
Aku tersenyum lega. Kuhirup sebanyak-banyaknya udara hangat yang menyambut kedatanganku di kota ini.
Manado, kota yang terkenal dengan pantai indahnya, Bunaken dan makanan khasnya Tinotuan atau bubur Manado juga gadis-gadisnya yang terkenal berwajah cantik dan berkulit putih nan mulus.
Aku masih harus melanjutkan perjalananku menuju kota Ktg, salah satu kota kabupaten, daerah tempat tugasku yang baru.
Setelah mengambil semua barang-barangku yang kutitip di bagasi pesawat dan meletakkannya di atas trolley, akupun melangkah keluar bandara.
Informasi yang aku terima dari kantor pusat bahwa aku akan dijemput oleh orang kantor di bandara.
Kuedarkan pandanganku ke arah para penjemput yang berjubel di pintu keluar.
Sesaat kemudian mataku tertumpu pada sebuah papan kecil yang dipegang oleh seorang laki-laki berseragam kantoran bertuliskan namaku "Ibu Diana, PT ...
Akupun melambaikan tanganku kearah laki-laki itu yang kemudian bergegas mendekatiku bersama seorang wanita paruh baya berseragam sama.
"Ibu Diana ?" tanya si lelaki sambil menjabat tanganku erat dan tersenyum sopan.
"Iya, aku Diana...Bapak..??" tanyaku membalas jabat tangan laki-laki itu.
"Perkenalkan, kita (saya) Sardi bu dan ini ibu Tina" si laki-laki yang bernama pak Sardi itu dengan sopan memperkenalkan dirinya dan perempuan yang berdiri disampingnya dengan logat dan bahasa Manado yang kental
"Oh iya pak Sardi, Bu Tina. Perkenalkan saya Ibu Diana dari kantor pusat. Senang bertemu dan berkenalan dengan Bapak dan Ibu," sahutku sopan sambil menjabat tangan ibu Tina yang tersenyum kepadaku.
"Mari ibu.... Sebelum ke Ktg bagaimana kalau kita mampir dulu untuk makan siang di rumah makan khas di kota ini ibu ?" tawar ibu Tina meminta persetujuanku
Akupun mengangguk cepat tanda setuju dengan usulan ibu Tina barusan.
Aku memang sedang lapar dan penasaran ingin menikmati makanan khas kota ini.
Kamipun menuju mobil Dinas perusahaan yang sudah diparkir pak Sardi di depan bandara.
Setelah meletakkan semua barang bawaanku di bagasi mobil, pak Sardi yang ternyata adalah sopir perusahaan tempatku bekerja nanti memacu mobil yang kami tumpangi membelah jalanan kota Manado yang ramai menuju salah satu restauran yang terkenal di kota itu.
Resto "Singgah Jo" yang terletak di pesisir pantai kota Manado itu menyajikan berbagai makanan sea food khas Sulawesi Utara.
Wangi ikan bakar langsung menyentuh hidungku begitu kami tiba di depan restauran yang bentuk bangunannya mengcopy bentuk rumah adat Sulawesi Utara.
Perutku berbunyi tanda penghuni perutku sudah tak tahan lagi.
__ADS_1
Setelah tiba tepat di depan lobi restauran, aku dan ibu Tina langsung turun sementara pak Sardi memarkir mobil di pelataran parkir restauran.
Kami mengambil tempat duduk di salah satu gazebo dengan view laut Manado yang mengarah ke Bunaken.
Angin pantai yang hangat menyambut kedatangan kami. Hmmm..wangi laut yang selalu kurindukan.
"Sebentar ibu, saya pesan makan siang kita dulu. Ibu mau makan apa dang,' tanya ibu Tina menunjukkan buku menu yang ada diatas meja gazebo.
"Hmm..ikan bakar dabu-dabu mentah kayaknya enak ya bu. Itu aja..pakai nasi putih dan cah kangkung," jawabku, tidak lupa kutunjuk salah satu minuman yang ingin kupesan.
Ibu Tina mengangguk dan memanggil seorang pemuda pelayan restauran yang kemudian dengan cekatan mencatat semua pesanan kami.
"Ibu silahkan ke depan untuk memilih ikannya," kata si pelayan mempersilahkan kami untuk memilih ikan yang kami pesan.
"Biar kita saja bu," ucap ibu Tina ketika aku hendak berdiri.
Aku mengangguk setuju.
