
Guntur Pramudya dan Anton terlihat bersiap-siap mengikuti kegiatan rutin pagi itu. Setelah mandi dan melakukan korve, Anton dan Guntur bersama seluruh pasukan mengikuti apel pagi.
Semalaman kedua sahabat itu tidak tidur. Pengaruh minuman keras turut andil membuat keduanya sulit untuk memejamkan mata, namun seperti biasa kedua tentara itu masih dapat mengontrol sikap dan perilakunya.
Saat mengikuti apel pagi, ekor mata Guntur dan Anton diam-diam menelisik anggota lainnya yang ikut hadir. Ada nggak yang bersikap tidak biasa.
Setelah mencari dengan teliti, keduanya ternyata tidak menemukan apa yang mereka cari. Anton memberi kode kepada Guntur dengan ekor matanya. Digelengkan kepalanya perlahan.
Hmmm..dimana kamu bersembunyi Brengseeek...!!!, batin Guntur geram.
Sulit mencari orang yang mereka curigai membocorkan rahasia Guntur dalam situasi seperti ini. Akhirnya Guntur dan Anton memutuskan untuk menyelidikinya nanti setelah selesai apel pagi.
Setelah selesai mengikuti apel pagi, Guntur dan Anton melangkah menuju ruang makan bersama seluruh prajurit untuk sarapan pagi.Tak banyak yang dibahas oleh keduanya.
"Bang, sebaiknya untuk saat ini kita jangan fokus ke orang itu dulu. Sebab aku yakin, semalam dia sudah mengetahui maksud abang untuk ngejar dia dan pasti segala kemungkinan sudah diantisipasi olehnya,"
"Kamu benar Ton. Mungkin sebaiknya hari ini aku selesaikan dulu masalahku dengan Diana. Aku tidak suka menggantung masalah terlalu lama,"
"Iya, aku setuju bang,"
"Setelah sarapan pagi, aku akan menemui Diana di kantornya,"
__ADS_1
"Jangan ke kantor bang. Diana nggak masuk hari ini. Tadi Imah sms ke aku ngasi tau kalau hari ini Diana ijin nggak masuk kantor,"
Hmmm...gadis itu mulai menghindariku, batin Guntur menebak sikap Diana.
"Baiklah Ton, thanks sudah dikasi tau. Biar aku temui Diana di rumahnya saja," ujar Guntur.
Mereka kemudian melanjutkan sarapan paginya. Dalam hati Guntur memahami sikap Diana yang mulai menghindarinya. Namun tekadnya untuk menemui Diana tidak bisa ditawar lagi. Apapun keputusan Diana nanti mengenai kelanjutan hubungan mereka, Guntur bertekad akan menerimanya.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Guntur bergegas hendak memacu mogenya menuju rumah Diana. Namun sebelumnya Guntur memutuskan untuk menelpon Inah, kakak Diana untuk memastikan apakah Diana ada di rumahnya atau tidak.
Diambilnya gadget miliknya dan menekan satu nomor milik Inah. Dan....terdengar nada dering diseberang sana.
"Halo,..."
"Waalaikumsalaam, mas Gun ya?"
"Iya Mbak,"
"Nggak mengganggu kok mas, ada apa nich. ada yang bisa mbak bantu?"
"Diananya ada di cafe nggak mbak?"
__ADS_1
"Nggak ada mas, Diana kerja kali mas,"
"Diana ga ngantor hari ini mbak, ijin katanya. Tadi saya dapat info dari Imah,"
"Ooh, mbak nggak tau mas. Coba mbak suruh anak-anak ngcek di rumah Diana ya,"
"Iya mbak, nanti saya telpon lagi,"
"Oke,"
Guntur mengakhiri percakapan mereka dan menutup gadgetnya. Selang 10 menit kemudian terdengar gadget ditangannya berbunyi.
Telpon dari mbak Inah. Bergegas laki-laki itu menjawab panggilan mbak Inah.
"Assalaamualaikum.mas Gun, Diananya nggak ada di rumah,"
"Waalaikumsalaam, ooh..iya mbak. Terimakasih infonya, Wassalaamualaikum mbak,"
"Waalaikumsalaam,"
Setelah menutup pembicaraannya dengan Inah, Guntur termangu....harus mencari Diana kemana lagi. Pikirannya buntu. Tidak ada satupun kawan Diana yang diketahui nomor hp maupun alamatnya.
__ADS_1
Mungkin aku harus ke kantor Diana dan mengorek informasi langsung dari Imah. Sebab satu-satunya sahabat Diana yang aku kenal hanya Imah, batin Guntur memutuskan langkah selanjutnya.
Guntur menghidupkan mesin mogenya, dan berlalu meninggalkan barak menuju Kantor Diana.