
Yusril memapah tubuh Diana menuju salah satu kursi yang ada di sepanjang terminal Bandara itu.
Salah seorang calon penumpang yang menyaksikan peristiwa barusan ikut membantu dengan membelikan sebotol air mineral untuk Diana.
Setelah mengucapkan terima kasih, Yusril membuka botol air mineral ditangannya dan menyodorkannya kepada Diana.
"Minumlah..biar kamu lebih tenang," tawar Yusril yang mencoba membantu Diana untuk minum namun ditolak halus oleh Diana.
"Aku bisa sendiri Yus..terima kasih," ujar Diana sambil mengambil botol air mineral dari tangan Yusril dan menenggaknya perlahan.
"Kamu mikirin apa sich An..kok bisa lengah kayak gitu dan nggak ngelihat kalau ada motor berkecepatan tinggi yang menuju ke arah kamu," tanya Yusril dengan tatapan heran.
Diana diam saja, tak langsung menjawab pertanyaan Yusril. Gadis itu masih sedikit gugup dan lemas setelah tadi hampir saja ditabrak motor.
"An..," panggil Yusril.
"Nggak apa-apa Yus. Jangan khawatir. Aku baik-baik saja," jawab Diana.
"Hmm...kayaknya aku tau dech alasannya. Kamu lagi mikirin aku ya sampai nggak fokus ke jalan," canda Yusril mencoba mencairkan kekakuan diantara mereka berdua.
Diana tertawa menunjukkan deretan gigi ginsulnya yg menawan.
"Ngasal....Ge-er kamu Yus. Sok tampan ha..ha..ha," seloroh Diana membalas candaan Yusril.
"Emang aku tampan..makanya dulu kamu mau jadi pacarku..iya kan!?" ucap Yusril disela tanya membuat Diana kikuk.
"Emang..bener-bener raja ge-er ini orang. Udah akh bercandanya. Dikit lagi aku masuk ya. Tinggal beberapa menit lagi aku harus naik ke pesawat," ucap Diana mencoba mengalihkan arah pembicaraan mereka.
Yusril tak menjawab malah memandangi Diana dengan tatapan yang sulit dimengerti oleh perempuan itu.
"Jangan pandangin aku seperti itu Yus," elak Diana.
"Kamu masih seperti dulu An, cantik dan apa adanya," puji Yusril tanpa basa-basi.
"Udah Akh..aku masuk ya..salam untuk Istri dan anak-anakmu," pamit Diana sembari berdiri dan menyalami Yusril.
Yusri tidak menjawab ucapan Diana, malah menarik Diana kedalam pelukannya.
"Maafkan aku, dulu pergi begitu saja dari kamu An," bisik Yusril
__ADS_1
Diana Diam..
Sejurus kemudian Diana melepas pelukan Yusril perlahan dan tersenyum.
"Sudahlah..itu masa lalu kita Yus. Sekarang kita sudah memiliki hidup masing-masing. Keluarga masing-masing Yus. Aku harap kita masih bisa berteman baik..seperti dulu,"ucap Diana tulus.
"Hmm..iya..pasti,' jawab Yusril sambil menyeliplan sesuatu di tas Diana.
"Apa itu Yus..?" tanya Diana heran.
"Kartu nama aku. Hubungi aku kalau kamu udah nyampe disana," pinta Yusril.
"Iya...aku pamit ya. Makasih udah nemenin dan nyelamatin aku tadi," ujar Diana sembari melambaikan tangannya ke arah Yusril dan berbalik menuju ruang tunggu penumpang tujuan Bandara selanjutnya.
"Selamat jalan An..,"bisik Yusril membalas lambaian tangan Diana.
Laki-laki itupun berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu dengan membawa satu rahasia yang tidak diceritakannya kepada Diana.
\=\=\=\=\=
Sementara itu, di tempat lain Guntur sedang menemani Riana yang masih terbaring di ruang ICU.
Beberapa alat medis yang tadi tertempel di tubuh Riana telah dibuka setelah Riana berhasil melewati masa kritisnya dan mendapatkan penanganan dari dokter Beni, salah seorang dokter Tentara yang menangani Riana.
"Alhamdulillah, Istrimu sudah melewati masa kritisnya dan bisa kamu bawa pulang," jawab dokter sambil mengajak Guntur untuk duduk di meja kerjanya.
