
"Mas, aku ..aku minta kita pisah," ucap Diana terbata-bata. Wajahnya tertunduk tidak berani memandangi wajah Guntur.
Guntur yang sedang mengenakan kemejanya sontak berpaling kearah Diana. Tiba-tiba laki-laki itu tertawa terbahak-bahak.
"Bercanda kamu sayang..," Guntur menatap kekasihnya, tak percaya.
"Aku serius Mas..," tanpa ekspresi Diana membalas tatapan Guntur.
"Kenapa..kenapa kita mesti putus!?" tanya Guntur.
"Mas kenal Syahrial....?" Diana menggantung kata-katanya. Dia ingin tau ekspresi Guntur.
"Syahrial...laki-laki yang sering WA dan nelpon kamu ?"tanya Guntur datar.
"Iya..yang barusan juga nelpon Aku," ucap Diana jujur.
Guntur terkesima. Aku kira Diana nggak akan jujur ke aku soal teleponnya dengan Syahrial barusan.
"Kenapa..?" tanya Guntur lagi tak mengerti.
"Aku dilamar Mas Syahrial Mas...!" ucap Diana pelan namun terdengar bagai petir disiang bolong bagi Guntur.
"Apa...dilamar..!?" Guntur memastikan apa yang baru saja didengarnya. "Aku sudah melamarmu duluan Diana,"
"Aku tau Mas..Mas yang duluan melamar Aku. Tapi Mas..hubungan kita ini tidak mungkin. Pernikahan kita akan menyakiti Istri dan Anakmu. Aku nggak mau itu Mas. Cukup dengan apa yang kita lakukan selama ini. Jangan lagi diteruskan dengan pernikahan karena Akupun akan dirugikan dalam pernikahan kita nanti," ucap Diana lantang. Napasnya memburu.
"Tapi An..apa dia bisa menerima dirimu apa adanya seperti Aku. Apalagi hubungan kita sudah terlalu jauh. Apa kau tidak memikirkan itu!?" tanya Guntur tak percaya.
"Dia tau Mas..dia bahkan tau Siapa Mas dan gimana masa lalu kita. Dia juga tau kalau Mas sering mengunjungiku. Tapi Mas Syahrial nggak mempermasalahkan semua itu. Dia tetap keukeuh untuk melamar aku," jawab Diana. Entah dia sedang jujur atau tidak, Diana tidak perduli.
Guntur melongo memandangi wajah Diana. Dikibaskannya tangannya kemudian berbalik kearah cermin dan merapikan baju yang dipakainya.
"Aku tidak percaya laki-laki itu masih mau menikahimu jika dia sudah tau kalau kamu sering aku kunjungi," jawab Guntur sinis.
__ADS_1
"Awalnya aku juga nggak percaya Mas. Tapi Mas Syahrial meyakinkan Aku kalau Dia berniat baik kepadaku. Katanya Dia ingin menyelamatkan Aku dari hubungan terlarangku ini Mas...!" ujar Diana membuat Guntur berbalik. Wajahnya mulai memerah menahan emosi mendengar ucapan Diana barusan.
"Lupakan lamaran laki-laki itu. Aku nggak akan mengijinkan kamu untuk menikah dengan laki-laki manapun..termasuk dengannya!!" Guntur berkata pelan dengan suara beratnya. Dia mulai marah. Sorot matanya tajam, terlihat tak suka dengan isi ucapan Diana barusan.
"Masss..kamu jangan egois. Aku yang dirugikan dalam hubungan Kita. Bagi Mas semua nggak ada artinya..tapi bagi aku ada Mas. Ini menyangkut hidup Aku...Masa depan Aku..!!!" seru Diana dengan suara meninggi.
"STOOP..Berhenti dengan omong kosong ini. Aku akan menikahi kamu secepatnya. Dan jangan coba-coba menolak. Kamu sudah menerima lamaranku sejak kemaren. Ingat itu Diana!!" Guntur menyambar kunci motor diatas meja dan hendak melangkah keluar.
Diana berdiri..dicegatnya langkah Guntur. "Mas...aku belum selesai..!!!"
"Cukup Diana.. Aku bilang CUKUP. Sekarang ganti baju kamu dan kita keluar. Aku harus kembali ke Batalion!!!" tegas Guntur sambil keluar. "Aku akan kembali beberapa menit lagi. Mandi dan ganti pakaianmu. Nanti aku jemput," Gunturpun keluar sembari membanting pintu kamar membuat Diana tersentak kaget.
