TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 85. Riana Tak Suka..


__ADS_3

Riana mengambil dua kresek oleh-oleh yang sudah dibagi-bagi oleh Guntur dan Riana saat berbelanja tadi. Satu kresek untuk Bang Yudi dan satunya lagi untuk teh Lusi.


"Mas..Mbak, ini ada sedikit oleh-oleh dari kami," Riana menyerahkkan kedua kresek berisi oleh-oleh tadi kepada Yudi dan Lusi.


"Ooh..Makasih oleh-olehnya...Jadi ngrepotin," ucap Lusi.


"Ga apa-apa teh. Maaf, cuman bisa bawa seadanya aja," sahut Guntur.


Mereka kembali melanjutkan pembicaraan sambil diselingi canda dan tawa bapak dan mak yang seringkali dibanyolin Guntur. Ria yang sedari tadi duduk diam akhirnya memutuskan untuk menyusul Kiara dan Anggi.


"Abah..Ria nyusul Kiara dan Anggi dulu," pamit Ria.


"Iya,..skalian suruh Anggi dan Kiara pulang,' Yudi mengiyakan.


"Biarkan aja Mas, Anggi dan Kiara jalan-jalan dulu. Biar kenal keluarga Ayahnya. Kan baru kali ini Kiara nyampe di kampung kita," sela Guntur tidak setuju.


"Bagusnya kamu nemenin anakmu nemuin keluarga bareng Istrimu. Itu lebih baik. Biar pada kenal Riana dan Kiara," usul Bapak dan langsung menyuruh Ria pergi menjemput Anggi dan Kiara.


Riana yang tidak banyak bicara mengangguk setuju dengan ide mertuanya.


Daripada aku seharian duduk di sini menikmati aroma jengkol yang menyengat, mending aku ikut Aa dan Kiara jalan-jalan di kampung. Jadi nggak bete' gegara bau jengkol yang .....sumpah!!...bener-bener bikin aku mual dan pusing, batin Riana setuju.


"Ya udah kalo itu mau Bapak. Kita tunggu Anggi, Ria dan Kiara dulu," ucap Guntur, akhirnya menyetujui usul bapaknya.


Hanya beberapa menit, Ria telah kembali membawa Kiara dan Anggi.


"Tadi Kiara dijajanin apa nggi ?" Riana langsung bertanya begitu Anggi berdiri di hadapannya dan menyerahkan Kiara ke gendongan ibunya.


"Nggak jajan apa-apa teh. Cuman beli aqua gelas satu aja untuk minum Kiara. Soalnya Kiara haus pengen minum jadi Anggi beliin," jawab Anggi tanpa rasa bersalah telah melanggar perintah Riana, kakak iparnya.


"Ya udah, nggak apa-apa kalo cuman air mineral aja," ucap Riana lega.


"Ayo A'..kita jalan," ajak Riana dan hendak berdiri. Tapi tangannya ditarik oleh Guntur.


"Nanti dulu. Teh Lusi dan Bang Yudi baru aja nyampe, masa' mau kita tinggal!?" bisik Guntur sambil memberi isyarat kepada istrinya untuk duduk kembali.

__ADS_1


Dengan terpaksa Riana kembali duduk.


"Oh iya, kalian sudah makan siang belum?" tanya bapak.


"Sudah Pak. Tadi sekalian di jalan," jawab Guntur. "Mak masak apa tadi?" tanya Guntur kemudian.


"Mak masak nasi, semur jengkol, sayur asem dan sambel teri kesukaan Bapakmu," jawab Mak sambil meririk kearah Riana menantunya.


Saat didapur tadi, mak sempat mendengar gerutuan Riana soal aroma menyengat jengkol yang memenuhi hampir seluruh ruangan dirumah itu.


Mak menyesalkan sikap putranya yang tidak memberitahu soal kedatangan mereka. Jadinya mak dan bapak tidak sempat bersih-bersih rumah dan beli wipol untuk ngurangin bau jengkol yang baru saja mereka makan.


Kebiasaan memakai wipol di rumah dilakukan mak dan bapak sejak Diana datang kerumah itu. Ya..Diana yang membuat kedua orang tua itu tau cara menghilangkan bau jengkol tanpa harus berhenti makan jengkol.


"Waah..sedap itu Mak. Sudah lama banget Gun nggak makan semur jengkol. Masih ada ga Mak semur jengkolnya?" tanya Guntur sambil mengelus-elus perutnya.


"Oh..masih ada Gun. Sengaja Mak buat banyak biar malam ga masak lagi," jawab mak. Namun ekor matanya melirik kearah Riana yang asyik memainkan ponselnya.


