TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 48. POV Diana


__ADS_3

"An,..ntar kamu bareng mbak ya ke ruang makan," ucap Sri sambil membenahi mukenahnya dan menggantungnya di lemari pakaian


"Iya mbak," sahutku mengiyakan.


Pagi itu aku dan Sri memutuskan untuk sholat Subuh berjamaah di kamar saja. Sebenarnya aku ingin sekali tidur lagi setelah semalam menerima telepon dari mas Guntur yang membuat aku tak dapat tidur semalaman. Hanya beberapa menit aku bisa memejamkan mataku.


Tapi hari ini aku harus kuliah karena ada ujian harian beberapa mata kuliah yang wajib kuikuti. Selain itu aku juga ingin menemui Syahrial. Beberapa rencana sudah kususun rapi semalam untuk menghindari saat-saat pertemuanku dengan mas Guntur yang akan melibatkan Syahrial.


Pertemuanku semalam dengan Syahrial membulatkan tekadku untuk menjadikan Syahrial tamengku menghadapi mas Guntur. Walaupun hubunganku dengan Syahrial hanya sebatas teman atau apalah namanya, tapi ciuman Syahrial diakhir pertemuan kami membuat aku yakin untuk menjadikan Syahrial pacar sesaatku.


Entah Syahrial akan setuju atau tidak, tapi aku yakin keputusanku ini tidak akan merusak hubungan Syahrial dan Prita tunangannya. Syahrial hanya akan menjadi pacarku di lingkungan kampus aja.


Setelah memakai seragam kuliahku, mengambil tas dan beberapa buah buku, kemudian aku bareng mbak Sri berjalan menuju ruang makan di lantai satu asrama.


"Ayo dek..kamu langsung ke kampus..?" tanya Sri melihat aku telah siap dan akan memakai sepatu.


"Iya mbak..," aku mengangguk mengiyakan."Mbak nggak langsung ke kampus..?" tanyaku melihat Sri hanya berseragam dan tidak bersepatu. Hanya memakai sendal jepitnya ke ruang makan.


"Nggak dek, ayoo..kita jalan," jawab Sri sambil melangkah keluar dan menutup pintu kamar.

__ADS_1


Kami jalan berbarengan. Beberapa mahasiswa juga terlihat bersiap menuju ruang makan. Pagi yang ceria. Beberapa mahasiswa teman seangkatanku menyapa mbak Sri. Kamipun beramai-ramai turun menuju ruang makan asrama.


Aku menoleh kearah kamar Syahrial. Pintu kamarnya tertutup rapat.


Mungkin mas Riil sudah turun duluan. Biasanya dia on time banget kalau soal sarapan pagi , pikirku menebak


"Tadi mas Riil sms ke aku. Katanya dia mau ngobrol sama kamu An. Makanya pagi-pagi banget dia sudah turun duluan ke ruang makan," Sri memberi penjelasan tanpa diminta seolah bisa menebak apa yang kupikirkan. Aku mengangguk pelan.


Sri tau benar seperti apa hubunganku dengan Syahrial. Dia juga tau sudah ada Prita di hidup Syahrial, lama sebelum aku dekat dengannya.


"Aku nggak ingin mengganggu hubungan kalian An. Maaf nich, bukannya kepo..tapi aku ingin tau sebenarnya bagaimana hubungan kamu dengan mas Syahrial. Kalian pacaran ?" tanya Sri suatu ketika.


"Akh...nggak mbak Sri, aku dan mas Riil hanya berteman saja," jawabku


"Entahlah mbak, perhatian mas Riil kepadaku emang sangat berlebihan. Bahkan terkesan protektif. Aku sendiri nggak ngerti mbak, mengapa mas Riil bersikap seperti itu kepadaku," jawabku terus terang.


"Emang sich, mas Syahrial begitu orangnya. Tapi nggak ke semua orang lho An dia bersikap seperti itu. Mungkin karena Syahrial anak tunggal di keluarganya, makanya dia jadi over protektif kepada kamu yang dianggapnya lemah setelah peristiwa kamu pingsan dan sakit waktu OSPEK kemaren,"


"Mungkin juga mbak. Aku sendiri tidak terlalu mikirin status hubungan kami karena aku tau mas Riil sudah punya Prita,"

__ADS_1


"Aku cuman mau ngingetin kamu An, untuk tidak terlalu berharap banyak kepada Syahrial. Prita dan Syahrial sudah bertunangan. Dan aku tidak mau kamu kecewa nantinya," Sri memperingatkanku.


"Iya mbak..makasih sudah ngingetin aku," sahutku sambil tersenyum mengiyakan.


Tanpa sadar, aku dan Sri sudah memasuki ruang makan dan langsung menuju meja prasmanan untuk ngantri mengambil sarapan kami.


Sambil mengambil segelas kopi susu, beberapa potong roti panggang dan buah segar, ekor mataku berkeliling mencari sosok mas Syahrial.. Hmm..itu dia orangnya, batinku begitu melihat sosok Syahrial dimeja paling belakang ruang makan itu. Tempat favorite kami berdua.


Sri mengambil sepiring nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya dan beberapa potong buah. Tak lupa dua botol minuman mineral diambil mbak Sri untuknya dan untukku. Setelah menyerahkan satu botol air mineral ke tanganku, kamipun melangkah menuju meja makan yang sudah terlebih dulu ditempati Syahrial.


"Mas..," tegur mbak Sri mengejutkan Syahrial. sontak laki-laki itu kaget dan terbatuk-batuk menyadari kehadiran kami.


"Uhuk...uhuk..eh, jeng Sri..uhuk..," sapa Syahrial sambil terbatuk-batuk karena kaget. Buru-buru kuletakkan sarapanku dimeja dan membuka air mineral milik mas Syahrial kemudian menyerahkannya kepada Sri.


Masih sambil tertawa, Sri mengambil air mineral yang kusodorkan kepadanya dan menyerahkannya kepada Syahrial.


"Nih..minum, makan kog pakai acara ngelamun segala..maass..mas..hahahaha," mbak Sri tertawa geli karena sukses membuat Syahrial gelagapan. Sementara aku hanya tersenyum memandangi mereka.


Aku dan Sri akhirnya duduk dikursi kami masing-masing , tepat berhadapan langsung dengan tempat duduk Syahrial.

__ADS_1


Selanjutnya bertiga kami menikmati sarapan pagi tanpa suara. Walau tak memandanginya secara langsung, tapi aku merasa bahwa mas Riil sedang memperhatikan aku. Entah apa yang dipikirkannya, aku tak tau.


\=\=\=\=\=\=


__ADS_2