menggenang dipelupuk matanya.


Dengan tangan gemetar, Diana membalas pesan WA Guntur suaminya.


“Baiklah Mas..kalau itu mau kamu. Semoga disaat hal itu terjadi, rasa didalam hatiku untuk Mas sudah jauh berkurang,” tulis Diana sembari menghapus air matanya yang mengalir membasahi pipinya.

__ADS_1


Diana menarik nafas panjang.


“Aku harus berani dan siap hidup tanpa Mas Gun. Setidaknya sampai saat itu terjadi aku sudah siap kehilangan Suamiku,” ucap Diana pelan kemudian menutup ponselnya.-----


__ADS_2