
"LICIK...PEREMPUAN LICIK !!!."
Sebaris kalimat dengan hurup kapital dan emoji marah menghiasi ruang private Whats app Diana.
Pagi itu Diana sedang bersiap hendak berbelanja ke pasar.
Sengaja Diana ngambil cuti sehari hanya untuk mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Suaminya.
Mata Diana membelalak, namun sejurus kemudian perempuan itu kembali bersikap biasa saja seolah pesan WA Riana barusan hanyalah angin lalu baginya.
"ULAR BETINAAAA..KAMU SELICIK ULAR PEREMPUAN BRENGSEK !!!."
Kembali ...sebuah pesan masuk dari Riana.
"Ternyataa..dibalik tampangmu yang sok cantik dan sok polos, kamu menyimpan racun yang berbisa--PELAKOR LICIK !!!."
Diana menghela napasnya---
Walaupun ingin rasanya dia mengabaikan Riana, tapi itu sangat sulit untuk dilakukannya kali ini.
Genderang perang sudah ditabuh Riana. Apa yang harus aku lakukan ?."
""IBLIS BETINA TAK BERHATI !!!.Kamu menari diatas penderitaanku. Kamu penghancur rumah tanggaku. Kamu penyebab Anakku kehilangan Ayahnya.. BRENGSEEEEKK..!!!."
Diana meremas pegangan tasnya, berusaha mengendalikan perasaanya yang mulai panas mendengar celoteh Riana.
Ini gak bisa lagi dibiarin. Riana udah keterlaluan ngata-ngatain aku,
Diana menghentikan langkahnya.
Sebuah rumah kopi di depan pasar disinggahi Diana. Segelas kopi Capucino hangat dan beberapa jenis kue khas daerah setempat dipesan perempuan itu.
Diana menyeruput perlahan kopi yang masih mengeluarkan uap panas.
Masih dipelototinya beberapa pesan masuk lainnya yang dikirim Riana.
Semakin menjadi-jadi aja dia. Maaf Mas, Bapak --- kali ini aku terpaksa harus melawan Riana lagi. Aku nggak bisa digini'in terus.
Perlahan tapi pasti, Diana mulai membalas WA Riana. Wajahnya tanpa ekspresi namun hatinya seolah sekam yang terbakar tanpa disadarinya.
Jari-jemari Diana mulai mengetik beberapa kalimat balasan yang kemudian diedit kembali sebelum dikirim ke Riana.
Perempuan itu membalas ucapan-ucapan pedas Riana dengan kalimat-kalimat menusuk namun tetap dengan bahasa seorang Diana __
__ADS_1
"Terserah kamu mau ngatain aku apa. Tapi pada kenyataanya aku telah syah menjadi Istri kedua Suamimu. Terus terang ini bukan pilihanku, tapi pilihan Suamimu, eh..Suami kita __he..he..he." Diana terkekeh. Akhir kalimat yang indah, batin Diana kecut.
"Kamu tau !?, Aku seorang gadis mapan pada saat masa remajaku diambil oleh Suamimu. Tentu saja dia harus membayarnya dengan pengorbanan. Itu pelajaran berharga agar dia tidak main-main dengan setiap perempuan yang jadi korban rayuannya."
Sekali lagi, untuk kesekian kalinya Diana menarik napasnya.
"Kalau akhirnya Suamimu lebih memilih Aku. Seharusnya kamu bisa introspeksi diri, mengapa dia lebih tertarik dengan perempuan lain. Bukannya malah nyalahin dan nyumpahin aku nggak karuan."
Diana menunggu..
Pesan WAnya hanya dibaca Riana.
Entah apa yang dipikirkan Riana. Mungkin dia sedang menyusun kalimat-kalimat sumpah serapah terbaiknya untukku ?.
Atau justru dia sedang merasakan ketegangan yang menyulut tekanan darahnya ? ___ i don't care..!!!
Diana memandangi layar ponselnya seraya mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari-jemarinya. Bunyi grataak...grataak dimeja seolah alunan nada yang selaras dengan detak jantung Diana.
Seulas senyum tipis menghiasi ujung bibir perempuan itu. Mungkin lebih tepat disebut seringai kecil dari seorang Diana yang tiba-tiba memutuskan untuk berubah sikap. Tidak lagi menjadi perempuan yang selalu Nrimo setiap kali dirinya dihina oleh perempuan lain.
30 menit berlalu tanpa ada satupun pesan WA Riana yang masuk ke ponsel Diana.
Segelas Capucino hangat dan sepiring besar kue tandas dihabiskan Diana.
Tak ingin menunggu lama, Diana akhirnya memutuskan untuk mengabaikan konfliknya dengan Riana dan melanjutkan rencananya semula __Belanja.
