TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 154. Perpisahan Yang Menyakitkan.


__ADS_3

Ditempat lain, Guntur yang beberapa kali menerima panggilan telepon Riana tidak menggubris panggilan Istrinya itu.


Kiara masih tertidur pulas.


“Percuma aku ngeladenin Riana. Biarkan saja dia nelpon sampai bosan dan berhenti sendiri !,” guman Guntur pelan, tak ingin membuat Kiara terbangun akibat pertengkarannya dengan Riana.


Tak berselang lama, setelah beberapa kali telepon Riana dirijek oleh Guntur, tiba-tiba Bapak Mertuanya telepon.


Guntur enggan dan ingin mengabaikan panggilan telepon Bapak Mertuanya itu. Namun hati kecilnya tidak membiarkan hal itu terjadi.


“Assalaamualaikum Pak,” sapa Guntur pelan.


“Wa’alaikumsalaam. Maaf Gun, Bapak mau nanyak. Apa Kiara ada bersama Gun sekarang?,” tanya Bapak.


“Iya Pak. Kiara bersama Gun,” ucap Guntur mengiyakan pertanyaan Bapak Mertuanya.


“Oh,__,” belum sempat Bapak menjawab Guntur tiba-tiba terdengar teriakan Riana di ponsel Bapak.


“Kembalikan putriku laki-laki brengsek!!!,” terdengar umpatan Riana ditelinga Guntur.


Rupanya ponsel Bapak telah berpindah ke tangan Riana.


“Berisik..!!!,” Guntur meniup kupingnya yang tiba-tiba berbunyi akibat teriakan keras Riana.


“Kamu nggak bisa lakuin ini ke aku. Kiara milikku satu-satunya. Aku yang ngelahirin dia jadi aku yang berhak atas Kiara__!! masih dengan suara keras, Riana memprotes perbuatan Guntur.


Ucapan Riana membuat emosi Guntur tersulut. “Aku Ayahnya Kiara.  Jadi aku juga punya hak. Bukan cuma Kamu saja!!.”


“TIDAK..kamu tidak berhak atas Kiara putriku. Kamu telah mengkhianati aku dengan menikahi perempuan itu. Sekarang putriku mau kau bawa juga. Enak saja..!!! Kamu licik__kamu culik Kiara dengan cara yang curang dengan Membodohi dan memanfaatkan kepolosan Anis__!!!.”


“Menculik Kiara !?..HAH..bagaimana bisa kamu nuduh aku. Aku ini Ayah Kiara, ya mana mungkinlah aku menculik putriku sendiri !?,” potong Guntur mendengar tuduhan Riana. “Kiara putriku, dan aku berhak membawa putriku kemanapun yang aku mau tanpa harus minta ijin kepada siapapun..TERMASUK KAMU !!!.”


Riana menangis..dia kehabisan akal menghadapi Guntur yang makin keras kepala.


“Oh iya..soal Anis. Kamu nggak perlu nyalahin dia. Kamu pikir gampang gitu meminta Kiara dari kamu?. Hanya melalui Anis aku bisa mengambil Kiara. Pintar kan ...!?,” Guntur tertawa sinis.


“Kembalikan putriku..kamu nggak berhak..kamu nggak berhak. Kamu Ayah yang nggak bertanggung jawab..!!!.”


“Ooh..begituu..aku Ayah yang nggak bertanggung jawab katamu!?. Sejak kapan hayo..sejak kapan aku tidak bertanggung jawab terhadap kalian berdua HAH ??.” tanya Guntur dengan suara keras.


“Tapi kamu menghianati aku...!!.”


“Itu beda kasus Riana. Aku mengkhianati kamu sebab perbuatan kamu sendiri. Sudah berkali-kali aku ingetin kamu untuk merubah sikapmu terhadap keluargaku. Tapi kamu ngeyel..keras kepala. Jadi jangan pernah salahkan aku!!.


“Lalu...mau kau bawa kemana putriku !?.” tanya Riana khawatir. Dia tidak perduli alasan Guntur menduakan dirinya.


“Kemanapun aku pergi..!.”


“Ke perempuan Pelakor itu !?.”

__ADS_1


“Sudah kubilang..Jangan pernah sebut dia PELAKOR. Sama seperti kamu, dia juga Istriku!,”


“Aku nggak IKHLAASS..aku nggak RELA Kiara kamu bawa menemui istri mudamu itu..NGGAAAK..!!!,” teriak Riana histeris.


“Mamah..??,” tiba-tiba suara Kiara yang terbangun oleh teriakan-teriakan Ayah dan Mamahnya mengejutkan Guntur.


“Kiaaaa...Kiaraaa..ini Mamah naak..!!!,” terdengar  Riana memanggil-manggil nama Kiara begitu mendengar suara Kiara.


“Mamah...Maaah..!?,” tiba-tiba Kiara menangis. Gadis kecil itu kalap mendengar suara tangisan Mamahnya.


Guntur gelagapan dan berusaha membujuk Kiara agar berhenti menangis.


“Kembalikan Putriku A’..kembalikan Kiara. Aku mohoon..Aku nggak bisa hidup tanpa Kiaraaa...aku bisa mati jika Kiara kamu ambil__huu..huu...” suara Riana melemah.


Tangis Riana membuat Kiara meronta dan minta pulang.


“Kia mau pulaaang...Kia mau mamaaah..huuu...huuu..,” rengek Kiara disela tangisannya.


