TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 147. Gencatan Senjata yang Gagal.


__ADS_3

Menjelang sore saat Matahari mulai terbenam, Guntur memacu mogenya menuju rumah Mertuanya, orangtua Riana.


Hatinya galau antara tetap melangkah atau berhenti dan menyusul Diana seperti yang dikatakannya kepada Bapak tadi siang.


Guntur harus bergerak cepat, karena salah perhitungan sedikit saja sudah dipastikan dirinya bakal ditangkap karena desersi dan dipenjara di Batalion.


“Menghadapi orangtua Riana terutama Ibunya, kamu harus tenang Gun. Jangan kebawa emosi karena dalam hal ini kamu yang bersalah dan harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu!,” pesan Bapak saat melepas Guntur tadi.


Aaah..Aku sudah sangat ngecewain Bapak. Tapi mau bagaimana lagi. Aku sama sekali nggak menyangka bakal seperti ini...bodoh..bodoh..bodooh!!!


Guntur memukuli bagian depan motornya saat berhenti di lampu merah.


Beberapa orang yang melihat tingkah Guntur hanya memandanginya sekilas kemudian mengalihkan pandangan mereka begitu melihat tatapan tajam dan seringai tak suka laki-laki itu.


Guntur kembali memacu mogenya dengan kecepatan tinggi begitu lampu hijau menyala.


Apa yang harus kukatakan nanti. Tentang lebam di wajah Riana. Tentang alasanku menikahi Diana..Astagaaa!!!


Bathin Guntur kembali berkecamuk.


Malam mulai turun dan jarak menuju rumah Riana sudah tidak jauh lagi.


Guntur menghentikan laju mogenya. Menimbang kembali keputusannya untuk menemui Riana dan kedua orang tuanya, kemudian untuk sesaat ingatannya melukis wajah Diana di benaknya.


Huuff...Guntur menghela napas panjang.


Jika Riana mau memaafkan aku, berarti inilah akhir hubunganku dengan Diana. Tapi jika Riana menolakku maka ini adalah awal hidupku yang baru dengan Diana. Aku harus bisa bersikap gentle dan mengambil keputusan yang tepat. Ini resiko yang harus aku hadapi.


Dengan mantap dan rencana yang tersusun rapi, Guntur kemudian memacu mogenya perlahan menuju rumah kedua mertuanya.


Lampu-lampu di rumah itu masih menyala, pertanda orang-orang didalamnya masih terjaga.


Berdebar hati Guntur ketika kedua kakinya menapaki halaman rumah orangtua Riana.


Terbayang wajah Kiara yang sedang bermain ayunan di pelupuk mata Guntur.


Aah..gadis kecil Ayah. Maafkan  Ayahmu ini Anakku__


Keraguan tiba-tiba menggelayuti hati Guntur. Satu-satunya hal yang membuat Guntur masih mempertahankan rumah tangganya dengan Riana hingga saat ini adalah Kiara, putri semata wayangnya.


Namun nasi sudah menjadi bubur. Guntur tau, untuk merebut Kiara dari tangan ibunya bukanlah hal yang mudah. Apalagi Kiara masih balita, akan sulit baginya untuk mengambil hak asuh Kiara.


Saat kegalauan mulai melanda hati Guntur, tiba-tiba seseorang membuka pintu rumah. Guntur terkejut, refleks mundur hingga tubuhnya oleng dan hampir saja terjatuh.


“Guntur !?,”


Seseorang memanggil namanya ketika melihat Guntur hendak berbalik dan pergi.


Suara Bapak Mertuanya, Ayah Riana.


Guntur mengangguk dan perlahan mendekati orangtua itu.

__ADS_1


“Masuklah..Bapak, Ibu dan Istrimu sudah menunggumu sejak tadi!.” Seru Bapak mempersilahkan Guntur untuk masuk.


“Assalaamualaikum Pak,”


“Wa’alaikumsalaam...masuk..masuk_,” ajak Bapak sembari masuk diikuti Guntur.


