
Melihat perubahan sikap Riana dan Ibunya, Guntur merasa mendapatkan kesempatan untuk bicara.
"Duduk dulu Gun...Riana, buatkan kopi untuk Suamimu,"
"BII..BIBIIII. Buatkan Kopi satu!!," teriak Riana tiba-tiba menyuruh salah satu PRT dirumah itu.
Bapak menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak biasanya Riana menyuruh bibi membuat kopi untuk Suaminya. Biasanya Riana lebih suka membuat sendiri kopi racikannya untuk Guntur.
"Nggak usah Pak. Terima kasih. Riana sedang marah dan Gun minta maaf tidak bisa menjadi Suami yang baik untuk Riana. Mungkin memang sebaiknya Gun ngalah karena terlalu banyak perbedaan antara Gun dan Riana Pak."
"Tapi Gun. Bapak sangat berharap kalian masih bisa memperbaiki hubungan kalian. Soal sikap anak Bapak yang kadang suka menghina keluargamu, Bapak minta maaf untuk hal itu."
"Bapak ngapain sich..pake minta maaf segala ke DIA. Lha dia yang salah kok Bapak yang harus minta maaf!!," sambar Ibu Riana, tak puas melihat sikap Suaminya.
"Buu..menghadapi masalah anak-anak harusnya kita sebagai orangtua jangan terlalu ikut campur. Cukup dengan memberi nasehat saja. Selebihnya biarkan mereka yang menyelesaikan persoalan mereka sendiri." ucap Bapak bijak.
"Kita sudah menikah cukup lama dan kita sudah punya Kiara. Selama ini kamu nggak pernah mempermasalahkan sikapku ke keluargamu. Kenapa sekarang kamu jadiin itu sebagai alasan untuk menikahi si Pelakor itu__ !?.' Kali ini Riana yang bersuara.
"Itu karena aku masih menghargai keluargamu dan berharap kamu bisa berubah. Segala cara sudah aku lakuin, nasehatin kamu, bicara baik-baik sampai akhirnya aku main tangan. Tapi hasilnya apa !?. Sama saja kan !?. Kamu tetap tidak berubah. Bahkan beberapa menit selama aku disini, kamu dan Ibu tak henti-hentinya menghina aku dan keluargaku !!."
Bapak menghela napas panjang, ibu akhirnya duduk dan Riana terdiam mendengar ucapan Suaminya.
Guntur berdiri tepat saat bibi membawa nampan berisi segelas kopi dan camilan untuknya.
"Maaf Pak, Gun harus pergi. Jangan sampai Kiara melihat Gun disini. Gun tidak akan menceraikan Riana dan biar Kiara bersama Ibunya. In syaa Allah Gun tidak akan melupakan kewajiban Gun sebagai Ayahnya Kiara," ucap Guntur sambil berdiri.
Terlihat rona kalut di wajah Riana.
"Kamu mau kemana hah..mau menemui perempuan laknat itu !!!?." Riana berteriak marah dan histeris.
"Gun...tunggu. Jangan pergi dulu. Kita selesaikan masalah kalian secara baik-baik. Jangan seperti ini!." seru Bapak mencoba menahan langkah menantunya.
"Maafkan Gun Pak. Gun titip Riana dan Kiara disini ya Pak. Gun belum menceraikan Riana. Dia masih Istri syah Gun. Kalau dia mau berubah dan mengubah keputusannya, Gun akan kembali untuk Riana dan Kiara. Tapi kalau tidak, Riana boleh menggugat cerai Gun jika dia sudah mendapatkan orang yang lebih baik dari Gun,". Ucap Guntur seraya berdiri dan melangkah keluar.
Riana terpaku, tak mampu berbuat apa-apa.
Bukan ini yang aku harapkan A'. Aku hanya ingin kamu minta maaf dan menceraikan perempuan itu !!. bathin Diana galau.
A'...Aa'...BERHENTIIIIII__!!!." teriak Riana kalut.
"RIANAA..BERHENTIII. Biarkan saja laki-laki itu pergi..kelak dia akan dapat KARMAnya!!!." ibu berteriak marah dan berusaha menahan langkah Riana yang hendak berlari menyusul Suaminya.
__ADS_1
Riana meronta dan keluar. Namun terlambat. Guntur telah pergi. Yang tertinggal hanyalah sisa-sisa kepulan asap knalpot dan deru mesin moge yang semakin menjauh.
Riana terduduk di lantai teras yang dingin. Air mata dan sakit hati tak sanggup lagi ditahan perempuan itu. Riana menangis...
Sementara Bapak tak mampu berbuat apa-apa. Ibu yang memeluk punggung Riana menatap kearah jalanan dengan tatapan penuh kebencian.
Tanpa disadari ketiga orang itu, sesosok gadis kecil berdiri didepan pintu kamarnya, memeluk erat boneka panda di tangannya sambil menatap tak mengerti.
"Ayaah !?." suara Kiara mengalihkan perhatian ketiga orang dewasa dihadapannya.
Terkejut....sontak ketiga orang itu berbalik dan mendapati Kiara yang berdiri dan menatap tak mengerti.
