TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 138. POV Riana


__ADS_3

Aku tersenyum puas melihat rona kalut di wajah suamiku.


Setelah berdebat sengit dengan si perempuan pelakor yang telah merebut cinta dan perhatian suamiku aku memutuskan untuk memakai taktik lain untuk kembali merebut perhatian dan cinta Aa'.


"Terima kasih dok, sudah membantu saya untuk memberi sedikit pelajaran kepada Suami saya," ucapku sembari menjabat tangan dokter Beni, dokter yang menanganiku di ruang ICU saat aku kolaps kemarin.


Saat itu Aa' sedang ke Apotik untuk menebus obat-obatanku saat kami berkunjung ke tempat praktek dr Beni untuk mencek perkembangan proses penyembuhan penyakitku.


Tanpa sepengetahuan Suamiku, aku meminta bantuan dokter Beni untuk mengerjai Aa' seolah aku kolaps dan penyakit jantungku kambuh lagi agar Suamiku kembali memprioritaskan aku dan Kiara, putrinya.


"Ya..ya..semoga kalian bisa menyelesaikan masalah rumah tangga kalian dengan baik,"


Dokter Beni menjabat tanganku. Sorot mata dan rona wajahnya terlihat berubah serius. Tanpa melepaskan tangannya dari tanganku, dokter muda yang tampan itu menyampaikan sesuatu yang membuatku terkejut bukan kepalang.


"Tapi penyakit kamu itu serius Riana. Bukan rekayasa saya!" seru dokter Beni membuat aku terkejut.


"Ap..apa dok!?"


"Ya..awalnya saya juga nggak yakin Ri'. Apalagi saat kamu meminta bantuan saya merekayasa penyakit kamu agar suamimu panik. Tapi begitu alat-alat deteksi penyakit jantung itu terpasang ditubuh kamu, ternyata hasilnya kamu benar-benar memiliki penyakit jantung Riana," ujar dokter Beni panjang lebar.


Sontak aku terduduk lesu. Keringat dingin mengucur deras membasahi sekujur tubuhku.


Astagaaa..apakah ini karmaku karena telah berbohong demi mengerjain suamiku dan selingkuhannya !? Batinku memekik...


Melihat aku yang gelisah dokter Beni segera menghampiriku dan memeriksa kondisiku.


"Tenangkan dirimu Ri'. Kontrol emosimu dan atur napas agar penyakit jantungmu tidak semakin memburuk. Ingat.., masih ada hal penting yang harus kamu perjuangkan..cinta suamimu," dokter Beni memperingatkanku sambil menyeka keringat dingin yang mengalir di dahiku.


Aroma maskulin parfum yang dipakai dokter Beni menyentuh hidungku.


Baru kusadari kalau jarak antara aku dan dokter Beni begitu dekat sehingga aku bisa mendengar detak jantungnya.


Mata kami saling beradu. Wajahku terasa panas dan kuyakin bersemu merah. Entah kenapa aku tidak mampu menjauhkan diriku darinya.


Dokter Beni semakin mendekatiku. Kini tangannya tanpa sadar mulai membelai wajahku kemudian berhenti di daguku.


Tatapan matanya tajam. Bibirku terkatup rapat. Dadaku berdegup kencang menunggu apa yang bakal dilakukan oleh dokter Beni, dokter yang usianya jauh lebih muda dariku.


Ketika wajah dokter tampan itu hampir menyentuh wajahku, tiba-tiba terdengar ketukan dipintu.


"Permisi dok.," seru seorang perawat membuat aku dan dokter Beni terkejut dan tersadar.


Dokter Beni sontak menarik tubuhnya menjauhiki. Demikian pula denganku.


Tak lama kemudian muncul suamiku dengan menenteng tas kresek kecil berisi obat-obatan untukku.


"Kita pulang Ri?" tanya suamiku sambil memandangiku dan dokter Beni secara bergantian.


Aku mengangguk.


"Kami pamit dok. Terima kasih untuk bantuannya," ucap Aa' sambil menjabat tangan dokter Beni.


Dokter muda itu tersenyum, memandangiku sekilas kemudian menjawab suamiku.

__ADS_1


"Sama-sama Gun. Sekali lagi jaga istrimu baik-baik. Jangan sampai dia kolaps lagi,"


"Iya dok. Pasti...!" sahut Aa' kemudian mendudukkan aku di kursi roda dibantu perawat dan dokter Beni.


"Terima kasih," ucapku pelan nyaris tak terdengar.


Sepanjang perjalanan pulang, aku terus saja memikirkan kejadian barusan antara aku dan dokter Beni.


Entah mengapa tiba-tiba dokter Beni bisa berbuat seperti itu.


Salah satu dokter terbaik di RS khusus TNI AD yang juga merupakan kawan baik suamiku itu adalah dokter yang sering menangani aku dan Aa' setiap kali kami sakit dan butuh penanganan.


Bahkan kadang dokter Beni mengunjungi rumah dinas kami jika Kiara, putriku butuh penanganan seorang dokter.


"Ri'..aku curiga kalau dokter muda itu suka sama kamu," ujar Desi suatu ketika saat aku dan Desi, salah satu bestieku di asrama sedang mengikuti kegiatan olah raga ibu-ibu PERSIT setiap minggu sore di lapangan asrama.


"Aaahh..becanda kamu Des..," jawabku tak percaya.


"Lhoo..siapa yang bercanda, aku nggak bercanda Rianaa..emang kenyataannya begitu ," ujar Desi lagi tanpa memperdulikan sikapku yang acuh tak acuh.


