
"Kemarin saat Mas ke Bd jemput kamu, Mas nyempetin ke toko perhiasan untuk membeli cincin kawin kita. Nah, saat itu, ada teman Riana yang tinggal di Bd melihat Mas masuk ke toko itu," Guntur memulai ceritanya.
"Hm..lalu?"
"Lalu orang itu nyampein ke Riana kalau Mas ke toko perhiasan dan membeli sesuatu disana. Karena penasaran, Riana nelpon ke ponsel Mas. Tapi sialnya, saat ke Bd Mas lupa membawa ponsel yang Mas titipin ke Bapak. Lalu Riana menceritakan apa yang dilihat temannya itu kepada Bapak. Akhirnya karena nggak ingin Riana curiga, Bapak memutuskan agar Riana juga dibelikan cincin. Kebetulan beberapa hari lagi Riana ulang tahun. Jadi Mas punya alasan kenapa kemarin Mas berada di toko perhiasan itu," Guntur menjelaskan dengan rinci alasannya membeli cincin untuk Riana.
Mendengar itu, akhirnya Diana mengerti dan memutuskan untuk tidak mempermasalahkan soal cincin yang dibeli suaminya untuk Riana.
"Ya udah Mas. Nggak apa-apa. Aku ikhlas. Toh aku cuman orang kedua dalam pernikahan kalian," ucap Diana pelan membuat Guntur meraih perempuan itu kedalam pelukannya.
"Tidak. Bukan seperti itu sayang. Jangan salah paham. Mas tidak pernah berfikir seperti itu. Bagi Mas baik Riana maupun kamu punya tempat yang istimewa dihati Mas," ujar Guntur kemudian mengecup kening Diana.
Digenggamnya jemari Diana dan berucap "Mas janji akan bersikap adil dan akan membahagiakan kamu. Mas janji...," bisik Guntur ditelinga Diana.
Diana tersenyum dan mengangguk.
"Katanya mau beberes dan masak buat Mak dan Bapak. Ayo..Mas bantu," tiba-tiba Guntur mengingatkan Diana tentang rencananya tadi saat membangunkannya.
"Ouwh..iya ya..lupaaa. Mas sich, kelamaan ngomongnya," rajuk Diana. Guntur tertawa dan menggandeng tangan Diana keluar dari kamar.
Berdua mereka menuju ruang tamu. Namun keduanya terkejut. Ternyata rumah sudah bersih, tikar-tikar sudah dilipat dan terdengar kesibukan di dapur. Rupanya Bapak dan Mak juga sudah bangun sejak tadi dan langsung membereskan sisa-sisa acara semalam.
Diana langsung menuju dapur. Dilihatnya Bapak sedang menemani Mak masak untuk mereka hari ini.
"Maak..maafkan Diana. Tadinya Diana mau beres-beres rumah setelah selesai sholat Subuh. Tapi Mas Gun manggil Diana dan ngomong lamaa banget. Maafkan Diana ya Mak," ucap Diana sambil mendekati Mak dan duduk disampingnya. Sementara Guntur mengambil tempat disamping Bapak.
"Udah..ga usah merasa nggak enak. Kalian kan masih pengantin baru. Masa Mak dan Bapak tega ngebiarin pengantin baru kerja..ya nggak mungkinlah..iya kan Pak?" ucap Mak menggoda putra dan menantunya itu. Bapak mengangguk mengiyakan ucapan Mak.
"Udah sana, kalian istirahat lagi di kamar. Ntar kalau Mak udah selesai baru Mak panggil," usir Mak sambil tersenyum kearah Bapak.
Diana salah tingkah dibuat Mak. Tapi Guntur malah menarik tangan Diana untuk kembali ke kamar mereka.
__ADS_1
"Mas..," Diana mencoba mengurai genggaman tangan suaminya. Namun Guntur tak perduli.
"Gendong aja Gun..," usul Bapak sembari tertawa melihat ulah Guntur yang masih saja nakal.
"Siaap Komandan..," Guntur berdiri tegak didepan Bapak dan kemudian secara tiba-tiba berbalik dan menggendong Diana.
Melihat itu Mak dan Bapak tertawa terbahak-bahak. "Itu tu..anak lu Mak,"
"Lha iya...kayak Bapaknya dulu..persiss," jawab Mak sambil tersenyum.
"Haaa..Mak lega Pak, anak kita terlihat bahagia dengan pernikahannya kali ini. Mak paham kalau Diana terlihat tidak terlalu bahagia," ujar Mak begitu Guntur dan Diana pergi dari hadapan mereka.
