TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 81. Sebelum Pulang.


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 04.30 WIB ketika Riana terbangun. Terdengan lantunan adzan Subuh di Masjid. Bergegas Riana menuju kamar mandi, membersihkan diri, berwudhu dan bersiap melaksanakan sholat Subuh.


Guntur dan Kiara masih tidur.


Selesai melakukan sholat Subuh, Riana kemudian membangunkan suaminya.


"Bangun A', sudah subuh. Hari ini kita ke rumah Bapak dan Mak kan?" Riana mengingatkan suaminya.


""Eumm..iya Ri'.."


"Sholat Subuh dulu. Aku siapin sarapan,"


"Kiara sudah bangun?"


Belum A'. Kiara masih tidur,"


"Ya udah...aku sholat Subuh dulu," dengan mata masih mengantuk, Guntur berdiri dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu.


Ketika kembali ke kamar, Guntur melewati dapur dan melihat Riana sedang mempersiapkan sarapan pagi. Dipandanginya punggung istrinya.


Sebenarnya *Is*triku tidak memiliki kekurangan. Dia nyaris sempurna* walaupun kadang s***edikit ngeyel saat aku nasehati tapi untuk nilai sebagai istri idaman, Riana istriku memiliki kriteria yang dibutuhkan. Tapi kenapa aku malah tertarik dengan Diana bahkan ingin menikahinya ? Batin Guntur.


Mereke berdua, Riana dan Diana memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Parahnya justru kelebihan dan kekurangan mereka saling menutupi satu sama lain. Andai kelebihan mereka bisa disatukan hanya dalam diri salah satunya, maka aku akan menjadi suami yang paling bahagia.


"A'..?"


Guntur dikagetkan oleh suara Riana yang berbalik dan menyadari kehadiraan suaminya yang sedang berdiri di pintu dapur dan memperhatikan dirinya.


"Eh..oh..iya Ri' tadinya aku mau minta kamu bawain air putih ke kamar. Tapi melihat kamu lagi sibuk buatin sarapan, yaa..ga jadi dech,"


"Udah kok A', air putihnya udah aku taruh di kamar tadi," jawab Riana.


"Oh..syukurlah kalau begitu. Makasih ya Ri'," ucap Guntur disambut anggukan Riana.


"Aku ke kamar dulu,"


"Iya A'..,"

__ADS_1


Wangi nasi goreng menyentuh hidung Guntur. Setelah selesai sholat Subuh dan berganti pakaian, Guntur menyempatkan diri menengok Kiara putrinya sebelum sarapan pagi. Ternyata gadis mungilnya masih tertidur pulas.


"Selesai sarapan, aku ikut apel pagi dulu. Setelah apel baru kita berangkat ke rumah Bapak," Ucap Guntur begitu dirinya tiba di ruang makan.


Diana mengangguk dan menyendoki Guntur dengan nasi goreng yang dibuatnya barusan. Sepiring nasi goreng hangat porsi besar dengan telur ceplok dan taburan bawang goreng yang banyak menggugah selera Guntur. Dengan lahap laki-laki itu menilkmati sarapan paginya.


Riana juga ikut sarapan pagi menemani suaminya. Sesekali dengan ekor matanya, Riana memperhatikaan suaminya. Tidak terlihat rona ketegangan atau sesuatu yang bisa membuatnya curiga kepada suaminya.


"A' terusin makannya. Aku lihat Kiara dulu." Riana meletakkan piringnya yang belum habis isinya diatas meja, bermaksud hendak berdiri dan menuju kamar Kiara.


"Tunggu aku selesai sarapan dulu. Duduk Ri', Selesaikan sarapanmu. Kalau Kiara sudah bangun, pasti kedengaran sama kita," Guntur menahan langkah istrinya.


Riana menghentikan langkahnya dan duduk kembali. Dia sebenarya paham betul kebiasaan-kebiasaan suaminya. Apa yang disukai dan tidak disukai Guntur. Salah satunya adalah tidak meninggalkan meja makan saat suaminya sedang makan.


Namun kadang Riana mengabaikan kebiasaan suaminya itu dan membuat Guntur harus mengingatkan istrinya kembali.


"Aa sudah ngabarin Bapak dan Mak kalau kita mau datang?" tanya Riana mengalihkan perhatian suaminya.


"Belum. Aku bermaksud ngasi kejutan ke Mak dan Bapak," jawab Guntur sambil tersenyum membayangkan wajah kedua orangtuanya saat melihat dirinya, Riana dan Kiara tiba-tiba sudah berada di depan mereka.


