
"Ayo kita pulang!!" Guntur menarik tangan Riana dengan marah dan menggendong Kiara.
"Kami pamit Mpo. Sekali lagi Gun minta maaf atas ucapan Riana barusan," Guntur merasa tak enak hati dan akhirnya mengajak istri dan putrinya untuk kembali ke rumah Bapak.
"Iya..Iya..nggak apa-apa Gun. Mpo beneran nggak apa-apa," Lusi masih meyakinkan adiknya.
"Iya Mpo..Assalaamualaikum," ucap Guntur berpamitan. "Bang, kami pamit pulang dulu," Guntur melambaikan tangannya ke arah suami Lusi yang masih sibuk melayani pembeli yang sebagian besar adalah anak-anak.
"Wa'alaikumsalaam," balas Lusi sambil mengantar Guntur, Riana dan Kiara sampai ke pagar depan.
Selama dalam perjalanan, Guntur dan Riana diam membisu. Sementara Kiara terlihat menikmati perjalanan mereka hari ini tanpa memperdulikan apa yang terjadi antara kedua orangtuanya.
Sesampainya di rumah Bapak, Guntur dan Riana masih tetap diam membisu. Raut wajah keduanya terlihat tegang. Bapak dan Mak yang melihat perubahan sikap Guntur dan Riana hanya bisa saling pandang tanpa bersuara.
"Mak, tolong pegang Kiara. Gun mau ngomong sama Riana," ucap Guntur sambil menyerahkan Kiara ke gendongan emak.
Tanpa menunggu persetujuan Riana, Guntur menarik tangan Riana dan membawa istrinya masuk ke kamar tamu kemudian menutup pintu agar pembicaraannya dengan Riana tidak terdengar oleh Mak dan bapak.
"Riana..sikap kamu barusan sudah sangat keterlaluan. Sejak tiba disini ada aja sikap kamu yang menyinggung perasaan keluargaku..!!!" tegur Guntur dengan suara yang dipelankan namun terdengar penuh emosi.
"Lho..A'. Wajar aku bersikap seperti itu. Aku seorang ibu dan sudah biasa aku menjaga makan Kiara. Anak kita nggak pernah aku kasi makan sembarangan. Jadi saat kakak kamu memberi makan Kiara dengan makanan kampung yang nggak jelas...ya pastilah aku protes!!!" suara Riana nggak kalah tinggi.
"Tapi bukan begitu caranya. Kamu harusnya ngomong baik-baik. Nggak mungkin juga kakak aku, tantenya Kiara ngeracunin Kiara, ponakannya sendiri. Gila kamu!!!" Guntur semakin marah.
"Masa bodo A'. Yang penting anakku sehat. Ga perduli aku dibilang over protektif ke anakku, aku nggak perduli," cerocos Riana nggak mau berhenti membuat Guntur kehilangan kesabarannya.
"KAMUU..," Teriak Guntur marah. Emosinya tersulut dan hendak melayankan tamparannya ke pipi Riana, Namun tangannya ditahan Bapak yang tiba-tiba masuk ke kamar itu.
__ADS_1
"GUNTUR..!!" Bapak menegur keras Guntur yang sudah terbawa emosi.
"BIARIN PAK..Riana harus dikasi pelajaran biar lebih sadar diri kalau sikapnya itu salah besar!!!" Guntur menarik tangannya dari genggaman Bapak sementara Riana meringkuk diatas ranjang dengan wajah ketakutan bercampur emosi.
"Guntuuurr..sabaaar...jangan kebawa emosi. Ajari dan tegur Istrimu dengan cara yang baik. Jangan sambil marah-marah. Nggak baik nak," Mak yang ikut masuk ke kamar itu sambil membawa Kiara ikut menasehati putranya.
Guntur menghela napas panjang dan berusaha meredam emosinya sendiri.
Aku harus bisa menahan diri. Jangan sampai kemarahanku kepada Riana terlihat oleh Kiara putriku. Khawatir akan mempengaruhi mental Kiara. Biarlah kali ini aku ngalah. Tapi nggak bisa seperti ini terus. Sebaiknya rencana untuk nginap aku batalin dan aku akan menyelesaikan masalah ini di rumah, batin Guntur.
"Benahi barang-barang Riana. Kita pulang sekarang juga," perintah Guntur sambil keluar kamar.