"Iya Mak, makanya, Bapak ingin Diana nyaman disini dan tidak merasa dinomor duakan oleh kita. Diana perempuan yang baik. Semoga dia bisa bahagia dengan anak kita," harap Bapak.
"Iya Pak..Aamiin," ucap Mak mengaminkan harapan suaminya.
Sementara itu dibalik pintu, Diana dan Guntur menguping pembicaraan Bapak dan Mak. Diana terharu dan meneteskan air mata.
Guntur menggenggam jemari istrinya dan menghapus air mata Diana.
"Ayo kita pergi," bisik Guntur kemudian menarik tangan Diana untuk pergi dari situ.
Guntur dan Diana memutuskan untuk menikmati pagi yang indah dikampung itu, berdua.
"Bentar Mas. Aku ambil ponselku dulu. Kayaknya sejak kemarin ponselku non aktif dech," ucap Diana sambil berjalan menuju kamar.
"Dimana aku taruh ponselku?" guman Diana sambil mencari-cari ponselnya didalam kamar dan didalam tas yang dibawanya. Ketemu..ponselnya ada di dalam tas Diana.
Ternyata daya ponselnya habis. Bergegas Diana mencharge ponselnya, menunggu sebentar kemudian menghidupkan ponsel itu.
Begitu ponselnya hidup, terdengar nada pesan dan panggilan tak terjawab yang bertubi-tubi di ponselnya.
__ADS_1
"Astagaaa..pantes aja banyak banget pesan yang masuk. Sejak kemarin. Ponselku nggak aktif..Hmm, coba aku periksa satu persatu,"
Diana membuka satu persatu pesan yang masuk. Terlihat ada beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Syahrial.
Diana bermaksud akan membuka dan membaca pesan dari Syahrial ketika tiba-tiba matanya tertumpu pada sebuah pesan masuk dengan pengirim yang namanya tidak tersave di ponsel Diana.
Diana penasaran.
"Pesan dari siapa ini?" tanya Diana pada dirinya sendiri. Kemudian karena penasaran dan tak sabar ingin tau siapa pengirim pesan yang lumayan panjang tersebut, Dianapun memutuskan untuk mengabaikan pesan yang lain dan fokus mulai membaca isi pesan itu.
Assalaamualaikum
Mungkin kamu heran, siapa pengirim pesan ini. Perkenalkan, aku RIANA. ISTRI SYAH GUNTUR PRAMUDYA.
Diana terkejut. Jantungnya berdebar, tak menyangka Riana akhirnya mengetahui nomor ponselnya dan mengirim pesan untuknya.
"Darimana Riana tau nomor ponselku..!?" tanya Diana heran. Kembali dibacanya pesan dari Riana.
Kamu nggak perlu tau dari siapa aku memperoleh nomor kamu. Awalnya Aku tau siapa kamu dari suamiku. Darinya aku tau kalau kamu dan keluargamu adalah keluarga angkat suamiku waktu berdinas di kotamu.
Isi pesan Riana seolah bisa membaca jalan pikirannya. Diana semakin penasaran.
Awalnya aku percaya dengan ucapan Suamiku. Tapi akhirnya aku tau dia berbohong. Tidak ada didunia ini hubungan seorang perempuan dan laki-laki yang begitu akrab sebagai saudara angkat. akhirnya aku tau kebenarannya...hubungan kalian lebih dari sekedar saudara angkat. Kalian berselingkuh dibelakangku. Aku tau semua ini dari seseorang yang nggak perlu kamu tau, siapa dia. Kamu bagiku tak lebih dari seorang PELAKOR yang berusaha menggoda suamiku dengan keluguan yang dibuat-buat olehmu
Hati Diana panas membaca kata-kata Riana. Namun rasa penasarannya lebih besar membuat Diana meneruskan membaca pesan Riana.
Awalnya aku marah..sangat marah karena kalian telah menipuku. Tapi, saat tanpa sengaja kamu bilang ke aku kalau kamu akan menikahi kakak kelasmu, Aku akhirnya malah berfikir untuk menjadikan kamu temanku. Kamu pasti heran dan bertanya-tanya, kapan dan bagaimana aku memperoleh pesan wa itu darimu. Ya..kamu benar, aku menggunakan ponsel suamiku untuk mencari informasi tentang kamu.
Diana berusaha mengingat-ingat kapan dia mengirim pesan seperti itu ke Riana. "Hmm..benar. Mas Gun pernah bilang kalau yang ngirim pesan itu bukan dia tapi Riana," guman Diana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1