
Hanya butuh waktu 2 jam lebih bagi kami untuk tiba di rumah Bapak dan Mak. Sebelum ke rumah orantuaku, aku menyempatkan diri membeli oleh-oleh terlebih dahulu.
Beberapa jenis buah-buahan kesukaan Mak dan Anggi adikku sudah mengisi keranjang belanjaan kami. Tidak lupa buah untuk Kiara juga sekalian aku beli. Sementara itu istriku Riana mengambil tisyu basah dan beberapa botol air mineral.
"Untuk apa air mineral sebanyak itu Ri' diwarung sebelah dekat rumah mak juga ada yang jual. Ntar beli aja disana," ujarku saat melihat belanjaan Riana.
"Tanggung A', sekalian aja beli dari sini. Jadi nggak ngrepotin orang rumah untuk beli-beli lagi," jawab Riana memberi alasan.
"Terserah kamu," kataku akhirnya, menghindari adu mulut dengan istriku.
Aku kemudian mendorong keranjang belanjaan kami menuju meja kasir.
Setelah membayar seluruh belanjaan kami, aku dan keluarga kecilku bermaksud untuk melanjutkan perjalanan kami menuju rumah Bapak dan Mak.
Namun tiba-tiba Riana menghentikan langkahku..
"A' kita istirahat dulu yuk di cafe itu sebelum ke rumah Bapak," usul Riana saat aku bermaksud hendak mengambil motor di parkiran.
Telunjuk Riana mengarah ke salah satu cafe yang ada disamping mini market yang kami singgahi.
"Ya udah, ayoo..," Aku mematikan mesin motor kemudian membawa belanjaan kami untuk dititipin di mini market tadi.
Hitung-hitung sekalian healing bentaran sebelum nglanjutin perjalanan. Bolehlah, sekali-kali nyenaning anak istri , pikirku akhirnya.
Bertiga kami menuju cafe yang ditunjuk Riana. Cafe yang mengusung tema keluarga itu memiliki ruang khusus untuk tempat anak-anak bermain. Berbagai permainan untuk anak-anak menarik perhatian Kiara. Dengan mata berbinar, Kiara minta diturunin dari gendongan ibunya dan langsung berlari menuju wahana permainan cafe itu.
Kiara mencoba memainkan beberapa permainan yang ada. "Temenin Kiara Ri, aku beli makanan dan minuman dulu," Aku meminta Riana menemani putri kecil kami sementara aku memesan makanan untuk kami bertiga.
Hampir satu jam lamanya kami menghabiskan waktu untuk istirahat dan makan di cafe itu. Kiara yang enggan untuk pulang disamperin dan dibujuk Riana.
"Ayo sayang, kita ke rumah Kakek dan Nenek ya," Riana membujuk Kiara.
"Nggak mauuu..mau main Maaa," Kiara merengek dan menolak ajakan ibunya.
__ADS_1
Melihat itu, akupun berdiri dan mendekati putri dan istriku. "Ayoo sayang. Ntar kita main kuda poni di rumah Kakek dan Nenek...Kiara mau nggaak?" tanyaku mencoba membujuk Kiara.
Mendengar itu Kiara langsung melompat ke pelukanku. "Horeeee..kuda ponii..kuda ponii..mauuuu," seru Kiara girang.
Aku tertawa melihat reaksi Kiara dan menggendongnya keluar dari wahana bermain anak-anak. Riana tersenyum dan mengikutiku.
Setelah mengambil titipan belanjaan, kamipun melanjutkan perjalanan menuju rumah Bapak.
Sudah jam 1 siang. Bapak pasti sudah pulang dari kebun , batinku yakin. Aku mempercepat laju motor, tak sabar ingin melihat wajah terkejut Bapak dan Mak saat melihat kami nanti.
[Dirumah, sebelum adzan Dhuhur berkumandan, Bapak sudah kembali dari kebun. Pulang ke rumah untuk istirahat, sholat Dhuhur dan makan siang bersama mak dan Anggi].
Hanya butuh waktu kurang dari 1 jam akhirnya kamipun tiba di kampung halamanku. Aku langsung memacu motorku menuju rumah Bapak.
Suasana rumah terlihat sepi, namun pintu rumah terbuka. Alat bertani Bapak juga kulihat diletakkan Bapak di samping pintu, pertanda Bapak ada di rumah.
Perlahan aku parkir motorku didepan rumah, tanpa suara.
