TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 112. Acara Syukuran Pernikahan Guntur dan Diana.


__ADS_3

Hanya beberapa menit Bapak, Guntur, Diana dan salah seorang saksi pernikahan tiba di rumah. Mak yang sudah mempersiapkan acara syukuran sederhana untuk merayakan pernikahan Guntur dan Diana menyambut mereka di pintu depan.


Di dapur, Lusi dan Istrinya Yudi sedang mengisi beberapa buah piring dengan kue-kue dan buah-buahan serta membuat beberapa cangkir kopi hitam untuk sajian acara tahlilan malam ini. Tak lupa beberapa bungkus rokok kretek diletakkan di beberapa buah gelas.


Sementara Yudi dan suami Lusi menggelar tikar di ruang tengah dan mempersiapkan acara tahlilan. Setelah semua persiapan selesai dilakukan, mereka kemudian ikut menyambut rombongan pengantin baru.


Melihat Mak, Guntur dan Diana langsung menghampiri dan sungkem serta meminta doa dan restu Mak.


"Selamat ya Gun, ..Diana," ucap Mak saat menyambut Guntur dan menantunya, Diana.


"Do'ain Gun dan Diana Mak, semoga pernikahan kami langgeng, sakinah, mawaddah dan warohmah ya Mak," Pinta Guntur sembari memeluk dan mencium Mak diikuti Diana yang melakukan hal yang sama.


"Iya Gun, Diana...do'a Mak selalu untuk kebahagiaan kalian. Sana, minta restu Abang dan Mpo lu," Ucap Mak yang secara diam-diam memghapus bening disudut matanya.


Satu persatu Guntur dan Diana menyalami semua orang yang ada diruangan itu sembari meminta do'a restu mereka.


"Mpo, Bang..do'akan kami ya,"


"Iya Gun..Diana. Selamat ya, semoga kalian bahagia sampai Kakek dan Nenek,"


"Kalian bikin Anak yang banyak. Jangan ditunda-tunda," ucap Hana sambil tertawa cekikikan.


Mendengar itu, wajah Diana berubah merona . perempuan itu tersenyum malu. Tapi Diana tidak bermaksud membalas ledekan kakak-kakak iparnya. Dia hanya tersenyum dan tertunduk malu.


"Ayoo..semua masuk. Kita mulai acara tahlilannya. Amil mana Pak, kenapa nggak bareng Bapak?" tanya Mak ketika tidak melihat Amil dalam rombongan Bapak.


"Katanya kita duluan aja. Nanti beliau nyusul," jawab Bapak.


"Ooh, ya udah kalau begitu. Kita tunggu dulu bentaran ya. Nunggu Amilnya datang dulu," putus Mak.


Selang beberapa menit kemudian, orang yang ditunggu akhirnya datang juga. Acara tahlilanpun dimulai.


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Riana yang sedang membujuk Kiara untuk tidur, malam itu tiba-tiba merasa sangat gelisah. Beberapa kali perempuan cantik itu melihat isi ponselnya, siapa tau ada telepon atau pesan WA yang masuk dari suaminya.


Cerita Susan tadi mulai mengusiknya. Apa mungkin Aa' menemui perempuan itu ? Untuk apa dia masuk ke toko perhiasan dan apa yang dibelinya batin Riana gelisah.


"Aku harus bertanya langsung ke Aa'. Ga bisa begini terus," guman Diana. Diambilnya ponsel miliknya dan mulai menghubungi Guntur.


Tapi Guntur tidak mengaktifkan ponselnya. Beberapa kali Diana mencoba menghubungi Guntur dan Mak tapi sama saja. Akhirnya Riana memutuskan untuk menghubungi salah seorang keponakan suaminya.


"Ada acara syukuran di rumah ngkong Teh. Mungkin itulah sebabnya semua orang pada nggak aktifin ponselnya," begitu bunyi pesan WA yang diterima Riana.


"Acara syukuran dalam rangka apa?" tanya Riana lagi penasaran.


"Nggak tau juga Teh. Tapi kayaknya ada yang baru aja menikah di rumah Ngkong,"


"Siapa?" tanya Riana semakin penasaran. Jantungnya berdegup kencang.


"Nggak tau Teh. Soalnya acara syukurannya masih berjalan. Ntar kalau udah selesai saya telepon Teteh lagi,"


"Ooh..ya udah. Makasih infonya ya..,"


Riana kembali ke ranjang tempat Kiara tidur Gadis mungil itu telah terlelap dengan botol susu masih menempel dimulut mungilnya.