Pagi yang cerah dengan langit biru tak berawan dan suasana pasar yang ramai oleh hingar bingar celoteh para pedagang yang menawarkan dagangannya bagai alunan nyanyian pagi di telinga Diana.
Riuh suara pembeli yang menawar barang-barang yang ditaksirnya, diselingi gurauan dan tawa berderai, sesekali dibarengi rayuan dan gerutuan ibu-ibu yang tak berhasil merayu si abang sayuran untuk menurunkan harga dagangannya menghiasi pagi itu.
Diana tersenyum senang.
Jarang sekali perempuan itu masuk pasar hanya untuk sekedar membeli seikat sayur dan beberapa ekor ikan segar.
Diana lebih suka makan di warung, atau kantin kantor. Nggak ribet dan cepat kenyang katanya.
Tapi hari ini, Diana memutuskan turun langsung ke pasar untuk membeli beberapa jenis sayuran, perdagingan dan buah-buahan segar yang akan diolah Diana untuk menyambut Guntur Pramudya, Suami tercintanya.
Setelah menemukan apa yang dicarinya, Dianapun meninggalkan pasar yang makin ramai.
"Ah..cukuplah segini aja belanjaanku. Cukup untuk makan berdua selama beberapa hari kedepan," ucap Diana sambil memandangi isi tas belanjaanya yang hampir penuh.
Dengan perasaan puas, Diana melangkahkan kakinya menuju parkiran pasar dan mengambil motornya yang diparkir disana.
__ADS_1
"Hmm, masih pagi banget. Mending aku nyantai sejenak di taman depan Gubernuran. Pemandamgan paginya indah dan nyaman untuk tempat melepas penat," putus Diana kemudian memacu laju motornya menuju Taman depan Kantor Gubernur.
Lumayan ramai suasana pagi itu ketika Diana tiba. Setelah memarkir motornya, Diana berjalan santai menuju salah satu bangku taman yang masih kosong.
Beberapa kelompok ibu-ibu, mungkin anggota club senam sedang bersenam ria diikuti sebagian besar pengunjung taman.
Diana tersenyum sumringah.
Jarang dirinya menemukan suasana seperti ini dihari-hari biasa. Kesibukannya di kantor membuat Diana tidak memperdulikan sudut lain yang menyenangkan dikota kecil ini.
Tiba-tiba Diana teringat sesuatu. Perhatiannya teralihkan oleh sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
"Jika benar Mas Gun sudah berangkat dari jkt seperti kata Bapak, harusnya kemarin Mas Gun sudah sampai di sini," guman Diana, baru ngeh kalau dirinya melewatkan sesuatu.
Perjalanan dengan pesawat dari Jkt ke Mo hanya butuh waktu 4 jam lamanya dan perjalanan darat ke kota ktg dapat ditempuh kurang dari 3 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi.
"Harusnya dia sudah nyampe sejak semalam. Tapi mengapa sampai sekarang belum nongol-nongol juga. Apa yang terjadi sebenarnya ?. Apakah Mas Gun berubah pikiran dan memutuskan untuk memperbaiki hubungannya dengan Riana dan batal ikut aku?."
Berbagai pertanyaan berkecamuk dibenak Diana. Perkiraan perempuan itu membuat dirinya kembali gelisah.
"Apa sebaiknya aku telpon Suamiku aja ya..daripada aku penasaran sendiri!?."
Segera dikeluarkannya ponsel miliknya dari dalam tas dan mencoba menghubungi Guntur. Tapi Hp laki-laki itu tidak aktif.
Diana mulai gelisah.
Berkali-kali Diana menghubungi Guntur, tapi percuma. Hasilnya sama saja__Hp Guntur dimatiin.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Diana.
"Mas Gun ?," Guman Diana lega.
Namun perempuan itu harus menelan rasa kecewanya. Pesan barusan bukan dari Guntur, tapi dari __Riana.
Brengsek..perempuan itu lagi !!! sungut Diana jengkel.
Ingin rasanya Diana mengabaikan pesan-pesan WA Riana dan bermaksud memblokir nomor Riana.
Kalau Aku blokir no Hp perempuan itu, aku bakal kehilangan informasi tentang Mas Gun. Perang baru dimulai. Sayang kalau aku blokir dia__
Akhirnya Diana memutuskan untuk membuka pesan Riana untuknya dan bersiap hendak membalas Riana dengan kata-kata yang lebih pedas lagi.
"Dasar Perempuan GILA !!!. Pelakor tetaplah Pelakor. INGAT..KARMA ITU PASTI ADA !!!. Sekarang kamu sakiti aku. Kelak kamu bakal disakiti pula seperti kamu nyakitin aku!!!." ____
__ADS_1