"Kiaraaa..cucu Aki. Sudah bangun ya cantik. Ayooo, ikut Aki ke halaman belakang yuk. Kita kasi makan si putih dan si cokelat. Kasiaan, udah pada lapar!!." seru Bapak berusaha mengalihkan perhatian Kiara.
Sementara Ibu dan Riana buru-buru berdiri.
Riana menghapus air matanya, tak ingin terlihat oleh Kiara.
Kiara menatap Ibunya dengan tatapan tak mengerti. Namun Riana berusaha tersenyum dan mengangguk mengiyakan ajakan Bapak.
Tanpa menunggu persetujuan Kiara, Bapak langsung menggendong Kiara.. "Duuh..sudah besaaar cucu Aki. Makin berat aja yaa..Gemess dech Aki!?"
Kiara tertawa mendapatkan ciuman bertubi-tubi dari Akinya. Gadis itu melupakan kehadiran Ayahnya yang sempat dilihatnya tadi, sekilas di depan kamarnya.
Riana mengangguk dan menghapus sisa-sisa air matanya. Kedua perempuan itupun berlalu mengikuti Aki dan Kiara di halaman belakang.
________
Sementara itu, Guntur membelokkan arah laju mogenya menuju salah satu penginapan yang tak jauh dari rumah mertuanya.
Laki-laki itu menghela napas berat.
Sesaat tadi Guntur sempat melihat Kiara yang tiba-tiba membuka pintu kamarnya.
Tak ingin keributan antara dirinya dan Riana terlihat oleh Kiara, Guntur akhirnya memutuskan untuk buru-buru pergi.
"Apa yang harus kulakukan sekarang. Rasanya aku nggak ingin mempertahankan rumah tanggaku dengan Riana. Tapi bagaimana dengan Kiara. Aku yakin sikap jelek Ibu dan nininya akan nurun ke Kiara," guman Guntur sambil melempar tasnya diatas tempat tidur. "Riana dan ibunya benar-benar keterlaluan. Sama-sama tidak menghargai aku !!!."
"Malam ini biar aku nginap disini saja. Aku ingin bertemu Kiara sebelum pergi. Setelah peristiwa tadi aku jadi penasaran pengen tau apa yang dikatakan Riana kepada Kiara,"
Guntur buru-buru bangun, mengambil ponselnya dan mencari nomor seseorang yang diyakini Guntur bisa membantunya bertemu Kiara.
__ADS_1
"Dapat!!." seru Guntur begitu menemukan nomor yang dicarinya.
"Nis, temui Mas di penginapan Parahyangan ya. Mas tunggu," Guntur mengirim voice note di laman WA Anis, salah satu sepupu istrinya Riana.
Setelah mendapatkan jawaban Anis yang mengiyakan pesan Guntur, laki-laki itupun berdiri dan menuju kamar mandi untuk mandi.
Selesai mandi, Guntur Mengambil beberapa buah baju kaos dan celana jeans hitam dari dalam tas ransel yang dibawanya, mencoba salah satu baju favoritenya.
Setelah merasa cocok laki-laki itu kemudian menyemprotkan sedikit parfum beraroma maskulin ketubuhnya, Guntur tampil menawan malam itu.
Perfect ....senyum Guntur puas melihat penampilannya di depan cermin.
Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan di pintu kamar.
“Ya.. Sebentar !!.” teriak Guntur.
Saat membuka pintu terlihat Anis berdiri di depan pintu kamar.
“Assalaamualaikum Mas__.”
“”Wa’alaikumsalaam. Cepet sekali kamu nyampe Nis,” sambut Guntur, lalu mengajak Anis untuk masuk.
“Iya Mas. Aku langsung kesini begitu menerima pesan Mas. Udah rapi aja Mas. Mau kemana ?,” tanya Anis begitu melihat tampilan Guntur yang terlihat rapi dan wangi. “Mau nyamperin Teh Riana yaa?.”
Guntur tertawa.
"“Emangnya aku nggak boleh tampil beda Nis?.” tanya Guntur geli.
“Enggak sich. Boleh-boleh aja. Apalagi untuk teh Riana,” jawab Anis yakin.
Guntur mengajak gadis itu untuk duduk. Walaupun agak risih hanya berdua di kamar itu, namun Anis memilih nurut apa kata kakak iparnya itu.
“Ini bukan untuk tetehmu. Aku mau ngajak kamu untuk jalan-jalan malam ini Nis,” jawab Guntur membuat Anis kebingungan.
“Lalu..teh Riana__?.” Tanya Anis polos.
“Tadi sore, Mas udah nemuin teh Riana,” jawab Guntur menjawab kebingungan diwajah Anis.
“Mas ingin minta Sedikit bantuan Anis.”
“Bantuan ?.” Anis semakin kebingungan.
__ADS_1
“Iya ..bantuan. Nanti aja kita omongin. Sekarang Anis ikut Mas ya. Kita makan diluar sambil ngobrol.” Ajak Guntur sambil berdiri dan melangkah keluar kamar diikuti Anis.
___________