
Azan Magrib di surau mulai terdengar. Bapak dan Guntur bersiap-siap menuju surau untuk menunaikan sholat Magrib berjamaah. Setelahnya mereka akan langsung ke rumah Amil bersama saksi pernikahan.
"Lu sudah siap Gun untuk menikahi Diana malam ini?" tanya Bapak
"Siap Pak..Gun siap, apapun resikonya,"
"Sekali lagi Bapak ingatkan kembali ke lu syarat-syarat yang sudah Bapak bilang kemarin. Diana tidak boleh menuntut lu untuk menceraikan Riana. Tidak boleh mengganggu kehidupan rumah tangga lu dengan Riana, tidak menuntut seluruh gaji lu dan bersedia menyimpan rahasia pernikahan kalian dari Riana, istri lu. Apa Diana sanggup melakukan semua itu?" tanya Bapak sekali lagi.
"Gun yakin Diana bisa pak. Justru yang Gun ragukan adalah diri Gun sendiri. Apa Gun bisa membantu Riana untuk melakukan apa yang Bapak minta," Guntur menerawang.
Mendengar semua persyaratan Bapak, Guntur tiba-tiba merasa iba dengan nasib Diana. Aku menikahinya untuk membuatnya bahagia. Bukan sebaliknya
Dan sekarang justru syarat Bapak membuat rasa cinta Guntur semakin besar kepada Diana.
Benar kata orang kalau yang dirugikan dalam pernikahan siri ada perempuan.
"Gun bisa pastikan Pak kalau Diana sanggup melakukan semua syarat yang Bapak minta. Dia seorang Mahasiswi juga seorang pegawai yang kuliah dibiayai perusahaan, punya gaji besar dan posisi bagus di kantornya Pak. Untuk membuang Gun semudah membalikkan telapak tangannya. Tapi itu tidak dilakukannya demi Gun," ucap Guntur yakin.
"Syukurlah kalau begitu Gun. Bapak cuma berharap, pernikahan ke tigamu ini akan membuat lu benar-benar bahagia,"
"Iya Pak..Aamiin. Gun juga berharap begitu. Bagi gun yang paling terpenting, Diana bukan cuma sayang sama Gun, tapi ke Kiara, Bapak, Mak dan Anggipun Diana sayang dan perhatian. Itu yang terpenting Pak,"
Bapak manggut-manggut dan mengakui ucapan putranya. Memang benar sejak pertama mengenal Diana, Bapak, Mak dan Anggi sudah merasa sangat cocok. Mereka menyukai pribadi dan sikap Diana.
Namun sebagai orang tua, Bapak juga harus bersikap adil kepada Riana dan Diana, istri dan calon istri putranya.
"Ya udah kalau begitu Gun. Kamu telepon Mak dan Lusi kakakmu. Suruh mereka nganterin Diana ke rumah Amil. Kita tunggu mereka disana aja," perintah Bapak
"Iya Pak..Gun telepon Mak dulu," ucap Guntur sembari mengambil ponsel di saku celana kokonya dan menekan nomor telepon Mak.
__ADS_1
Setelah tersambung dengan Mak, Guntur lantas menyampaikan pesan Bapak barusan.
"Mak, kata Bapak ntar selesai sholat Isya Mak dan mpo Lusi dandanin Diana lalu anterin Diana ke rumah Amil. Gun dan Bapak nunggu di rumah Amil ya Mak,"
"Iya Gun., Diana ada sama Mak. Lu ngomong dulu sama dia,"
"Iya Mak..mana Diananya Mak,"
"Ini..," kata Mak sambil menyerahkan ponswl ditangannya kepada Diana.
"Assalaamualaikum calon Istriku," sebut Guntur mesra disambut tawa Diana.
"Wa'alaikumsalaam calon imamku," jawab Diana lembut disela tawanya.
"Kamu gugup sayang," tanya Guntur
"Iya..," jawab Diana pelan sambil berjalan sedikit menjauh dari Mak dan Lusi yang sedang ngobrol di kamar Anggi.
Diana mengangguk, sebulir bening air mata Diana mengalir di sudut netranya. Tiba-tiba Diana rindu Ayah dan Bundanya. Harusnya saat seperti ini mereka ada disini..duuh, apakah keputusanku ini sudah benar?. batin Diana mulai gusar.
