TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 145. Dimana Kamu Mas ?


__ADS_3

Diana mengernyitkan dahinya. Pesan WA Riana barusan menandakan kalau Guntur tidak bersamanya. Lalu kemana Mas Gun ?


Keberadaan Guntur lebih penting bagi Diana saat ini daripada sumpah serapah Riana.


Rasa penasaran dan khawatir membuat Diana memutuskan untuk menelepon Bapak Mertuanya. Segera dihubunginya nomor yang dituju.


"Assalaamualaikum Bapak,"


"Wa'alaikumsalaam Nak. Gimana, Masmu udah sama kamu ?," terdengar suara Bapak menanyakan keberadaan Guntur.


"Belum Pak. Justru itu Diana nelpon Bapak. Diana khawatir dengan kondisi Mas Gun Pak."


"Kamu udah hubungi Masmu?."


"Sudah Pak. Tapi ponsel Mas Gun nggak aktif. Apa mungkin Mas Gun menemui Riana ya Pak?."


Ada prasangka dan rasa kecewa dalam nada suara Diana. Namun dirinya berharap hal itu tidak dilakukan Suaminya.


"Kayaknya nggak mungkin Suamimu nemuin Riana Nak. Dia akan ketangkap karena desersi dan dipenjara. Guntur nggak akan ngelakuin hal itu,"


"Lalu kemana dia Pak ?. Kiara ada bersama Riana dan Mas Gun sangat menyayangi anaknya. Mungkin saja demi Kiara, Mas Gun akhirnya meminta Riana untuk mencabut laporannya,"


"Mungkin juga Nak. Masuk akal juga prediksi kamu. Tapi kok Bapak nggak yakin ya kalau Suamimu ada bersama Riana saat ini !?."


Keraguan soal keberadaan Guntur membuat Menantu dan Mertua itu terdiam.


"Ya udah. Nanti Bapak coba telepon Riana atau Masmu," ucap Bapak tiba-tiba memecah kebisuan diantara mereka.


"Iya Pak. Kabarin Diana ya Pak kalau sudah ada kabar tentang Mas Gun," pinta Diana.


"Iya, nanti Bapak kabarin," jawab Bapak menutup pembicaraan mereka.


Diana menghela napas lega. Walaupun masih ada yang mengganjal di benak perempuan itu, namun keyakinan Bapak Mertuanya tentang keberadaan Guntur membuat Diana merasa sedikit lebih tenang.


Ingin rasanya Diana menanyakan kabar Guntur ke Riana. Tapi hal itu urung dilakukannya.


Percuma. Bisa-bisa pertanyaanku justru akan menjadi bumerang bagi diriku sendiri. Bisa jadi pertanyaanku bakal dimanfaatin Riana untuk menyerang balik aku ___batin Diana ragu-ragu.


"Diana..!?." tiba-tiba seseorang menepuk pundak Diana.


Diana kaget dan sontak berbalik.


Seorang perempun muda berdiri dibelakang Diana, tersenyum sambil mengambil tempat disamping Diana.


"Tumben kamu nangkring disini ?. Nggak ngantor ?," tanya perempuan itu.


"Nggak Feb. Aku ngambil cuti hari ini," jawab Diana.

__ADS_1


Perempuan yang dipanggil Feb itu tersenyum. Feb atau Febiola, perempuan kelahiran Minahasa, tetangga sekaligus sahabat Diana semenjak Diana pindah ke kota kecil itu. Dan Febi adalah satu-satunya orang yang tau betul tentang kisah kehidupan Diana.


Suami Febi adalah seorang anggota TNI yang desersi karena terkait kasus kerusuhan di ibukota beberapa tahun yang lalu.


"Cuti..kenapa ?," tanya Febi tak mengerti.


Dipandanginya wajah Diana yang murung.


"Haaah..panjang ceritanya say," jawab Diana.


Matanya nanar menatap kearah sekumpulan burung merpati yang sedang memperebutkan makanan yang disebar oleh beberapa pengunjung taman.


"Kenapaaa..ayo cerita ke aku. Jangan dipendam sendiri. Kali aja aku punya solusinya,!" tawar Febi sambil memegang tangan Diana mencoba meyakinkan perempuan itu untuk bercerita.


"Kemarin Bapak mertuaku nelpon ke aku Feb, ngasi tau kalau Suamiku bertengkar hebat dengan Istri pertamanya gegara dia ketahuan sudah menikahi aku. Istrinya ngelaporin Mas Gun ke Dan-Yon...dan akhirnya Suamiku memutuskan untuk desersi dan ikut aku kesini,"


"Hmm..akhirnya terjadi juga ya. Lalu kenapa kamu kelihatan sedih ?. Harusnya kamu bahagia dong karena Masmu lebih milih kamu!?."


"Masalahnya, Bapak Mertuaku ngasi tau aku kemarin Feb. Harusnya Mas Gun sudah nyampe rumah sejak semalam. Tapi kenyataanya sampai detik ini batang hidungnyapun nggak kelihatan !!."


Febi terdiam dan menatap dalam manik mata sahabatnya.


"Kamu takut Masmu berubah pikiran dan memutuskan untuk kembali dan berdamai dengan Istrinya?."


Diana mengangguk.


"Kenapa..kok kamu yakin banget?," tanya Diana tak mengerti.


"Ya ..iya dong. Begini__Suamimu baru saja bertengkar hebat dengan Istri pertamanya karena kalian ketahuan sudah menikah tanpa seizin Riana, Istri pertama Suamimu,_iya kan !?."