"Aku tau...tapi biar saja. Nanti sampai disana baru kita siapin sama-sama. Nggak usah khawatir soal itu,"


"Tapi A'...,"


"Sudahlah Ri'. Kita jangan ngerepotin mereka. Yang paham tentang semua kebutuhan Kiara ya aku dan kamu...orangtua Kiara. Jadi biarkan kedatangan kita menjadi kejutan untuk Kakek dan Nenek Kiara, oke ?" tekan Guntur membuat Riana terdiam.


Selesai sarapan, Guntur lantas berdiri dan merapikan seragamnya. "Aku apel pagi dulu," Guntur berdiri menuju ruang tamu, memakai sepatunya dan bersiap hendak ikut apel pagi.


Riana memgangguk, membereskan meja makan dan kemudian mengantar suaminya ke pintu keluar.


Setelah Guntur pergi, Riana hendak membangunkan Kiara saat seseorang memanggil namanya.


"Bu Guntur...," suara tetangga sebelah memanggilnya.


Riana menoleh dan mendapati bu Deni tetangganya sedang berdiri didepan rumahnya.


"Tumben, pagi-pagi udah sibuk aja. Mampir dulu Bu," tawar Bu Deni sambil mengajak Riana untuk mampir ke rumahnya.

__ADS_1


"Emang ada yang menggugah selera ya bu pagi ini," tanya Riana sambil tertawa dan melangkah menuju rumah Bu Deni.


"Ada dong...aku bikin bubur ayam special pagi ini. Yuk akh Bu Guntur, dicicipin sekalian bawain buat sarapan Kiara," jawab Ibu Deni sambil tertawa dan masuk ke rumahnya diikuti Riana.


Bu Deni adalah tetangga terdekat Riana dan Guntur di asrama Batalion. Saat Guntur dan prajurit lainnya sedang berdinas keluar kota, Riana dan bu Deni suka saling mengunjungi dan membuat acara kecil-kecilan dengan tetangga asrama lainnya untuk mengusir jenuh dan rasa rindu kepada para suami mereka yang sedang bertugas diluar kota.


Seperti layaknya kompleks perumahan pada umumnya, kumpulan ibu-ibu tersebut saat ngumpul sering membahas segala hal. Dan topik yang paling sering dibahas adalah tentang pelakor dan perselingkuhan.


"Maaf nich bu Guntur. Dengar-dengar ada selentingan katanya beberapa anggota saat bertugas di kota T kemarin banyak yang nikah siri lho dengan gadis-gadis disana!" Bu Deni memulai pembicaraannya dengan Riana sambil mengisi dua mangkuk bubur ayam hangat yang dibuatnya.


"Masa sich Bu Deni...?" tanya Riana pura-pura tidak tau.


"Iya Bu..beneran... Malah Bu Tito sampai menggugat cerai suaminya gara-gara kemaren ketahuan ngontrakin bini mudanya di kontrakan dekat asrama lho Bu,"


Riana melongo. Isyu barusan soal Bu Tito dan suaminya sama sekali belum didengar Riana.


"Emang Bu Tito tau darimana kalau suaminya nikah lagi dan ngontrak bareng bini mudanya diluar asrama?" tanya Riana penasaran.


"Lha...Ibu nggak tau toh..kemaren kan kontrakan si pelakor itu digerebek bu Tito dan beberapa ibu-ibu di asrama," jawab Bu Deni dengan mimik wajah serius.


Riana tetdiam. Apa mungkin Aa juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Pak Tito? batin Riana menerawang.


"Mamaaaa...," lamunan Riana terusik oleh suara Kiara yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu dapur Bu Deni dan memanggilnya.


Dibelakang Kiara, terlihat Guntur sedang berdiri dan memperhatikan Riana dan Bu Deni dengan wajah tidak suka yang berusaha disembunyikannya.


Topik yang dibahas oleh kedua perempuan itu mengusik dirinya. Ini satu kebiasaan Riana yang paling tidak aku sukai. Ngerumpi pagi-pagi dirumah tetangga batin Guntur sambil mendekati istrinya.


"Sayaang..udah selesai kan obrolan paginya. Ayoo, kita pulang..," ajak Guntur ke Riana sambil menggandeng Riana dan menggendong Kiara.


"Sarapan Bubur ayam buatan istriku dulu Mas," tawar Deni yang juga baru pulang selesai apel pagi.


"Udah Bang, terima kasih. Semalam "anu" nanggung banget. Mau disambung dulu sebelum mudik. Mumpung cuaca lagi mendukung," seloroh Guntur membuat Deni dan istrinya tertawa.


"Ya udaaah..silahkan disambung Mas, semoga menghasilkan dede buat Kiara ya..," balas Deni sambil tertawa terkekeh-kekeh dan menyuruh istrinya meletakkan bubur di mangkuk untuk Riana bawa pulang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2