
Setelah tiba di kota "S", kota kelahiran istriku Riana, aku langsung menemui Kiara putri semata wayangku. Awalnya aku ingin menemuin Riana di RS sekalian besuk bapak mertuaku. Tapi ketika dijalan tadi aku melihat sebuah boneka panda yang berwarna nggak biasa dijual di salah satu toko mainan anak-anak. Aku jadi teringat Kiara yang suka banget dengan warna pink dan boneka berbulu lembut. Akhirnya aku beli boneka itu plus beberapa dus susu dan makanan untuk gadis kecilku. Kuputuskan untuk menemui Kiara terlebih dulu.
Pagi itu Kiara sedang disuapin mbak Tiwi Kakaknya Riana sementara ibu duduk memperhatikan mereka sambil sesekali memanggil Kiara dan bertepuk tangan.
Awalnya Kiara tidak mengenaliku. Tapi setelah aku buka topi baret yang kupakai, barulah Kiara mengenali aku ayahnya. Kupeluk Kiara erat penuh kerinduan. Ah.. gadis kecilku semakin cantik aja.
"Apa kabar sayangnya Ayah.. Putri cantik Ayah," aku mengusap pipi montok Kiara dan menciumnya berkali-kali. Kiara tertawa senang dan kegelian.
"Ibu.. apa kabar, " Aku mendekati ibu mertuaku sambil menggendong Kiara. Kucium tangan ibu yang tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Ibu baik nak.. giman kabar kamu. Kapan kamu balik dari kota "T"..?" ibu memelukku.
"Alhamdulillah aku sehat Bu. Aku baru nyampe tadi malam dan langsung kesini Bu. Maaf, aku belum sempat ke RS nemuin Riana dan Bapak. Nanti setelah dari sini aku langsung ke RS," ucapku menjawab ibu mertuaku.
"Ya udah kalau begitu. Kamu nanti diantar sama suaminya Tiwi aja," saran ibu.
"Ooh.. nggak usah Bu. Nanti aku sendiri aja ke RS. Aku pinjam motornya Ken aja ya Bu. ," jawabku disambut anggukan ibu.
Ken adalah keponakan istriku, anaknya Tiwi. .
"Kasi tau Tiwi nak. Soalnya Ken nggak ada dirumah, "
"Baik Bu.. " aku mengiyakan saran ibu mertuaku.
Sementara itu mbak Tiwi dan Suaminya mendekati Ibu dan aku. "Apa kabar Mbak, ..Mas. .? " aku menyapa mbak Tiwi dan suaminya.
"Alhamdulillah, kami sehat.. ya sudah, kalau mau pakai motor Ken, itu ada di garasi. Bawa aja. Nanti Mbak kasi tau Ken," mbak Tiwi memberi izn.
"Makasih Mbak. Aku langsung ke RS ya Bu," pamitku sambil mencium punggung tangan ibu mertuaku dan menyalami mbak Tiwi dan suaminya.
"Nggak sarapan dulu Nak. Kamu baru aja nyampe," ajak ibu melihat aku bersiap akan pergi lagi.
__ADS_1
"Tadi sudah Bu.. di jalan. Nanti aku balik lagi .. yaa Kiara..!?, Nanti Ayah balik lagi yaa, " ucapku sambil mencium putriku Kiara.
Kiara mangut-manggut lucu, membuat aku, ibu, mbak Tiwi dan suaminya tertawa.
Dengan bermodalkan motor Ken, aku kemudian menuju RS tempat mertuaku dirawat. Nggak butuh waktu lama, aku tiba di RS. Setelah memarkir motor Ken, kemudian aku menuju ruang ICU.
Riana istriku terlihat sedang duduk disamping tempat tidur bapak. Disampingnya dokter Aan sedang memeriksa kondisi bapak.
"Eh.. Mas Gun, baru datang ya Mas? " tanya dr Aan begitu melihatku. Aku tersenyum dan menyalaminya. Sementara Riana sontak mendongak mendengar nama suaminya disebut dr Aan.
"Iya Dok.. aku baru dari rumah nemuin Ibu dan Kiara, ". jawabku sambil mendekati istriku, memeluk dan mencium ujung rambut Riana.
"Gimana kondisi Bapak dok? " tanyaku kemudian.
"Sudah mulai membaik Mas. Jangan khawatir. Hari ini Bapak sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan..Teh Riana minta kamar VVIP untuk Bapak. ," seru dr Aan.