Diana melengos. Air mata yang sejak tadi ditahannya mengalir keluar bersama amarah yang sejak tadi ditahannya.
Kamu egois Mas..selalu begitu sikapmu setiap kali Aku minta kita pisah. Harusnya kamu iyakan mauku saat Aku ingin. Aku takut tidak bisa melepaskanmu dan itu akan menyakiti Riana dan Kiara..batin Diana sedih. Air matanya mengalir membasahi pipinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Mak sudah bisa menghubungi Guntur?" tanya Bapak sembari mengangkat barang-barang bawaan Mak keatas bis.
"Belum Pak. Tapi Riana sudah tau kami akan datang. Nanti juga Guntur pasti dikasi tau Istrinya" ucap Mak yakin.
"Kalau Anak Kita tidak bisa dihubungi terus, Bapak akan meminta tolong temannya Guntur untuk menjemput Mak dan anak-anak" ujar Bapak.
"Ya udah Pak..syukurlah kalau begitu. Bapak telepon temannya Guntur sebelum kami tiba di sana," kata Mak sambil duduk disamping Windi dan Anggi.
Bapak mengangguk dan berbalik hendak turun dari bis yang siap berangkat.
"Jaga Mak Anggi..Windi. Kabari Bapak kalau kalian sudah dekat," Bapak mewanti-wanti Anggi dan Windi. Keduanya mengangguk kemudian mencium tangan Bapak.
"Hati-hati di jalan," ucap Bapak sambil berlalu meninggalkan Mak, Anggi dan Windi diatas bis.
Hingga bis melaju keluar dari terminal, Bapak belum beranjak dari tempatnya berdiri. Tidak biasanya laki-laki tua itu membiarkan istrinya pergi sendiri. Apalagi hanya ditemani Windi dan Anggi. Ada kekhawatiran yang dirasakan Bapak.
__ADS_1
Semoga mereka tiba dengan selamat....doa Bapak sungguh-sungguh didalam hati.
Beberapa menitpun berlalu. Setelah bis yang ditumpangi Mak, Anggi dan Windi menghilang dari pandangannya, Bapakpun pulang dengan mengendarai motor kesayangannya yang sering dipakai Bapak untuk ngojek disela-sela kesibukannya berkebun dan nyawah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di asrama, setelah memandikan Kiara kemudian menyuapi gadis kecilnya dengan bubur tim yang dibuatnya tadi pagi, Riana terlihat masih uring-uringan karena Guntur belum juga pulang.
Bagaimana ini. Aa' belum juga pulang sementara Mak, Windi dan Anggi akan datang beberapa jam lagi. Aa' benar-benar keterlaluan. Nggak bisa dihubungi dan sampai jam segini belum juga pulang. Gimana caranya aku menghadapi dan menjawab pertanyaan Mak nanti? Batin Riana risau. mana Aa' disuruh jemput lagi di terminal..
Tak lama kemudian...Tuuut..tuuut...tuuut Bunyi panggilan masuk di ponsel Riana.
Mudah-mudahan Aa' yang nelpon batin Riana berharap. "Halo Aa". Aa' dimana sich. Nggak ada kabar berita dari semalam.." tanpa melihat nama yang tertera di layar ponselnya, Riana menyapa dengan nada tak sabar.
"Halo Riana, ini Mak. Kami sudah di bis. Kata sopirnya kurang lebih 2 jam lagi Mak dan adik-adik lu nyampe," suara Mak diseberang sana mengejutkan Riana.
Astagaaaa...ternyata Mak..batin Riana sembari menutup mulutnya dengan tangan.
"Eeeh..Mak, Riana kira Aa'.." jawab Riana.
"Guntur belum pulang juga Ri'?" tanya Mak dengan nada khawatir.
"Iya Mak. Belum. Makanya Riana bingung, nanti siapa yang akan jemput Mak?" ucap Riana kebingungan.
"Udah...nggak usah lu pikirin. Kata Bapak ntar Mak dijemput kawannya Guntur. Jadi Riana nggak usah khawatir," jawab Mak melegakan hati Riana.
"Ooh, syukurlah kalau begitu Mak..ya udah, Riana coba nelp Aa' lagi. Siapa tau ponsel Aa' sudah aktif," ujar Riana.
"Iya Ri,'. Assalaamualaikum.."
"Wa'alaikumsalaam...," jawab Riana menutup pembicaaraan mereka.
\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1