TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 57. POV Riana


__ADS_3

Beberapa hari sebelum ayahnya Kiara pulang, aku meminta izin ke ibu DanYon untuk berkunjung selama beberapa hari ke kota "S" dengan alasan mengunjungi bapak yang sedang sakit.


Mbak Tiwi ngabarin aku kalau bapak kumat lagi. Penyakit paru yang diderita bapak beberapa tahun terakhir membuat bapak sering keluar masuk RS.


"Kamu bisa pulang nggak Ri ?," tanya Mbak Tiwi ketika mengabari aku soal kondisi bapak.


"Bisa mbak, cuman besok Ayahnya Kiara pulang. Aku nggak mungkin pergi dari asrama Mbak" jawabku ragu-ragu. Minggu kemarin aku baru saja kembali dari kota "S". Nggak enak juga kalau aku minta izin pulang lagi.


"Nggak papa Ri. Bapak butuh kamu. Mbak yakin suamimu pasti ngerti..!"mbak Tiwi menegaskan pentingnya kehadiranku disisi bapak. Akhirnya aku mengalah. Bersama Kiara kami akhirnya pulang ke kota "S".


Sesampainya di kota "S", ternyata kondisi bapak semakin memburuk. Aku, mbak Tiwi dan ibu memutuskan untuk membawa bapak ke RS tempat dokter Aan bertugas. Walaupun aku dan Kiara berada di kota "S" tapi pikiranku selalu tertuju ke asrama.


Jika Aa pulang dan nggak nemuin aku dan Kiara di rombongan keluarga, Aa pasti marah besar batinku khawatir. Tapi aku harus gimana lagi?. Bapak sakit dan butuh aku dan Kiara cucu kesayangannya.


Aku terpaksa mengesampingkan tugasku sebagai istri seorang prajurit kali ini. Sikapku yang lebih suka berlibur kerumah orangtuaku dan sering menolak diajak suamiku pulang ke kampungnya membuat aa kerap kali marah dan menjadi salah satu pemicu pertengkaran kami.


Hampir setahun aa bertugas di kota "T", selama itu aku hanya mengunjungi kedua orangtuaku. Nggak sekalipun aku mencoba mengunjungi kedua mertuaku. Bukan tanpa alasan aku bersikap seperti itu. Pernikahanku dengan aa tanpa restu kedua orangtua aa karena pada saat yang sama aa sudah memiliki seorang istri pilihan orangtuanya yang dinikahinya secara siri.


Hubunganku dengan aa yang sudah terlampau jauh membuat bapak memutuskan untuk menikahkan kami.


"Ini demi nama baik keluarga kita Ri. Kamu harus menikah dengan Guntur..!!," perintah bapak. Aku sudah mengira bapak akan mengambil keputusan seperti itu. Aku paham dan menerima keputusan bapak.


Bapak yang seorang Lurah pada saat itu harus menjaga nama baiknya juga nama baik keluarga besar bapak dan ibu. Akhirnya menikahlah aku dan aa di kota "S" kota kelahiranku. Resepsi pernikahan kami dilakukan secara besar-besaran oleh keluargaku.


Setelah menikah, aku diajak suamiku bertemu kedua orangtuanya di kampung. Rini istri pertama suamiku akhirnya minta cerai karena tidak mau dimadu oleh suamiku. Ibu mertuaku marah besar. Walaupun aku sedang mengandung anak pertama kami, cucu mereka, tapi mak bersikeras tetap menolak kehadiranku.


Setelah menikah di KUA, beberapa bulan kemudian, aku dan aa mengurus pernikahan Batalion kami. Maka saat itu resmilah aku menjadi istri seorang prajurit TNI AD.


Setelah Kiara lahir, sikap orangtua suamiku perlahan mulai berubah. Baba dan mak sering ngirim hasil panen kebunnya ke asrama. Tapi aku masih enggan ke kampung suamiku jika diajak aa. Ada aja alasanku untuk menolak.


Hari ini Aa kembali dari kota "T". Karena sibuk ngurus keperluan bapak di RS, aku lupa ngabarin aa. Bahkan aku tidak menyadari kalau gadgetku baterainya habis. Saat aku menyadarinya, segera aku meminjam powerbank dr Aan dan membuka hpku.


Astaga.. panggilan masuk hampir 20 kali. Segera kubaca salah satu pesan WA aa untukku.

__ADS_1


Mah..kamu dimana. Kok nggak ikut jemput aku?". Segera telepon balik..!!" bunyi pesan WA suamiku. Deg.. dadaku berdegup kencang. Seperti yang sudah kuduga, suamiku marah. Segera ku telepon balik suamiku.


"Assalaamualaikum Aa, maaf aku baru bisa nelp Aa. Bapak masuk rumah sakit kemarin. Penyakitnya kambuh, makanya aku dan Kiara nggak bisa ikut menjemput Aa," ucapku begitu panggilan telepon WA ku diangkat suamiku.


"Waalaikumsalaam. Kenapa kamu nggak ngabarin aku. Kirim WA kek biar aku nggak khawatir dan mengira yang bukan-bukan," jawab suamiku terdengar kesal.