“Kia ikut Ayah aja yaaa..nanti Ayah beliin mainan yang banyaaak buat Kiara..mau ya sayang,” bujuk Guntur lagi.


“Nggak mauuu...Kia nggak mau mainaaan..Kia hanya mau Mamaaah...pulaang...pulaang,” tangisan Kiara semakin menjadi.


Kehabisan akal, Guntur kemudian meminta supir untuk menghentikan laju mobil di salah satu sisi jalan.


“Kiaaaa...Kiaraaa..ini Mamah naak..ini Mamaah. Kia pulang yaa!!,” terdengar suara Riana memanggil-manggil Kiara.


Guntur yang menyadari kalau ponselnya masih menyala, sontak mematikan ponselnya.


Hati Guntur serasa dikoyak. Tanpa disadarinya , ada sesuatu yang mengalir dan membasahi pipinya.


Putrinya sendiri menolak dirinya.


Ada yang sakit dan membuat laki-laki gagah itu tiba-tiba menangis.


Apakah aku harus merelakan Kiara dibawah asuhan Riana !?


Dipandanginya wajah Kiara yang sedang dibujuk pak sopir.


Guntur tak tega.


Betul kata Anis..Kiara masih butuh Mamahnya. Yaa Allah...aku nggak ingin kehilangan Kiara. Tapi aku juga nggak tega melihat Kiara seperti ini.!?


Guntur menyeka air matanya. Laki-laki itu memilih mengalah.


Walaupun berat baginya untuk meninggalkan Kiara, namun Guntur menginginkan yang terbaik untuk putrinya itu.


Dan Kiara telah memilih....dia memilih Mamahnya.


Aku nggak boleh egois. Mungkin aku bisa bermasa bodoh dengan perasaan Anis dan Riana. Tapi tidak dengan Kiara. Kiara adalah segalanya bagiku. Kebahagiaanya adalah prioritas utamaku!?,.

__ADS_1


Walau dengan berat hati, akhirnya Guntur memutuskan untuk mengembalikan Kiara kepada Riana.


“Nis, Mas tunggu kamu di lorong depan rumah kamu 30 menit lagi. Datang dan jemput Kiara,” tulis Guntur di laman WA Anis.


Kiara yang masih terisak dipeluk Guntur dengan sepenuh hati. Laki-laki itu menciumi wajah Kiara, memeluknya kemudian menggendong Kiara yang mulai diam.


“Baiklah sayangnya Ayah..putri tercantik Ayah..bidadari kecil Ayah. Kia mau pulang ?,” tanya Guntur yang dijawab Kiara dengan anggukan kepalanya.


“Hmm..Ayah antar Kia pulang ke Mamah ya. Kia jadi anak yang baik. Anak yang manis. Anak solehah. Patuh sama Mamah. Baik-baik sama Aki dan Nini Kia..iya sayaang..Kia mau janji ke Ayah ?.  Janji jari kecil ?,” tanya Guntur sambil menyodorkan jari kelingkingnya kearah Kiara.


Kia memandangi Ayahnya. Seolah mengerti ucapan-ucapan Guntur, Kiarapun kemudian ikut menyodorkan jari kelingkingnya kearah sang Ayah.


“Janjii..,” ucap Kiara. Kini sebuah senyuman terindah diberikan Kiara untuk Ayahnya.


Gadis kecil itu tidak mengerti kalau hari itu adalah hari saat dirinya mulai jauh dari Ayahnya.


“Pinteer putri Ayah...ayoo, kita temui Mamahmu,” ajak Guntur sembari menggendong Kiara dan memasukkannya ke dalam mobil


Mobilpun melaju perlahan kearah rumah Anis.


Kurang dari 30 menit, Guntur dan Kiara tiba dilorong delan rumah Anis.


Gadis berkaca mata minus itu telah menunggu mereka di ujung lorong seperti yang diminta Guntur.


“Maafkan Mas Nis..!,” ucap Guntur tulus begitu dirinya dan Kiara berdiri di depan Anis.


“Iya Mas. Nggak apa-apa. Anis paham. Anis juga minta maaf nggak bisa banyak membantu Mas. Tapi Ania janji, setiap perkembangan pertumbuhan Kiara akan Anis kabarin ke Mas,” janji Anis saat memgambil Kiara dari gendongan Guntur.


“Tolong antar Kiara ke rumah Mamahnya. Dan sampaikan salam serta permohonan maaf Mas untuk Aki dan Nini,”


“Iya Mas..In syaa Allah akan Anis sampaikan.”


“Naah Kiaraa..Ayah pergi dulu ya,”


“Ayah mau kemanaa..ayoo ikut Kia aja,” Kiara menggenggam erat tangan Guntur.


“Ayah mau kerja sayang. Nanti ayah pasti balik lagi untuk Kiara,” jawab Anis buru-buru menyela ucapan Kiara.


Kiara mengangguk. Senyumnya menghilang seiring kepergian Guntur.


“Ayah pamit ya sayang...!!,” ucap Guntur sambil mencium sekali lagi kening dan pipi Kiara.


Laki-laki itupun berbalik dan pergi.


“Ayaaah...Ayaaah...,” tiba-tiba terdengar tangisan Kiara memanggil Ayahnya.


Tapi Guntur terus berlalu dan tak ingin berbalik. Air matanya kini mengalir lagi.


“Jalan Pak...langsung ke penginapan Parahyangan,” perintah Guntur kepada Pak supir.

__ADS_1


“Baik Pak..siap,”


__________


__ADS_2