Riana kemudian mengambil botol susu Kiara yang telah habis isinya. Karena belum juga bisa memejamkan matanya, Riana akhirnya memutuskan untuk keluar sebentar.


Diluar langit terlihat cerah. Beberapa buah bintang terlihat berkelip indah dilangit malam. Riana duduk di salah satu kursi malas yang terletak diteras rumah orangtuanya.


"Mengapa Aku merasa ada suatu rahasia besar yang berusaha disembunyikan Aa' dariku?" guman Diana pelan.


Pertama, Aa beberapa hari ini terlihat ceria dan lebih lembut kepadaku. Lalu, nggak biasanya Aa pergi ke toko perhiasan. Kalaupun pergi selalu mengajakku. Siapa yang Aa' beliin perhiasan disana dan kenapa harus di Bd. dan malam ini, ada acara syukuran dirumah Bapak Mertuaku. Tapi kenapa dan untuk apa. Bahkan yang lebih aneh lagi..ponsel semua orang yang ada disana konpak sama-sama nggak bisa dihubungi , batin Diana, mencoba mengurai kembali semua peristiwa yang dialaminya beberapa hari ini.


"Jangan-Jangan.....!?" Diana terkesima.


Secepatnya perempuan itu meraih ponselnya dan mencari satu nama yang belum sempat dihubunginya sejak suaminya kembali dari kota T. Nomor ponsel Diana, perempuan yang disebut Riana sebagai Pelakor......

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=


Acara tahlilan telah selesai dilaksanakan. Semua orang di rumah itu masih enggan untuk pulang. Walaupun sederhana dan hanya dihadiri beberapa orang saja, namun tahlilan syukuran pernikahan Guntur dan Diana berjalan hikmat.


Hari sudah menjelang tengah malam. Guntur mulai gelisah, namun Diana terlihat berusaha berbaur dan terlihat ngobrol akrab dengan Lusi dan Hana.


"An..ke kamar yuk," bisik Guntur ditelinga Diana.


"Kenapa Mas. Ini masih banyak tamu. Nggak enak kalau kita masuk ke kamar sementara tamunya masih belum pulang," bisik Diana menjawab ajakan Guntur.


"Tapi An..ini malam pertama kita. Mas ingin berdua aja denganmu malam ini," bisik Guntur lagi membuat Diana bingung. Sementara Hana dan Lusi yang sempat melihat tingkah Guntur saling berbisik dan tertawa cekikikan.


"Malam pertamanya ditunda aja Mas..nggak enak," tolak Diana halus.


"Nggak bisa An. Mas maunya malam ini. Mas udah nggak tahan lagi sayang," bisik Guntur lebih dekat ditelinga Diana membuat Diana merasa geli.


"Iih..Mas. Ditahan dikit lagi napa. Malu akh..," Diana mendorong tubuh Guntur agar menjauh darinya.


Rupanya Amil dan tamu yang lain sempat melihat adegan itu dan akhirnya satu persatu mereka pamit pulang.


Saat menyalami Guntur dan Diana, beberapa orang laki-laki yang merupakan teman masa kecil Guntur menggodanya dengan suara yang sengaja dinyaringkan.


"Iyaaa..Iyaaa, kita pulaaang. Lu kalau mau ngusir ya terus terang aja Gun. Mentang-mentang punya istri cantik, bawaannya nggak tahan mulu," ejek salah satu dari mereka.


Guntur tertawa dan menepuk pundak kedua temannya itu.


"Makasih sudah ikut menjadi saksi kebahagiaan gue dan bini gue malam ini bro. Gue doain biar lu berdua bisa ngikutin jejak gue..,secepatnya," ucap Guntur disambut ucapan Aamiin oleh keduanya.


Satu persatu para tamu mulai meninggalkan rumah Bapak. Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Kini tinggal Guntur, Diana, Bapak dan Mak yang masih duduk di ruangan itu.


Anggi yang sudah sangat mengantuk terlihat tiduran di atas karpet yang digelar di ruangan itu. Kamar Anggi malam ini berubah menjadi kamar pengantin Guntur dan Diana.


"Duduklah Diana, Gun..Bapak pengen ngobrol sebelum kalian tidur," panggil Bapak. "Sini Mak, duduk disamping Bapak,"

__ADS_1


Bertiga mereka mendekati Bapak dan duduk saling berhadap-hadapan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2