"Kenyataan apaan Des...ya mana mungkinlah dokter Beni suka sama aku..emak-emak beranak satu. Masih bersuami pula!" seruku gemas sambil mencubit pipi montok Desi.


"Aaakhh..jangan dicubit pipiku. Ntar ngurangin kecantikanku..lu tanggung jawab ya ke laki gue," teriak Desi sambil menghindari seranganku.


Aku tertawa ngakak. Kalau lagi kumat, aslinya nongol. Nyerocos seperti petasan kawinan Betawi.


"Emang tau dari mana kamu kalau dokter Beni suka sama aku!?" tanyaku penasaran.


Sedikit berbunga-bunga juga perasaanku mendengar ucapan Desi.


"Deeeh...gestur..gestur..kentut kaliii," jawabku menutupi rona merah diwajahku.


"Rianaaaaa...," teriak Desi gemas.


Aku tertawa dan tidak memperdulikan ocehan Desi sahabatku itu.


Saat ini ucapan Desi saat itu dengan sangat terpaksa harus aku akui kebenarannya setelah melihat sikap dokter Beni kepadaku tadi.


Apa ini...kenapa aku tidak bisa menghindarinya tadi. Coba..kalau kepergok Aa'..bisa habis aku, batinku kecut.


Setelah peristiwa aku kolaps kemarin, aku sempat melihat suamiku berdebat sengit dengan seseorang di telepon.


Mungkin itu Diana, si pelakor genit itu. batinku senang


Saat ini sikap suamiku sudah berubah drastis, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Lebih perhatian dan sayang ke aku dan Kiara putrinya.


Walaupun bagiku itu adalah perubahan yang aku inginkan, namun aku belum bisa bernafas lega.


"Bermain cantik Ri'. Kamu bakal bisa merebut hati suamimu lagi," itu kata istri Dan-yon saat kunjungannya ke rumah kami setelah aku keluar dari RS.


Aku mengangguk dan berterima kasih kepadanya.


"Mah...," sebuah suara membuyarkan lamunanku.

__ADS_1


Aa' memanggilku pelan sambil menyentuh pundakku. Sontak aku terkejut dibuatnya.


"Ehh..iya A' ..ada apa?," tanyaku gelagapan. Tidak biasanya suamiku memanggilku dengan sebutan Mah.


"Kita sudah sampai," ucap suamiku sambil menunjuk ke arah sebuah taman kecil di depan kami. Taman yang biasa aku dan suamiku kunjungi setiap kali kami ingin membahas sesuatu.


Disamping taman berjejer beberapa kursi berpayunkan ijuk yang ditata apik menyerupai payung untuk memayungi pengunjung yang duduk di kursi taman itu.


Sementara di bagian depan taman berjejer lapak abang-abang penjual makanan dan minuman yang merupakan lapak UMKM binaan pemerintah daerah setempat.


Aku tersenyum.


Tidak biasanya Aa' mengajakku ke tempat ini. Tempat favorit kami semenjak menikah dulu hingga sekarang. Entah sudah berapa lama aku dan Aa' tidak mengunjungi tempat ini lagi.


"Tumben A' ngajak aku ke tempat ini?" tanyaku surprise sekaligus tidak mengerti.


"Iya..kata dokter Beni, kamu butuh suasana yang membuatmu rileks dan bisa mempercepat penyembuhan penyakitmu," jawab suamiku sambil menuntunku menuju salah satu sudut taman yang agak sepi pengunjung.


"Terimakasih sayang, sudah ngajak aku ke tempat ini lagi," ucapku tulus sambil mencium punggung tangan suamiku.


Aa' mengangguk dan mencium dahiku pelan.


Yaa Allah..!!!.seruku dalam hati.


Apakah ini pertanda kalau suamiku benar-benar telah melupakan perempuan brengsek itu !?"


"Sebentar, aku pesan makanan dan minuman dulu. Kamu mau pesan apa?" tanya Aa' sembari berdiri.


"Terserah Aa' aja,"


"Oke..,"


Aa' melangkah pergi menuju beberapa lapak yang menjual makanan dan minuman kesukaan kami.


Aku memandanginya sambil menopang daguku dengan salah satu tanganku. Aa' terlihat berbeda kali ini.


Beberapa menit kemudian suamiku kembali dengan setangkai mawar merah ditangannya.


"Ini untukmu mah..makanan dan minumannya ntar diantar sama si abang,"


"Iya..," aku mengangguk dan menerima setangkai bunga mawar merah yang disodorkan Aa' kepadaku." Makasih..," ucapku disertai seulas senyum termanisku untuk suamiku itu.


Tak berselang lama, makanan dan minuman pesananku dan Aa' diantar ke meja kami. Rupanya Aa' masih ingat betul makanan dan minuman kesukaanku.


"Makan A' ..,"ujarku sambil melahap pelan sepiring nasi goreng sea food kesukaanku. Aku memang sedang sangat lapar saat ini.


Aa' menatapku sambil tersenyum menampakkan sedikit lesung pipit di pipinya.


Aku tersadar..


Ada perubahan yang mencolok di wajah suamiku. Entah apa itu.. Namun dia masih tampan seperti biasanya.


Kami melanjutkan makan siang kami tanpa suara. Hanya bunyi sendok dan garpu yang beradu satu sama lain hingga menimbullan dentingan yang kali ini terdengar sangat indah ditelingaku.

__ADS_1


Dentingan cinta suamiku..untukku.


\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2