TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Bab 20. Rahasia Guntur Pramudya Yang Mulai Terkuak


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan.


Hubungan Guntur dan Diana semakin mesra seolah tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh apapun. Disela-sela kesibukan masing-masing, mereka selalu menyempatkan diri dan waktu untuk melakukan berbagai hal berdua.


Sampai suatu hari ketika Guntur dan Diana sedang bersantai di salah satu pantai terindah di kota itu.


Kala itu Guntur sedang bersandar dipangkuan kekasihnya Diana. Guntur lupa menyimpang kalung berukir nama Riana dan Kiara.


"Nama siapa ini mas?" Riana bertanya sambil memegang bandulan kalung Guntur dan membaca dua nama yang terukir dIisana.


Refleks laki-laki itu melonjak kaget dan bangun dari pangkuan Diana.


Aaaah..siaaal. Aku lupa menyimpan kalung ini. Mati aku. Harus kujawab apa ini ? batin Guntur kalap.


"Oooh...itu..itu nam..nama kakakku dan anak perempuannya. iya...Riana itu nama kakakku dan Kiara anaknya," jawab Guntur gelagapan sambik berusaha menyembunyikan kegugupannya akibat membohongi Diana.


"Lho..kok bisa mas? setahuku yang boleh ada namanya terukir di bandul kalung seorang prajurit hanya nama anak dan istrinya," sahut Diana mulai curiga.


"Nggak...Nggak begitu juga. Riana kakakku sudah berpisah dengan suaminya. dan Kiara sangat dekat denganku," jawab Guntur mencoba melengkapi cerita bohongnya.


"Boleh kok, nama orang terdekat yang kita ukir di bandul kalung. Salah satunya adalah nama saudara kandung, ponakan atau bisa juga pacar atau tunangan," laki-laki itu semakin menyempurnakan kisah bohongnya dan berhasil membuat Diana diam.


Diana manggut-manggut, walaupun sebenarnya Diana masih penasaran dengan bandul kalung milik kekasihnya.


Duh...mudah-mudahan dia percaya padaku dan tidak menyelidiki hal ini. Besok-besok aku harus lebih berhati-hati lagi, batin Guntur, tidak bisa membuang rasa khawatirnya.


Akhirnya hari itu terlewati tanpa ada lagi pembahasan tentang bandul kalung Guntur Pramudya.


Sampai suatu ketika, Nani menemui Diana di kantornya. Gadis itu menunggu waktu istirahat makan siang Diana agar bisa lebih leluasa berbincang dengan Diana.


"An...ada yang harus aku omongin ke kamu," ngos-ngosan karena berjalan buru-buru, Nani menarik tangan Diana ke arah tempat duduk di ruang lobi.


"Aku punya informasi penting tentang pacarmu, Guntur," lanjut Nani sambil menyuruh Diana untuk duduk.

__ADS_1


"Informasi penting ?, tentang apa Nani cantik?" Diana mentowel pipi sahabatnya, gemas.


Nani memang berbeda dengan saudara kembarnya Nina yang lebih ceria dan terbuka. Nani justru sebaliknya.


Sikap dan sifatnya berbanding terbalik dengan saudara kembarnya Nina, lebih pendiam dan cenderung tertutup. Mungkin dikarenakan kegagalan Nani dinikahi tunangannya yang juga seorang anggota TNI yang menyebabkan gadis itu bersikap lebih posesif terhadap sahabatnya, Diana.


"Ternyata mas Gunturmu sudah beristri dan beranak satu An. Dia sudah menikah," jawab Nani yang terdengar ditelinga Diana bagai petir disiang bolong.


"AP..APAAAA..", Diana terkejut. matanya melongo ke arah sahabatnya.


Diana tau Nani tidak pernah sekalipun membohonginya.


Mas Guntur sudah menikah ?, ngawuur..Tak mungkin. Tak mungkin mas Gun tega membohongiku batin Diana kalut dan tak yakin.


"Beneran Dianaaa. Aku dengar sendiri dari kawan seletting pacarmu itu," sahut Nani mencoba meyakinkan Diana.


Diana tergugu. Sudut netranya memerah.


"Kapan aku pernah bohong sama kamu An?" tanya Nani lagi.


"Siapa nama istri dan anaknya," tanya Diana lagi, mencoba meyakinkan dirinya.


"Nama istrinya Riana dan putrinya yang baru berusia satu tahun, Kiara," Nada suara Nani menurun melihat respon Diana.


