TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 93. Tak Mau Putus.


__ADS_3

Guntur memacu motornya dengan kecepatan maksimal. Untungnya pada hari Minggu seperti ini jalanan lenggang karena kebanyakan Mahasiswa memilih keluar kota saat libur weekend.


Keras kepala...mengapa Diana selalu keras kepala seperti ini. Walaupun jelas sikap Diana menguntungkan Aku sebagai laki-laki tapi Aku bukan tipe laki-laki yang suka melepas tanggung jawab begitu saja. Aku bukan pengecut!! batin Guntur tidak mengerti.


Guntur menghentikan motornya di taman sekitar jalanan utama kemudian duduk di salah satu bangku taman yang masih kosong.


Dikeluarkannya sebungkus rokok filter dari saku jaketnya kemudian diambilnya sebatang, disulut dan dihisapnya dalam-dalam dengan perasaan risau.


Tiba-tiba Guntur teringat istrinya... Riana.


Diambilnya ponsel dari saku jaketnya. Guntur kaget melihat ponselnya yang ternyata telah habis batrenya. Astaga..Aku tidak pamitan bahkan aku belum ngabarin Riana sama sekali sejak semalam. Dia pasti lagi uring-uringan karena menungguku pulang batin Guntur baru tersadar.


Segera dimatikannya rokok yang baru setengah, dan bergegas memacu motornya kembali ke hotel.


Sesampainya Guntur di kamar hotel, segera batre hpnya di isi. Guntur tidak menyadari kalau kamar itu kosong. Tak terlihat sosok Diana disana.


Guntur yang mengira Diana sedang di kamar mandi tak mencoba mengecek Diana. Setelah daya ponselnya terisi penuh barulah Guntur tersadar kalau Diana terlalu lama berada dikamar mandi.


"An..Diana.." Guntur mengetuk pintu kamar mandi. Tak terdengar suara air mengalir. Sepi..pertanda Diana tidak ada disitu.


Tak sabar menunggu, Guntur akhirnya membuka kamar mandi. Tidak didapatinya Diana disana. "An...Dianaaa!!" panggil Guntur sambil memeriksa seluruh sudut kamar hotel. Tetap saja tak ditemuinya sosok Diana.


Apa Diana marah dan balik ke asrama ya ? tebak Guntur dalam hati. Hatinya risau mana yang harus didahuluinya, antara nelpon Riana atau nyusul Diana. Disambarnya kunci motor dan Hp yang sudah terisi penuh dayanya. Kemudian melangkah keluar hotel sambil menelepon Riana.


Tuuut...tuuut...tuuut..


"Assalaamualaikum Ri'..


"Wa'alaikumsalaam..A' kemana aja sich sejak kemaren. Keluar nggak pamitan ke Istri..ponsel dimatiin !!!" cerocos Riana kesal.


"Maaf Ri', Aa' mau pamitan semalam, tapi kamu tidur nyenyak banget. Aa' nggak tega banguninnya,. Makanya Aa' keluar nggak pamitan sama sekali" Guntur mencoba bicara selembut mungkin kepada Istrinya.


"Kalau begitu Aa' titip pesen kek ke tetangga sebelah atau ke temen Aa'. Bukannya pergi tanpa kabar berita..terus, kenapa ponselnya nggak aktif A'!!?" tanya Riana lagi.


"Aa' lupa bawa charger. Ini baru aktif ponselnya. Minjem casan ke orang. Semalam Aa' ada tugas dari komandan jemput tamu. Makanya ponsel Aa' non aktifin," Guntur memberi alasan seperti biasanya.


"Oohh..kirain Aa' lagi sama perempuan pelakor itu!!" ujar Riana masih kesal.


"Ya enggaklah Ri'. Kamu sembarangan aja. Asal nuduh.." jawab Guntur pura-pura sewot. Syukurlah, Riana percaya alasanku, batin Guntur lega.

__ADS_1


"Oh iya A' hampir lupa...Mak, Windi dan Anggi dalam perjalanan kesini. Katanya Aa' disuruh jemput di terminal" ucap Riana memberitahu suaminya.


"Lho..emang udah nyampe mana Mak. Kok nggak ngasi tau Aa' kalau mau ke rumah kita?" tanya Guntur.


"Kan Aa' ponselnya nggak aktif sejak semalam. Gimana bisa dihubungi A' !" gerutu Riana


"Iya juga ya...ya udah, Aa' hubungi Mak dulu. Takutnya Aa' telat pulangnya, nggak bisa jemput,"


"Emang Aa' dimana sekarang?" tanya Riana dengan nada curiga.


"Di Sukabumi. Ini juga udah dalam perjalanan pulang," ucap Guntur.


"Ya udah, cepetan pulang A'.."


"Iya..Wassalaamualaikum,"


"Wa'alaikumsalaam,"


Guntur menyudahi obrolannya dengan Riana, kemudian memacu motornya menuju satu tempat...Asrama Diana kekasihnya.