"Lho Gun..kalian nggak jadi nginap?" tanya Mak. Terlihat gurat kecewa di wajah Mak. Wanita tua itu masih belum puas meluapkan kerinduannya kepada Kiara cucunya.
Sementara Bapak hanya diam sambil geleng-geleng kepala. Bapak yakin, masalah ini akan berlanjut hingga Guntur dan Riana tiba di rumah mereka nanti.
"Tapi Gun..Bapak justru khawatir kalau kalian pulang sekarang, kalian akan ribut lagi nanti. Pulang dengan membawa amarah nggak baik Gun," Bapak menambahkan.
"Maafkan Gun Pak. Jangan khawatir, In syaa Allah Gun bisa menahan diri," Guntur berjanji kepada Bapaknya.
Riana yang sejak tadi diam saja akhirnya ngeloyor keluar kamar tanpa suara dan membenahi barang-barang mereka.
Aa keterlaluan. Apa yang salah dari sikapku barusan. Dan tadi...dia berani mau nampar aku didepan kedua orangtuanya!!?? . Benar-benar keterlaluan. Aku nggak terima diperlakukan seperti ini Batin Riana marah.
Bapak dan Mak tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk merubah keputusan Guntur. Keduanya hanya bisa memandangi Guntur dan Riana yang masih diliputi kemarahan dan emosi.
Walaupun mereka berusaha meredam perasaan masing-masing namun sikap diam yang ditujukkan Riana menandakan perempuan itu masih tidak bisa menerima sikap suaminya tadi.
__ADS_1
"Baiklah kalau itu keputusan elu Gun untuk pulang sekarang juga. Bapak dan Mak nggak bisa maksa kalian untuk tetap tinggal. Tapi Bapak dan Mak berharap kalian bisa menyelesaikan masalah kalian dengan kepala dingin. Jangan kebawa emosi. Kalian mengerti Gun..Riana?"
"Iya Pak..siap," Guntur menyanggupi permintaan Bapaknya.
Setelah semua barang-barang mereka dibenahi Riana, kemudian Guntur dan Riana pamit pulang. Mak yang jelas terlihat kecewa tidak bisa berbuat apa-apa.
Netranya yang sejak tadi mengembun akhirnya menitikkan air mata. Yaa..Mak benar-benar menginginkan anak, menantu dan cucunya untuk nginap beberapa hari lagi. Namun wanita tua itu tau, percuma memaksa putranya untuk tetap tinggal.
"Jangan sedih Mak. Nanti Mak bisa berkunjung ke rumah Gun dan nginap barang beberapa hari. Ajak Anggi dan Ria atau Windi untuk nemenin Mak," bujuk Guntur saat melihat gurat kesedihan dimata Maknya.
Mak mengangguk tanda setuju. Dihapusnya air mata yang mengalir di pipinya.
"Kami pamit ya Pak..Mak," pamit Guntur yang diiyakan Bapak dan Mak.
Guntur memeluk dan menciumi punggung tangan kedua orangtuanya. Riana juga melakukan hal yang sama, mencium punggung tangan kedua mertuanya itu.
"Kiaraaa..nanti Nenek jalan-jalan ke rumah Kiara yaaa..," Mak mencium kedua belah pipi Kiara dan kemudian menyerahkan Kiara ke gendongan Riana.
Hari sudah menjelang sore ketika Guntur, Riana dan Kiara meninggalkan rumah bapak dan Mak dengan mengendarai moge milik Guntur.
Selama perjalanan pulang, Riana dan Guntur memilih diam, sementara Kiara tertidur dipelukan Riana karena kelelahan.
Guntur memacu motornya dengan kecepatan tinggi, ingin segera sampai di asrama. Berbeda dengan saat pergi tadi, saat pulang, Guntur memilih untuk langsung pulang dan tidak singgah dimanapun.
Keterlaluan Riana. Dia bahkan tidak meminta maaf sama sekali kepada keluargaku atas kelakuannya tadi. Kenapa Riana sangat berbeda dengan Diana?. Hmm..aku jadi merindukan gadisku itu. Lagi ngapain dia saat ini?. Kalau sikap Riana masih terus seperti ini, maka aku semakin yakin dengan niatku untuk menikahi Diana, dengan ataupun tanpa persetujuan Riana, batin Guntur mantap.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1