Aku memejamkan mataku mencoba menikmati wangi air laut yang berpadu dengan harumnya ikan bakar pesanan kami dan pengunjung lain di resto itu.
Beberapa menit kemudian ibu Tina dan pak Sardi sudah kembali ke tempatku duduk diikuti beberapa pelayan restauran yang membawa pesanan kami.
Siang itu kami menikmati makan siang kami diselingi pembicaraan ringan tentang berbagai hal, terutama tentang kota tempat tugasku nanti dan berbagai hal yang khas dari kota-kota yang ada di wilayah Sulawesi Utara.
Sejenak aku benar-benar melupakan suamiku, Mas Gun dan Riana hingga tiba-tiba ingatanku akan mereka kembali saat pak Sardi bertanya tentang suamiku.
"Maaf Ibu, Bapak nyanda (tidak) iko (ikut) ?" tanya pak Sardi.
"Ooh..nggak pak Sardi. Nanti nyusul dia," jawabku sekenanya.
"Ooh..," sahut pak Sardi dan ibu Tina berbarengan.
Setelah menyelesaikan makan siang, kami lantas melanjutkan perjalanan menuju kota Ktg.
Selama perjalanan, aku yang awalnya ingin menikmati pemandangan kota Manado dan wilayah-wilayah sekitar yang kami lewati malah tertidur pulas karena kelelahan dan..kekenyangan.
Begitu tiba di kota Ktg, barulah aku dibangunin ibu Tina.
"Ibu..Ibu..kita sudah sampai," bisiknya pelan sembari menyentuh pundakku lembut.
__ADS_1
"Ooohh..sudah sampai ya bu," seruku, sontak memperbaiki letak dudukku.
Ibu Tina mengangguk sambil tersenyum. Sementara pak Sardi menurunkan semua barang-barangku dari mobil.
"Untuk sementara ibu tinggal di hotel ini sampai rumah dinas ibu siap ditempati," kata ibu Tina memberi keterangan.
Aku mengangguk.
Semua barang-barangku kemudian dibawa oleh pak Sardi dan salah satu bellboy di hotel itu. Sementara ibu Tina menuju meja resepsionis untuk mengambil kunci kamarku.
Setelah meletakkan semua barang-barangku di kamar dan memberi tip kepada si bellboy, ibu Tina dan pak Sardi kemudian berpamitan hendak kembali ke kantor.
Aku membanting tubuhku di atas kasur empuk hotel itu. Rasa kantuk dan lelah yang kurasakan sejak tadi tiba-tiba menyeruak kembali.
Tanpa sadar aku kembali tertidur hingga adzan Magrib berkumandan dari salah satu Masjid yang terletak tak jauh dari hotel.
Segera aku bangun dan mandi kemudian menunaikan sholat Magrib.
Selesai sholat, aku memutuskan untuk mulai membenahi barang-barang bawaanku. Ku buka tas jinjing berwarna hitam yang kuletakkan diatas meja.
Astaga...ternyata ponselku mati. Pantesan tidak ada satu orangpun yang nelpon aku sejak aku sampai di kota ini, seruku kaget sendiri begitu melihat gawaiku yang kuletakkan didalam tas.
Segera kuisi daya gawaiku sambil memesan beberapa menu makanan dan minuman ke resepsionis untuk diantar ke kamarku.
Perjalanan panjangku dari kota Bd-Jkt-Mo hingga Ktg benar-benar menguras tenagaku membuat aku enggan untuk keluar menikmati malam pertamaku di kota Ktg.
Setelah daya ponselku terisi penuh, kuhidupkan powernya dan....
Ting...ting...ting...bunyi ponselku tak henti berbunyi.
Astagaaa..banyak sekali pesan dan panggilan yang masuk untukku, jerit batinku tertahan.
Segera kubuka satu persatu pesan dan panggilan tak terjawab yang masuk.
Pesan dan telepon dari keluargaku di kampung, dari beberapa teman sekampus dan....dari Mas Gun.
Perhatianku terhenti pada nama itu di layar ponselku. Beberapa pesan dan puluhan panggilan tak terjawab dari Mas Gun mengalihkan perhatianku dari beberapa pesan dan telepon lainnya.
Dengan perasaan tak menentu, kubuka salah satu pesan WA suamiku itu.
__ADS_1
"Sayang..kok kamu pergi nggak nunggu aku..?!. pesan pertama suamiku. Masih bernada lembut.
\=\=\=\=\=\=\=\=