"Alhamdulillah.., " seru Riana dan aku berbarengan.
"A' ...maafin aku nggak bisa jemput Aa tadi pagi," sambil meminta maaf, Riana memelukku setelah dr Aan meninggalkan ruang ICU.
"Nggak apa-apa. Hari ini aku mau ke rumah Baba dan Mak dulu. Kamu mau ikut? " tanyaku. Sengaja kuajak Riana. Biasanya Riana pasti menolak permintaanku dan....
"Maaf A'.. aku nggak bisa ikut. Aku harus nemenin Bapak, " jawab Riana.
Benar sekali tebakanku. Riana seperti biasa pasti nolak. "Kan ada Mbak Tiwi. Biar dia yang jagain Bapak selama kita pergi, " usulku.
"Lantas Kiara gimana ?, ga ada yang bisa jagain Kiara di rumah. Lagian nggak mungkin juga Ibu yang momong Kiara A', " dalih istriku.
"Kiara ikut kitalah. Kan sejak lahir sampai sekarang, Kiara belum pernah ketemu Orangtua dan keluargaku di kampung, " aku masih berusaha meyakinkan Riana untuk ikut denganku. Tapi lagi-lagi gagal.
"Kasihan Kiara A' kalau dibawa jalan jauh begitu. Ga usah, nanti aja Aa nemuin Baba dan Mak kalau Bapak sudah keluar dari RS," putus Riana membuat aku terdiam. Percuma meyakinkan Riana untuk ikut denganku.
__ADS_1
"Ya udah, kalau itu maumu, Aku pergi sendiri aja, " aku hendak melangkah keluar kamar, tapi langkahku ditahan Riana.
"Aa jangan pergi dulu. Aa baru aja nyampe, masa udah mau pergi lagi?..besok aja Aa perginya..!" bujuk Riana sedikit merajuk.
"Aku masih kangen A', apa Aa nggak kangen aku dan Kiara ?" tanya istriku mencoba menghalangiku menemui Baba dan Mak di kampung. Suaranya sedikit melembut.
Tapi aku terlanjut kecewa istriku tidak mau ikut aku menemui orangtuaku sekaligus mengenalkan Kiara, putri kami.
"Bapak sudah membaik. Disini juga ada dokter Aan yang nanganin Bapak, ada Mbak Tiwi dan Suaminya juga. Kamu dan Kiara bisa ikut aku beberapa hari. Mereka pasti ngerti,".
"Saat aku telepon kemarin, ngabarin kalau aku akan pulang, Baba bilang kalau Mak sakit. Makanya aku harus pulang," aku menegaskan lagi keharusanku untuk pulang menemui kedua orangtuaku.
Riana hanya diam. "Ya udah kalau kamu masih nggak mau ikut. Aku sendiri aja, " ucapku akhirnya. Bertepatan saat itu dokter Aan masuk dengan beberapa orang perawat. Rupanya Bapak akan dipindahkan ke kamar.
Aku membantu dr Aan memindahkan bapak mertuaku. Setelah selesai, aku berpamitan ke bapak mertuaku yang masih belum bisa banyak bicara karena kondisinya yang masih lemah. Aku mendekati bapak dan berbisik ke telinganya kalau mak aku sakit dan aku harus pulang.
Bapak mengangguk dan menarikku lebih dekat kearahnya. "Sampaikan salam Bapak dan Ibu untuk kedua Orangtuamu," bisik mertuaku. Aku mengangguk dan mencium tangannya. Riana hanya memandangi tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Aku pamit dokter. Titip Bapak ya," aku menjabat tangan dr Aan.
"Iya Mas.. pasti. Ayo.. aku antar ke depan, " ujar dr Aan.
"Oh, makasih dok. Nggak usah.. aku sendiri aja,". ucapkan menolak tawaran dr Aan untuk mengantarku.
"Aku pergi dulu.. jaga Kiara," pamitku ke Riana istriku.
"Aa..., " Riana memegang tanganku. Wajahnya memelas.
"Nggak apa-apa. Nanti aku balik jemput kamu dan Kiara. Kita balik ke asrama," aku melepaskan tangan Riana dan pergi. Riana hanya memandangi kepergianku tanpa bisa berbuat apa-apa.
Segera kupacu motor Ken membelah jalanan kota "S". Tujuanku satu... Diana. Sesuai janjiku, aku akan mengajak Diana menemui kedua orang tuaku. Penolakan Riana untuk ikut denganku membulatkan tekadku untuk mengajak Diana.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=