Pantasss...pantasss..kedua nama itu yang terukir di bandul kalung mas Guntur. Ternyata aku benar, itu nama istri dan anaknya. Mas Gun benat-benar tega menipuku...membohongiku mentah-mentah, batin Diana marah dan sakit hati.


Air mata Diana kini benar-benar tumpah menghadapi kenyataan tentang status Guntur, kekasihnya. Diana menutupi wajahnya dengan kedua belah tangannya.


Nani memgusap punggung gadis itu, memeluknya dan mencoba menenangkan Diana


"Kamu harus kuat An. Dan kamu harus meminta penjelasan dari laki-laki brengsek itu. Aku tak mau kisah lamamu terulang kembali. Cukup sudah An..cukup. Laki-laki seperti itu harus diberi pelajaran karena menyakiti para gadis seperti kita. Mereka kira kita ini mainan yang seenak udel mereka pakai, dipacari lalu ditinggal begitu saja ketika mereka kembali kepada anak istrinya?. TIDAK AN..buat mereka dan anak keturunnan mereka merasakan sakit yang sama seperti yang kita rasakan,".


Berapi-api Nani mensupport sahabatnya dan memberi ide gadis itu untuk menyelidiki dan membalas Guntur Pramudya..

__ADS_1


Diana terdiam, masih dalam isak tangisnya.


Aku harus menemui mas Gun dan dia harus menjelaskan semua ini. Hari ini juga. batin Diana geram.


Gadis itu marah karena merasa benar-benar ditipu oleh laki-laki yang dicintainya dan sangat dipercayainya itu.


Setelah kepergian Nani, Diana mengambil gadgetnya dan diketiknya sebuah pesan singkat untuk Guntur.


Kita ketemu di warung ibu Sri sepulang aku dari kantor, ada yang mau aku tanyakan, tulis Diana kemudian mematikan gadgetnya setelah mendapatkan balasan oke dari Guntur.


Waktu telah menunjukkan pukul 17.00 ketika Diana buru-buru melangkahkan kakinya menuju warung ibu Sri yang memang tidak terlampau jauh dari tempatnya bekerja.


Ketika tiba di warung milik ibu Sri, Diana tidak melihat sosok Guntur Pramudya. Hanya ada ibu Sri dan beberapa pengunjung yang asyik menikmati makanannya.


"Assalaamualaikum ibu, mas Gunturnya belum datang ya bu?" Diana mengucap salam, menanyakan keberadaan Guntur dan mencium punggung tangan ibu Sri.


"Waalaikumsalaam Ana," jawab ibu Sri sambil tersenyum memandang Diana yang terlihat berbeda raut wajahnya.


"Mas Gunmu belum datang cantik, Tapi tadi dia nelpon, katanya kalau kamu datang duluan, kamu disuruh nunggu sampai dia datang. Masmu mau apel sore dulu biar punya waktu yang banyak untuk kamu" jawab ibu Sri mencoba menenangkan gadis yang berdiri di hadapannya.


Diana terdiam, mencoba mengatur ritme amarah yang bergejolak didadanya.


Aku harus tenang..mungkin untuk permulaan, aku korek aja dulu informasi tentang mas Guntur dari ibu Sri. Bukankah ibu Sri adalah ibu angkatnya mas Gun. Pasti dia tau banyak tentang status mas Gun yang sebenarnya, batin Diana mulai menyusun rencana.


Didekatinya ibu Sri dan diajaknya untuk duduk. Kebetulan, warung telah sepi karena hari mulai menjelang sore dan waktunya bagi ibu Sri untuk menutup warungnya.


Diana menuju pintu warung dan membalikkan papan bertuliskan Open kearah sebaliknya bertuliskan Close kemudian gadis itu melangkah kembali mendekati ibu Sri.


Wanita paruh baya itu memperhatikan setiap gerak-gerik Diana. Keningnya berkerut.


Gadis ini sepertinya sedang marah besar. Aku harus tau apa yang dipikirkan dan mau disampaikan Diana. Akan kuhubungi Guntur nanti setelah tau mengapa gadis ini terlihat begitu marah, batin ibu Sri sambil membiarkan Diana mondar-mandir dihadapannya.


"Sini Ana..duduk disamping ibu", panggil Ibu Sri, meminta gadis itu untuk duduk disampingnya.

__ADS_1


Diana menoleh, menggangguk dan mendekati ibu Sri.


 


__ADS_2