
Masih dengan wajah kesal, Guntur pulang ke rumah untuk makan malam. Namun begitu menyadari Mak ada di rumah, Guntur akhirnya berusaha bersikap sewajar mungkin agar perasaannya saat itu tidak terlihat oleh orang rumah. Tidak adil kalau Mak harus menerima wajah kusutku saat ini, batin Guntur kemudian.
"Assalaamualaikum," ucap Guntur begitu tiba di depan pintu rumahnya.
"Wa'alaikumsalaam...Aa'?" jawab seseorang yang ternyata Riana, istri Guntur menyambut kedatangan suaminya. Seulas senyuman tersungging dibibir perempuan itu.
"Kalian sudah makan?" tanya Guntur sambil mendekati Riana.
"Belum A'...kita nungguin Aa' pulang dulu," jawab Riana, kemudian mengikuti suaminya ke ruang makan.
Di ruang makan, terlihat Mak sedang duduk dan disebelahnya ada Anggi dan Windi. Sementara Kiara tak terlihat diantara mereka.
"Kiara mana Ri?" tanya Guntur sambil mengalihkan perhatiannya ke Riana.
"Kiara tidur A', Tadi kelelahan habis makan bakso di depan. Begitu nyampe rumah langsung tidur dia," jawab Riana.
"Ya udah. Ayo kita makan. Ini Aa' bawa beberapa potong rendang daging," ucap Guntur seraya memberikan tas kresek berukuran kecil ditangannga kepada Riana.
Dengan wajah sumringah, Riana mengambil tas kresek berukuran kecil itu dari tangan Guntur, kemudian meletakkannya isinya di salah satu piring kosong di meja makan.
Aku harus bersikap sewajar mungkin agar suamiku tidak curiga kalau tadi hpnya kupakai untuk menghubungi Diana.
" Ayo A' aku ambilin nasinya ya..?
Guntur mengangguk kemudian mencomot sepotong tempe goreng diatas meja dan memakannya dengan sekali hap.
Riana melirik wajah suaminya. Seperti Ada sesuatu yang membuat Guntur lebih banyak diam dan menjawab seperlunya pertanyaan Riana.
"Ada apa A'..?"tanya Riana menelisik wajah suaminya yang terlihat tak biasa. "Aa sakit?"
"Ah..nggak. Aa' cumam lagi ngerasa sedikit kelelahan aja," sahut Guntur sekenanya.
Mak kaget dan mendongak kearah Guntur. Benar saja. Wajah Guntur telihat sedikit muram. "Kenapa Gun?" tanya Mak, mengulang pertanyaan Riana.
"Nggak apa-apa Mak, jangan khawatir," jawab Guntur kemudian menerima piring berisi nasi dan lauk yang disodorkan Riana kepadanya.
Makan malam saat itu terasa sedikit berbeda karena Guntur lebih banyak diam dan hanya menjawab seperlunya saja jika ditanya Mak atau Riana.
__ADS_1
Selesai makan malam, Guntur kemudian menuju kamar diikuti Riana. "Kalau Aa' merasa kurang sehat, mending izin saja A' untuk nggak ikut piket malam ini," usul Riana.
"Nggak usah Ri'. Lagian aku nggak apa-apa. Udah, nggak usah khawatirkan aku," jawab Guntur menenangkan hati istrinya.
"Temenin Mak dan anak-anak di depan Ri'. Aku pengen tiduran sebentar saja. Satu jam lagi bangunin aku," pinta Guntur yang kemudian diiyakan istrinya Riana.
Jujur, saat ini Riana ingin sekali berduaan saja dengan suaminya. Namun urung saat Guntur memintanya untuk menemui Mak.
Saat keluar dari kamar dan menutup pintu, sekilas Riana menoleh kearah suaminya yang terlihat berbaring membelakangi dirinya. Riana merasa ada sesuatu yang berusaha disembunyikan Guntur suaminya. Entah apa, Riana tak berani bertanya lagi.
Setelah yakin Riana sudah keluar kamar, Guntur buru-buru membuka aplikasi WA nya. Pesan WA ku belum dibalas Diana. Apa mungkin gadis itu keluar dengan laki-laki itu ? Batin Guntur semakin gusar.
Dicobanya lagi untuk menghubungi Diana. Namun ponsel gadis itu benar-benar tidak aktif lagi.
Sementara itu di asrama kampus Diana, waduh, kenapa ponselku selalu mati disaat yang tidak tepat begini ? Batin Diana dongkol sambil mencoba menghidupkan kembali ponselnya. Tapi percuma, daya ponselnya benar-benar habis.
Akhirnya Diana memutuskan untuk mengisi daya ponselnya sembari rebahan di tempat tidurnya.