Tak butuh waktu lama, Guntur telah tiba di pintu masuk menuju asrama Mahasiswa tempat Diana tinggal. Saat dijalan tadi, Guntur sambil mencari-cari Diana, kali aja ketemu di jalan. Ternyata tidak ketemu.


Saat memasuki jalanan menuju asrama, terlihat oleh Guntur sosok seorang Mahasiswi yang mirip Diana. Bergegas Guntur mendekati gadis itu dan ternyata benar, itu Diana.


"An...Diana," Guntur berteriak memanggil nama Diana. Sontak Diana berbalik dan kaget melihat Guntur telah tiba di belakangnya.


Diana buru-buru mempercepat langkah kakinya menghindari Guntur.


"Diana..tunggu..!! Teriak Guntur lagi tapi tak digubris Diana. Justtu langkahnya semakin dipercepat.


Sikap Diana membuat Guntur dongkol. Dengan sekali ngegas, motornya sudah menghalangi jalan Diana. Gadis itu tersentak kaget dengan wajah pucat.


"Mas..apa'an sich!?" kesal suara Diana


"Kamu yang apa'an. Kenapa nggak nunggu Mas dan langsung keluar dari kamar?!" tanya Guntur yang kini telah berdiri tepat dihadapan Diana.


"Ngapain Aku harus nunggu Mas. Suka-suka Akulah Mas!!" ucap Diana ketus.


"An......,"

__ADS_1


"Udah akh Mas, jangan menghalangi jalan aku," pinta Diana.


"Oke..kalau kamu mau Aku ngikutin kamu sampai asrama juga. silahkan..biar semua ngelihat kita terutama pacar kamu tuch..si Syahrial," gertak Guntur membuat Diana terkesiap dan berhenti.


'Eeh..jangan Mas..jangan ke asrama," Diana memohon. Matanya jelalatan ke sana kemari, takut Syahrial ada disekitar situ.


"Ya udah..kalau begitu stop disitu. Berhenti menghindari Mas," ujar Guntur


Laki-laki itu melompat dari motornya, kemudian menarik tangan Diana ke salah satu sudut taman yang sedikit tersembunyi dari pandangan mata orang-orang.


Terpaksa Diana mengikuti Guntur. Tidak ada pilihan lain. Daripada Guntur nekat dan mereka jadi pusat perhatian semua orang disekitar tempat itu, mending Diana ikuti aja maunya Guntur.


"Aku balik ke Batalion sekarang. Ingat ya An, kamu sekarang adalah calon Istriku. Lupakan niat kamu untuk putus denganku!" tegas Guntur mengingatkan Diana membuat gadis itu melongo kemudian cemberut.


'Maaass...cobalah mengerti keputusan aku. Ini untuk kebaikan kita semua Mas..Aku, Riana, Kiara dan juga Mas sendiri. Kenapa sich, Mas nggak mau ngerti!?"


"Tidak...sekali Aku bilang tidak ya tetap tidak!!"


"Mas egoiiiss...!" Diana memalingkan wajahnya. Netranya mulai mengembun.


"Terserah apa katamu An..Aku nggak bisa nglepasin kamu untuk laki-laki lain. Nggak bisa An. Jadi jangan paksa aku untuk melakukannya!," seru Guntur dengan nada suara pelan.


Diana terdiam. Sudah berulangkali aku minta putus, menjauhinya bahkan aku pacaran lagi dengan laki-laki lain agar dia marah dan mau melepaskan aku. Tapi tetap saja hasilnya seperti ini...Apa yang harus aku lakukan..!batin Diana risau.


Melihat Diana yang mulai menangis, Gunturpun tak tega. Ditariknya tubuh Diana kedalam pelukannya.


"Berhentilah memintaku melupakanmu An. Semakin kamu meminta hal itu, semakin Aku tidak bisa melepaskanmu. Jadi tolong ngerti dan pahami Aku. Percayalah An, kalau kita nggak berjodoh, rencana apapun yang Aku lakukan untuk memilikimu tidak akan membuahkan hasil. Pasti gagal. Tapi kalau kita berjodoh, Apapapun yang kita lakukan untuk berpisah, nggak akan terjadi. Percayalah padaku An..." Ucap Guntur meyakinkan Diana.


"Tapi Mas....!"


"Sudahlah..berhenti bicara apapun. Kita jalanin aja apa yang harus kita jalanin. Selebihnya biar takdir yang menentukan," jawab Guntur kemudian mencium wajah Diana.


Gadis itu terdiam dan memejamkan matanya, mencoba menenangkan perasaanya sendiri. Benar apa kata Mas Gun..biarlah takdir yang mengakhiri kegalauanku..batin Diana akhirnya.


"Aku pulang dulu," pamit Guntur disambut anggukan kepala Diana.


Kemudian berdua, Guntur dan Diana menuju tempat Guntur memarkir motornya. Setelah Guntur pergi, Diana melanjutkan langkahnya menuju kampus.


Tanpa disadari Diana, ada sepasang mata yang memperhatikan semua peristiwa barusan dengan sorot mata kecewa dan cemburu..Syahrial. Ya..seseorang itu adalah Syahrial, pacar Diana di kampus.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2