"An..kenapa diam. Apakah kamu mulai ragu dengan keputusanmu, dengan pernikahan kita?" tanya Guntur diseberang sana.
Secepatnya Diana menghapus air matanya dan mencoba tersenyum.
"Tidak Mas, aku tidak menyesali keputusanku menikahimu. Ini adalah resiko yang harus aku tanggung akibat berani mencintai milik orang lain," jawab Diana jujur.
Mak dan Lusi yang sejak tadi diam-diam menguping pembicaraan Diana dan Guntur saling pandang. Lusi yang hendak berdiri dan mendekati Diana dicegah Mak.
"Jangan Lus..biarkan Guntur dan Diana menyelesaikan masalah mereka sebelum mereka menikah sebentar lagi," ujar Mak sambil menggelengkan kepalanya sebagai isyarat agar Lusi tetap duduk ditempatnya.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang," pinta Guntur.
"Nggak apa-apa Mas. Aku seperti apa yang sering Mas bilang, akan mengikuti kemana takdir membawa kita. Setidaknya aku tidak akan menyesal karena pernah memiliki dan mencintai Mas," ucap Diana membuat Guntur yakin untuk menikahi gadis itu.
"Terimakasih An," ucap Guntur tulus.
Pernikahan Guntur dilakukan tepat setelah selesai waktu sholat Isya. Tidak banyak yang hadir saat itu. Hanya Amil, Saksi-saksi, kedua calon pengantin dan Bapak.
Lusi yang ditugaskan untuk mengantar Diana hanya pergi berdua Diana. Setelah selesai mengantar Diana di tempat Amil, Lusi langsung balik ke rumah untuk membantu Mak. Sedangkan Mak menunggu dirumah sambil mempersiapkan acara syukuran kecil-kecilan di rumah.
Acara ijab qobul berjalan lancar. Walaupun sempat beberapa kali salah menyebut nama lengkap Diana namun akhirnya Guntur berhasil melaksanakan ijab qobul dengan baik dan sempurna.
Semua orang yang berada di tempat itu bernafas lega. "Alhamdulillah" ucap mereka berbarengan.
Diana terlihat ikut merasa lega. Namun disudut yang paling dalam hati gadis itu, Diana menangis. Yaa..harusnya disaat membahagiakan seperti ini keluarganya ada disisinya.
Tak ada senyuman yang tersungging dibibir Diana. Gadis itu tau, ini adalah awal kehidupannya yang beresiko. Sempurnalah sudah gelar pelakor yang **kusandan**g batin Diana.
Datarnya sikap Diana terlihat oleh Guntur yang sedang merasa bahagia. Diam-diam Guntur menjulurkan tangannya ke tangan Diana yang duduk disampingnya. Digenggam dan diremasnya tangan Diana mesra seolah memberi kekuatan kepada gadis itu untuk tidak khawatir.
Diana tersenyum sekilas kemudian mencium tangan suaminya. Setelah itu Diana dan Guntur menyalami semua orang yang ada di ruangan itu. Tak lupa mereka berdua meminta doa restu Bapak yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Semoga bahagia Gun, Diana...Bapak berdoa semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah , mawaddah dan warohmah. Aamiin," doa tulus Bapak untuk Guntur dan Diana.
Guntur dan Diana mengangguk dan mencium tangan laki-laki paruh baya itu. "Terima kasih doanya Pak," ucap Guntur dan Diana berbarengan.
Setelah selesai melaksanakan ijab qobul, Diana, Guntur dan Bapak kemudian pulang dengan berjalan kaki. Rumah Amil memang tidak terlalu jauh dari rumah Guntur.
Diana yang memakai kebaya moderen terlihat agak kesulitan melangkahkan kakinya dijalan yang belum beraspal itu.
__ADS_1
Melihat itu, Guntur langsung berinisiatif untuk menggendong Diana. Bapak yang melihat hal itu tertawa, sementara Diana berusa berontak dan minta diturunkan. Diana merasa risih, perlakuan Guntur kepadanya saat itu terlihat oleh Bapak.
\=\=\=\=\=\=\=