"Ayo Mak, kita ke dapur. Gun pengen makan masakan Mak. Teteh..Bang, ayo..kita makan bareng," ajak Guntur sambil berdiri dan merangkul emaknya.


"Ya udah kalau begitu. Gun makan dulu. Ayo Mak...kita ke dapur," ucap Guntur sambil menarik tangan emaknya. Berdua ibu dan anak itu melangkah ke dapur.


"Mak, Gun lihat sejak tadi Mak nggak banyak bicara dan nglirik Riana terus. Apa Riana ngomong sesuatu tadi saat ke kamar mandi?" tanya Guntur begitu mereka sampai di dapur.


"Mmm..nggak Gun, Riana nggak ngpmong apa-apa" jawab mak sambil menyendoki Guntur nasi, semur jengkol dan sayur asem bikinannya.


"Mak nggak lagi bohongin Gun kan?" tanya Guntur lagi sambil memandang lekat wajah emaknya. Gun tau persis wajah emaknya saat sedang berkata jujur atau bohong.


"Eeumm...,"


"Riana ngomong apa Mak?" desak Guntur lagi


"Rianaa..," ragu-ragu emak mau menjawab pertanyaan putranya.


"Kalau Mak nggak mau jawab, Gun nanyak langsung ke Riananya ya..," Guntur bermaksud berdiri, namun....

__ADS_1


"Jangan Gun. eumm..Istrimu cuman ngeluh soal aroma jengkol di kamar mandi. Tapi..tapi Riana nggak ngomong langsung ke Mak kok," ucap mak mencegah aku menemui Riana.


Guntur kaget dan baru tersadar kalau istrinya itu memang sangat tidak menyukai jengkol. Apalagi aroma jengkol, Riana paling nggak bisa mencium aroma jengkol.


Ini salahku nggak ngasi tau Bapak dan Mak soal ini sebelum kami nyampe dirumah ini, sesal Guntur.


"Kamu sich Gun, kenapa nggak ngasi tau Mak dan Bapak kalau Riana nggak suka jengkol seperti saat kamu ajak Diana ke rumah ini?. Kan Mak dan Bapak bisa persiapan beli wipol dan bersih-bersih biar istrimu nggak keganggu seperti Diana kemaren," ucap Mak menyesalkan sikap teledor putranya.


"Iya Mak. Ini salah Gun. Maafin Riana ya Mak kalau kata-katanya tadi menyinggung perasaan Mak. Maafin Gun juga yang nggak ngasi tau Mak soal kedatangan kami hari ini. Nanti Gun tegur Istri Gun," Guntur meminta maaf kepada emak yang disambut anggukan mak.


"Ga papa Gun. Tapi lain kali jangan begitu lagi. Kamu juga nggak usah marahin Riana. Ini salah kamu..Haaaa..Mak jadi kangen Diana Gun. Dia beda banget sama Istrimu," jawab mak sambil menghela nafasnya.


Guntur memandangi wajah Mak yang tiba-tiba berubah murung.


Harusnya kedatangan kami hari ini membawa binar bahagia di wajah Mak. Riana emang keterlaluan, nggak bisa menjaga sikap dan kata-katanya. Selalu ketus dan nggak melihat situasi. Gerutu Guntur sembari menghabiskan makannya.


"GUUN. ABANG DAN TETEH PAMIT DULU ...AJAK ISTRI DAN ANAKMU MAMPIR KE RUMAH NTAR," teriak Yudi berpamitan.


"IYAAA BANG..NTAR SORE KITA MAMPIR," jawab Guntur tanpa meninggalkan meja makan.


"Mak nganterin kakak-kakakmu dulu," ucap mak sambil keluar mendapati Yudi dan Lusi dan menemani mereka hingga pintu keluar.


Sementara itu Riana sedang memberi minum Kiara dengan air mineral yang dibawanya.


"Kiaraaaa..Baba dan Nyak pulang dulu yaa..ntar Kiara sama Ayah dan Mamah ke rumah Baba...maeen...," Yudi mencium pipi Kiara sambil berpamitan hendak pulang.


"Iyyaaaa...," jawab Kiara lucu. Lusi yang melihat itu gemas dan tak tahan untuk menggendong Kiara. Dengan gemas diciumnya pipi Kiara bertubi-tubi.


Wajah Riana terlihat tak suka. Namun dirinya tidak berani menegur kedua kakak iparnya itu.


Begitu Kiara dilepas Lusi dan diserahkan ke Riana, secara diam-diam Riana mengelap kedua pipi Kiara dengan tisyu basah yang memang sudah disiapkannya sejak kemarin.


Riana tidak menyadari, ada tiga pasang mata yang memperhatikan tingkahnya itu....


\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2