"Ia a' ..aku minta maaf. Karena terlalu kalap aku nggak kepikiran untuk nelpon atau WA ke aa,"


"Kiara mana..? aku alihkan ke video call ya," tanya suamiku. Alhamdulillah, suamiku memahami alasanku.


"Aku di RS a' nemenin bapak. Kiara aku titipin ke ibu dan mbak Tiwi di rumah,"


"Ooh, ya udah kalau begitu. Bapak gimana kondisinya?"


"Masih di ruang ICU,"


"Aku langsung ke situ,"


"Waalaikumsalaam...," jawab suamiku menutup pembicaraan kami.


Aku menarik nafas lega. Hampir setahun kami berpisah, mendengar suara suamiku, aku merasakan perasaan aneh yang indah seolah ini adalah kali pertama pertemuanku dengannya.


Sebagai pasangan muda, perpisahan dengan suamiku dalam rentang waktu yang begitu lama sangat menyiksaku. Nafkah batin yang kubutuhkan sebagai seorang istri tidak kudapatkan selama hampir setahun lamanya. Wajar jika kehadiran dan belaian suamiku sangat kudambakan saat ini.


Haaa,... mudah-mudahan Suamiku mau nginap di sini selama beberapa hari. Mumpung Kiara ada yang megang. Jadi aku punya banyak qualitty time dengan Suamiku harapku.


"Eh.. Mas Gun, baru datang ya Mas? " Tiba-tiba dr Aan menyebut nama Suamiku. Sontak aku kaget dan menoleh kearah pintu kamar.


"Iya Dok.. aku baru dari rumah nemuin Ibu dan Kiara, ". jawab suamiku, Guntur sambil memeluk dan menciumi ujung rambutku. Kupeluk suamiku dengan perasaan bahagia yang sulit untuk kulukiskan.


"Gimana kondisi Bapak dok? " tanya aa kemudian.


"Sudah mulai membaik Mas. Jangan khawatir. Hari ini Bapak sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan..Teh Riana minta kamar VVIP untuk Bapak. ," seru dr Aan sambil memandang kearahku.

__ADS_1


"Alhamdulillah.., " seruku dan aa berbarengan.


Aku ke ruanganku dulu Mas, nyiapin kepindahan Bapak." pamit dr Aan sambil melangkah keluar kamar.


"A' ...maafin aku nggak bisa jemput Aa tadi pagi," sambil meminta maaf, kupeluk suamiku lagi.


"Nggak apa-apa. Hari ini aku mau ke rumah Baba dan Mak. Kamu mau ikut? " tanya suamiku. Aku terkejut....


Bukan ini yang kuharapkan A'. Harusnya aku dan Kiara jari prioritas kamu saat ini. Kamu baru saja pulang tapi sudah mau pergi lagi..!! batinku sedih.


"Maaf A'.. aku nggak bisa ikut. Aku harus nemenin Bapak, " jawabku diantara rasa kecewa yang melandaku saat ini.


"Kan ada Mbak Tiwi. Biar dia yang jagain Bapak selama kita pergi, " usul suamiku.


"Lantas Kiara gimana ?, ga ada yang bisa jagain Kiara di rumah. Lagian nggak mungkin juga Ibu yang momong Kiara A', " dalihku mencoba meyakinkan suamiku untuk tetap tinggal.


"Kiara ikut kitalah. Kan sejak lahir sampai sekarang, Kiara belum pernah ketemu Orangtua dan keluargaku di kampung," suamiku berkeras.


"Kasihan Kiara A' kalau dibawa jalan jauh begitu. Ga usah, nanti aja Aa nemuin Baba dan Mak kalau Bapak sudah keluar dari RS..!!," seruku diantara kejengkelan hatiku yang tidak bisa kututupi.


"Ya udah, kalau itu maumu, Aku pergi sendiri aja...!!" ujar suamiku kesal.


"Aa jangan pergi dulu. Aa baru aja nyampe, masa udah mau pergi lagi?..besok aja Aa perginya..!" bujukku. Nada suaraku mulai melunak dan terdengar merajuk.


"Aku masih kangen A', apa Aa nggak kangen aku dan Kiara ?" tanyaku lembut sambil memeluk pinggang laki-laki yang kunantikan kehadirannya hampir setahun ini. Aroma tubuh suamiku seolah magnet yang membuat bulu kudukku merinding karena hasrat yang lama kupendam.


Tapi suamiku seolah tidak perduli dan memutuskan untuk tetap pulang ke kampung menemui orangtua dan keluarganya. Kabar dari bapak mertuaku kalau mak sakit justru semakin membulatkan tekad aa untuk pulang.


Akhirnya kubiarkan aa pergi dengan perasaan kecewa dan marah. Harusnya ini waktu untukku A', bukan untuk mereka...Aa nggak adil..sungguh benar-benar nggak adil..!! batinku terluka. Mataku terasa panas..


Kuhapus air mata yang tiba-tiba mengalir dipipiku. Jangan sampai Bapak dan dr Aan melihat aku menangis..


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2