"Apa nggak sebaiknya dirawat beberapa hari dulu disini dok?" tanya Guntur.
"Boleh saja. Silahkan kalau mau kamu seperti itu. Istrimu cuman shock aja tadi. Saran saya, jaga emosi Istrimu biar nggak kambuh lagi penyakitnya," jawab dokter memberi saran.
"Iya dok...Makasih untuk saran dan bantuannya. Kayaknya saya bawa pulang aja istri saya dok. Rawat jalan aja," ujar Guntur sambil berdiri dan menjabat tangan dokter Beni.
"Iya..silahkan. Ini resep obat Istrimu," ucap dokter Beni sambil berdiri dan menyerahkan resep obat yang baru ditulisnya ke tangan Guntur.
"Ingat pesan saya tadi Gun. Jaga emosi Istrimu," sekali lagi dokter Beni mengingatkan Guntur.
"Siap dok. Saya ijin pamit pulang," ujar Guntur sambil memberi hormat dan menjabat tangan dokter Beni sekali lagi.
Setelah dokter Beni meninggalkan ruangan itu, Guntur langsung mendekati tempat tidur Riana.
__ADS_1
Riana yang sudah sadar dan masih terlihat lemas berusaha untuk duduk dibantu salah seorang perawat yang mendampingi Riana.
"Gimana Ri. Kamu mau dirawat dulu disini beberapa hari atau kita pulang dan kamu dirawat jalan aja?" tanya Guntur meminta persetujuan istrinya.
"Kita pulang aja A'. Aa' anterin aku dan Kiara ke rumah Bapak ya. Biar aku istirahat disana aja dan Aa tetep ngantor seperti biasa," pinta Riana pelan.
"Baiklah Ri," jawab Guntur mengiyakan permintaan Riana.
Sebenarnya Guntur masih penasaran, kenapa Riana tiba-tiba kambuh.
Namun pertanyaan itu disimpan Guntur, takut akan mempengaruhi kesehatan Riana yang baru saja keluar dari ruang tindakan.
Dengan kursi roda yang ada di ruangan itu, Riana didorong keluar dari ruang ICU oleh perawat diikuti Guntur.
Sesampainya di ruang utama RS AD, setelah mengucapkan terima kasih kepada perawat yang membantu mereka, Guntur kemudian memapah istrinya menaiki mobil yang diparkirnya tepat di depan ruang tunggu RS itu.
Tujuan Guntur dan Riana adalah ke asrama untuk mengambil beberapa pakaian dan keperluan Riana dan Kiara sekaligus menjemput Kiara yang dititipin Guntur di rumah salah satu tetangganya tadi.
Selama perjalanan mereka, Riana dan Guntur hanya diam dan larut dalam pikiran masing-masing.
Setelah menjemput Kiara, Gunturpun memacu mobil mereka....membawa istri dan putrinya menuju kota S, kota kelahiran Riana.
\=\=\=\=
Diana memperbaiki letak duduknya dan memakai seat belt setelah mendengar pengumuman dari pilot dan pramugari bahwa pesawat akan mendarat beberapa saat lagi di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado.
Diana berusaha menenangkan debaran jantungnya. Moment yang selalu membuat Diana panas dingin.
Dengan menutup mata dan mengucapkan do'a yang sempat diingat Diana saat itu, pesawat yang ditumpangi Dianapun berhasil landing dengan mulus dan selamat.
Seluruh penumpang serempak mengucap syukur dengan cara masing-masing disertai tawa lega.
Diana tersenyum melihat berbagai tingkah polah sebagian penumpang yang mengundang tawa.
Setelah mengambil barang bawaannya yang ditaruh Diana di kabin pesawat, Dianapun ikut dalam antrian penumpang yang akan turun dari pesawat.
Udara hangat menyambut Diana dan penumpang lainnya saat menuruni tangga pesawat. Dengan bersemangat Diana turun dan melangkah mantap menuju ruang kedatangan.
Tempat Diana bertugas nanti masih beberapa kilometer lagi jauhnya dari pusat kota Manado, ibu kota Propinsi Sulawesi Utara itu.
__ADS_1
Dengan menempuh perjalanan darat menggunakaan mobil carteran, Diana masih membutuhkan waktu sekitar 2 jam 19 menit untuk tiba di kota Ktg, daerah tugasnya yang baru.
\=\=\=\=\=\=\=\=