"Ho'oh, terus ?." tanya Diana penasaran.


"Terus, ketika memutuskan untuk desersi, tempat pertama yang tidak ingin dikunjungi Suamimu adalah rumah orangtuanya dan rumah Mertuanya di kota S. Kenapa ?__karena rumah Orangtua Suamimu sudah diketahui Batalion__Yang ngelaporin dia adalah Istrinya sendiri. Ya nggak mungkinlah orangtua Riana menerima kehadiran Masmu. Dia pasti bakal dilaporin kemudian ditangkap provost disana." ungkap Febi memberi beberapa kemungkinan soal keberadaan Guntur.


"Masmu juga ingin melindungi kamu, karena bisa dipastikan kalau keberadaan kamu saat ini sudah diketahui oleh Batalion."


Diana manggut-manggut, mulai paham dengan prediksi sahabatnya.


"Nah, teruuus... nomor HP Suamimu disadap oleh Batalion. Makanya agar tidak terlacak, Suamimu mengganti nomor HPnya. Paham nyonya??__Makanya, kamu jangan berburuk sangka dulu," seru Febi dengan senyum puas.


"Pinter kamu Feb..!." Diana memuji Sahabatnya.


"Ya iya dong cantik. Kan aku yang ngalamin duluan, ngrasain laki dikejar karena desersi. Makanya aku paham banget masalah kamu dan Masmu." ucap Febi sambil mencubit hidung bangir Diana.


Kedua perempuan itu tertawa.


"Berarti, sekarang kita senasib dong?," timpal Diana sambil menopang dagunya.

__ADS_1


"Hooh__," jawab Febi, ikut-ikutan menopang dagunya.


"Iiih..kamuuu. Bener-bener dech, tukang niru,"


"Biariin...habis, wajah kamu tuch, butek banget sejak tadi kayak janda nggak dapat jatah. Ga enak banget dilihat,"


Kedua perempuan itu tertawa terbahak-bahak diantara kelakar yang semakin kemana-mana.


"Pulang yuk..tadi aku belanja banyak. Ntar aku masakin kamu Tinotuan. Kita makan bareng di rumah dinasku," ajak Diana.


Febi mengangguk senang.


"Makan gratis nich ceritanya...ayoook. Kebetulan, perutku udah lapar banget" jawab Febi senang menerima ajakan Diana sambil menepuk-nepuk perutnya.


Kedua Sahabat itupun melangkah pulang ke rumah dinas Diana menggunakan motor masing-masing.


Sementara itu di kota S __


Riana menangis tersedu-sedu dalam pelukan Ibunya. Dengan sebelah matanya yang agak lebam membiru hasil adu jotos dengan Guntur Suaminya kemarin.


"Emang brengsek Suamimu Ri'. Berani bener dia nyakitin kamu, sudah salah menikah diam-diam dengan perempuan lain, eeeh __bukannya menyadari kesalahannya malah mukulin kamu!!." umpat Ibu Riana sambil membelai rambut putri kesayangannya.


"Bapak harus bertindak tegas. Ini nggak bisa dibiarin Pak. Bapak harus ngomong sama orangtuanya. Biar mereka tau kelakuan busuk anaknya itu !!!."


"Sudahlah Bu. Bapak nggak perlu ngomong apa-apa sama orangtuanya Guntur. Riana sudah langsung bertindak dengan ngelaporin Suaminya ke Dan-Yon. Bapak yakin, masalah ini juga sudah sampai ke telinga besan kita di Bks."


"Lalu__masa Bapak diam aja melihat anak kita diperlakukan kayak begini !?." tanya Ibu Riana tak mengerti.


Riana yang masih sesenggukan dipangkuan Ibunya mengangkat wajahnya.


"Aa' pasti dipecat dari kedinasan Bu akibat laporan Riana. Tapi Riana sudah nggak perduli Bu__Pak. Siapa suruh dia berkhianat dan menyakiti Riana !!," seru Riana marah.


"Harusnya kamu jangan nglaporin Suamimu dulu. Cari solusi biar Suamimu nggak sampai dipecat. Kan akhirnya yang rugi kamu juga. Suami ikut bini mudanya dan kamu harus ngbesarin Kiara tanpa Ayahnya__."


"BAPAAAK !!!__mengapa malah ngbelain laki-laki brengsek itu. Bukannya kasian sama anak sendiri Pak..!!? Potong Ibu Riana.


"Aku ngomong yang sebenarnya Bu. Kalau Riana tidak ngelaporin Suaminya, mungkin hubungan mereka masih bisa diperbaiki!."


"Diperbaiki kata Bapak !!?. NGGAK...!!!. Ibu nggak akan ngijinin Riana balik lagi sama Suaminya yang kasar dan brengsek itu!!." ucap Ibu Riana berapi-api.


"Lantas__Ibu lebih suka Riana jadi janda begitu ??," tanya Bapak membuat Ibu Riana terdiam.


"Lebih baik menjanda daripada hidup dimadu Pak !!," Seru Ibu Riana tidak mau kalah.


Riana memandangi kedua orangtuanya yang sedang adu mulut tentang dirinya. Tangisnya pecah mendengar ucapan ibunya membuat kedua orangtua itu terdiam.


"Kita bicara nanti aja. Bawa Riana ke kamarnya dan obati lebam diwajah anak kita. Jangan sampai Kiara melihat kondisi Ibunya," perintah Bapak Riana, kemudian berlalu keluar rumah___

__ADS_1


__ADS_2