Guntur mengedarkan pandangannya. Sepi di ruang tamu. Tak ada siapapun.


“Mereka semua ada di ruang keluarga. Ayo...!!,” ajak Bapak disambut anggukan Guntur.


Di ruang keluarga yang cukup luas, terlihat Ibu Mertua Guntur sedang duduk disamping putrinya, Riana.


Riana dibantu sang ibu sedang mengoleskan obat salep di wajahnya yang lebam membiru dan tak menyadari kehadiran Guntur Suaminya di ruangan itu.


“Bu,..Riana __,” panggil Bapak pelan.


Serentak Ibu dan Riana menoleh ke arah Bapak dan mendapati Guntur sedang berdiri disana.


Sontak wajah Riana berubah merah karena marah. Perempuan itu tiba-tiba berdiri, berjalan mendekati Suaminya dan...


PLAAAAK..sebuah tamparan keras melayang diwajah Guntur.


“LAKI-LAKI BRENGSEK!!!...Untuk apa kamu kesini lagi HAH__!!!.”


Bapak terkejut dengan reaksi spontan Riana. Sementara Ibu memandangi wajah Guntur dengan pandangan tak suka. Guntur tak bergeming dari tempatnya berdiri.


“RIANA..!!!!.” tegur Bapak keras membuat Riana menghentikan gerakan tangannya yang hendak menampar Suaminya untuk kedua kalinya.


“Mengapa Pak..!!? Mengapa Bapak menghentikan Riana !?. Laki-laki ini pantass menerima kemarahan Riana anak kita!!!,” suara Ibu yang tiba-tiba memprotes tindakan Bapak.


Riana berdiri kaku. Punggungnya berguncang karena tangisan yang tak bisa ditahannya lagi.


“Coba kamu lihat hasil perbuatanmu Hah !!..wajah anakku jadi seperti ini. Apa orang tuamu nggak pernah ngajarin kamu gimana harusnya bersikap terhadap seorang perempuan !?,” tanya Ibu sinis membuat Guntur sontak mengangkat wajahnya dan memandangi Ibu Mertuanya dengan pandangan tak suka.


Bapak yang menyadari ketegangan yang mulai tercipta di ruangan itu sontak menoleh ke arah istrinya dan memberi kode untuk duduk.


Ibu Riana tak perduli dan terlihat ingin bicara lagi, tapi dihentikan Bapak.


Perempuan tua itu tetap bicara dengan nada ketus dan penuh kebencian.


“Kamu pikir, dengan perbuatanmu ini anakku nggak bakalan laku lagi Hah..!? SALAAAH..kamu salah besar!!!. masih baanyaak yang menyukai Riana anakku dan mau memperistri dia. Cantik, berpendidikan dan dari keluarga yang terhormat. Nggak kayak kamu.. preman KAMPUNGAN__!!!,” lanjut Ibu dengan wajah tegang karena amarah yang tak bisa ditahannya lagi.


Bapak makin terkejut dengan sikap tak terkendali dan ucapan istrinya barusan


“BU...tahan emosi kamu!!!,” tegur Bapak dengan suara keras, memotong ucapan Ibu.


Sementara Riana tak bergeming dari tempatnya berdiri dan membiarkan Ibunya mengomeli suaminya habis-habisan.


“Nggak bisa Pak. Aku nggak tahan lagi dengan kelakuan menantumu itu. Kali ini dia sudah keterlaluan. Nggak bisa dibiarkan lagi__!!!.” Teriak Ibu tak mau kalah.


“BAIKLAH__ Kalau itu mau Ibu !!!.”

__ADS_1


Amarah ibu terpotong oleh suara Guntur yang tiba-tiba.


Sejak tadi laki-laki itu diam dan berusaha untuk bersikap setenang mungkin. Akan tetapi ucapan-ucapan Ibu Mertuanya dan sikap diam Riana membuat laki-laki itu tak tahan lagi.


“Saya nggak masalah Bu..Pak, kalau kalian ingin marah, protes atau bahkan mukulin saya. Nggak masalah bagi saya Pak!,” Guntur berusaha mengatur rytme suaranya.


