TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 22. Kekecewaan Diana dan Amarah Guntur.


__ADS_3

Diana berlari sembari mengusap air matanya. Tangisannya tak kunjung reda. Tak diperdulikannya tatapan sebagian orang yang berlalu lalang disekitar gadis itu.


Perih dan merasa dikhianati, Diana kembali meradang. Jantungnya seolah dicabik-cabik oleh orang yang sangat dicintai dan dipercayainya.


Gadis itu merintih, terluka untuk yang kesekian kalinya.


Kamu tega mas, sungguh kamu tega melakukan ini padaku. Padahal kamu tau bagaimana aku berusaha move on dari masa laluku dan membuka hatiku untuk kamu, batin Diana perih.


Bodoooh....!!!, benar-benar bodoh aku ini. Harusnya sejak awal aku tau ada yang disembunyikan laki-laki itu. Tapi kenapaaaa...kenapa aku tetap saja percaya padanya, sesal Diana.


Air mata gadis itu kini mengalir lagi. Menyesal namun sudah terlambat baginya. Laki-laki itu sudah terlalu jauh masuk kedalam hati dan hidupnya.


Mampukah aku mengakhiri hubungan ini ??. Allah.....tolonglah aku, batin Diana menjerit.


Selang beberapa menit kemudian, Diana tiba di rumah kontrakannya. Gadis itu membuka pintu dengan kasar dan membanting tubuhnya diatas kasur yang empuk tanpa membuka sepatunya.


Gadis itu mengambil boneka panda berukuran jumbo miliknya dan membenamkan wajahnya disana. Pecah tangis gadis itu.


Menangis..yaa, hanya itu yang bisa dilakukan Diana saat ini. Gadis itu tak tau harus berbuat apa. Diluapkannya seluruh emosi dan air mata di pelukan boneka panda kesayangannya.


Diana kelelahan dan akhirnya tertidur pulas.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sementara itu, Guntur Pramudya telah meninggalkan warung ibu Sri.


Laki-laki itu hendak memutar arah mogenya menuju rumah Diana, namun diurungkannya niat itu.


Percuma, Diana sedang marah besar padaku. nggak bakal mau dia menemuiku, batin Guntur meradang.


Sebaiknya aku kembali ke barak dan meneliti siapa orang yang telah lancang dan berani menghianatiku, geram batin Guntur.


Kedua tangan laki-laki itu mengepal keras, rahangnya mengejang kaku, gigi-giginya gemerutuk, saling beradu.


Emosi Guntur memuncak, begitu memikirkan siapa orang yang telah berani membuka rahasianya kepada Diana.


Diluapkannya emosi yang membuncah di dada laki-laki itu dengan memacu kecepatan mogenya di kecepatan paling maksimal.


Dengan kecepatan moge yang seperti itu, tidak butuh waktu lama bagi Guntur untuk sampai di barak. Hanya butuh waktu kurang dari 5 menit.


Setibanya di barak, Guntur turun dari mogenya dan bergegas mencari Anton. Beberapa kawan yang menyapa laki-laki itu tak digubris olehnya.

__ADS_1


Wajah laki-laki itu memerah karena marah.


"Antoooon..!!" teriak Guntur setibanya di barak Anton.


Anton terkejut mendengar teriakan Guntur. Sontak laki-laki itu meloncat dari velbednya dan mendekati Guntur yang terlihat emosi.


"Bang....,"


BUUUG..


Belum sempat Anton berbicara, tiba-tiba sebuah pukulan telak mendarat di wajahnya.


Laki-laki itu meringis kesakitan. Tak mengerti mengapa Guntur memukulinya. Ujung bibirnya mengeluarkan darah.


Anton tidak membalas pukulan seniornya yang juga merupakan sahabat karibnya itu. Saat pukulan kedua akan dilayangkan Guntur kearah perut Anton, laki-laki itu berhasil menahan kepalan tinju Guntur.


"Ada apa ini bang, apa salahku?" tanya Anton.


Guntur menepis kasar tangan Anton dan meluapkan kekesalannya ke dinding barak yang merupakan rumah bekas ditinggal penghuninya akibat kerusuhan yang terjadi beberapa waktu yang lalu.


Tangan Guntur berdarah. Beberapa kali dilayangkannya kepalan tinjunya ke dinding barak yang keras.


Anton diam, membiarkan Guntur meluapkan emosinya. Laki-laki itu tidak mengerti apa yang telah dialami sahabatnya hingga ia semarah itu.