"Kiaraa..ayo nak..temui kakek dan nenekmu," aku berbisik ditelinga Kiara, mengambil Kiara dari gendongan ibunya dan menurunkannya di depan pintu rumah.
Bapak dan Mak terlihat serius ngobrol sementara Anggi menonton tv di ruang keluarga. Dan....
"KIARAAAA...?" teriak Anggi membuat Bapak dan Mak terkejut dan sontak menoleh kearah Anggi.
Ketika melihat sosok gadis mungil yang berdiri sambil tertawa di samping Anggi, Air muka Bapak tiba-tiba berubah ceria.
"Cucu Kakek..sayaang," Bapak mendekati Kiara dan mengulurkan tangannya hendak memeluk Kiara. Namun gadis mungilku itu terlihat bingung dan menoleh kearahku.
Aku langsung masuk ke rumah begitu mendengar teriakan Anggi. "Itu Kakek sayang..ayoo, peluk Kakek Kiara," aku mendekati Kiara dan berbisik di telinganya.
Kiarapun ngerti dan langsung menghambur ke pelukan Bapak. Aku tersenyum haru. Sementara Mak masih berdiri ditempatnya, bengong dan tak tau harus berkata apa. Ada bening disudut netra perempuan yang melahirkanku itu.
"Nenek...," Bapak menunjuk ke arah Mak dan mendekati Mak.
__ADS_1
"Nenek..?" ucap Kiara mengulang ucapan Bapak dan memandang Mak dengan pandangan polosnya.
"Sayaaang...cucu Neneeek," Mak mengambil alih Kiara dari gendongan Bapak. Dipeluk dan diciuminya Kiara bertubi-tubi dengan penuh kerinduan. Air mata Mak akhirnya tumpah.
Ini moment yang aku harapkan terjadi saat aku membawa istri dan anakku kesini. Aku senang tujuanku tercapai. Mak dan Bapak terkejut dan benar-benar bahagia melihat kedatangan kami, batinku bahagia.
"Nak, ayo masuk. Jangan sungkan," ucap Bapak mengajak Riana masuk begitu matanya melihat sosok Riana yang masih berdiri di depan pintu.
Mak yang menyadari kehadiran Riana bergegas mendekati istriku dan mengandeng tangan Riana.
Air muka Riana terlihat berbeda, namun ketika diajak masuk oleh Mak, Riana nurut dan ikut masuk. Aku lega melihat suasana akrab yang dihadirkan Mak dan Bapak ketika menyambut kedatangan kami.
"Teh..Abang.." Anggi berdiri dan menyalami kami.
Kiara yang berada di gendongan Mak diambil Anggi adikku dan diajak main. "Ayo Kiara cantik...maen yuk," ajak Anggi.
"Anggi, ajak Kiara jajan," ucap Bapak sambil memberi beberapa lembar uang 10 ribuan kepada Anggi.
"Iya ...ayo Kiara, kita jajan bakso ya..." belum selesai Anggi bicara, tiba-tiba Riana menyela.
"Kiara jangan dijajanin bakso Anggi..takut baksonya nggak higienis. Ntar sakit perut Kiara!!!" ujar Riana cepat membuat Anggi menghentikan langkahnya dan beralih memandangiku.
Belum sempat aku bicara, Bapak sudah terlebih dahulu angkat suara. "Ya udah Anggi, bawa ponakanmu jalan-jalan aja. Nggak usah jajan," ucap Bapak sambil melirik kearahku.
Bapak memberi isyarat kepadaku dengan anggukan dan kedipan kedua matanya agar aku diam saja.
"Iya Pak..Anggi dan Kiara jalan dulu," Anggi adikku berpamitan dan membawa Kiara dalam gendongannya.
"Nggi, kalau Kiara minta makan atau minum, bawa pulang aja. Cemilan dan air minum Kiara udah teteh beli tadi di supermarket. Kiara jangan dikasi makan atau minum sembarangan," kembali istriku mengingatkan Anggi membuat adikku ragu-ragu untuk melangkah keluar.
Kali ini aku nggak bisa lagi tinggal diam mendengar ucapan istriku. "Biarin aja Kiara mau jajan apa, jajanin aja Anggi!" seruku menegaskan kata-kataku.
Sontak Riana beralih memandangiku dengan raut wajah tak suka. Namun sorot mataku membuat istriku tidak berani protes dan memutuskan untuk diam. Riana tau aku sedang marah besar saat itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=