“Tapi jangan pernah menghina keluarga saya apalagi kedua orang tua saya!!!,” tegas Guntur dengan wajah menegang.


Ibu memalingkan wajahnya tak perduli.


Riana tetap tak bergeming walau disadari perempuan itu bahwa sikap Ibunya barusan telah membuahkan hasil dengan sangat cepat.


Sementara Bapak tak bisa berbuat apa-apa.


Janjinya kepada besannya melalui telepon tadi sore sebelum kedatangan Guntur ke rumah itu untuk menyelesaikan permasalahan Riana dan menantunya secara baik-baik tak bisa dipenuhinya.


Emosi Riana dan ibunya membuat kedua perempuan itu tak bisa mengendalikan diri dan ucapan-ucapan mereka.


“Saya kesini dengan niat baik Bu, untuk menyelesaikan masalah saya dan Riana, putri Ibu. Saya mau kembali kepada Riana dan berdamai dengannya kalau dia mau menarik kembali laporannya ke Batalion,”


“Huh..enak saja !!!. Masih untung kamu nggak kami laporin untuk kasus KDRT kamu terhadap Istrimu. Lalu..si perempuan simpananmu itu bagaimana ?.  Apa kamu mau menceraikan dia!?. Ada nggak jaminan dari kamu kalau hubungan kalian sudah putus dan kamu nggak akan berhubungan lagi dengan perempuan Pelakor itu !?,”tanya Ibu dengan suara tinggi.


Bapak dan Riana serentak berbarengan menoleh ke arah Guntur. Mereka penasaran ingin tau jawaban laki-laki itu.


Tatapan sinis dan ucapan-ucapan berani Ibunya membuat Riana yang awalnya hampir melemah, tiba-tiba berubah berani.


“Ya..benar apa kata Ibuku. Apa kamu berani ninggalin perempuan PELAKORMU itu demi Aku dan Kiara__!?,” tanya Riana sembari berkacak pinggang.


“Jangan sebut dia Pelakor. Dia tidak bersalah. Aku yang bersalah!!.”potong Guntur tiba-tiba.


Riana ternganga.


“LIHAT Pak..Bu. Didepan kita dia berani membela perempuan sialan itu!?.” seru Riana marah.


“Dasar kampungan..tidak berperasaan!!.” Suara Ibu terdengar lantang membela putrinya.


Perempuan itu seperti mendapatkan angin segar setelah melihat sikap berani Ibunya.


“Kemarin, demi perempuan BRENGSEK itu, kamu berani nampar Aku. Dan hari ini, tanpa rasa malu pula kamu ingin aku menarik laporanku!?___TIDAK!!!.”


“RIANA__!!!,” teriak Bapak marah. “Jaga ucapan-ucapan kamu!. Semua bisa diselesaikan secara baik-baik. Kita dengar dulu apa yang mau disampaikan Suamimu.”


Semua yang ada diruangan itu terdiam mendengar teguran keras Bapak.


“Maafkan saya Pak. Awalnya kedatangan saya kesini ingin memperbaiki hubungan saya dengan Riana didepan Bapak dan Ibu. Sayapun sudah berencana menceraikan Diana demi Riana dan Kiara. Tapi ... rupanya Ibu dan Riana tidak bisa menerima niat baik saya, malah menghina saya habis-habisan.”


Perhatian Guntur kini mengarah ke Riana istrinya, kemudian beralih ke wajah Ibu Mertuanya.


“Selama pernikahan saya dengan Riana, tidak sekalipun saya pernah menghina Bapak dan Ibu di depan siapapun. Tapi Riana, ketidak harmonisan dan sikap-sikap Riana terhadap  orang tua dan keluarga saya menjadi pemicu utama pertengkaran kami. Seperti Ibu, setiap kali kami bertengkar, Riana suka meremehkan keluarga saya.”


Kali ini ucapan-ucapan Guntur mampu membuat kedua perempuan dihadapannya terdiam.+++

__ADS_1


__ADS_2