Karena kelamaan menunggu, Diana malah ketiduran selama beberapa menit lamanya hingga seseorang mengetuk pintu kamarnya dan mengucap salam.
tok..tok..tok..
Diana terkejut dan sontak terbangun oleh ketukan yang limayan keras dan lama dipintu kamarnya. Dengan malas gadis itu berdiri dan menuju pintu kamaar.
"Wa'alaikumsalaam..siapaaa?" tanya Diana dengan suara parau. Gadis itu masih merasa ngantuk dan ingin tidur lagi.
"Aku..Syahrial," jawab seseorang yang ternyata Syahrial. Sontak rasa kantuk Diana hilang begitu mendengar nama Syahrial.
Buru-buru Diana membuka pintu kamarnya. Didapatinya Syahrial yang berdiri di depan pintu sambil tersenyum kepadanya. Laki-laki itu terlihat rapi dengan setelan pakaian yang menunjukkan keelokan bentuk tubuhnya dibalut jaket jeans model kekinian. Wangi parfum beraroma maskulin tercium oleh Diana.
"Masih sore udah tiduran aja. Ayoo..kita keluar," tawar Syahrial sambil menunjukkan 2 lembar tiket bioskop kewajah Diana. "Kita nonton yuk..filmnya bagus," lanjut Syahrial.
"Eeuum..males akh Mas," tolak Diana halus. Astaga..kok jadi beneran ya. Padahal tadi ke Mas Gun aku cuman bercanda kalau aku diajak Mas Syahrial nonton. Ternyata bener kejadian ? batin Diana kebingungan.
"Lho..kenapa?" tanya Syahrial heran.
"Lagi males aja Mas," sahut Diana sambil keluar kamar. Berdua mereka duduk di bagku panjang yang ada didepan kamar Diana.
__ADS_1
"Ayolaaah..sayang lho tiketnya, udah Mas beli," kembali Syahrial meminta.
"Haaaa..lagian, Mas main beli aja tanpa meminta persetujuan aku," protes Diana sambil menguap pertanda dirinya masih bener-bener ngantuk.
"Tadinya ini tiket punya jeng Sri dan tunangannya. Tapi mereka batal nonton karena jeng Sri tiba-tiba harus pulang ke rumah orang tuanya tadi," jawab Syahrial
"Kok Mbak Sri nggak ngabarin aku kalau mau pulang?" tanyaku tak mengerti. Diana dan Sri memang memiliki kebiasaan saling meminta ijin kalau hendak kemana-mana.
"Tadi kamu lagi kuliah. Makanya Jeng Sri cuman nitip pesan ke Mas untuk disampein ke kamu,"
"Oooh...," jawab Diana pendek.
"Jadi...bagaimana. Kita nonton?" tanya Syahrial sambil menatap Diana penuh harap.
Melihat itu, Diana tertawa dan akhirnya menganggukkan kepalanya. Nggak tega juga melihat wajah memelas Syahrial.
"Yesss..," desis Syahrial sambil tertawa senang menunjukkan gigi-giginya yang putih dan tersusun rapi.
"Ya udah, kamu mau mandi dulu atau bagaimana?" tanya Syahrial begitu menyadari Diana hanya memakai baby doll saja.
"Aku udah mandi tadi sore Mas. Bentar ya..aku ganti baju dulu. Mas mau nunggu disini atau bagaimana?" tanya Diana.
"Aku nunggu di dalam aja ya!?" seloroh Syahrial dengan tatapan menggoda. Diana kaget dan sontak mencubit lengan Syahrial.
Laki-laki itu tertawa senang melihat semburan merah diwajah Diana.
"Sembaraang..udah sana, tunggu dibawah aja. 5 menit lagi aku nyusul," jawab Diana sambil membalikkan tubuh Syahrial dan mendorongnya menuju tangga turun.
"Iya...iya. Cepetan ya dandannya. Yang cantik..," kembali Syahrial menggoda Diana.
Gadis itu hanya membalas dengan senyuman dan kemudian masuk ke kamar begitu melihat Guntur melangkah turun ke lantai satu asrama.
Diana menyandarkan tubuhnya dibalik pintu. Jujur tadinya gadis itu ingin menolak ajakan Syahrial. Namun wajah memelas Syahrial membuat gadis itu merasa tak tega.
Tapi disudut lain hatinya, gadis itu merasa akan menghianati Guntur jika dirinya tetap mengikuti ajakan Syahrial.
Diantara dilema yang melanda hati Diana, akhirnya Diana memutuskan untuk tetap ikut Syahrial nonton di bioskop dan soal Guntur...Biar ponselku aku non aktifkan aja dulu , putus Diana akhirnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=