"Jujur Ton. Katakan padaku apakah kamu pelakunya..!?" Guntur menatap tajam kearah Anton.


"Aku..?, pelaku apa bang. Apa yang sudah kulakukan?" tanya Anton tak mengerti.


"Apa yang kamu katakan kepada Diana?" tanya Guntur lagi, masih dengan suara tajam dan tatapan sinisnya.


"Aku...??!" Anton menunjuk kearah wajahnya sendiri, tak mengerti.


"Tidak ada yang kukatakan bang," jawab Anton mengelak.


"Kalau bukan dari kamu, dari siapa lagi hah...!!!. Apa kamu tidak pernah cerita ke pacarmu Imah soal statusku?". tanya Guntur, emosinya perlahan mulai mereda.


"Tidak...!!!, aku tidak pernah melakukan itu bang. Percaya padaku. Abang kenal lama siapa aku. Masa abang ga percaya kalau bukan aku pelakunya?". tanya Anton, tak percaya Guntur meragukan dirinya.


"Lalu siapa pelakunya...?!" mendesis suara laki-laki itu menahan amarah yang kembali menguak.


"Ga tau bang. Nanti aku selidiki. Tapi bang, aku minta, tolong abang tahan emosimu. Kalau kentara emosi abang, ga bakal ketemu biang keroknya," Anton memberi saran kepada sahabatnya.

__ADS_1


Haaaaahh.......


Laki-laki itu menghela napas panjang. Ditatapnya wajah Anton, sahabatnya. Ada rasa bersalah telah menuduh Anton tanpa alasan yang jelas.


"Maafkan aku bro, sudah menuduhmu dan memukulimu," Guntur menghampiri Anton dan meminta maaf kepada sahabatnya itu.


"Santai aja bang. Ga papa," jawab Anton pelan.


Sementara itu disudut lain ruang barak, terlihat sepasang mata yang menyaksikan adegan tersebut dengan sorot mata khawatir.


Sekilas feeling Guntur memberi isyarat ada orang lain yang menguping pembicaraan mereka.


Secepat kilat, laki-laki itu meloncat kearah yang dicurigainya. Namun kosong, tak ditemukan siapapun disana.


Guntur mengedarkan pandangannya ke sekeliling barak, namun tak ditemukannya sosok yang dicarinya.


Cepat sekali orang itu pergi, guman Guntur dalam hati.


Hari ini kamu boleh lolos. tapi tidak akan lama sobat..akan kukejar kau, sampai keujung manapun kau berlari. Aku akan menemukanmu, janji Guntur geram.


Anton yang juga merasakan kehadiran orang lain diantara mereka ikut mencari. Namun seperti juga sahabatnya, laki-laki itu tidak menemukan siapapun disekitar barak.


"Sudahlah bang. Biarkan orang itu pergi. Cepat atau lambat kita pasti akan menemukannya," ucap Anton menenangkan sahabatnya.


Guntur mengangguk, mengiyakan saran sahabatnya. Laki-laki itu kemudian melangkah menuju kamar tidurnya yang bersebelahan dengan kamar Anton.


Tak berselang lama, laki-laki itu kembali dengan menenteng dua botol minuman keras khas daerah setempat yang sudah dibukanya terlebih dahulu.


Diberikannya satu botol minuman itu kepada Anton dan satu lagi untuk dirinya. Anton menerimanya dan menenggak minuman itu, sedikit.


Sejak berhubungan dengan Imah, sahabat Diana, sebenarnya Anton telah mengurangi kebiasaanya minum minuman keras, apalagi sekelas cap tikus, minuman keras khas daerah setempat yang lumayan keras dan memabukkan.


Tapi demi sahabatnya yang sedang galau, Anton akhirnya mengabaikan janjinya kepada Imah untuk tidak menyentuh lagi barang haram itu.


Keduanya duduk diatas velbed dan menghabiskan malam sambil menenggak minuman keras. Sesekali membahas rencana untuk menangkap basah si brengsek penghianat .


Malampun semakin larut, Namun kedua sahabat itu masih larut dalam pembicaraan serius mereka.


Selang beberapa menit kemudian, terdengar Azan subuh berkumandan, membelah sepi pertanda pagi mulai menjelang.


Kedua sahabat itu kemudian beranjak dari tempat mereka duduk dan kembali ke kamar masing-masing.

__ADS_1


Entah apa yang telah direncanakan oleh keduanya. Namun terlihat rona puas diwajah kedua sahabat itu.


__ADS_2